BID’AH



Oleh: Drs. Hamzah Johan Al-Batahany

Kata-kata “Bid’ah” tidak asing lagi di telinga kita, karena Rasulullah bersabda tentang hal ini:
كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلُّ ضَلاَلةٍ فِى النَّارِ (ص. مسلم و النسائي )
“Tiap-tiap bid’ah itu sesat dan tiap-tiap kesesatan itu (tempatnya) neraka”
Hadits ini shahih dan merupakan dalil agama yang dapat diterima oleh semua pihak. Namun dalam memahami (mengamalkan) hadits tersebut terdapat dua golongan yang berbeda. Perbedaan itu muncul karena :
  1. Perbedaan Ijtihad
  2. Tidak adanya ketegasan dari Allah dan Rasulullah tentang apa yang dimaksud dengan bid’ah itu.
 Andaikata Rasulullah memberikannya contoh, seperti : “ Termasuk perkara bid’ah bila seseorang membaca surat Yasin hanya di malam jum’at saja” atau “ Siapa yang shalat tarawih  melebihi sebelas rakaat adalah bid’ah”, maka akan mudah bagi kita  menggolongkan mana yang perkara bid’ah dan mana yang tidak bid’ah. 

Ada pun dua golongan tersebut adalah :

I.        GOLONGAN PERTAMA
Memahami hadits tersebut secara mutlak, bahwa setiap perkara baru yang tidak ada diajarkan/dicontohkan oleh Rasulullah adalah bid’ah. Seperti ; istighfar sesudah shalat lebih dari tiga kali adalah bid’ah. Mengadakan acara maulid nabi adalah bid’ah. dsb
II.      GOLONGAN KEDUA
Memahami bahwa bid’ah itu terbagi dua, yakni bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyiah (sesat).

Saya memahami perkara bid’ah ini sebagai berikut :
1.      Bahwa perkara bid’ah itu pastilah berkenaan dengan hal-hal yang besar
Yang termasuk hal-hal yang besar itu seperti :
a.  Menajiskan (mengkafirkan) orang diluar kelompoknya,
b.  Menyatakan ada nabi sesudah Muhammad s.a.w,
c.  Tidak lagi menggunakan hadits sebagai sumber hukum (ingkarissunnah),
d. Menambah atau mengurangi cara ibadah yang telah dietapkan oleh Allah dan Rasulullah, seperti; shalat subuh dibikin 5 raka’at, puasa Ramadhan 40 hari, shalat Jum’at diadakan pada hari Minggu dsb.
Maka perbuatan yang demikian ini disebut bid’ah yang hukumannya adalah neraka.

2.      Bahwa yang menyangkut amalan-amalan yang bersifat fadhilah bukanlah bid’ah
Seperti apa yang dilakukan oleh Umar bin Khattab tentang jumlah raka’at shalat tarawih dari sebelas rakaat menjadi 23 raka’at. Tidaklah mungkin Umar bin Khattab mau melakukan hal tersebut jika perkara tersebut termasuk bid’ah, padahal dia salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, dan mustahil pula Umar tidak mengerti dengan perkara bid’ah. Lagi pula tidak ada seorang sahabat pun yang menyatakan amalan Umar itu bid’ah.
Atau juga seperti Ibnu Immi Maktum yang  menambah azan subuh dengan lafazh “Ash-sholaatukhairum minan naum”, dan juga  sebagaimana salah seorang sahabat Rasulullah yang menjampi dengan Al-Fatihah  atas seorang kepala desa yang terkena sengatan binatang berbisa lalu sembuh, padahal cara demikian sebelumnya belum pernah diajarkan oleh Rasulullah, bahkan Rasulullah sangat gembira (HR. Bukhari Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri).
Atau juga mengadakan majlis-majlis dzikir. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah menceritakan tentang keridhaan Allah terhadap majlis seperti itu.
Majlis dzikir itu dapat bermakna tempat kumpulan orang berzikir dengan menyebut lafazh-lafazh zhikir, kumpulan orang sholat, atau wirid-wirid menegakkan Al-Qur’an dan Sunnah.
Jika ada orang Yasinan , itu bukanlah bid’ah, juga bukan bid’ah hasanah (yang namanya bid’ah tetap sesat ), akan tetapi suatu majlis dzikir. Begitu pula dengan mengadakan acara Maulid Nabi, itu adalah majlis dzikir.
Atau ada orang baca “Usholli”  sewaktu mau sholat, itu bukan bid’ah, karena bacaan tersebut tidak dibacanya dalam shalat, tapi diluar shalat. Sebab sholat itu dimulai dari takbir diakhiri dengan taslim. Jika usholli itu dibacanya antara takbir dengan taslim, maka itu bid’ah.
Jadi apa yang dilakukan oleh Umar bin Khattab sampai kepada persoalan Yasinan bukanlah termasuk bid’ah , tetapi mencontoh kepada yang sudah ada, tanpa merobah ajaran dasar Rasulullah itu sendiri.
Hanya saja terkadang amalan-amalan tersebut ada yang berlebih-lebihan, seperti melafazhkan dzikir keras-keras. Tapi itu juga tidak dikatakan bid’ah, tetapi perkara makruh.



Post a Comment

Lebih baru Lebih lama