BID'AH ITU SESAT, TAPI LANCANG MEMBID'AHKAN LEBIH SESAT

BID’AH
Oleh: Drs. Hamzah Johan Al-Batahany

Sebagian orang mengambil dalil yang bersifat umum dalam metetapkan hukum bid'ah, seperti menggunakan hadits di bawah ini:

عَنْ أم المؤمنين عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ
[متفق عليه]
وَفِي رِوَايَةٍ لِمُسْلِمٍ: مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Dari Ummul Mukminin, Ummu Abdullah, Aisyah r.a. berkata: Rasulullah saw. bersabda, "Barang siapa yang mengada-adakan sesuatu dalam agama kami ini maka akan ditolak."
[Disepakati oleh Imam Bukhari dan Muslim]
Dalam riwayat yang lain oleh Imam Muslim: "Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak mempunyai dasar dalam agama kami, akan ditolak"

Dalil lain menyebutkan :

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ وَ كُلُّ ضَلاَلةٍ فِى النَّارِ (ص. مسلم و النسائي )
“Tiap-tiap bid’ah itu sesat dan tiap-tiap kesesatan itu (tempatnya) neraka”

Makna dari dalil-dalil tersebut bersifat umum (Al-'Aam). Jika langsung diterapkan maka bid'ah tersebut menjadi tanpa batas. Padahal dalam penetapan hukum selalu dengan batasan-batasan, syarat-syarat, 'illat hukum dsb. Dalil yang bermakna umum tersebut perlu dirinci dengan ijtihad, penggunaan metode syari'ah yang komperhensif sehingga mencapai maqoshidul ahkam.

Status hadits-hadits tersebut tidak ada yang mendho'ifkannya, semua pihak menerima sebagai dalil syari'at, namun dalam memahami (mengamalkan) hadits tersebut terdapat dua golongan yang berbeda. Perbedaan itu muncul karena perbedaan ijtihad.

PERBEDAAN IJTIHAD:

Tidak adanya ketegasan dari Allah dan Rasulullah tentang apa yang dimaksud dengan bid’ah itu.
Andaikata Rasulullah memberikannya contoh, seperti : “ Termasuk perkara bid’ah bila seseorang membaca surat Yasin hanya di malam jum’at saja” atau “ Siapa yang shalat tarawih melebihi sebelas rakaat adalah bid’ah”, maka akan mudah bagi kita menggolongkan mana yang perkara bid’ah dan mana yang tidak bid’ah.

Ada pun dua golongan tersebut adalah :

GOLONGAN PERTAMA:

Memahami hadits tersebut secara mutlak, bahwa setiap perkara baru yang tidak ada diajarkan/dicontohkan oleh Rasulullah adalah bid’ah. Seperti ; istighfar sesudah shalat lebih dari tiga kali adalah bid’ah. Mengadakan acara maulid nabi adalah bid’ah. dsb.

GOLONGAN KEDUA:

Memahami bahwa bid’ah itu terbagi dua, yakni bid’ah hasanah (baik) dan bid’ah sayyiah (sesat).

Saya memahami perkara bid’ah ini sebagai berikut :
Bahwa perkara bid’ah itu pastilah berkenaan dengan hal-hal yang besar (kullu dholalatin fin-nar) , perbuatan tersebut sudah pasti ketentuannya dalam syari'at dengan sanksi neraka.
Yang termasuk hal-hal yang besar itu seperti :
Menajiskan (mengkafirkan) orang diluar kelompoknya,
Menyatakan ada nabi sesudah Muhammad s.a.w,
Tidak lagi menggunakan hadits sebagai sumber hukum (ingkarissunnah),
Menambah atau mengurangi cara ibadah yang telah dietapkan oleh Allah dan Rasulullah, seperti; shalat subuh dibikin 5 raka’at, puasa Ramadhan 40 hari, shalat Jum’at diadakan pada hari Minggu dsb.
Maka perbuatan yang demikian ini disebut bid’ah yang hukumannya adalah neraka.

Bahwa yang menyangkut amalan-amalan yang bersifat fadhilah bukanlah bid’ah
Seperti apa yang dilakukan oleh Umar bin Khattab tentang jumlah raka’at shalat tarawih dari sebelas rakaat menjadi 23 raka’at. Umar melakukan shalat tarawih berjama'ah, padahal nabi melakukan secara munfarid. Tidaklah mungkin Umar bin Khattab mau melakukan hal tersebut jika perkara tersebut termasuk bid’ah, padahal dia salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga, dan mustahil pula Umar tidak mengerti dengan perkara bid’ah. Lagi pula tidak ada seorang sahabat pun yang menyatakan amalan Umar itu bid’ah.
Atau juga seperti Ibnu Immi Maktum yang menambah azan subuh dengan lafazh “Ash-sholaatukhairum minan naum”, dan juga sebagaimana salah seorang sahabat Rasulullah yang menjampi dengan Al-Fatihah atas seorang kepala desa yang terkena sengatan binatang berbisa lalu sembuh, padahal cara demikian sebelumnya belum pernah diajarkan oleh Rasulullah, bahkan Rasulullah sangat gembira (HR. Bukhari Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri).
Atau juga mengadakan majlis-majlis dzikir. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah, Rasulullah menceritakan tentang keridhaan Allah terhadap majlis seperti itu.
Majlis dzikir itu dapat bermakna tempat kumpulan orang berzikir dengan menyebut lafazh-lafazh zhikir, kumpulan orang sholat, atau wirid-wirid menegakkan Al-Qur’an dan Sunnah.
Jika ada orang Yasinan , itu bukanlah bid’ah sayyiah, akan tetapi suatu majlis dzikir. Begitu pula dengan mengadakan acara Maulid Nabi, itu adalah majlis dzikir.
Atau ada orang baca “Usholli” sewaktu mau sholat, itu bukan bid’ah, karena bacaan tersebut tidak dibacanya dalam shalat, tapi diluar shalat. Sebab sholat itu dimulai dari takbir diakhiri dengan taslim. Jika usholli itu dibacanya antara takbir dengan taslim, maka itu bid’ah.
Jadi apa yang dilakukan oleh Umar bin Khattab sampai kepada persoalan Yasinan bukanlah termasuk bid’ah , tetapi mencontoh kepada yang sudah ada, tanpa merobah ajaran dasar Rasulullah itu sendiri.
Hanya saja terkadang amalan-amalan tersebut ada yang berlebih-lebihan, seperti melafazhkan dzikir keras-keras. Tapi itu juga tidak dikatakan bid’ah, tetapi perkara makruh.

TUDUHAN YANG BERBAHAYA

Ada sebagian umat Islam secara gampang menuduh bid'ah amalan orang lain, seperti "yasinan adalah bid'ah" sehingga terjadi tafarruq (Perpecahan). Pada persoalan ini akan melahirkan dua gelar ahli bid'ah ,yaitu ; Doktorhandus Bid'ah dan Profesor Bid'ah.
Orang yang yasinan bersetatus sebagai Doktorandus Bid'ah, sedangkan orang yang menuduh dan terjadi perpecahan, bersetatus sebagai Profesor Bid'ah. Kareana tingkat pelanggarannya berbeda. Doktorandus Bid'ah melanggar hadits, sedangkan Profesor Bid'ah melanggar Al-Qur'an.

KESIMPULAN :

1. Makna bid'ah itu adalah mengadakan perkara baru dalam hal aqidah dan ibadah yang belum ada contohnya dari Rasulullah SAW, seperti meyakini ada nabi sesudah Nabi SAW, dan atau merubah apa yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah, seperti ; sholat subuh dibuat 5 roka'at.
2. Adapun berkaitan dengan yasinan, maulid nabi, dan serupa dengan itu, tidaklah bid'ah karena itu hanya metode, wadah atau majlis zikir saja, sejauh mereka tidak merubah ayat-ayat Al-Qur'an dan tidak bermaksiat kepada Allah swt.
3. Tuduhan bid'ah terhadap amalan yang dilakukan dari hasil ijtihad dan mereka yang mengamalkannya bukan karena ingin bermaksiat kepada Allah, maka tuduhan tersebut sebagai fitnah agama. Secara tidak langsung si Penuduh telah menetapkan status pada yang dituduhnya sebagai "Ahli Neraka", karena kullu bid'atin fin nar. Kalau Si Tertuduh sudah bersetatus ahli neraka berarti mereka dianggap golongan kafir, karena orang kafir pasti masuk neraka.
4. Tuduhan bid'ah terhadap amalan yang belum pasti bid'ahnya merupakan dosa besar karena menimbulkan perpecahan yang dilarang oleh Allah swt.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama