ISLAM DAN POLITIK



Oleh : Drs. Hamzah Johan Al-Batahany

Politik adalah banyak taktik untuk mencapai suatu tujuan. Politik dalam bahasa Arab disebut “Siasah, atau siasat” . Pengertian kedua istilah tersebut tidak jauh berbeda, keduanya sama-sama menggunakan banyak taktik untuk mencapai suatu tujuan. Hanya saja, politik lahir di negara-negara barat dengan praktek menghalalkan segala cara, sedangkan “Siasah” lahir di dunia Islam  dengan praktek bermoral sesuai dengan etika Islam.  Jika seseorang melakukan siasah tetapi dalam prakteknya menghalalkan segala cara, maka siasahnya itu bertentangan dengan Islam, dan jiga seseorang melakukan politik dengan etika Islam, maka hal itulah yang sangat diharapkan. Jadi kedua istilah tersebut sama-sama dapat diterima asalkan berdasarkan etika Islam.

Tujuan politik dalam pandangan Islam adalah untuk menegakkan nilai-nilai kebenaran dan keadilan. Sebagaimana firman Allah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ(8)
Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al-Maaidah:8)

            Melalui ayat yang mulia ini, Allah swt memerintahkan kepada kaum mukminin untuk melaksanakan 2 hal:
  1. Menegakkan kebenaran sebagai wujud pengagungan kepada Allah
  2. Berlaku adil sebagai wujud kasih sayang terhadap sesama.
 Keadilan merupakan kebutuhan pokok yang bersifat universal bagi manusia. Ia harus ditegakkan tanpa pandang bulu. Oleh karena itu, keadilan tidak mengenal pangkat, kekayaan, kekuasaan, kedudukan atau symbol-simbol kedikdayaan dunyawi lainnya. Keadilan adalah tempat berlindung seluruh makhluk dari berbagai penindasan dan tirani kezaliman.
            Harus kita maklumi bertindak atas dasar perasaan yang bersifat subyektif dapat membawa manusia kepada ketidak adilan dan mengabaikan kebenaran. Oleh sebab itulah  Allah swt menegaskan agar tidak seorang pun membiarkan hubungan dengan sesama manusia kecuali dengan nilai-nilai keadilan dan kebenaran. Dengan kata lain, nilai-nilai keadilan dan kebenaran yang berasal dari Allah swt senantiasa  harus menjadi dasar dalam pergaulan antar sesama manusia begitu juga di dalam berpolitik.
Seorang politikus tidak akan dapat menegakkan  keadilan dan kebenaran itu, jika dia sendiri tidak benar. Oleh sebab itulah Islam memberikan prinsip dasar  tentang politikus.

  1. Amanah (jujur, dapat dipercaya, menepati janji, tak mau disogok)
إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنْسَانُ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا(72)
Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, (Al-Ahzaab:72)
Seorang politikus, pernah bercerita: Alangkah  beratnya jabatan yang saya pikul. Pada kedudukan saya itu dikelilingi banyak orang dan banyak kepentingan. Orang-orang yang berhubungan dengan aku ada yang baik dan ada pula yang jahat. Jika aku ketemu dengan orang-orang yang baik, mereka berurusan denganku berdasarkan aturan kebenaran, bahkan mereka menasehati agar aku berlaku jujur.
Dan jika aku bertemu dengan pengusaha dan pejabat yang jahat, aku  diajak ber-KKN, mereka sangat pandai berpolitik. Wajah mereka seperti malaikat , tapi tabi’atnya seperti setan. Mereka telah punya network (jaringan kerja). Mereka sudah saling mengerti dan saling melindungi. Kejahatan mereka sulit dilacak karena banyaknya pengalaman mereka  sehingga mereka menjadi pakar dalam berbuat jahat. Harta mereka telah bercampur baur  antara yang halal dengan yang haram. Dan mereka memandang baik perbuatan jahatnya
      Yang sangat disayangkan mereka lupa dengan sumpah jabatannya, mereka lupa dengan janji-janjinya kepada rakyat. Mereka lupa amanah masyarakat . Dan mereka lupa dengan kematian.

  1. Syajaa’ah (keberanian)

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَشْجَعَ النَّاسِ

Rasulullah s.a.w adalah seorang yang paling baik, dermawan dan berani (HR. Bukhari dan Muslim).

  A l Bazzar meriwayatkan dalam kitab Masnadnya dari Muhammad bin Aqil katanya, "Pada suatu hari Ali bin Abi Talib pernah  berkhutbah di hadapan kaum Muslimin dan beliau berkata, "Hai kaum Muslimin, siapakah orang yang paling berani ?" 

  Jawab mereka, "Orang yang paling berani adalah engkau sendiri, hai Amirul Mukminin." 
  Kata Ali, "Orang yang paling berani bukan aku tapi adalah Abu Bakar. Ketika kami membuatkan Nabi gubuk di medan Badar,  kami tanyakan siapakah yang berani menemankan Rasulullah s.a.w dalam gubuk itu dan menjaganya dari serangan kaum Musyrik  ? Di saat itu tiada seorang pun yang bersedia melainkan Abu Bakar sendiri. Dan beliau menghunus pedangnya di hadapan Nabi  untuk membunuh siapa sahaja yang mendekati gubuk Nabi s.a.w. Itulah orang yang paling berani." 
 
 "Pada suatu hari juga pernah aku menyaksikan ketika Nabi sedang berjalan kaki di kota Mekah, datanglah orang Musyrik sambil  menghalau beliau dan menyakiti beliau dan mereka berkata, "Apakah kamu menjadikan beberapa tuhan menjadi satu tuhan ?" Di  saat itu tidak ada seorang pun yang berani mendekat dan membela Nabi selain Abu Bakar. Beliau maju ke depan dan memukul  mereka sambil berkata, "Apakah kamu hendak membunuh orang yang bertuhankan Allah ?"    Kemudian sambil mengangkat kain selendangnya beliau mengusap air matanya.
 Kemudian Ali berkata, "Adakah orang yang  beriman dari kaum Firaun yang lebih baik daripada Abu Bakar ?"
 Semua jamaah diam saja tidak ada yang menjawab.
 Jawab  Ali selanjutnya, "Sesaat dengan Abu Bakar lebih baik daripada orang yang beriman dari kaum Firaun walaupun mereka sepuluh  dunia, karena orang beriman dari kaum Firaun hanya menyembunyikan imannya sedang Abu Bakar menyiarkan imannya." 
Bagi seorang politikus yang baik harus memiliki sifat berani menegakkan kebenaran dan keadilan. Sifat berani itu hanya akan ada pada diri seseorang yang memiliki rasa cinta kepada Allah dan Rasulullah. Tapi kalau rasa cinyanya kepada duniawi lebih besar daripada cintat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka mereka akan berbuat lancang dan sewenang-wenang.

  1. Istiqomah (Teguh pendirian pada kebenaran)
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ(13)
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (Al-Ahqaaf: 17)

Jika 3 sifat tersebut ada bagi politikus,  maka ia akan selamat di dunia dan di akhirat dan rakyatpun akan sejahtera. Tapi jika ketiga sifat tersebut tak ada, maka mereka jadi pengkhianat dan merusak masyarakat dan di akhirat sebagai kaum yang sesat.




Post a Comment

Lebih baru Lebih lama