MAKNA / I'TIBAR ISRA` DAN MI’RAJ



Oleh: Drs. Hamzah Johan Al-Batahany

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ(1)
Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (Al-Israa`: 1 )

I’tibar Isra` dan Mir’raj adalah : Menjadikan peristiwa Isra` dan Mir’raj itu sebagai pedoman atau pelajaran bagi kita dalam mengharungi kehidupan di dunia ini.

Minimal ada 3 pelajaran (I’tibar) dari peristiwa tersebut :

  1. HADAPILAH SETIAP KESULITAN DENGAN SABAR DAN SHOLAT
Kesulitan yang dihadapi nabi ketika berda’wah di Makkah sangat luar biasa. Tantangan dari kafir quraisy, hari demi hari semakin berat. Apalagi setelah kematian Abu Thalib pamannya dan  tiga hari sesudah itu  wafat pula Siti Khadijah isterinya, tekanan kafir quraisy semakin menjadi-jadi.
            Kematian kedua insan yang dihormati dan yang disayangi nabi ini, benar-benar membuat hati nabi menjadi sedih, sehingga dalam sejarah, tahun itu disebut Aamul Huzun yakni tahun kesedihan.
            Mana mungkin beliau tidak akan sedih? Paman yang membesarkannya sejak umur  8 tahun, hingga dia dewasa, bahkan sampai beliau diangkat menjadi Rasul, segala perjuangannya, selalu mendapat perlindungan dari sang paman.
            Begitu juga kepergian Siti Khadijah, istri yang sangat ia cintai, istri yang sangat mengerti keadaan suami, isteri yang sangat setia, penghibur jiwa dikala suka, penyejuk hati dikala duka, dia pergi untuk selama-lamanya.
            Kedua insan yang menyayangi dan melindunginya selama ini telah tiada. Keadaan ini dimanfaatkan oleh kafir quraisy mengintimidasi nabi, mereka membuat nabi benar-benar tertekan hingga nabi memutuskan untuk meninggalkan Kota Makkah  bersama pelayannya Zaid bin Haritsah menuju Thaif dengan harapan da’wahnya diterima di sana.
            Tapi apa yang terjadi ? Bukan pucuk dicinta ulam tiba, malahan tantangan dari Banu Tsaqif lebih parah dari pada musyrikin Makkah. Mereka menghina nabi sepuas-puasnya, mereka melempari nabi dengan batu dan tai onta, hingga nabi berdarah-darah dan terpaksa melarikan diri.
            Di tengah perjalanan menuju Makkah beliau beristirahat di bawah pohon yang rindang, sambil berdo’a kepada Allah:
اَللَّهُمَّ إلَيْكَ أشْـكُوْ ضَـعْفَ  قُـوّ َتِي...
          “Ya Allah, kepadamu aku mengadukan kelemahanku, kekurangmampuanku, kelemahan menghadapi orang banyak.
 Wahai Tuhan Yang Maha Pengasih. Engkaulah Tuahannya orang-orang yang lemah, Engkau adalah Tuhanku, kepada siapakah Engkau serahkan aku? Kepada yang jauh yang bermasam muka kepadaku? Atau kepada musuh yang Engkau kuasakan untuk menguasai diriku?
            Jika bukan karena marah-Mu atas diriku, maka aku tidak ambil perduli, namun perlindungan-Mu jualah yang kuharapkan dari-Mu.
            Aku mohon berlindung dengan sinar wajah-Mu yang menyinari kegelapan, sehingga menjadi baik atasnya urusan dunia dan akhirat, daripada tertimpanya diriku dengan kemarahan-Mu, atau  terjadi atas diriku kemarahanmu.
            Milikmulah segala petunjuk atau keridhaan sehingga Engkau menjadi ridha
وَلاَحَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِللَّه
Dan tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah jua.”

Do’a nabi ini disambut oleh Allah dan Allah mengutus Malaikat penjaga gunung meminta izin kepada nabi agar diperbolehkan untuk menimpakan gunung Thaif kepada penduduknya. Nabi hanya menjawab: “Yang aku harapkan  agar Allah membangkitkan satu generasi dari mereka yang menyembah Allah dan tidak menyekutukan-Nya.

