GHADHAB ( MARAH)



Oleh: Drs.Hamzah Johan Al-Batahany

APA ITU GHADHAB (MARAH) ?
Rasulullah bersabda: اِنَّ الْغَضَبَ جَمْرَةٌ مِنَ النَّارِ  : “Sesungguhnya marah itu adalah bara api”

TINGKATAN2 MARAH :

  1. TAFRITH (Hilang Marah)

SEBAB HILANGNYA MARAH :
1.1.  Takut Menanggung Resiko
1.2.  Takut Kehilangan Keuntungan Dunia.

AKIBAT HILANGNYA MARAH

1.1.  Hilang semangat amar ma’ruf nahi mungkar
1.2.  Hilang semangat jihad
1.3.  Hilang Ghirah (kecemburuan)
1.4.  Hilang hamiyyah (pembelaan)
1.5.  Hilang Keta’atan Pada Allah.

  1. IFRATH (Marah yang berlebihan)

SEBAB TIMBULNYA MARAH YANG BERLEBIHAN :
2.1.  Hati tertutup dosa

كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup hati mereka. (Al-Muthaffifin:14)
2.2.  Kurang Berzikir

فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Az-Zumar:22)
2.3.  Ananiyyah (Egoistis: Mau menang sendiri)
2.4.  Merasa kaya
كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى(6)أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى(7)
Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena dia melihat dirinya serba cukup. (Al-‘Alaq:6-7)
           
AKIBAT MARAH YANG BERLEBIHAN :
2.1. Hilang Kesopanan
2.2. Dibenci orang / dijauhi dari pergaulan
2.3. Menambah Dosa
2.5.  Mendapat cobaan
وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَى فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ(87)فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ(88)
Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim."
Maka Kami telah memperkenankan do`anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman. (Al-Anbiyaa`:87-88)




  1. I’TIDAL  (MARAH YANG TERKENDALI)

1529 حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ *
1529 Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: Kekuatan itu tidak dibuktikan dengan kemenangan bergulat. Tetapi orang yang kuat ialah orang yang dapat mengendalikan dirinya ketika sedang marah *

TANDA-TANDA MARAH YANG TERKENDALI :

3.1.  Marah Diam
1410 Diriwayatkan daripada Sahl bin Saad r.a katanya: Semasa Rasulullah s.a.w sampai di rumah Fatimah, baginda s.a.w tidak menemui Ali di rumah tersebut. Rasulullah s.a.w bertanya: Di manakah anak bapa saudara kamu. Fatimah menjawab: Telah terjadi sesuatu antara aku dan beliau. Baginda marah padaku lalu keluar tanpa bercakap walau sepatah denganku. Rasulullah s.a.w berkata kepada seseorang: Cuba kamu cari di mana Ali. Tidak lama kemudian orang itu datang dan berkata: Wahai Rasulullah! Beliau sedang tidur di masjid. Rasulullah s.a.w menemuinya dan pada waktu itu beliau sedang tidur terlentang sementara kain serbannya terjatuh ke tanah sehingga terkena debu. Lalu Rasulullah s.a.w mengangkat kain serban itu dan berkata: Bangun wahai Abu Turab! Bangun wahai Abu Turab! *

3.2.  Mengandung nasehat
259 Diriwayatkan daripada Abu Mas'ud al-Ansari r.a katanya: Seorang lelaki telah datang menemui Rasulullah s.a.w lalu berkata: Aku akan datang nanti lewat sembahyang Subuh, disebabkan oleh Si Polan yang memanjangkan sembahyangnya. Aku belum pernah melihat Nabi s.a.w marah ketika memberi nasihat melebihi kemarahan baginda pada hari itu. Baginda bersabda: Wahai umatku sekalian! Sesungguhnya ada di antara kamu yang menjauhkan orang dari agama. Maka siapa di antara kamu menjadi imam, hendaklah dia mempercepatkan sembahyangnya kerana di belakangnya terdapat orang-orang tua, orang-orang yang lemah dan orang-orang yang mempunyai keperluan lain *

3.3.  Tidak menggunakan kata-kata batil (Menyumpah, carut, menghina, menyebut-nyebut pemberian dsb)
3.4.  Tidak menampar, merusak

CARA MENANGGULANGI MARAH :
  1. Berwudhu’ atau mandi
  2. Pergi dari orang yang dimarahi
  3. Zikir pada Allah

KEUTAMAAN ORANG YANG MENAHAN MARAH


وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ(133)الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ(134)
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema`afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali Imran:133-134)

Sabda Rasulullah :

مَنْ كَفَّ غَضَبَهُ كَفَّ اللَّهُ عَنْهُ عَذَبَهُ

Siapa yang menahan kemarahannya, maka Allah akan menahan siksanya kepada orang itu

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama