OBAT JIWA



OBAT JIWA
Oleh : Drs. Hamzah Johan Al-Batahany

Setiap orang pasti mengalami masalah. Selesai dari satu masalah datang pula masalah yang lain. Manusia tak kan pernah sunyi dari masalah. Masalah tersebut membawa pengaruh kepada jiwa seseorang. Ada yang pengaruhnya kecil dan ada pula yang besar. Ada yang mudah dilupakan dan ada pula yang selalu berbekas di jiwa.
Ada beberapa hal yang berpengaruh pada penyelesaian masalah yang membebani jiwa, yaitu ; ilmu, pengsalaman hidup dan umur. Ilmu yang banyak dengan keluasan wawasan akan memperkecil tekanan jiwa, apalagi yang dalam ilmu agamanya. Pengalaman hidup dan seseorang yang telah merasakan asam garam kehidupan menjadi penyaring tekanan jiwa. Jiwanya tak mudah terserang karena pengalaman hidupnya menjadi kendali setiap ada seerangan masalah. Ada pun masalah umur akan berbeda masa muda dengan masa tua. Masa muda adalah masa yang berapi-api, penuh semangat, tak takut dengan tantangan, masalah dengan mudah terlupakan. Tapi dikala tua masalah kecil terkadang selalu menjadi fikiran, karena badan mulai melemah, sel otak semakin berkurang hingga mudah terjangkit penyakit galau.
Islam mengajarkan kepada kita prihal mengatasi beban jiwa yang termaktub dalam Al-quran surah Asy-syarh dengan rincian sebagai berikut :

1. Nabi Muhammad shalallahu 'alaihi wasallam lebih berat mendapatkan tekanan jiwa (galau) daripada orang biasa. Ini dicerminkan pada ayat 1-3;

ﺃَﻟَﻢْ ﻧَﺸْﺮَﺡْ ﻟَﻚَ ﺻَﺪْﺭَﻙَ
Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, (Asy-Syarh - 94:1)

ﻭَﻭَﺿَﻌْﻨَﺎ ﻋَﻨﻚَ ﻭِﺯْﺭَﻙَ
Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, (Asy-Syarh - 94:2)

ٱﻟَّﺬِﻯٓ ﺃَﻧﻘَﺾَ ﻇَﻬْﺮَﻙَ
yang memberatkan punggungmu? (Asy-Syarh - 94:3)

Ayat tersebut menggambar bahwa rasulullah mengalami tekanan jiwa yang begitu dahsyat sehingga memberatkan punggungnya. Tekanan itu muncul adalah wajar karena cacian, intimidasi, provokasi kaum kafir dan munafik sangat luar biasa. Namun obat tekanan jiwanya itu telah diberikan oleh Allah lewat pertolongan-Nya. Di ayat 1 Allah yang "melapangkan" jiwanya dan di ayat ke 2 Allah yang "menghilangkan" kegalauan itu.
Langkah pertama menghilangkan kegalauan alias stress adalah minta kepada Allah agar dilapangkan jiwa dan dihilangkan penyakitnya.

2. Jangan takut hilangnya kemuliaan atau harga diri karena nama baik itu Allah yang memberi. Hal ini disinyalir pada ayat ke 4 sbb;

ﻭَﺭَﻓَﻌْﻨَﺎ ﻟَﻚَ ﺫِﻛْﺮَﻙَ
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. (Asy-Syarh - 94:4)

Ayat ini menggambarkan bahwa nama baik menjadi faktor penyebab stress. Betapa banyak orang takut dan cemas ketika ia merasa nama baiknya jatuh, harga dirinya hancur.
Ayat ini memberi solusi, jangan cemas sesungguhnya nama baik itu Allah yang beri. Kemuliaan itu tergantung ketaqwaan.

3. Setiap masalah pasti ada hikmahnya. Hal itu tercermin pada ayat 5 dan 6 sbb;

ﻓَﺈِﻥَّ ﻣَﻊَ ٱﻟْﻌُﺴْﺮِ ﻳُﺴْﺮًا
Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, (Asy-Syarh - 94:5).

ﺇِﻥَّ ﻣَﻊَ ٱﻟْﻌُﺴْﺮِ ﻳُﺴْﺮًا
sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. (Asy-Syarh - 94:6)

Ayat tersebut menumbuhkan sifat optimisme, memberi harapan besar dan dari setiap masalah terkandung hikmah yang hebat. Beberapa kejadian memberikan pedoman kepada kita. Seseorang ditinggalkan pesawat, ia sangat kecewa dan stress berat karena ada rapat perusahaan yang tidak boleh ditunda. Dia pulang kerumah dengan penuh kecewa. Tapi sesaat kemudian dia mendapat kabar pesawat tersebut meledak di udara, penumpangnya tewas semua. Kekecewaannya tadi sontak bertukar syukur karena ia diselamatkan oleh Allah swt.

4. Ikhtiar yang maksimal. Tercermin pada ayat ke 7 sbb;

ﻓَﺈِﺫَا ﻓَﺮَﻏْﺖَ ﻓَﭑﻧﺼَﺐْ
Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, (Asy-Syarh - 94:7)

Ayat ini menekankan bahwa ikhtiar yang maksimal sangat diperlukan. Tidak boleh terpaku dengan satu upaya saja. Bak kata pepatah "Banyak jalan menuju ka'bah". Terus beriktiar mencari solusi.

5. Selalu berharap kepada Allah. Hal ini disebutkan pada ayat ke 8 sbb ;

ﻭَﺇِﻟَﻰٰ ﺭَﺑِّﻚَ ﻓَﭑﺭْﻏَﺐ
dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (Asy-Syarh - 94:8).

Kalau kita berharap kepada dunia maka dunia tak pernah memuaskan, tapi kalau kita berharap kepada Allah maka Dia Maha Mencukupi. Oleh sebab itu setiap ada masalah selalulah berharap kepada Allah, bertawakkallah kepada-Nya, gantungkan hati semata-mata kepada-Nya, karena siapa saja yang bertawakkal kepada-Nya pasti Dia cukupkan.

Wallahu a'lam.


Lebih baru Lebih lama