EMPAT PRINSIP KESELAMATAN BERAGAMA


EMPAT PRINSIP KESELAMATAN BERAGAMA
Oleh : Drs. Hamzah Johan Al-batahany

     Banyak orang yang tanpa sadar terjebak dalam pemahaman agama yang sempit, sehingga mempengaruhi sifat dan sikap keagamaannya, bahkan mengganggu kestabilan jiwanya yang cendrung ekstrim dan fanatik buta. Islam yang identik dengan rahmatan lil'alamin, pelan-pelan memudar pada dirinya bahkan dia terjebak pada keadaan berbahaya dimana dia telah memposisikan dirinya bukan sebagai penegak nilai-nilai islami tapi menjadi perusak nilai luhur Islam itu sendiri.
     Dan lebih memprihatinkan, dia berani menutupi jeritan, kegelisahan dan keraguan hati nuraninya dalam membela faham yang dia anut karena gengsi, kejahiliyahan dan kefanatikan yang mengangker dalam dirinya. Sangat menyedihkan pula sifat pemaksaan paham keagamaannya menimbulkan kebencian dan pelan-pelan orang-orang yang pada awalnya bersimpati kini mereka mulai menjauh dan meninggalkannya. Untuk menghindari keadaan seperti itu diperlukan Prinsip-prinsip Keselamatan Beragama, yakni :
1. PRINSIP MENJAUHI PERPECAHAN
2. PRINSIP MENERIMA PERBEDAAN
3. PRINSIP BERANI BERUBAH
4. PRINSIP PRIORITAS

Penjelasan :

1. PRINSIP MENJAUHI PERPECAHAN

     Allah swt telah melarang kita berbuat perpecahan (tafarruq) sebagaimana firman-Nya:

    ﻭَٱﻋْﺘَﺼِﻤُﻮا۟ ﺑِﺤَﺒْﻞِ ٱﻟﻠَّﻪِ ﺟَﻤِﻴﻌًﺎ ﻭَﻻَ ﺗَﻔَﺮَّﻗُﻮا۟ ۚ ﻭَٱﺫْﻛُﺮُﻭا۟ ﻧِﻌْﻤَﺖَ ٱﻟﻠَّﻪِ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺇِﺫْ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺃَﻋْﺪَآءً ﻓَﺄَﻟَّﻒَ ﺑَﻴْﻦَ ﻗُﻠُﻮﺑِﻜُﻢْ ﻓَﺄَﺻْﺒَﺤْﺘُﻢ ﺑِﻨِﻌْﻤَﺘِﻪِۦٓ ﺇِﺧْﻮَٰﻧًﺎ ﻭَﻛُﻨﺘُﻢْ ﻋَﻠَﻰٰ ﺷَﻔَﺎ ﺣُﻔْﺮَﺓٍ ﻣِّﻦَ ٱﻟﻨَّﺎﺭِ ﻓَﺄَﻧﻘَﺬَﻛُﻢ ﻣِّﻨْﻬَﺎ ۗ ﻛَﺬَٰﻟِﻚَ ﻳُﺒَﻴِّﻦُ ٱﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻜُﻢْ ءَاﻳَٰﺘِﻪِۦ ﻟَﻌَﻠَّﻜُﻢْ ﺗَﻬْﺘَﺪُﻭﻥَ

Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (Ali Imran - 3:103).
     Perpecahan itu sangat tidak baik bagi umat Islam. Perpecahan itu disifatkan oleh Allah sebagai hufratin minan nar (jurang neraka). Setiap sifat, sikap dan perbuatan yang membawa perpecahan adalah sama dengan membawa diri ke jurang neraka.
     Sebagian orang ada yang tidak menyadari bahwa sifat, sikap dan perbuatannya membawa perpecahan. Seperti dikala adu faham keagamaan yang cenderung cari menang, bukan cari benar. Karena kehabisan dalil maka ia gunakan jurus caci maki , menyerang pribadi lawan berdebat, mencaci maki dan memfitnah ulama yang berseberang faham dengannya. Pada akhirnya bukan lagi adu argumen (adu otak) tapi menjadi adu otot seperti hewan yang memang tak punya akal.
     Prinsip Menjauhi Perpecahan ini menghendaki seseorang agar berhati-hati dalam berdebat. Jaga jangan sampai melanggar etika perdebatan. Etika debat dalam hukum Islam adalah "UPAYA PEMBUKTIAN KEBENARAN".

