YATIM PIATU DAN FAKIR MISKIN


Oleh: Drs. Hamzah Johan

وَقَالَ الرَّسُولُ يَارَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْءَانَ مَهْجُورًا(30)
Berkatalah Rasul: "Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Qur'an ini suatu yang tidak diacuhkan". (Al-Furqan:30)
            Tidak diacuhkan dari segi: 1. Membacanya       2. Mengamalkannya
Ayat tersebut dipertegas lagi ;

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ

Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? (Al-Baqarah: 85)
            Mafhumnya: Al-Qur’an diamalkan berdasarkan Kepentingan.

Salah satu surat yang tidak diacuhkan itu adalah
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ(1)فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ(2)وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ(3)
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (1)
Itulah orang yang menghardik anak yatim, (2)
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (3)

            Pengertian ANAK YATIM adalah: Anak yang masih kecil yang belum baligh yang ditinggal mati ayahnya. Sedangkan yatim piatu; anak yang belum baligh yang tdk punya ayah dan ibu.
            Pengertian ORANG MISKIN: dijelaskan dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim:
577 Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w telah bersabda: Orang yang miskin itu bukanlah orang yang berjalan ke sana sini meminta-minta kepada manusia, kemudian diberikan dengan sesuap dua makanan dan sebiji dua buah kurma.
 Para Sahabat bertanya: Kalau begitu siapakah orang miskin yang sebenarnya wahai Rasulullah؟ Rasulullah s.a.w bersabda:
 الَّذِي لَا يَجِدُ غِنًى يُغْنِيهِ وَلَا يُفْطَنُ لَهُ فَيُتَصَدَّقَ عَلَيْهِ وَلَا يَسْأَلُ النَّاسَ شَيْئًا
Orang yang tidak memperoleh  rezki yang mencukupi buatnya  dan  mereka tidak pula pandai mendapatkannya, mereka diberi sedekah tanpa meminta-menita kepada orang lain.”

Jadi kalau peminta-peminta itu bukan orang miskin,- bahkan mereka itu diorganisir,- dan diantara mereka ada yang kaya – sebaiknya mereka jangan direspon  sebagai terapi (pengobatan) karena jika direspon akan menambah penyakit minta-mintanya, kalau pun diberi juga selidik dahulu – dan sekarang mereka semakin berkembang, itu menjadi aib bagi ummat Islam dan juga pemerintah.

Rasulullah menerangkan keutamaan (Fadhilah) membantu anak yatim dan fakir miskin tsb
1.      Terhadap anak yatim, hadits menyebutkan:
  Dari sahal bin Sa’ad r.a Rasulullah saw bersabda : اَنَا   وَ كَافِلُ الْيَتِيْمِ  فِى الْجَنَّةِ هَكَذاَ   
“Aku dan pemelihaqra anak yatim, nanti akan sama-sama di surga seperti ini” , sambil mengisyaratkan  jari telunjuk dan jari tengahnya, dan merenggangkan antara keduanya (HR. Bukhari)

2.      Terhadap fakir miskin, hadits menyebutkan
1719 حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَحْسِبُهُ قَالَ وَكَالْقَائِمِ لَا يَفْتُرُ وَكَالصَّائِمِ لَا يُفْطِرُ * 
1719 Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Nabi s.a.w telah bersabda: Orang yang berusaha untuk membantu para janda dan orang miskin diibaratkan sebagai orang yang berperang di jalan Allah, orang yang bangun sembahyang sepanjang malam dan seperti orang yang berpuasa tanpa berhenti *



            Lalu bagaimana cara kita memperhatikan mereka : anak yatim dan  fakir miskin itu ?
1.      Bersikap manis kepada mereka
2.      Berikan bantuan materi
3.      Bagi anak yatim usahakanlah memelihara mereka

Ada sebuah cerita. Seorang ulama bernama KH. Sutan Mansur dimita oleh murid-muridnya mengajarkan Al-Qur’an. Pelaran yang pertama adalah Surat Al-Maa’uun. Setiap murid disuruh membaca dan menafsirkannya. Murid-muridnya dengan mudah membaca dan menafsirkan surat tersebut. Pada pertemuan minggu berikutnya, sang Kiyai menyuruh ulang baca dan tafsirkan lagi, minggu berikutnya juga seperti itu, dst hingga berlalu waktu satu bulan tak juga beralih-alih.
 Murid-muridnya pada bertanya: Kapan kita beralih ke surat yang lain guru”?
Jawab KH. Sutan Mansur : “ Kalian belum tahu dengan surat ini, kalian harus lebih giat lagi belajar.
Karena belum juga dialih-alih ke surat yang lain, akhirnya murid-muridnya memberanikan diri untuk bertanya: “Sebenarnya kenapa belum juga guru alih ke surat yang lain”?
Jawab KH. Sutan Mansur : Adakah kalian telah memelihara anak yatim di rumah kalian?
Diantara muridnya menjawab: “Tapi tidak semua kami punya kemampuan, guru”?
Jawab KH. Sutan Mansur : “Silahkan bagi siapa yang mampu !.. Apa gunanya surat ini kita pelajari tanpa diamalkan. Lalu beralih kepada ayat yang lain, juga tanpa diamalkan.
Demikianlah cara sang Kyai mengajari murid-muridnya.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama