Idul Adha dan Qurban

Idul Adha dan Qurban

Idul Qurban atau Idul Adha adalah salah satu hari
raya umat Muslim yang ditetapkan oleh agama. Di
hari tersebut, disyariatkan ibadah udhiyah atau
dikenal dengan ibadah qurban, yaitu menyembelih
hewan qurban dengan aturan tertentu, dalam
rangka taqarrub kepada Allah Ta’ala. Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
ُﻡْﻮَّﺼﻟﺍ َﻡْﻮَﻳ َﻥﻮُﻣﻮُﺼَﺗ ُﺮْﻄِﻔْﻟﺍَﻭ َﻡْﻮَﻳ َﻥﻭُﺮِﻄْﻔُﺗ ﻰَﺤْﺿَﺄْﻟﺍَﻭ َﻡْﻮَﻳ
َﻥﻮُّﺤَﻀُﺗ
“Hari puasa adalah hari ketika orang-orang
berpuasa, Idul Fitri adalah hari ketika orang-orang
berbuka, dan Idul Adha adalah hari ketika orang-
orang menyembelih” (HR. Tirmidzi 632, Ad
Daruquthni 385, dishahihkan Al Albani dalam
Silsilah Ahadits Shahihah, 1/440)
Di hari itu juga disyariatkan bahkan dianjurkan
untuk berbahagia dan bergembira ria. Sebagaimana
diceritakan oleh Anas bin Malik Radhiallahu’anhu:
ﻡﺪﻗ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ ﺔﻨﻳﺪﻤﻟﺍ ﻢﻬﻟﻭ
ﻥﺎﻣﻮﻳ ﻥﻮﺒﻌﻠﻳ ﺎﻤﻬﻴﻓ ﻝﺎﻘﻓ ﺎﻣ ﻥﺍﺬﻫ ﻥﺎﻣﻮﻴﻟﺍ ﺍﻮﻟﺎﻗ ﺎﻨﻛ
ﺐﻌﻠﻧ ﺎﻤﻬﻴﻓ ﻲﻓ ﺔﻴﻠﻫﺎﺠﻟﺍ ﻝﺎﻘﻓ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ
ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ ﻥﺇ ﻪﻠﻟﺍ ﺪﻗ ﻢﻜﻟﺪﺑﺃ ﺎﻤﻬﺑ ﺍﺮﻴﺧ ﺎﻤﻬﻨﻣ ﻡﻮﻳ
ﻰﺤﺿﻷﺍ ﻡﻮﻳﻭ ﺮﻄﻔﻟﺍ
“Di masa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
baru hijrah ke Madinah, warga Madinah memiliki
dua hari raya yang biasanya di hari itu mereka
bersenang-senang. Rasulullah bertanya: ‘Perayaan
apakah yang dirayakan dalam dua hari ini?’. Warga
madinah menjawab: ‘Pada dua hari raya ini, dahulu
di masa Jahiliyyah kami biasa merayakannya
dengan bersenang-senang’. Maka Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Sungguh
Allah telah mengganti hari raya kalian dengan yang
lebih baik, yaitu Idul Adha dan ‘Idul Fithri’ ” (HR.
Abu Daud, 1134, dishahihkan Al Albani dalam
Shahih Abi Daud, 1134)
Sunnah-Sunnah Di Hari Idul Adha
1. Mandi. Dalilnya:
ﻥﺃ ﻼﺟﺭ ﻝﺄﺳ ﺎﻴﻠﻋ ، ﻲﺿﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻨﻋ ، ﻦﻋ ﻞﺴﻐﻟﺍ ،
ﻝﺎﻘﻓ : ﻞﺴﺘﻏ ﻞﻛ ﻡﻮﻳ ﻥﺇ ﺖﺌﺷ ، ﻝﺎﻗ : ﻻ ﻞﺑ
,ﻞﺴﻐﻟﺍ ﻝﺎﻗ ﻞﺴﺘﻏﺍ ﻞﻛ ﻡﻮﻳ ﺔﻌﻤﺟ ، ﻡﻮﻳﻭ ﺮﻄﻔﻟﺍ ،
ﻡﻮﻳﻭ ﺮﺤﻨﻟﺍ ، ﻡﻮﻳﻭ ﺔﻓﺮﻋ
“Seorang lelaki bertanya kepada Ali
radhiallahu’anhu tentang mandi, ia
menjawab: ‘Mandilah setiap hari jika
engkau mau’. Lelaki tadi berkata: ‘bukan
itu, tapi mandi yang benar-benar mandi’.
Ali menjawab: ‘Mandi di hari Jum’at, Idul
Fitri, Idul Adha dan hari Arafah’” (HR. Al
Baihaqi, dishahihkan Al Albani dalam Al
Irwa 1/177)
2. Memakai pakaian yang terbaik.
Sebagaimana diriwayatkan dari Nafi’:
َّﻥَﺃ َﻦْﺑﺍ َﺮَﻤُﻋ َﻥﺎَﻛ ُﺲَﺒْﻠَﻳ ﻲِﻓ ِﻦْﻳَﺪﻴِﻌْﻟﺍ َﻦَﺴْﺣَﺃ ِﻪِﺑﺎَﻴِﺛ
“Ibnu Umar biasa mengenakan bajunya
yang terbaik pada Idul Fitri dan Idul
Adha” (HR. Al Baihaqi 6143, dishahihkan
Ibnu Hajar dalam Fathul Bari 2/510)
3. Tidak makan hingga kembali dari shalat Id.
Dalilnya hadits Buraidah:
ﻥﺎﻛ ُﻝﻮﺳﺭ ِﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ ﻻ ُﺝﺮﺨﻳ َﻡﻮﻳ
ِﺮﻄﻔﻟﺍ ﻰَّﺘﺣ ﻢَﻌﻄَﻳ ، َﻡﻮﻳﻭ ِﺮﺤﻨﻟﺍ ﻻ ﻞﻛﺄﻳ ﻰَّﺘﺣ َﻊﺟﺮﻳ
َﻞﻛﺄﻴﻓ ﻦﻣ ِﻪِﺘﻜﻴِﺴَﻧ
“Nabi Shallallahu’alahi Wasallam biasanya
tidak keluar pada hari Idul Fitri hingga
makan terlebih dahulu, dan tidak makan
pada hari Idul Adha hingga beliau kembali
dari shalat, lalu makan dengan daging
sembelihannya” (HR. Muslim 1308)
4. Mengambil jalan yang berbeda ketika pergi
shalat Id. Dalilnya hadits Jabir:
ﻥﺎﻛ ﻲﺒﻨﻟﺍ – ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ – ﺍﺫﺇ ﻥﺎﻛ ﻡﻮﻳ
ٍﺪﻴﻋ َﻒَﻟﺎﺧ َﻖﻳﺮﻄﻟﺍ
“Nabi Shallallahu’alahi Wasallam biasanya
ketika hari Id mengambil jalan yang
berbeda antara pulang dan pergi” (HR.
Bukhari 986)
5. Sebagian ulama menganjurkan untuk
menyegerakan pelaksanaan shalat Idul
Adha, dengan kata lain jika dimulai lebih
pagi itu lebih baik. Diriwayatkan secara
mursal bahwa:
ﺐَﺘﻛ ﻰﻟﺇ ﻭِﺮﻤﻋ ٍﻡْﺰﺣ ِﻦﺑ ﻮﻫﻭ َﻥﺍﺮْﺠَﻨﺑ ِﻞِّﺠﻋ ﻰﺤﺿﻷﺍ
ِﺮِّﺧﺃﻭ َﺮﻄﻔﻟﺍ ِﺮِّﻛﺫﻭ َﺱﺎﻨﻟﺍ
“Nabi Shallallahu’alahi Wasallam mengirim
surat kepada Amr bin Hazm ketika ia di
Najran agar ia menyegerakan shalat Idul
Adha dan mengakhirkan shalat Idul Fitri
dan mengingatkan manusia”(HR. Al Baihaqi
3/282). Pada Idul Fitri tujuannya untuk
melonggarkan waktu pembayaran zakat
fitri, sedangkan pada Idul Adha untuk
menyegerakan penyembelihan sehingga
waktunya lebih luas (Mulakhash Fiqhi,
1/270)
Shalat Id
Para ulama berbeda pendapat mengenai hukum
shalat Id, sebagian mengatakan wajib, sebagian
ulama mengatakan hukumnya sunnah. Oleh karena
itu, setiap muslim yang tidak memiliki uzur dan
halangan hendaknya bersemangat untuk
menjalankan ibadah ini. Terlebih lagi, Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan para
wanita yang sedang haid dan wanita yang dipingit
untuk hadir di lapangan walau mereka tidak ikut
shalat Id. Sebagaimana hadits dari Ummu ‘Athiyyah
radhiallahu’anha :
ﺎﻧﺮﻣﺃ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ ﻥﺃ ﺝﺮﺨﻧ ﺕﺍﻭﺫ
ﺭﻭﺪﺨﻟﺍ ﻡﻮﻳ ﺪﻴﻌﻟﺍ ﻞﻴﻗ ﺾﻴﺤﻟﺎﻓ ﻝﺎﻗ ﻥﺪﻬﺸﻴﻟ ﺮﻴﺨﻟﺍ ﺓﻮﻋﺩﻭ
ﻦﻴﻤﻠﺴﻤﻟﺍ ﻝﺎﻗ ﺖﻟﺎﻘﻓ ﺓﺃﺮﻣﺍ ﺎﻳ ﻪﻠﻟﺍ ﻝﻮﺳﺭ ﻥﺇ ﻢﻟ ﻦﻜﻳ
ﻦﻫﺍﺪﺣﻹ ﺏﻮﺛ ﻒﻴﻛ ﻊﻨﺼﺗ ﻝﺎﻗ ﺎﻬﺴﺒﻠﺗ ﺎﻬﺘﺒﺣﺎﺻ ﺔﻔﺋﺎﻃ ﻦﻣ
ﺎﻬﺑﻮﺛ
“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam
memerintahkan wanita yang dipingit (juga wanita
yang haid) pada hari Ied, untuk menyaksikan
kebaikan dan seruan kaum muslimin. Kemudian
seorang wanita berkata: ‘Wahai Rasulullah jika
diantara kami ada yang tidak memiliki pakaian, lalu
bagaimana?’. Rasulullah bersabda: ‘Hendaknya
temannya memakaikan sebagian pakaiannya‘” (HR.
Abu Daud, no.1136. Dishahihkan Al Albani di
Shahih Abi Daud)
Tata Cara Shalat Id
Tidak ada adzan dan iqamah. Diriwayatkan
dari Ibnu Abbas dan Jabir
Radhiallahu’anhuma :
ﻢﻟ ﻦﻜﻳ ﻥَّﺫﺆُﻳ ﻡﻮﻳ ﺮﻄﻔﻟﺍ ﻻﻭ ﻡﻮﻳ ﻰﺤﺿﻷﺍ
“Tidak pernah ada adzan pada shalat Idul
Fitri dan shalat Idul Adha” (HR. Bukhari
960, Muslim 886)
Tata cara shalat Id umumnya sama seperti
shalat biasa. Hanya saja ia dikerjakan
sebanyak dua rakaat. Dan bertakbir
sebanyak 7 kali pada rakaat pertama, atau
5 kali pada rakaat kedua, sebelum
membaca yang lain, tidak termasuk
takbiratul ihram, takbir intiqal dan takbir
untuk rukuk. Dalilnya hadits ‘Aisyah:
ﻥﺃ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ – ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ – ﻥﺎﻛ ﺮﺒﻜﻳ
ﻲﻓ :ﻰﺤﺿﻷﺍﻭ ﺮﻄﻔﻟﺍ ﻲﻓ ﻰﻟﻭﻷﺍ ﻊﺒﺳ ،ﺕﺍﺮﻴﺒﻜﺗ
ﻲﻓﻭ ﺔﻴﻧﺎﺜﻟﺍ ،ًﺎﺴﻤﺧ ﻯﻮﺳ ﻲﺗﺮﻴﺒﻜﺗ ﻉﻮﻛﺮﻟﺍ
“Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam
biasanya bertakbir pada shalat Idul Fitri
dan Idul Adha 7 kali di rakaat pertama dan
5 kali di rakaat kedua, tidak termasuk
takbir untuk rukuk” (HR. Abu Daud 1150,
Ibnu Majah 1280, dishahihkan Al Albani
dalam Al Irwa 639)
Rasulullah Shallallahu’alahi Wasallam
biasanya membaca surat Al A’laa dan Al
Ghasiyah terutama jika hari Id jatuh pada
hari Jum’at, atau terkadang juga surat Qaf
dan Al Qamar (lihat hadits Muslim 878,
891).
Diikuti dengan khutbah setelah selesai
shalat. Dalilnya hadits Ibnu Abbas:
ُﺕﺪﻬﺷ ﺪﻴﻌﻟﺍ ﻊﻣ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ – ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ
ﻢﻠﺳﻭ – ﻲﺑﺃﻭ ﺮﻜﺑ ﺮﻤﻋﻭ ﻥﺎﻤﺜﻋﻭ ﻲﺿﺭ ﻪﻠﻟﺍ
،ﻢﻬﻨﻋ ﻢﻬﻠﻜﻓ ﺍﻮﻧﺎﻛ ﻥﻮُّﻠَﺼُﻳ ﻞﺒﻗ ﺔﺒﻄُﺨﻟﺍ
“Aku ikut shalat Id bersama Rasulullah
Shallallahu’alahi Wasallam, Abu Bakar,
Umar dan Utsman radhiallahu’anhum.
Mereka semua shalat sebelum
khutbah” (HR. Bukhari 962, Muslim 884).
Mendengarkan khutbah hukumnya sunnah
dan tidak berpengaruh pada keabsahan
shalat Id. Beradasarkan hadits:
ﺎَﻧﺇ ،ﺐﻄﺨﻧ ﻦﻤﻓ ﺐﺣﺃ ﻥﺃ ﺲﻠﺠﻳ ﺔﺒﻄﺨﻠﻟ ،ﺲﻠﺠﻴﻠﻓ
ﻦﻣﻭ ﺐﺣﺃ ﻥﺃ ﺐﻫﺬﻳ ﺐﻫﺬﻴﻠﻓ
“Aku (Rasulullah) akan berkhutbah. Siapa
yang ingin duduk mendengarkan, silakan.
Siapa yang ingin pergi, juga silakan” (HR.
Abu Daud 1155, dishahihkan Al Albani
dalam Shahih Al Jami 2289)
Tidak ada shalat khusus sebelum (qabliyah)
atau setelah (ba’diyah) shalat Id. Dalilnya
hadits Ibnu ‘Abbas :
ﻥﺃ ﻲﺒﻨﻟﺍ – ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ – ﻰﻠﺻ ﻡﻮﻳ
ﺮﻄﻔﻟﺍ ،ﻦﻴﺘﻌﻛﺭ ﻢﻟ ِّﻞَﺼُﻳ ﺎﻬَﻠﺒﻗ ﻻﻭ ﺎﻫﺪﻌﺑ
“Nabi Shallallahu’alahi Wasallam shalat di
hari Idul Fitri dua rakaat tanpa
menyambung dengan shalat sebelum atau
sesudahnya” (HR. Bukhari 989)
Jika Idul Adha jatuh pada hari Jum’at, boleh
meninggalkan shalat Jum’at pada siang
harinya, dengan kata lain cukup shalat
Zhuhur saja. Namun jika tetap
melaksanakan shalat Jum’at juga
diperbolehkan. Dalilnya hadits Zaid bin
Arqam:
ﻪﻧﺃ ﻰَّﻠﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ِﻪﻴﻠﻋ َﻢَّﻠﺳﻭ ﻰَّﻠﺻ َﺪﻴﻌﻟﺍ ، ﻢﺛ ﺺَّﺧﺭ
ﻲﻓ ِﺔﻌﻤﺠﻟﺍ ، ﻝﺎﻘﻓ : ﻦﻣ ﺀﺎﺷ ﻥﺃ َﻲِّﻠﺼُﻳ ِّﻞﺼُﻴْﻠﻓ
“Nabi Shallallahu’alahi Wasallam shalat Id,
lalu beliau memberi keringanan untuk tidak
melakukan shalat Jum’at, tapi beliau
bersabda: ‘siapa yang ingin shalat,
silakan’” (HR. Abu Daud 1070, An Nasa’1
3/194, dishahihkan Al Albani dalam Shahih
Abi Daud)
Takbiran Idul Adha
Allah Ta’ala berfirman:
ﺍﻭُﺮُﻛْﺫﺍَﻭ َﻪَّﻠﻟﺍ ٍﻡﺎَّﻳَﺃ ﻲِﻓ ٍﺕﺍَﺩﻭُﺪْﻌَﻣ
“Sebutlah nama Allah pada hari-hari yang
ditentukan” (QS. Al Baqarah: 203).
Para ulama berbeda pendapat mengenai tafsiran
ayat ‘hari-hari yang ditentukan‘. Yang shahih,
sesuai dengan riwayat shahih yang keluarkan Ibnu
Abi Syaibah (2/165) dari Ali radhiallahu’anhu
bahwasanya takbiran Idul Adha dilakukan sejak
subuh tanggal 9 Dzulhijjah hingga setelah shalat
Ashar tanggal 13 Dzulhijjah (Al Wajiz, 1/160).
Ibadah Udhiyah
Al Udhiyah atau an nusuk atau an nahr atau biasa
disebut ibadah qurban adalah ibadah yang agung
yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala. Ia berfirman:
ِّﻞَﺼَﻓ َﻚِّﺑَﺮِﻟ ْﺮَﺤْﻧﺍَﻭ
“Shalatlah kepada Rabb-mu dan berqurbanlah” (QS.
Al Kautsar: 2)
Para ulama berbeda pendapat mengenai
hukumnya, sebagian mengatakan hukumnya wajib
bagi yang mampu, dan sebagian mengatakan
sunnah muakkad. Oleh karena itu, selayaknya
orang yang mampu berqurban tidak lalai dari
ibadah ini. Diantara dalilnya adalah, sabda Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam:
ﻦﻣ ﻥﺎﻛ ﻪﻟ ٌﺔَﻌِﺳ ﻢﻟﻭ ِّﺢَﻀُﻳ ﻼﻓ ْﺪﻬﺸَﻳ ﺎﻧﺎَّﻠﺼﻣ
“Barangsiapa memiliki kelapangan, namun ia tidak
berqurban, maka janganlah datangi mushalla
kami” (HR. Ahmad 1/312, Ibnu Majah 3123,
dihasankan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah)
Hewan Qurban
Hewan yang disembelih dalam ibadah qurban
adalah bahiimatul an’am, yaitu unta, sapi, kambing,
dan domba. Berdasarkan firman Allah Ta’ala:
ِّﻞُﻜِﻟَﻭ ٍﺔَّﻣُﺃ ﺎَﻨْﻠَﻌَﺟ ﺎًﻜَﺴْﻨَﻣ َﻢْﺳﺍ ﺍﻭُﺮُﻛْﺬَﻴِﻟ ِﻪَّﻠﻟﺍ ﻰَﻠَﻋ ﺎَﻣ ْﻢُﻬَﻗَﺯَﺭ
ْﻦِﻣ ِﺔَﻤﻴِﻬَﺑ ِﻡﺎَﻌْﻧَﺄْﻟﺍ ْﻢُﻜُﻬَﻟِﺈَﻓ ٌﻪَﻟِﺇ ٌﺪِﺣﺍَﻭ ُﻪَﻠَﻓ ﺍﻮُﻤِﻠْﺳَﺃ ِﺮِّﺸَﺑَﻭ
َﻦﻴِﺘِﺒْﺨُﻤْﻟﺍ
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan
penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut
nama Allah terhadap bahimatul an’am yang telah
direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu
ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah
dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar
gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh
(kepada Allah)” (QS. Al Hajj: 34)
Unta lebih utama, lalu setelah itu sapi, karena lebih
berharga dan lebih banyak dagingnya sehingga
memberikan manfaat (Mulakhash Fiqhi,1/449).
Sembelihan seekor sapi mencukupi untuk 7 orang
dan sembelihan seekor unta mencukupi untuk 10
orang. Berdasarkan hadits:
ﺎﻨﻛ ﻊﻣ ﻝﻮﺳﺭ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻠﻟﺍ ﻰﻠﺻ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ ﻲﻓ ﺮﻔﺳ ، ﺮﻀﺤﻓ
ﻰﺤﺿﻷﺍ ، ﺎﻨﻛﺮﺘﺷﺎﻓ ﻲﻓ ﺓﺮﻘﺒﻟﺍ ﺔﻌﺒﺳ ، ﻲﻓﻭ ﺮﻴﻌﺒﻟﺍ ﺓﺮﺸﻋ
“Kami pernah bersafar bersama Rasulullah
Shallallahu’alaihi Wasallam, kemudian tiba hari Idul
Adha. Maka kami patungan bertujuh untuk sapi,
dan bersepuluh untuk unta” (HR. Tirmidzi 1501,
dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi
905)
Sedangkan sembelihan seekor kambing atau domba
untuk satu orang shahibul qurban, namun
pahalanya untuk ia dan seluruh keluarganya
sekaligus. Sebagaimana hadits Atha bin Yasar:
ﻒﻴﻛ ِﺖﻧﺎﻛ ﺎﻳﺎﺤﻀﻟﺍ ﻰﻠﻋ ِﺪﻬﻋ ِﻝﻮﺳﺭ ِﻪﻠﻟﺍ ﻰَّﻠﺻ ُﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ
ﻢَّﻠﺳﻭ ﻝﺎﻘﻓ ﻥﺎﻛ ُﻞﺟﺮﻟﺍ ﻲِّﺤﻀُﻳ ِﺓﺎﺸﻟﺎﺑ ﻪﻨﻋ ﻦﻋﻭ ِﻞﻫﺃ ،ﻪِﺘﻴﺑ
َﻥﻮﻠُﻛﺄﻴﻓ َﻥﻮﻤَﻌﻄﻳﻭ ﻰﺘﺣ ﻰﻫﺎﺒَﺗ ُﺱﺎﻨﻟﺍ ْﺕَﺭﺎﺼﻓ ﺎﻤﻛ ﻯﺮَﺗ
“Bagaimana para sahabat berqurban di masa Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam? Abu Ayyub Al Anshari
menjawab: ‘Ada yang pernah menyembelih seekor
domba untuk dirinya dan keluarganya. Mereka
akan makan sebagiannya dan menyedekahkan
sebagiannya. Sehingga jadilah seperti yang engkau
lihat’” (HR. Tirmidzi 1505, ia berkata: ‘hasan
shahih’)
Adapun hewan yang dijadikan sembelihan qurban,
tidak boleh memiliki kekurangan yang disebut
dalam hadits:
ﻊﺑﺭﺃ ﻻ ﺉﺰﺠﺗ ﻲﻓ ﻲﺣﺎﺿﻷﺍ ﺀﺍﺭﻮﻌﻟﺍ ﻦﻴﺒﻟﺍ ﺎﻫﺭﻮﻋ ، ﺔﻀﻳﺮﻤﻟﺍﻭ
ﻦﻴﺒﻟﺍ ﺎﻬﺿﺮﻣ ، ﺀﺎﺟﺮﻌﻟﺍﻭ ﻦﻴﺒﻟﺍ ﺎﻬﻌﻠﻇ ، ﺮﻴﺴﻜﻟﺍﻭ ﻲﺘﻟﺍ ﻻ
ﻰﻘﻨﺗ
“Empat hal yang tidak boleh ada pada hewan
qurban : dipastikan ia sakit buta, dipastikan ia
sakit, dipastikan ia pincang, atau ia kurus
sekali” (HR. Ahmad 18139, Ibnu Majah 3143,
dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Majah)
Waktu Penyembelihan
Penyembelihan hewan qurban dapat dilakukan
dalam rentang waktu 4 hari, dimulai setelah shalat
Idul Adha hingga beakhir setelah ashar tanggal 13
Dzulhijjah. Diluar rentang waktu ini maka tidak sah.
Dalilnya adalah hadits Barra’ bin ‘Adzib:
ﻦَﻣ ﺢﺑﺫ ﻞﺒﻗ ﺓﻼﺼﻟﺍ ﺲﻴﻠﻓ ﻦِﻣ ﻚﺴﻨﻟﺍ ﻲﻓ ،ﺀﻲﺷ ﺎﻤﻧﺇﻭ
ﻮﻫ ﻢﺤﻟ ﻪﻣَّﺪَﻗ ﻪﻠﻫﻷ
“Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat
Idul Adha, maka itu tidak dianggap nusuk (qurban).
Itu hanya sekedar daging biasa untuk dimakan
keluarganya” (HR. Bukhari 5560, Muslim 1961)
Juga hadits:
ﻡﺎﻳﺃ ﻞﻛ ﻖﻳﺮﺸﺘﻟﺍ ﺢﺑﺫ
“Pada hari-hari tasyriq, boleh menyembelih” (HR.
Ahmad 4/8, dihasankan oleh Al Albani dalam
Silsilah Ash Shahihah 2476)
Tata Cara Penyembelihan
1. Wajib membaca basmalah, dan
disunnahkan bertakbir. Lalu meletakkan
kaki pada leher hewan sembelihan.
Dalilnya:
ﺎَﻟَﻭ ﺍﻮُﻠُﻛْﺄَﺗ ﺎَّﻤِﻣ ْﻢَﻟ ِﺮَﻛْﺬُﻳ ِﻪَّﻠﻟﺍ ُﻢْﺳﺍ ِﻪْﻴَﻠَﻋ ُﻪَّﻧِﺇَﻭ ٌﻖْﺴِﻔَﻟ
“Jangan kalian makan sembelihan yang
tidak disebut nama Allah atasnya, karena
itu adalah kefasikan” (QS. Al An’am: 121)
Juga hadits:
ﻰَّﺤَﺿ ﻲﺒﻨﻟﺍ – ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ – ﻦﻴﺸﺒﻜﺑ
ﻦﻴﺤﻠﻣﺃ ،ﻦﻴﻧﺮﻗﺃ ﺎﻤﻬﺤﺑﺫ ،ﻩﺪﻴﺑ ﻰًﻤَﺳﻭ ،ﺮَّﺒَﻛﻭ
ﻊﺿﻭﻭ ﻪﻠﺟﺭ ﻰﻠﻋ ﺎﻤﻬِﺣﺎَﻔِﺻ
“Nabi Shallallahu’alahi Wasallam berqurban
dengan dua kambing kibasy berwarna putih
lagi panjang tanduknya. Beliau
menyembelihnya dengan tangan beliau
sendiri sambil membaca basmalah dan
bertakbir serta meletakkan kaki beliau
diatas leher keduanya” (HR. Bukhari 5558,
Muslim 1966)
2. Disunnahkan menyebut nama shahibul
qurban. Sebagaimana praktek Nabi ketika
berqurban beliau bersabda:
ﻢﻬﻠﻟﺍ ﺍﺬﻫ ،ﻲﻨﻋ ﻢﻟ ﻦّﻤﻋﻭ ِّﺢﻀُﻳ ﻦﻣ ﻲﺘﻣﺃ
“Ini qurban dariku dan umatku yang tidak
bisa berqurban” (HR. Al Hakim 7629,
dishahihkan Al Albani dalam Syarah At
Thahawiyah 456)
3. Gunakan pisau yang tajam sehingga cepat
putus dengan demikian hewan qurban tidak
terlalu lama merasakan sakit, dan
tenangkan hewan sebelum di sembelih.
Dalilnya:
ﺍﺫﺇﻭ ﻢﺘﺤﺑﺫ ﺍﻮﻨﺴﺣﺄﻓ ﺢﺑﺬﻟﺍ . ﺪﺤﻴﻟﻭ ﻢﻛﺪﺣﺃ ﻪﺗﺮﻔﺷ .
ﺡﺮﻴﻠﻓ ﻪﺘﺤﻴﺑﺫ
“Jika kalian menyembelih, sembelihlah
dengan cara yang baik. Hendaknya kalian
menajamkan pisau dan hendaknya ia
menenangkan hewan sembelihannya” (HR.
Muslim 1995)
Sunnah-Sunnah Dalam Ibadah Qurban
1. Penyembelihan dilakukan dilapangan.
Dalilnya hadits Ibnu Umar:
ﻥﺎﻛ – ﻰﻠﺻ ﻪﻠﻟﺍ ﻪﻴﻠﻋ ﻢﻠﺳﻭ – ﻲﺤﻀُﻳ ﻰﻠﺼُﻤﻟﺎﺑ
“Biasanya Nabi Shallallahu’alahi Wasallam
berqurban dilapangan” (HR. Bukhari 5552)
2. Shahibul qurban dianjurkan menyembelih
dengan tangan sendiri atau boleh
diwakilkan kepada orang lain namun
menyaksikan penyembelihannya (Ahkamul
Idain, 1/77)
3. Shahibul qurban dianjurkan memakan
daging sembelihannya dan mensedekahkan
sebagian yang lain. Dalilnya sabda Nabi
Shallallahu’alaihi Wasallam tentang hal ini :
ﺍﻮﻠﻛ ﺍﻭﺮﺧّﺩﺍﻭ ﺍﻮﻗّﺪﺼﺗﻭ
“Makanlah, simpanlah dan
sedekahkanlah” (HR. Bukhari 5569, Muslim
1971)
Referensi:
Al Wajiz Fi Fiqhis Sunnah Wal Kitaabil ‘Aziz,
Syaikh Abdul Azhim bin Badawi Al Khalafi
Ahkamul Idain Fis Sunnah Al Muthahharah,
Syaikh Ali bin Hasan Al Halabi
Al Mulakhash Al Fiqhi, Syaikh Shalih bin
Fauzan Al Fauzan
Lebih baru Lebih lama