ﻗُﻞْ ﻫَﺎﺗُﻮا۟ ﺑُﺮْﻫَٰﻨَﻜُﻢْ ﺇِﻥ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺻَٰﺪِﻗِﻴﻦَ
Katakanlah, "Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar". (Al-Baqarah - 2:111)

     Benar itu ada dua bentuk, yakni BENAR MUTLAK dan BENAR RELATIF. Benar-Mutlak adalah benar berdasarkan dalil yang qoth'i (qoth'i dilalah dan dilalah yang qoth'i), seperti kewajiban shalat, puasa dsb. Adapun Benar-Relatif adalah berdasarkan dalil yang zhonni, membutuhkan ijtihad yang mendalam dan membutuhkan metodologi istinbath hukum yang baik. Pada Benar-Relatif inilah umat Islam terjebak dalam perpecahan.

2. PRINSIP MENERIMA PERBEDAAN

     Perbedaan pendapat itu sudah menjadi sunatullah, sebagaimana firman-Nya ;
ﺇِﻧَّﻜُﻢْ ﻟَﻔِﻰ ﻗَﻮْﻝٍ ﻣُّﺨْﺘَﻠِﻒٍ

sesungguhnya kamu benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat, (Az-Zariyat - 51:8)
     Tetapi perbedaan pendapat tersebut jangan sampai menimbulkan sifat bangga, merasa benar dengan pendapat sendiri. Firman Allah ;

ﻓَﺘَﻘَﻂَّﻌُﻮٓا۟ ﺃَﻣْﺮَﻫُﻢ ﺑَﻴْﻨَﻬُﻢْ ﺯُﺑُﺮًا ۖ ﻛُﻞُّ ﺣِﺰْﺏٍۭ ﺑِﻤَﺎ ﻟَﺪَﻳْﻬِﻢْ ﻓَﺮِﺣُﻮﻥَ

Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga (paling benar) dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing). (Al-Mu'minun - 23:53)
     Sebenarnya umat Islam aswaja (ahli sunnah wal jama'ah) apa pun organisasinya sama dan sepakat dalam hal ushul (pokok agama), seperti rukun iman dan rukun Islam. Tapi ada beberapa perbedaan di bidang furu' (cabang ) seperti hukum berjenggot, hukum memakai emas bagi laki-laki, kunut dalam shalat dan sebagainya yang masuk ranah ijtihad.
     Sering kita jumpai dikalangan umat Islam mencampur adukkan dan menyamakan sikap debatnya antara mempertahankan bidang ushul dengan furu'. Jika di bidang ushul kita pertahankan dengan prinsip MERASA PALING BENAR adalah wajar dan wajib hukumnya, seperti Tuhan itu hanya Allah, Nabi dan Rasul terakhir adalah nabi Muhammad SAW. Dalilnya qoth'i baik secara naqli mau pun 'aqli. Akan tetapi dibidang furu' tidak bisa menggunakan prinsip paling benar sendiri lalu yang lain salah. Prinsip yang tepat adalah "SAMA-SAMA MENCARI KEBENARAN", dan menghargai hasil ijtihad orang lain. Sebab hasil ijtihad itu benar-relatif, tidak benar-mutlak. Selagi ijtihad itu dilakukan dengan memenuhi syarat istinbath hukum Islam, maka pasti dapat pahala. Hal itu disebutkan dalam hadits shahih Bukhari;

ﻋَﻦْ ﻋَﻤْﺮِﻭ ﺑْﻦِ ﺍﻟْﻌَﺎﺹِ ﺃَﻧَّﻬُﺴَﻤِﻊَ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻳَﻘُﻮﻝُ ﺇِﺫَﺍ ﺣَﻜَﻢَ ﺍﻟْﺤَﺎﻛِﻢُ ﻓَﺎﺟْﺘَﻬَﺪَ ﺛُﻢَّ ﺃَﺻَﺎﺏَ ﻓَﻠَﻪُ ﺃَﺟْﺮَﺍﻥِ ﻭَﺇِﺫَﺍ ﺣَﻜَﻢَ ﻓَﺎﺟْﺘَﻬَﺪَ ﺛُﻢَّ ﺃَﺧْﻂَﺄَ ﻓَﻠَﻪُ ﺃَﺟْﺮ

