AZIMAT PENGLARIS


AZIMAT PENGLARIS (Tamimah)

Oleh : Drs. Hamzah Johan al-Batahany

Penglaris adalah jenis jimat atau azimat/tamimah, yakni sesuatu benda yang diyakini dapat melariskan jualan seseorang. Penglaris itu dapat berupa kertas atau timah lembaran tipis yang berisi jizim (tulisan sandi huruf arab, china dsb tergantung budaya setempat). Jizim tsb telah ada dibuat orang yahudi jauh sebelum Islam datang. Walaupun Islam sangat melarang perbuatan syirik tsb, namun masih banyak umat Islam mempercayainya karena mereka kurang yakin dengan ajaran Islam yang murni, dan mereka lebih yakin dengan budaya yahudi tsb (meyakini penglaris/azimat) sebagai penolongnya. Sifat mereka tersebut disebutkan oleh Allah,

ﻭَﺇِﺫَا ﻗِﻴﻞَ ﻟَﻬُﻢْ ﺗَﻌَﺎﻟَﻮْا۟ ﺇِﻟَﻰٰ ﻣَﺎٓ ﺃَﻧﺰَﻝَ ٱﻟﻠَّﻪُ ﻭَﺇِﻟَﻰ ٱﻟﺮَّﺳُﻮﻝِ ﻗَﺎﻟُﻮا۟ ﺣَﺴْﺒُﻨَﺎ ﻣَﺎ ﻭَﺟَﺪْﻧَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ءَاﺑَﺎٓءَﻧَﺎٓ ۚ ﺃَﻭَﻟَﻮْ ﻛَﺎﻥَ ءَاﺑَﺎٓﺅُﻫُﻢْ ﻻَ ﻳَﻌْﻠَﻤُﻮﻥَ ﺷَﻴْـًٔﺎ ﻭَﻻَ ﻳَﻬْﺘَﺪُﻭﻥَ

Apabila dikatakan kepada mereka, "Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul". Mereka menjawab, "Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya". Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk? (Al-Ma'idah - 5:104)

Yang menjadi daya tarik bagi mereka dalam menggunakan penglaris (jimat) tsb yakni sebagian orang merasakan buktinya bisa melariskan dagangan, memperlancar bisnis. Padahal jika mereka tahu kenapa bisa seperti itu mereka pasti menyesal karena mereka telah terjebak oleh nafsu duniawi (materialisme) dan bujukan syaithon.
Minimal ada 3 penyebab penglaris (azimat) itu bisa berpengaruh (mempan), yakni jadi SUGESTI, DIBANTU SYAITHON dan karena MURKA ALLAH pada si pemakai azimat tsb, urainya sebagai berikut;

1. SUGESTI
Dengan memakai azimat seseorang akan tersugesti. Kepercayaan dirinya meningkat dan semangatnya jadi bertambah. Dengan demikian pelayanannya akan semakin hebat. Kita tahu bahwa "PELAYANAN YANG HEBAT akan MENINGKATKAN BISNIS". Dengan pendapatan yang bertambah itu Si pemakai azimat berasumsi bahwa azimat tsb mempan, padahal ia hanya tersugesti.

2. BANTUAN SYAITHON
Syaithon itu adalah sifat pembangkangan pada Allah dan rasulullah terdiri dari jin dan manusia. Pemakai penglaris tsb dibantu oleh manusia beridentitas dukun dan dibantu jin lewat bisikan,

ٱﻟَّﺬِﻯ ﻳُﻮَﺳْﻮِﺱُ ﻓِﻰ ﺻُﺪُﻭﺭِ ٱﻟﻨَّﺎﺱِ
ﻣِﻦَ ٱﻟْﺠِﻨَّﺔِ ﻭَٱﻟﻨَّﺎس

yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia dari (golongan) jin dan manusia. (An-Nas - 114:5-6).
Ketika seseorang memakai penglaris/azimat maka berbondong-bondonglah para jin itu mempromosikan jualan yang bersangkutan, sehingga banyak orang tertarik membelinya.

Yang jadi pertanyaan kenapa para jin itu sangat hebat untuk membantu? Jawabannya adalah missi iblis menyesatkan manusia lebih mudah lewat syirik. Syirik itu jalan gampang memasukkan manusia ke neraka, Allah berfirman;

ﺇِﻥَّ ٱﻟﻠَّﻪَ ﻻَ ﻳَﻐْﻔِﺮُ ﺃَﻥ ﻳُﺸْﺮَﻙَ ﺑِﻪِۦ ﻭَﻳَﻐْﻔِﺮُ ﻣَﺎ ﺩُﻭﻥَ ﺫَٰﻟِﻚَ ﻟِﻤَﻦ ﻳَﺸَﺎٓءُ ۚ ﻭَﻣَﻦ ﻳُﺸْﺮِﻙْ ﺑِﭑﻟﻠَّﻪِ ﻓَﻘَﺪِ ٱﻓْﺘَﺮَﻯٰٓ ﺇِﺛْﻤًﺎ ﻋَﻆِﻴﻤًﺎ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (An-Nisa' - 4:48)

3. MURKA ALLAH
Sudah menjadi aturan Allah bagi manusia kufur atau musyrik akan dibiarkan oleh Allah, bahkan semua pintu nikmat dibukakan oleh Allah, sebagaimana firman-Nya,

ﻓَﻠَﻤَّﺎ ﻧَﺴُﻮا۟ ﻣَﺎ ﺫُﻛِّﺮُﻭا۟ ﺑِﻪِۦ ﻓَﺘَﺤْﻨَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻬِﻢْ ﺃَﺑْﻮَٰﺏَ ﻛُﻞِّ ﺷَﻰْءٍ ﺣَﺘَّﻰٰٓ ﺇِﺫَا ﻓَﺮِﺣُﻮا۟ ﺑِﻤَﺎٓ ﺃُﻭﺗُﻮٓا۟ ﺃَﺧَﺬْﻧَٰﻬُﻢ ﺑَﻐْﺘَﺔً ﻓَﺈِﺫَا ﻫُﻢ ﻣُّﺒْﻠِﺴُﻮﻥَ

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami-pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (Al-An'am - 6:44)

Mereka menyangka berlimpah ruahnya harta yang diperoleh sebagai bukti keridhoan Allah padahal Allah sedang murka atas kesyirikan dan kekufuran mereka. Mereka tertipu oleh perbuatan mrk sendiri.

ﻳُﺨَٰﺪِﻋُﻮﻥَ ٱﻟﻠَّﻪَ ﻭَٱﻟَّﺬِﻳﻦَ ءَاﻣَﻨُﻮا۟ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺨْﺪَﻋُﻮﻥَ ﺇِﻻَّٓ ﺃَﻧﻔُﺴَﻬُﻢْ ﻭَﻣَﺎ ﻳَﺸْﻌُﺮُﻭﻥَ

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. (Al-Baqarah - 2:9)

Mereka menyangka bahwa dengan banyaknya harta akan membahagiakan, padahal banyak orang tertipu dengan hartanya (kecuali hartawan yang takwa, memperoleh harta dengan ridha Allah dan membelanjakannya demi ridha Allah).

Berapa banyak manusia yang dahulunya miskin tapi bahagia, namun setelah kaya hatinya sengsara. Islam tidak melarang orang menjadi kaya, justru Islam menganjurkan kita kaya, namun patuhi rambu-rambunya. Jika diperoleh dengan kesyirikan maka Allah murka. Murka Allah bisa dalam bentuk tipuan harta.
Dan perlu diingat bahwa hakikat rezki bukan banyaknya tapi berkahnya.

KESIMPULAN

Memakai penglaris/azimat itu adalah perbuatan syirik.

Penglaris itu ada yang mempan karena tiga faktor, yakni menjadi sugesti, dibantu jin dan Allah murka.

Kemurkaan Allah dengan memberi harta yang berlimpah tapi menyengsarakan (harta yang menipu).

Banyak orang mukmin yang kaya tanpa pakai azimat, mereka mengamalkan zikir yang diajarkan oleh Rasulullah.

Pilihannya adalah apakah untuk mendapatkan kekayaan dengan syirik/azimat/penglaris atau dengan cara-cara yang diridhai Allah? semua terserah kita.


==============================

PERBEDAAN JIMAT DENGAN RUQYAH

Saya kutip tulisan berikut ini;

BENARKAH RASULULLAH S.A.W. MEMBOLEHKAN
JIMAT ?

Oleh : Abu Akmal Mubarok

Ada yang menulis di dumay ini bahwa jimat atau azimat diperbolehkan dengan mengutip hadits Rasulullah s.a.w. riwayat Muslim (hadits ini
populer digunakan semua situs yang menjual jimat dan isim) yaitu sebagai berikut :
Dari Auf bin Malik al-Asja’i, ia meriwayatkan bahwa
pada zaman Jahiliyah, kita selalu membuat azimat
(dan semacamnya). Lalu kami bertanya kepada
Rasulullah, bagaimana pendapatmu (ya Rasul)
tentang hal itu. Rasul menjawab, ”Coba tunjukkan
azimatmu itu padaku. Membuat azimat tidak apa-
apa selama di dalamnya tidak terkandung
kesyirikan.” (H.R. Muslim No. 4079).
Hadits ini kita jumpai pada shahih muslim
sebenarnya adalah sebagai berikut :
: ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟْﺄَﺷْﺠَﻌِﻲِّ ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﺑْﻦِ ﻋَﻮْﻑِ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻴﻪِ ﺟُﺒَﻴْﺮٍ ﻋَﻦْ ﺑْﻦِ
ﺍﻟﺮَّﺣْﻤَﻦِ ﻋَﺒْﺪِ ﻋَﻦْ ﺻَﺎﻟِﺢٍ ﺑْﻦُ ﻣُﻌَﺎﻭِﻳَﺔُ ﺃَﺧْﺒَﺮَﻧِﻲ ﻭَﻫْﺐٍ ﺍﺑْﻦُ
ﺍﺃَﺧْﺒَﺮَﻧَﺎ ﻟﻄَّﺎﻫِﺮِ ﺃَﺑُﻮ ﺣَﺪَّﺛَﻨِﻲ
( ﻡ ﻟﻤﺲ ٤٠٧٩( ﺷِﺮْﻙٌ ﻓِﻴﻪِ ﻳَﻜُﻦْ ﻟَﻢْ ﺍ ﺑِﻢَﺍﻟﺮُّﻗَﻰ ﺑَﺄْﺱَ ﻟَﺎ ﺭُﻗَﺎﻛُﻢْ
ﻋَﻠَﻲَّ ﺍﻋْﺮِﺿُﻮﺍ ﻓَﻘَﺎﻝَ ﺫَﻟِﻚَ ﺗَﻔِﻲ ﺭَﻯ ﻛَﻴْﻒَ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﻳَﺎ ﻓَﻘُﻠْﻨَﺎ
ﺍﻟْﺠَﺎﻫِﻠِﻴَّﺔِ ﻓِﻲ ﻧَﺮْﻗِﻲﻛُﻨَّﺎ
Telah menceritakan kepadaku Abu Ath Thahir;
Telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb; Telah
mengabarkan kepadaku Mu’awiyah bin Shalih dari
‘Abdur Rahman bin Jubair dari Bapaknya dari ‘Auf
bin Malik Al Asyja’i dia berkata : “ Kami biasa
melakukan ruqyah pada masa jahiliyah. Lalu kami
bertanya kepada Rasulullah s.a.w. : “Ya
Rasulullah! Bagaimana pendapat Anda tentang
ruqyah ? ‘ Jawab beliau: ‘Peragakanlah ruqyahmu
itu ke padaku. Ruqyah itu tidak ada salahnya
selama tidak mengandung syirik ” (H.R. Muslim No.
4079)
Hadits yang senada terdapat pada hadits berikut :
Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib; Telah
menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah; Telah
menceritakan kepada kami Al A’masy dari Abu
Sufyan dari Jabir; dia berkata; Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melarang
melakukan mantera. Lalu datang keluarga ‘Amru
bin Hazm kepada beliau seraya berkata; ‘Ya
Rasulullah! Kami mempunyai mantera untuk gigitan
kalajengking. Tetapi Anda melarang melakukan
mantera. Bagaimana itu? ‘ Lalu mereka peragakan
mantera mereka di hadapan beliau. Sabda beliau:
‘Ini tidak apa-apa. Barangsiapa di antara kalian
yang bisa memberi manfaat kepada temannya
hendaklah dia melakukannya .’ (H.R. Muslim 4078)
Perlu diketahui bahwa ruqyah adalah bacaan yang
dibacakan pada orang sakit medis maupun non
medis seperti terkena sihir, hasad mata (‘ain) atau
karena gangguan jin. Ruqyah ini ada dua macam.
Ruqyah syar’iyyah ialah bacaan doa yang syar’iy
yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w. atau para
sahabat, atau dari ayat-ayat Al-Qur’an. Sedangkan
ruqyah syirkiyyah adalah bacaan yang syirik yaitu
yang tidak sesuai dengan ajaran Islam,
mengandung kata-kata kemusyrikan, kebathilan,
penyebutan nama-nama asing (terkadang disisipi
nama raja jin) namun karena dalam bahasa arab
orang kita tidak paham dll.
Kata “ruqyah” dalam hadits sering diterjemahkan
juga sebagai mantera atau jampi-jampi. Namun
karena mantera dan jampi-jampi itu konotasinya
klenik dan mistik, maka agar tidak disalahpahami,
ruqyah jangan diterjemahkan dengan mantera atau
jampi-jampi melainkan cukup ruqyah saja. Adapun
mantera dan jampi-jampi itu kita sepakati sebagai
terjemahan dari ruqyah syirkiyyah (yang syirik).
Saat ini pun istilah ruqyah saja sudah cukup
banyak yang paham dan konotasinya adalah
ruqyah yang islami / syar’iyyah.
Namun yang jelas kata ruqyah ini tidak pas jika
diplesetkan atau diterjemahkan sebagai jimat atau
rajah. Jimat dalam bahasa arab istilahnya
tamimah. Istilah jimat, berbeda sama sekali dan
masyarakat sudah mafhum bahwa jimat itu adalah
sesuatu yang digantungkan dan dipercayai
memiliki kekuatan perlindungan, keberuntungan
dsb.
Adapun jimat (tamimah) jelas-jelas dilarang oleh
Rasulullah s.a.w.
Telah menceritakan kepada kami Abdushshamad
bin Abdil Warits Telah menceritakan kepada kami
Abdul Aziz bin Muslim Telah menceritakan kepada
kami Yazid bin Abu Manshur dari Dukhain Al Hajr
dari Uqbah bin Amir Al Juhani, bahwa ada
serombongan orang datang menemui Rasulullah
s.a.w. lalu beliau membaiat sembilan orang dari
mereka dan menahan satu orang. Maka para
sahabat pun bertanya, “ Wahai Rasulullah, engkau
baiat sembilan orang dan engkau biarkan orang
ini!” Beliau menjawa: “Orang itu
mengenakantamimah ( jimat).” Beliau kemudian
memasukkan tangannya dan memutus tamimah
(jimat) orang itu.lalu beliau membaiatnya dan
bersabda: “Barangisapa yang menggantungkan
tamimah (jimat) maka ia telah berbuat
syirik .” (H.R. Ahmad 16781)
Lalu bagaimana mungkin dikatakan bahwa ruqyah
itu sama dengan tamimah (jimat)?
Telah menceritakan kepada kami Ayyub bin
Muhammad Ar Raqi telah menceritakan kepada
kami Mu’ammar bin Sulaiman telah menceritakan
kepada kami Abdullah bin Bisyr dari Al A’masy
dari ‘Amru bin Murrah dari Yahya bin Al Jazzar
dari puteri saudarinya Zainab isterinya Abdullah,
dari Zainab dia berkata, “ Seorang wanita tua
menemui kami hendak meruqyah dari penyakit
demam. Dan kami memiliki dipan yang panjang
kaki-kakinya, dan apabila Abdullah hendak masuk
maka ia akan berdehem dan bersuara. Suatu hari
ia masuk, ketika wanita tua itu mendengar
suaranya, maka ia bersembunyi. Kemudian
Abdullah datang dan duduk di sampingku dan
membelaiku, ternyata ia menyentuh suatu jahitan
benang, maka dia berkata, ‘Apa ini? ‘ Aku lalu
menjawab, ruqyah (faqultu ruqyii), di dalamnya
terdapat tulisan untuk pengobatan penyakit
demam.” Abdullah lalu menariknya dengan paksa,
kemudian ia putus dan membuangnya seraya
berkata, “Sungguh saat ini keluarga Abdullah telah
melakukan kesyirikkan, saya mendengar Rasulullah
s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya ruqyah (yang
syirik), jimat (tama-im) dan pelet (tiwalah) adalah
syirik ” (H.R. Ibnu Majah No. 3521)
Adapun ruqyah memang ruqyah itu diperbolehkan
dan Rasulullah s.a.w. pun sering me-ruqyah orang
yang terkena penyakit :
Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb
dan Ishaq bin Ibrahim Berkata Ishaq; Telah
mengabarkan kepada kami dan berkata Zuhair dan
lafazh ini miliknya; Telah menceritakan kepada
kami Jarir dari Al A’masy dari Abu Adh Dhuha dari
Masruq dari ‘Aisyah dia berkata; “Apabila salah
seorang di antara kami sakit, Rasulullah s.a.w.
mengusapnya dengan tangan kanannya, lalu beliau
mengucapkan: ‘Adzhabil ba’sa rabban naas,
wasyfi, Anta Syaafi walaa syifaa illa syifaauka,
syifaa-an laa yughaadiru saqaman.’ (‘Wahai Rabb
manusia, singkirkanlah penyakit ini dan
sembuhkanlah ia Karena hanya Engkaulah yang
bisa menyembuhkannya, tiada kesembuhan kecuali
dari-Mu, kesembuhan yang tidak akan
menyebabkan penyakit lagi). (H.R. Muslim No.
4061)
Rasulullah s.a.w. juga biasa membacakan ruqyah
pada orang yang terkena penyakit gila :
Dari ubai bin Ka’ab berkata : Pada suatu waktu aku
pernah bersama Rasulullah SAW lalu datanglah
seorang arab maka ia berkata : “Wahai Nabiyullah
sesungguhnya saya memiliki seorang saudara
yang sakit”. Rasulullah bertanya : “Apakah
penyakitnya?” Ia menjawab : “Sakit gila” Rasulullah
berkata : “Bawalah ia kesini” Lalu orang yang sakit
itu didatangkan ke hadapan Rasulullah, maka Nabi
membaca doa perlindungan kepadanya dengan
surat Al Fatihah dan empat ayat pertama dari Al-
Baqarah, ayat 163 dan 164, satu ayat ke-18 dari
surah Ali Imran, satu ayat dari Al-A’raf yang
berbunyi inna rabbakumullahulladzii.. (ayat 54),
lalu satu ayat dari surah Al Mukminun (ayat 116)
satu ayat dari surah Al jin (ayat 3) satu ayat dari
surat Al-hasyr dan dua surah perlindungan (Al
Falaq & An-Naas) kemudian laki-laki yang sakit itu
berdiri seakan-akan tidak pernah ragu dengan
dirinya (H.R. Ibnu Hibban dalam Majma’u Az
Zawaid V/115)
Ruqyah syar’iyyah tidak mungkin terlarang karena
hal itu adalah salah satu yang diajarkan oleh Allah
SWT melalui malakat Jibril ketika beliau s.a.w
mengalami sakit.
Dari Abu Sa’id Al-Khudhri r.a., Jibril mendatangi
Nabi SAW, lalu berkata, “Wahai Muhammad apakah
engkau mengeluh rasa sakit?” Beliau menjawab,
“Ya!” Kemudian Jibril ( meruqyahnya ), “Bismillahi
arqika, min kulli syai’in yu’dzika, min syarri kulli
nafsin au ‘aini hasidin, Allahu yasyfika, bismillahi
arqika” ( “Dengan nam Allah aku meruqyahmu, dari
segala hal yang menyakitimu, dan dari kejahatan
segala jiwa manusia atau mata pendengki, semoga
Allah menyembuhkan kamu, dengan nama Allah
saya meruqyahmu”) ( H.R. Muslim )
Adapun hadits-hadits yang menceritakan tentang
pelarangan terhadap ruqyah dan orang yang
meruqyah, maksudnya adalah ruqyah (bacaan)