Nabi kembali ke Makkah. Di malam itu beliau tafakkur di depan baitullah mengadukan kesedihannya kepada Allah. Maka terjadilah pada malam itu, 27 Rajab, Nabi diperjalankan dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha  مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى hingga sampai ke sidratil Muntaha   وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى
Beliau menerima perintah menunaikan sholat fardu 5 waktu sehari semalam.
            Hal ini memberikan I’tibar kepada kita, jika kita sedang menghadapi kesulitan maka hadapilah kesulitan itu dengan sabar dan sholat.
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ(45)
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu`, (Al-Baqarah: 45)

  1. TINGKATKAN KWALITAS DIRI DENGAN ISRAIYYAH   DAN MI’RAJIYYAH

Israiyyah adalah usaha meningkatkan kuwalitas diri dengan menggunakan : 
"MALAM dan MESJID”.
Bahwa nabi isra’ melakukan perjalanan di bumi pada malam hari dan berangkat dari suatu mesjid ke suatu mesjid. Merupakan gambaran bahwa Waktu yang paling tepat meningkatkan kwalitas diri adalah pada malam hari, bertahajjud kepada Allah
وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا(79)
Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (Al-Isra’:79)
Dan  wadah peningkatan kwalitas diri tidak terlepas dari mesjid. Karena mesjid merupakan sentral kegiatan ummat Islam. Itulah yang disebut dengan Israiyyah ya’ni menggunakan “Malam dan Mesjid” untuk peningkatan kualitas diri.
Ada pun mi’rajiyyah (naik ke langit) adalah usaha peningkatan derajat dan kehormatan diri dengan KONTAK LANGSUNG KE LANGIT, dengan nomor 24434.
Tidak perlu menggunakan perantaraan, karena nomor 24434 bebas roming dan bebas pulsa.
Jadi kalau kita ingin diri kita berkwalitas perbanyaklah shalat tahajjud, sungguh-sungguhlah mendirikan shalat fardhu dan pergunakanlah mesjid sebagai sentral peningkatan kwalitas diri.

  1. KEMAMPUAN DAN KEKUASAAN MANUSIA SANGAT KECIL DI HADAPAN ALLAH

Bahwa peristiwa Isra’ dan Mi’raj adalah peristiwa yang sangat mena’jubkan, apa lagi di zaman jahiliyyah yang belum memiliki ilmu pengetahuan teknologi secanggih sekarang ini. Bahwa perjalanan dari masjidil haram ke masjidil Aqsha pada waktu itu ditempuh 40 hari dengan onta, akan tidak masuk akal bagi kafir jahiliyyah itu, jika ditempuh nabi hanya dalam waktu sekajab. Di zaman sekarang orang pasti mudah yakin, lihatlah betapa cepatnya pesawat supersonik itu, mengalahkan kecepatan suara. Suaranya tertinggal oleh kecepatannya. Kalau dari masjidil haram ke masjidil Aqsha, waktu tempuhnya hanya sekejap.
Itu baru buatan manusia, apalagi kalau ciptaan Allah. Yang tidak ada sebelumnya bisa ada apalagi kalau cuma mengatur yang sudah ada, kecillah bagi Allah. Kalau kendraan buatan manusia ukuran kecepatan kilometer per jam, kalau Buraq kendraan nabi untuk Isra’ dan Mi’raj ukuran kecepatannya sejauh mata memandang per detik.
Dalam Hadits riwayat Bukhari dan Muslim  disebut :

الْبُرَاقُ فَوْقَ الْحِمَارِ وَدُونَ الْبَغْلِ يَقَعُ خَطْوُهُ عِنْدَ أَقْصَى طَرْفِهِ فَحُمِلْتُ عَلَيْهِ

Buraq, ia lebih besar dari kaldai dan lebih kecil dari baghal. Ia mengatur langkahnya sejauh mata memandang, sementara itu aku dibawa di atas belakangnya.

Kalau kenderaan manusia baru sampai ke bulan, katakanlah paling jauh pelanet Mars, masih dalam radius solar system matahari. Kita tahu bahwa Matahari hanya satu debu bintang dari berilyar-milyar bintang di jagad raya ini. Untuk menjelajahi planet-planet  yang mengelilingi matahari saja, sampai ke planet Pluto, manusia tidak mampu, apa lagi planet-planet yang lain yang mengelilingi bintang-bintang yang jauh. Ini menunjukkan betapa rendahnya kekuasaan manusia, betapa lemahnya kemampuan manusia.
Oleh sebab itu sebagai manusia janganlah kita bersifat angkuh dan sombong. Allah tidak akan melihat harta dan tahta kita. Yang dinilai Allah adalah ketaqwaan kita masing-masing
Lebih baru Lebih lama