dari ['Amru bin 'ash] ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jika seorang hakim mengadili dan berijtihad, kemudian ijtihadnya benar, maka ia mendapat dua pahala, dan jika seorang hakim berijtihad, lantas ijtihadnya salah (meleset), baginya satu pahala."
     Jadi orang yang shalat subuh yang tidak memakai qunut dan yang memakai qunut sama-sama dapat pahala, jika ijtihadnya benar (menurut Allah) dapat dua pahala dan jika salah (menurut Allah) maka dapat satu pahala. Benar atau salah itu tergantung Allah, kewajiban kita berijtihad secara maksimal, maka upaya maksimal itulah yang menghasilkan pahala.
     Oleh sebab itu tidak etis kita mencela pendapat orang lain jikalau itu hasil ijtihad. Tapi jika ijtihadnya asal-asalan maka perlu diluruskan.
     Contoh kasus, ada ulama berfatwa bahwa berpartai itu hukumnya haram, maka pendapat tersebut sah-sah saja. Sebaliknya ada ulama berfatwa bahwa berpartai itu hukumnya wajib kifayah, maka pendapat tersebut sah-sah juga. Keduanya hasil ijtihad, maka keduanya boleh saja diterima yang implementasinya sesuai situasi dan kondisi.
     Contoh lain, ada ulama berfatwa bahwa bid'ah itu hanya satu jenis saja yakni bid'ah dholalah, dan ada pula ulama berfatwa bahwa bid'ah itu terbagi dua yakni bid'ah sayyiah dan bid'ah hasanah, maka kedua fatwa tesebut sah-sah saja karena kedua pendapat tersebut sama-sama hasil ijtihad.
    Perbedaan hasil ijtihad itu tidak dapat disangkal dan itu adalah kenyataan. Perbedaan ijtihad itu dapat terjadi disebabkan oleh beberapa hal, antara lain perbedaan metodologi. Contoh kecil, ada seorang di jejaring sosial membuat status bahwa berpartai itu haram dan demokrasi itu adalah thaghut dan siapa yang ikut berpartai dan berdemokrasi maka dia telah bermaksiat kepada Allah, hukumnya haram, nanti pelakunya masuk neraka.
      Saya coba bertanya padanya, "Apakah ada larangan Allah dan Rasul secara qoth'i menetapkan bahwa berpartai dan berdemokrasi itu hukumnya haram, tolong tunjukan dalilnya?". Beliau tidak dapat mengemukakan dalilnya, namun memposting tulisan seorang ulama yang mengharamkan berpartai.
     Lalu saya bertanya lagi; " Apakah ulama yang anda fanatiki itu seorang yang tak pernah salah dan selalu benar? Padahal imam Syafi'i yang begitu hebat ilmunya berani mengkoreksi ijtihadnya sendiri yang terkenal dengan qaul qadim dan qaul jadid dan itu menunjukkan bahwa prodak ijtihad itu dapat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi. Boleh jadi ulama yang berfatwa bahwa berpartai itu haram karena sesuai kondisinya pada waktu itu merugikan umat Islam, tapi dilain keadaan menguntungkan Islam hingga hukumnya wajib. Itulah gambaran elastisitas hukum Islam, dipengaruhi situasi dan kondisi. Makan daging babi hukumnya haram, tapi keadaan darurat hukumnya mubah. Itulah elastisitas hukum Islam, lalu apakah dengan keterangan saya ini anda masih menganggap bahwa orang yang berpartai dihukum haram ?".
      Lalu beliau coba menstresing saya dengan mencela pribadi saya dengan mengatakan ; "Anda seorang yang bermaksiat kepada Allah karena tidak patuh kepada Rasul-Nya yang memerintahkan untuk berjenggot "?
     Kemudian saya jawab; "Berjenggot itu masih ranah ijtihad, jadi boleh saja saya tidak berjenggot".
     Lalu saya mengatakan: "kalian termasuk firqah daud zhohiri, menafsirkan Al-Quran dan hadits secara tekstual, begitu ada kata perintah kalian hukumi wajib. Sekarang kalian saya tantang mengamalkan perintah ayat ini (QS;9:5), jika kalian tidak melaksanakannya berarti kalian berbuat maksiat kepada Allah dan kalian tidak konsekwen menggunakan metodologi istinbath hukum yg kalian yakini. Ini perintahnya:
ﻓَﺈِﺫَا ٱﻧﺴَﻠَﺦَ ٱﻷَْﺷْﻬُﺮُ ٱﻟْﺤُﺮُﻡُ ﻓَﭑﻗْﺘُﻠُﻮا۟ ٱﻟْﻤُﺸْﺮِﻛِﻴﻦَ ﺣَﻴْﺚُ ﻭَﺟَﺪﺗُّﻤُﻮﻫُﻢْ ﻭَﺧُﺬُﻭﻫُﻢْ ﻭَٱﺣْﺼُﺮُﻭﻫُﻢْ ﻭَٱﻗْﻌُﺪُﻭا۟ ﻟَﻬُﻢْ ﻛُﻞَّ ﻣَﺮْﺻَﺪٍ ۚ

Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka. Kepunglah mereka dan intailah di tempat pengintaian. (At-Taubah - 9:5)

Apakah sudah kalian laksanakan ayat ini? Padahal setiap perintah kalian anggap wajib. Apakah kalian tdk takut menjadi orang munafiq, lain di mulut lain pula yg kalian lakukan?. Mana ketaatan kalian melaksanakan ayat tsb? Apakah kalian mau seperti orang yahudi, iman sebagian kitab dan kafir pada sebagian lainnya?
Kalian menuduh org yg tidak berjenggot bermaksiat kpd Allah krn tidak ta'at pd perintah nabi, sementara kalian tdk ta'at pd perintah Allah utk membunuh org musyrik setiap habis bulan haram.
Kalian terjebak pada ijtihad kalian sendiri. Kalian memahami Islam belum secara konferhensif, baru sepotong2. Kalian ibarat katak dibawah tempurung. Katak merasa dia sendiri yg hebat. Beruntung katak jika kuda lewat menendang tempurung dan katak bisa melihat dunia yg luas. Tapi sebagian katak meskipun sdh melihat dunia yg luas tapi hatinya tetap seperti di bawah tempurung juga karena ia terbelenggu kepicikan, jumud, fanatik dan 'ujub pd amal sendiri.
Merasa paling benar dg fahamnya. Jika kalian berijtihad maka kalian bilang dari Allah dan Rasul, tapi jika org lain yg betijtihad maka kalian bilang sesat. Kalian sungguh makhluk egois seperti yahudi".
     Perdebatan kami terputus.
     Dari uraian di atas dapat kita petik pelajaran bahwa hasil ijtihad itu dipengaruhi oleh banyak hal.
Dan kita tidak elok memvonis hanya pendapat kita saja yang benar.

3. PRINSIP BERANI BERUBAH

ۗ ﺇِﻥَّ ٱﻟﻠَّﻪَ ﻻَ ﻳُﻐَﻴِّﺮُ ﻣَﺎ ﺑِﻘَﻮْﻡٍ ﺣَﺘَّﻰٰ ﻳُﻐَﻴِّﺮُﻭا۟ ﻣَﺎ ﺑِﺄَﻧﻔُﺴِﻬِﻢْ ۗ

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri". (Ar-Ra'd - 13:11)
     Termasuk merubah faham, keyakinan, fikiran dan sifat kefanatikan sangat ditentukan oleh diri kita sendiri.
     Ada sebagian orang sulit merubah pendapat dan keyakinannya meskipun telah diberi keterangan yang jelas. Tapi ada pula yang mudah menerima pendapat orang lain karena dia mendapat kebenaran.
     Kecerdasan dan hidayah adalah dua faktor yang sangat menentukan perubahan kepada yang benar. Perubahan yang dimaksud adalah perubahan positif. Dari yang pragmatis atau ekstrim kepada moderat, dari yang fanatik golongan kepada fanatik kebenaran, dari yang taqlid kepada ittiba', dari yang egois kepada toleransi, dari yang sekuler kepada syar'i dan dari dunyawi kepada ukhrawi.

4. PRINSIP PRIORITAS
     Dari uraian di atas tentang ijtihad telah memberikan gambaran kepada fikiran kita bahwa ijtihad menghasilkan adanya perbedaan pendapat namun perbedaan itu sama-sama bernilai pahala.
     Perbedaan itu akan membawa bencana manakala salah dalam menerapkannya. Anda yakin bahwa shalat subuh itu tidak pakai qunut lalu anda jadi imam pada jama'ah yang berfaham qunut, dan anda sewaktu mengimami itu tidak pakai qunut, anda tahu konsekwensinya? Akan timbul fitnah.
     Anda yakin yasinan itu bid'ah dholalah, lalu anda fatwakan melalui media radio bahwa yasinan itu haram, tahukah anda konsekwensinya? Menimbulkan fitnah dan perecahan. Sukakah anda umat Islam berpecah belah karena perbedaan ijtihad tersebut? Jika anda suka maka anda mirip yahudi dan nashrani.
     Oleh sebab itu pandai-pandailah menerapkan prodak ijtihad dengan cara memproritaskan pendapat yang relevan dengan situasi dan kondisinya.

KESIMPULAN :
Prinsip Keselamatan Beragama adalah prinsip dasar bagaimana kita berfikir, berpendapat dan berbuat sesuai dengan tuntunan agama.
Bahwa terjadi perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar. Perbedaan itu menjadi rahmat jika kita saling bertoleransi pada batas kebenaran.
Jika Prinsip Keselamatan Beragama ini kita terapkan, maka insya Allah kita akan selamat, damai dan jiwa pun tentram.
Wallahu a'lam. 
Lebih baru Lebih lama