yang syirik atau ruqyah syirkiyyah
Telah menceritakan kepadaku Ishaq telah
menceritakan kepada kami Rauf bin Ubadah telah
menceritakan kepada kami Syu’bah, dia berkata;
saya mendengar Hushain bin Abdurrahman dia
berkata; saya berdiri di samping Sa’id bin Jubair
lalu dia berkata; dari Ibnu Abbas r.a. bahwasanya
Rasulullah s.a.w. bersabda: Ada tujuh puluh ribu
orang dari umatku yang masuk surga tanpa hisab,
yaitu yang tidak meminta diruqyah (pengobatan
dengan jampi-jampi, atau mantera), tidak berfirasat
sial karena melihat burung dan hanya bertawakkal
kepada Tuhan mereka. (H.R. Bukhari No. 5991)
Dari Zainab binti Mu’awiyah Dari Abdullah bin
Mas’ud r.a. aku mendengar Rasulullah s.a.w.
bersabda: “ Sesungguhnya ruqyah (jampi-jampi),
tamimah (jimat) dan tiwalah (pelet) adalah
syirik .” (H.R. Ahmad No. 3433)
Imam al-Munawi menjelaskan hadits di atas,
menggunakan ruqyah (yang syirkiyyah), tamimah
(jimat) dan tiwalah (pelet pengasihan) dianggap
syirik sebagaimana dalam redaksi hadits, karena
hal-hal di atas yang dikenal di zaman Rasulullah
sama dengan yang dikenal pada zaman jahiliyah
yaitu ruqyah (yang tidak syar’iyyah), jimat dan
pengasihan yang mengandung syirik. Atau dalam
hadits, Rasulullah s.a.w. menganggap ruqyah
adalah syirik karena menggunakan barang-barang
tersebut berarti pemakainya meyakini benda-benda
itu mempunyai pengaruh (ta’tsir) yang bisa
menjadikan syirik kepada Allah.
Dan Rasulullah s.a.w tidak melarang seseorang
melakukan ruqyah
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu
Syaibah dan Abu Sa’id Al Asyaj keduanya berkata;
Telah menceritakan kepada kami Waki’ dari Al
A’masy dari Abu Sufyan dari Jabir dia berkata;
“Seorang laki-laki dari keluarga kami digigit
kalajengking. Dan Nabi s.a.w. melarang telah
melarang ruqyah. Kemudian orang itu menemui
Rasulullah s.a.w. seraya berkata; “Ya, Rasulullah!
engkau telah melarang mantera, sedangkan aku
bisa mengobati dengan ruqyah dari gigitan
kalajengking. ‘Jawab beliau : ‘Siapa yang sanggup
di antara kalian menolong saudaranya, hendaklah
dilakukannya.’ Dan telah menceritakannya kepada
kami ‘Utsman bin Abu Syaibah dia berkata; Telah
menceritakan kepada kami Jarir dari Al A’masy
melalui jalur ini dengan Hadits yang serupa” (H.R.
Muslim 4077)
“Dari A’isyah r.ah, dia berkata: Rasulullah SAW
telah memerintahkan kami agar meruqyah orang
yang terkena gangguan ‘ain (H.R. Muttafaqun
‘alaih)
Benarkah Sahabat Menggantungkan Jimat ?
Salah satu dalil yang populer digunakan orang-
orang yang menghalalkan jimat adalah
mendasarkan diri pada riwayat yang menceritakan
bahwa sahabat Nabi bernama Ibnu Umar r.a.
pernah menggantungkan jimat pada anak-anaknya.
Abdullah bin Umar r.a. mengajarkan bacaan
tersebut kepada anak-anaknya yang baligh.
Sedangkan yang belum baligh, ia menulisnya pada
secarik kertas, kemudian digantungkan di lehernya.
(At-Thibb An-Nabawi, hal 167).
Jika kita perhatikan baik-baik bahwa ibnu umar
mengajarkan bacaan (ruqyah) yaitu bacaan doa
yang diajarkan Rasulullah s.a.w. sedangkan pada
