I’TIKAF



Oleh Drs. Hamzah Johan Al-Batahany

Dalil I’tikaf dalam Al-Qur’an antara lain :

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid (Al-Baqarah:187)

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ(125)
Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i`tikaaf, yang ruku` dan yang sujud". (Al-Baqarah:125)

            I’tikaf adalah tinggal di dalam mesjid dengan amalan tertentu dan waktu tertentu.
Menurut Mazhab Imam Hanafi, ada 3 macam hukum I’tikaf;
  1. I’tikaf Wajib, yiatu apabila seseorang bernazar, misalnya dengan ucapan,”Jika saya dapat menyelesaikan pekerjaan ini, maka saya akan beri’tikaf  sekian hari.”  Atau seseorang bernazar tanpa disertai syarat, misalnay, “Saya wajibkan atas diriku sendiri beri’tikaf selama sekian hari”. Maka nazar-nazar demikian wajib ditunaikan.
973 Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.anhuma katanya: Sesungguhnya Saidina Umar bin al-Khattab r.a pernah berkata:
يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي نَذَرْتُ فِي الْجَاهِلِيَّةِ Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku pernah bernazar pada zaman jahiliah أَنْ أَعْتَكِفَ لَيْلَةً فِي الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ  untuk beriktikaf satu malam di Masjidil Haram. قَالَ فَأَوْفِ بِنَذْرِكَ  Kemudian Nabi bersabda: Tunaikanlah nazarmu itu * (HR. Bukhari, Muslim, Tirimdzi, Nasai, Abu Dawud)

  1. I’tikaf Sunnah, I’tikaf ini merupakan amalan yang biasa dilakukan Rasulullah saw , yakni beri’tikaf di dalam mesjid selama sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan
665 Diriwayatkan daripada Abu Said al-Khudri r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah beriktikaf iaitu berada di dalam masjid selama sepuluh hari pada pertengahan bulan Ramadan. Selepas berlalu malam yang kedua puluh dan memasuki hari atau malam yang kedua puluh satu baginda pulang ke rumahnya. Para Sahabat yang beriktikaf bersama-sama baginda juga turut pulang. Kemudian Rasulullah s.a.w bersabda di bulan Ramadan yang sama dan waktu yang sama di mana baginda pulang ke rumah, setelah menyuruh atau mengajak mereka supaya selalu tabah terhadap kehendak Allah dengan sabdanya: Aku telah beriktikaf selama sepuluh hari dan kemudian aku lanjutkan selama sepuluh hari yang berikutnya. فَمَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَبِتْ فِي مُعْتَكَفِهِ Oleh sebab itu siapa saja yang ingin melanjutkan iktikaf bersamaku, tetaplah berada di tempat iktikafnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

  1. I’tikaf Nafil, yaitu tanpa ada ketentuan hari dan waktunya, kapan saja seseorang berniat untuk beri’tikaf, maka ia dapat melakukannya. Bahkan jika berniat I’tikaf seumur hidupnya pun boleh.
Ada perbedaan pendapat tentang waktu I’tikaf yang kurang dari sehari. Imam Abu Hanifah menyatakan bahwa I,tikaf hendaknya tidak kurang dari satu hari penuh. Imam Muhammad berpendapat, boleh beri’tikaf tanpa ada batas minimal, artinya berhenti sebentar saja dalam mesjid dengan niat I’tikaf, walau pun hanya beberapa menit, maka itu dikatakan I’tikaf. Namun kita lebih cenderung kepada pendapat yang pertama, bahwa waktu I’tikaf itu tidak kurang dari satu hari, karena kalau kita cermati  Asbabun nuzul dari ayat 187 Al-Baqarah  dengan kalimat:

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid (Al-Baqarah:187)
Asbabun-nuzulnya : Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah, ayat tersebut turun berkenaan dengan seorang sahabat yang keluar dari mesjid pulang untuk menggauli isterinya disaat ia sedang beri’tikaf.
Ayat tersebut melarang menggauli isteri kalau kita sedang I’tikaf.
Mafhumnya, sahabat tersebut dinyatakan belum selesai I’tikafnya di mesjid tersebut kalau tidak memenuhi satu hari atau beberapa hari. Sebab kalau I’tikaf itu boleh hanya beberapa menit saja, atau berhenti sejenak dalam mesjid dikatagorikan sebagai I’tikaf, tentu Allah swt tidak akan melarang sahabat tadi pulang ke rumahnya untuk menggauli isterinya. Tapi karena waktu I’tikaf itu tidak hanya berhenti sejenak , maka Allah melarang pergi dari mesjid untuk menggauli isteri, karena tidak boleh sejenak tetapi diselesaikan dahulu satu hari atau beberapa hari. Lagi pula amalan-amalan dalam masa I’tikaf itu tidaklah dapat terlaksana dengan sempurna kalau hanya dengan sekejap saja. Ditambah lagi bahwa tujuan yang sesungguhnya dari I’tikaf itu adalah dalam rangka mendapatkan lailatul Qadar, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah berdasarkan Riwayat dari Abu Said al-Khudri tadi, yang kalimat selanjutnya menyebutkan :
“.الْأَوَاخِرَ فَمَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَبِتْ فِي مُعْتَكَفِهِ  Oleh itu siapa yang ingin melanjutkan iktikaf bersamaku, tetaplah berada di tempat iktikafnya.
وَقَدْ رَأَيْتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ فَأُنْسِيتُهَا Aku telah bermimpi tadi malam melihat Lailatulqadar, tetapi aku terlupa waktunya.
فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي كُلِّ وِتْرٍ Carilah ia dalam sepuluh hari ganjil yang terakhir” (H.R. Bukhari dan muslim)

Jadi jelaslah bagi kita bahwa I’tikaf itu : Ibadah kepada Allah  dengan cara berdiam diri dalam mesjid  dengan amalan-amalan yang diridhoi oleh Allah dengan waktu yang utama pada bulan Ramadhan yang diharapkan memperoleh lailatul qadar. Wallahu a’lam.

Adapun selama beri’tikaf  tidak dibolehkan meninggalkan mesjid kecuali ada hajat-hajat yang bersangkutan dengan orang banya. Sebagaimana hadits menyebutkan:

166 Diriwayatkan daripada Aisyah r.a katanya: Apabila Nabi s.a.w beriktikaf, baginda mendekatkan kepala baginda kepadaku, lalu aku menyikat rambut baginda.
وَكَانَ لَا يَدْخُلُ الْبَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةِ الْإِنْسَانِ Baginda tidak memasuki rumah kecuali jika ada hajat-hajat yang bersangkutan dengan orang banyak *

Dan dalam hadits riwayat At-thobroni , dari Ibnu ‘Abbas ra , bahwa ia (ibnu Abbas) sedang beri’tikaf di mesjid Rasulullah. Lalu seseorang datang dan memberi salam kepadanya, kemudian duduk. Ibnu Abbas bertanya: “Wahai fulan, aku melihatmu sedang bersedih”. Orang itu menjawab: “Benar wahai putra paman Rasulullah, aku punya tanggungan hutang kepada si fulan. Demi kemuliaan penghuni kubur ini ( kubur nabi saw), aku belum sanggup melunasinya”.
Ibnu Abbas berkata: “Bolehkah aku berbicara kepadanya mengenaimu?”
Jawabnya; “Silahkan jika engkau bersedia”

Maka Ibnu Abbas segera memakai sandalnya dan keluar dari mesjid. Lalu orang itu menegurnya: “Apakah engkau lupa bahwa engkau sedang ber-I’tikaf ?
Ibnu Abbas dengan berlinang air mata berkata:  ‘Tidak, sesungguhnya aku telah mendengar  dari penghuni kubur ini (Rasulullah saw) bersabda dan masih segar dalam ingatanku, bahwa: “Barang siapa  pergi untuk menunaikan hajat saudaranya, dan sungguh-sungguh berusaha, maka itu lebih baik baginya dari pada I’tikaf sepuluh tahun. Dan barang siapa I’tikaf sehari karena mengaharap ridha Allah, maka Allah akan menjauhkan antara dirinya dan api neraka sejauh tiga parit. Dan jarak keduanya lebih jauh dari pada jarak bumi dan langit”.
     
Jadi kalu kita sebagai pegawai suatu instansi, lebih baik melaksanakan tugas di kantor dari pada I’tikaf, akan tetapi jangan lupa I’tikaf pada hari liburnya di bulan Ramadhan karena pahalanya sangat luar biasa pula. Beramallah pada waktu I’tikaf itu dengan berzikir sebanyak-banyaknya, membaca Al-Qu’an, dan mengerjakan shalat-shalat sunnah.




665 حَدِيثُ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُجَاوِرُ فِي الْعَشْرِ الَّتِي فِي وَسَطِ الشَّهْرِ فَإِذَا كَانَ مِنْ حِينِ تَمْضِي عِشْرُونَ لَيْلَةً وَيَسْتَقْبِلُ إِحْدَى وَعِشْرِينَ يَرْجِعُ إِلَى مَسْكَنِهِ وَرَجَعَ مَنْ كَانَ يُجَاوِرُ مَعَهُ ثُمَّ إِنَّهُ أَقَامَ فِي شَهْرٍ جَاوَرَ فِيهِ تِلْكَ اللَّيْلَةَ الَّتِي كَانَ يَرْجِعُ فِيهَا فَخَطَبَ النَّاسَ فَأَمَرَهُمْ بِمَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ قَالَ إِنِّي كُنْتُ أُجَاوِرُ هَذِهِ الْعَشْرَ ثُمَّ بَدَا لِي أَنْ أُجَاوِرَ هَذِهِ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ فَمَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي فَلْيَبِتْ فِي مُعْتَكَفِهِ وَقَدْ رَأَيْتُ هَذِهِ اللَّيْلَةَ فَأُنْسِيتُهَا فَالْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي كُلِّ وِتْرٍ وَقَدْ رَأَيْتُنِي أَسْجُدُ فِي مَاءٍ وَطِينٍ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ مُطِرْنَا لَيْلَةَ إِحْدَى وَعِشْرِينَ فَوَكَفَ الْمَسْجِدُ فِي مُصَلَّى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرْتُ إِلَيْهِ وَقَدِ انْصَرَفَ مِنْ صَلَاةِ الصُّبْحِ وَوَجْهُهُ مُبْتَلٌّ طِينًا وَمَاءً * 
665 Diriwayatkan daripada Abu Said al-Khudri r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah beriktikaf iaitu berada di dalam masjid selama sepuluh hari pada pertengahan bulan Ramadan. Selepas berlalu malam yang kedua puluh dan memasuki hari atau malam yang kedua puluh satu baginda pulang ke rumahnya. Para Sahabat yang beriktikaf bersama-sama baginda juga turut pulang. Kemudian Rasulullah s.a.w bersabda di bulan Ramadan yang sama dan waktu yang sama di mana baginda pulang ke rumah, setelah menyuruh atau mengajak mereka supaya selalu tabah terhadap kehendak Allah dengan sabdanya: Aku telah beriktikaf selama sepuluh hari dan kemudian aku lanjutkan selama sepuluh hari yang berikutnya. Oleh itu sesiapa yang ingin melanjutkan iktikaf bersamaku, tetaplah berada di tempat iktikafnya. Aku telah bermimpi melihat Lailatulqadar tetapi aku terlupa waktunya. Carilah ia dalam sepuluh hari ganjil yang terakhir. Pada waktu itulah aku melihat aku sedang sujud pada air dan tanah. Abu Said al-Khudri r.a berkata: Kami dibasahi hujan pada malam hari yang kedua puluh satu. Masjid telah basah, begitu juga dengan tempat sembahyang Rasulullah s.a.w. Aku melihat ke arah baginda setelah selesai mengerjakan sembahyang subuh. Wajah baginda basah terkena lumpur dan air *

166 Diriwayatkan daripada Aisyah r.a katanya: Apabila Nabi s.a.w beriktikaf, baginda mendekatkan kepala baginda kepadaku, lalu aku menyikat rambut baginda. Baginda tidak memasuki rumah kecuali jika ada hajat-hajat yang bersangkutan dengan orang ramai *

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama