MEMAKMURKAN MASJID


MEMAKMURKAN MESJID
Oleh: Drs. Hamzah Johan

مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَنْ يَعْمُرُوا مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ بِالْكُفْرِ أُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ(17)إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَءَاتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ(18)
Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka.(17) Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (18:At-Taubah)


Memakmurkan mesjid artinya: " Menjadikan mesjid sebagai sentral kegiatan, guna mengangkat Dinul Islam dan ummatnya kepada martabat yang tinggi"

I. LANGKAH-LANGKAH KONGKRIT MEMAKMURKAN MASJID :

1. Mendirikan (membangun) mesjid
2. Memelihara AIB mesjid
3. Beribadah di mesjid , seperti : Shalat berjama’ah, Itikaf, Zikir
4. Meningkatkan kegiatan-kegiatan da’wah di mesjid.

Ad :
1. Mendirikan (membangun) mesjid

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ تَعَالَى يَبْتَغِي بِهِ وَجْهَ اللَّهِ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ
Siapa saja yang membangun sebuah masjid kerana Allah Taala untuk mencari keridhaan Allah maka Allah akan membangunkan sebuah rumah untuknya di dalam Syurga (HR.Bukhari dan Muslim)

مَنْ بَنَى لِلَّهِ مَسْجِدًا وَلَوْ مِثْلَ مِفْحَصِ قَطَاةٍ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ
"Barang siapa yang mendirikan masjid karena Allah walaupun sebanding dengan sarang burung tempat telurnya, niscaya Allah mendirikan pula baginya sebuah gedung di dalam surga" (H.R. As-Syihaab dan Al-Bazzar)
Bayangkan Cuma sebesar sarang burung, dapat sebuah gedung dalam syurga, bagaimana dengan satu zak semen…..tentu akan lebih banyak lagi gedung yang akan kita peroleh.

Selain membangun fisik mesjid, yang paling utama adalah membangun SDM di mesjid itu


2. Memelihara AIB ( Aman, Indah, Bersih) mesjid

Aman ? Jangan ribut, jangan keras-keras menghidupkan radio, jangan curi sendal
Indah ? Penataan taman
Bersih ? Jangan tunggu garim

Kuncinya: "Rasa Saling Memiliki"




3. Beribadah di mesjid , seperti : Shalat berjama’ah, Itikaf, Zikir
Dalam H.R Ahmad dan At-Tirmidzi, Rasulullah bersabda: Apabila kamu melihat orang yang terbiasa masuk mesjid maka saksikanlah bahwa ia beriman, karena sesungguhnya Allah telah berfirman dalam surat At-Taubah ayat 18 :
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَءَاتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ(18)
Hanyalah yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (At-Taubah: 18)
Jadi salah satu tanda orang yang beriman itu adalah orang yang kita saksikan selalu datang ke mesjid beribadah. Dan ingatlah bahwa;
لاَ صَلاَةَ لِجَارِ الْمَسْجِدِ اِلاَّ فِى الْمَسْجِدِ
Tidak ada shalat bagi tetangga mesjid, selain dalam mesjid (H.R Ad-Daraquthni)

4. Meningkatkan kegiatan-kegiatan da’wah di mesjid.

Kita menyadari pertumbuhan jumlah penduduk semakin padat, persaingan hidup semakin tajam, budaya jahiliyah semakin menggila sehingga menimbulkan problematika umat, yang dampaknya membuat banyak orang menjadi stress dan putus asa. Oleh sebab itu diperlukan solusi "Kembali ke Masjid" dalam rangka membina umat membina masyarakat yang madani. Tentu para aktifis masjid harus cerdas mengembangkan pola da’wah yang actual, pariatif dan diminati dengan berbagai kegiatan-kegiatan da’wah tsb. Seperti memperbanyak acara-acara keislaman, peringatan hari-hari besar Islam, Musabaqah tilawatil Qur’an, pertandingan budaya Islami, perlombaan penulisan ilmiah dalam topik keislaman ,menyebarkan buletin2 da’wah, kerjasama yang baik dengan media masa; Koran , radio, televisi dsb. Yang kesemuanya itu sebagai upaya kongkrit memakmurkan mesjid.


II. FADHILAH-FAHDILAH MEMAKMURKAN MASJID

1. Menggugurkan dosa dan mengangkat derajat

Sabda Rasulullah saw. Riwayat Muslim : " Barang siapa yang membersihkan diri dirumahnya, kemudian berjalan menuju rumah Allah (masjid) untuk menunaikan fardhu dari Allah, langkah yang satu menggugurkan dosa kesalahannya, dan langkah yang lainnya mengangkat derajatnya".

2. Memalingkan siksa Allah.

Allah berfirman dalam Hadits Qudsi yang maknanya:
"Demi kemuliaan dan keagungan-Ku. Sesungguhnya Aku bermaksud menurunkan siksaan kepada penduduk bumi. Tetapi ketika aku lihat penghuninya sedang memakmurkan rumah-Ku (masjid), saling mengasihi sesamanya karena Aku, selalu melakukan istighfar di waktu sahur, Aku palingkan siksa itu dari mereka"

3. Mendapat kesenangan dan rahmat Allah

Dalam suatu riwayat rasulullah menyatakan bahwa:
"Masjid adalah rumah setiap orang yang bertaqwa, dan Allah menjamin orang yang menjadikan masjid itu sebagai rumahnya dengan kesenangan, rahmat dan dapat melalui titian (shirath) hingga sampai kepada keridhaan Allah yaitu surga "

Ada seorang sahabat yang dililit hutang, ia sangat gelisah, maka untuk menenangkan hatinya ia berzikir dalam mesjid…




Mendapat Naungan Allah di hari qiamat

حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِ
Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Nabi s.a.w telah bersabda: Ada tujuh golongan manusia yang akan dinaungi oleh Allah di bawah naunganNya. Hari tersebut tidak ada naungan kecuali naungan Allah, kecuali :
مَامُ الْعَادِلُ pemimpin yang adil
وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ pemuda yang sentiasa beribadat kepada Allah semasa hidupnya
وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِد seseorang yang hatinya sentiasa berpaut pada masjid-masjid (iaitu sangat mencintainya dan selalu melakukan sembahyang berjemaah)
وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ dua orang yang saling mengasihi kerana Allah iaitu keduanya berkumpul dan berpisah kerana Allah
وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ seorang lelaki yang diundang oleh seorang perempuan yang mempunyai kedudukan dan rupa paras yang elok untuk melakukan kejahatan tetapi dia berkata: Aku takut kepada Allah!,
وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ seorang yang memberi sedekah tetapi dia merahsiakannya seolah-olah tangan kanan tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kirinya
وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ * dan seseorang yang mengingati Allah di waktu sunyi sehingga mengalirkan air mata dari kedua matanya





III. ADAB-ADAB BERKUNJUNG KE MESJID

1. Berangkat dari rumah mengucapkan : !aBismillahi tawakkaltu ‘alallah, walaa haula walaa quwwata illa billah ñì© üë Þìyüë !aóÜÇoÜ×ëm!aáŽi
Sesuai dengan hadits dalam Sunan At-Tirmidzi al-Jami’us shahih, juz V;
"Siapa saja yang keluar rumahnya mengucapkan !biüaBismillahi tawakkaltu ‘alallah, walaa haula walaa quwwata illa billah ñ(Dengan nama Allah, aku bertawakkal kepada Allah, tidak ada daya dan upaya kecuali dengan Allah) . Niscaya disambut Allah dengan firmannya: "Sudahlah (kuterima do’amu), engkau Ku beri petunjuk, Ku cukupkan dan Ku pelihara. Dan Syaithon pun menjauh darinya."

2. Memasuki mesjid dengan kaki kanan dengan ucapan: “Assalaamu ‘ala Rasulillahi wa ‘alainaa mirrabbinaa”

3. Sebelum duduk terlebih dahulu mengerjakan Shalat Tahiyyaul Masjid 2 raka’at

396 حَدِيثُ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ
396 Diriwayatkan daripada Abu Qatadah r.a katanya: Sesungguhnya Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila salah seorang daripada kamu masuk ke masjid, maka hendaklah dia melakukan shalat dua rakaat sebelum dia duduk.



474 Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Sesiapa mandi pada hari Jumaat seperti mandi hadas besar, kemudian berangkat ke masjid, maka seolah-olah dia mengorbankan seekor unta dan sesiapa berangkat pada kesempatan kedua, maka dia seolah-olah telah mengorbankan seekor lembu. Sesiapa berangkat pada kesempatan ketiga, maka seolah-olah dia telah mengorbankan seekor kambing kibas. Sesiapa berangkat pada kesempatan keempat, seolah-olah telah menyembelih seekor ayam dan sesiapa berangkat pada kesempatan kelima, seakan-akan dia memberikan sedekah sebiji telur. Apabila imam iaitu khatib telah keluar, Malaikat-malaikat pun hadir mendengar zikir. Ertinya: mereka tidak lagi mencatatkan sesiapa yang datang ke masjid *


I’tikaf

665 Diriwayatkan daripada Abu Said al-Khudri r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah beriktikaf iaitu berada di dalam masjid selama sepuluh hari pada pertengahan bulan Ramadan. Selepas berlalu malam yang kedua puluh dan memasuki hari atau malam yang kedua puluh satu baginda pulang ke rumahnya. Para Sahabat yang beriktikaf bersama-sama baginda juga turut pulang. Kemudian Rasulullah s.a.w bersabda di bulan Ramadan yang sama dan waktu yang sama di mana baginda pulang ke rumah, setelah menyuruh atau mengajak mereka supaya selalu tabah terhadap kehendak Allah dengan sabdanya: Aku telah beriktikaf selama sepuluh hari dan kemudian aku lanjutkan selama sepuluh hari yang berikutnya. Oleh itu sesiapa yang ingin melanjutkan iktikaf bersamaku, tetaplah berada di tempat iktikafnya. Aku telah bermimpi melihat Lailatulqadar tetapi aku terlupa waktunya. Carilah ia dalam sepuluh hari ganjil yang terakhir. Pada waktu itulah aku melihat aku sedang sujud pada air dan tanah. Abu Said al-Khudri r.a berkata: Kami dibasahi hujan pada malam hari yang kedua puluh satu. Masjid telah basah, begitu juga dengan tempat sembahyang Rasulullah s.a.w. Aku melihat ke arah baginda setelah selesai mengerjakan sembahyang subuh. Wajah baginda basah terkena lumpur dan air *

973 Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a katanya: Sesungguhnya Saidina Umar bin al-Khattab pernah berkata: Wahai Rasulullah! Sesungguhnya aku pernah bernazar pada zaman jahiliah untuk beriktikaf satu malam di Masjidil Haram. Kemudian Baginda bersabda: Tunaikanlah nazarmu itu *

806 Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Nabi s.a.w pernah bersabda: Sembahyang satu waktu di masjidku adalah lebih utama daripada mengerjakan sembahyang sebanyak seribu kali di masjid lain kecuali Masjidil Haram *

1276 Diriwayatkan daripada Abu Waqid al-Laithi r.a katanya: Ketika Rasulullah s.a.w duduk di dalam masjid bersama kaum muslimin, tiba-tiba datang tiga orang lelaki, dua orang daripadanya terus menghampiri Rasulullah s.a.w lalu salah seorang dari keduanya mengadap Rasulullah s.a.w. Setelah melihat ada tempat kosong beliau terus duduk di situ. Adapun yang seorang lagi, duduk di belakangnya. Sementara itu, orang yang ketiga, terus pergi. Setelah Rasulullah s.a.w selesai, baginda bersabda: Tidakkah kamu ingin aku beritahu tentang tiga orang tadi؟ Salah seorang di antara mereka berlindung kepada Allah, maka Allah melindunginya. Yang keduanya malu, maka Allah pun malu kepadanya. Sedangkan orang yang ketiga menghindar, maka Allah menghindarkan darinya *

Lebih baru Lebih lama