anak-anaknya yang masih kecil dan belum baligh
maka doa tsb digantungkan agar mudah dihafal
oleh anak-anaknya.
Doa mana yang diajarkan oleh Ibnu Umar r.a.
pada anak-anaknya? Jika kita lihat Dalam Kitab At-
Thibbunn-Nabawi, Al-Hafizh Al-Dzahabi menyitir
sebuah hadits doa yang diajarkan Rasulullah s.aw.
ialah sebagai berikut :
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr telah
menceritakan kepada kami Isma’il bin ‘Ayyasy dari
Muhammad bin Ishaq dari ‘Amr bin Syu’aib dari
ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah s.a.w.
bersabda: “ Apabila salah seorang diantara kalian
terbangun dalam tidur hendaknya ia mengucapkan;
a’udzuu bilkalimatillahit taamati min ghadabihi wa
syarri ‘ibadihi wa min hamazaatisy syayaathiina wa
an-yadhuruun (Aku berlindung dengan kalimat-
kalimat Allah yang sempurna dari kemurkaanNya
dan dari kejahatan para hambaNya serta dari
bisikan syetan dan dari kedatangannya
kepadaku.” (H.R. Tirmidzi No. 3451)
Abu Isa berkata, hadits ini adalah hadits hasan.
Jadi apa yang dijadikan dalil bagi dibolehkannya
menggantung jimat di atas adalah sama sekali jauh
dari anggapan itu. Sedangkan Rasulullah s.a.w
secara jelas melarang menggantungkan jimat baik
berupa tulisan maupun benda-benda
Telah menceritakan kepada kami Abu Abdirrahman
telah mengabarkan kepada kami Haiwah telah
mengabarkan kepada kami Khalid bin Ubaid dia
berkata, saya mendengar Misyrah bin Ha’an
berkata, saya mendengar Uqbah bin Amir berkata,
“Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda:
“ Barangsiapa mengantungkan Tamimah (jimat)
niscaya Allah tidak akan menyempurnakannya
untuknya. Dan barangsiapa mengantungkan
Wada’ah (sejenis rumah kerang/siput) maka Allah
akan menelantarkan baginya. ” (H.R. Ahmad dalam
Musnad nya No. 16763)
Dan bila Rasulullah s.a.w. menjumpai orang yang
menggunakan jimat akan menyuruh
melepaskannya
Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abu Al
Khashib telah menceritakan kepada kami Waki’
dari Mubarak dari Al Hasan dari ‘Imran bin Al
Hushain, bahwa Nabi s.a.w. melihat gelang dari
kuningan di tangan seorang laki-laki, maka beliau
bertanya: “ Apakah maksud dari gelang ini?” laki-
laki itu menjawab, “Ini adalah wahinah (sejenis
jimat).” Beliau bersabda: “Lepaslah, karena itu
tidak akan menambahmu melainkan
kesengsaraan.” (H.R. Ibnu Majah No. 3522)
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin
Madduwaih, telah menceritakan kepada kami
Ubaidullah bin Musa dari Muhammad bin
Abdurrahman bin Abi Laila dari saudaranya Isa ia
berkata: “ Suatu ketika aku menjenguk Abdullah bin
Ukaim Abu Ma’bad Al Juhani dan wajahnya
berwarna kemerahan karena sakit, lantas kami pun
berkata, “Tidakkah engkau menggantungkan
sesuatu (di lehermu untuk menyembuhkanmu).” Ia
menjawab, “Kematian lebih dekat dari itu.” Nabi
s.a.w. pernah bersabda: “Barang siapa yang
menggantungkan sesuatu di badannya, maka Allah
akan membiarkannya bergantung pada jimatnya .
(H.R. Tirmidzi No. 1998)

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama