PUASA DAN SABAR


PUASA DAN SABAR
Oleh: Drs. Hamzah Johan

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ(200)
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung (Ali ‘Imraan: 200)
وَهُوَ شَهْرُ الصَّبْرِ وَ الصَّبْرُ ثَوَابُهُ الْجَنَّةُ
“Bulan (Ramadhan) adalah bulan shabar, dan shabar itu pahala/ganjarannya adalah syurga”
Ketika kita sedang berpuasa, banyak rintangan yang harus kita lewati dengan kesabaran. Tanpa adanya kesabaran, maka puasa jadi berantakan. Kita harus sabar dari rayuan lapar. Walaupun makanan sudah terhidang, ada; gulai babat, lepat, ketupat dan jus tomat . Ada; rebus kerang, lemang, rendang , gulai kacang panjang dan goreng kentang, ada; gulai ayam, sayur bayam dan kue yang bermacam ragam, Namun semua jenis makanan dan minuman itu dapat dikendalikan berkat puasa yang menumbuhkan kesabaran.
Puasa bukan hanya menumbuhkan kesabaran menghadapi makanan dan minuman, akan tetapi dapat menghadapi berbagai persoalan yang lain.
Hujjatul Islam Imam Al-Ghozali menegaskan, bahwa “Shabar” ialah tetap tegaknya dorongan agama berhadapan dengan dorongan hawa nafsu. Shabar adalah sifat yang membedakan manusia dengan hewan dalam hal menundukkan hawa nafsu.
Menurut Muhammad Jamaluddin Al-Qosimi dalam kitabnya Mau’izhotul Mukminin : “Barang siapa yang tetap tegak bertahan sehingga dapat menundukkan dorongan hawa nafsu secara terus menerus, orang tersebut termasuk golongan orang yang “Shobrun Jamiilun” (sabar yang sempurna), yaitu sabar yang tidak memperlihatkan keluhan dan rintihan.
Menurut filsafat Islam, sikap sabar ada 5 macam, yakni :
Ash-Shobru fil ‘Ibaadah
Ash-Shobru ‘Indal Mushibah
Ash-Shobru ‘Anid Dunya
Ash-Shobru ‘Anil Ma’shiyah
Ash-Shobru fil Jihaad

Ash-Shobru fil ‘Ibaadah, adalah sabar dalam beribadah. Jika sedang menjalankan puasa, maka kita harus sabar untuk tidak berkata yang kotor-kotor, sabar untuk tidak bersetubuh pada siang ramadhan dan sabar menahan lapar dan dahaga.
Jika sedang melaksanakan sholat, maka kita harus sabar untuk tidak tergesa-gesa menyelesaikannya. Dengan kesabaran, sholat menjadi tuma’ninah (berketenangan) sehingga sholat menjadi khusyu` dan terasa ni’mat.

Adapun Ash-Shobru ‘Indal Mushibah, adalah kesabaran dalam menghadapi kekurangan harta, kehilangan jabatan , kehilangan nyawa dsb. Obat yang paling ampuh mengahadapi musibah yang semacam ini adalah dengan memulangkannya kembali kepada Allah swt. Dengan prinsip “Innaa lillaahi wainnaa ilaihi rooji’un”, sesungguhnya kami milik Allah dan pasti kembali kepada Allah.

Adapun Ash-Shobru ‘Anid Dunya, adalah menahan diri dari daya tarik keduniawian. Dunia dipandang sebagai hal yang menipu, “Ad-Dunya mataa’ul ghurur” (Dunia adalah perhiasan yang menipu) . Dunia sering menipu manusia agar lalai beribadah kepada Allah .Dengan dunia yang bernama harta manusia sering tertipu, sehingga manusia menjadi merasa kaya dan melupakan si pemberi kekayaan itu. Dengan dunia yang bernama Pangkat dan jabatan, menjadikan manusia tertipu, sehingga dia merasa, dialah yang paling berkuasa di jagad raya ini, dan dia lupa kepada Tuhan yang lebih berkuasa daripada dirinya.

Adapun Ash-Shobru ‘Anil Ma’shiyah, adalah kesabaran menghadapi ma’shiyat. Ketika di kota Batam merajalela kemaksiatan; perjudian terjadi di mana-mana, tempat-tempat maksiat tumbuh subur bagaikan cendawan dimusim penghujan, para wanita tunasusila berkeliaran tak terkendali, maka orang-orang yang memiliki Ash-Shobru ‘Anil Ma’shiyah , memiliki sikap yang jelas dan tegas, yakni Imannya tidak akan lemah menghadapi semuanya itu dan dia tetap berusaha memberantas kemaksiatan itu. Karna ia faham betul, Tak ada gunanya amar ma’ruf tanpa adanya nahi mungkar. Amar ma’ruf dan nahi mungkar adalah ibarat seekor burung dengan kedua sayapnya, tak ada burung yang bisa terbang dengan sebelah sayap saja. Oleh sebab itu kemaksiatan harus diberantas, kalau tidak diberantas, dia akan membawa mala petaka kepada kita semua. Allah menyatakan dalam surat Al-Israa’ ayat 6:
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya menta`ati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.
Kehancuran itu sudah nampak sekarang ini. Lihatlah betapa banyaknya para pejabat yang hancur moralnya, betapa banyaknya orang kaya yang hilang agamanya. Semua ini karena kita bergelimang dalam kemaksiatan.

Ada pun Ash-Shobru fil Jihaad, adalah kesabaran dalam berjihad. Jihad itu ada 3 Macam.
Jihad menghadapi orang-orang kafir, sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Maidah ayat 54
“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mu'min, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.
Jihad menghadapi ahli kebatilan yang harus kita lawan dengan hujjah yang kuat, sebagaimana disebutkan dalam surat An-Nahl ayat 125:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ(125)
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.
Jihad melawan hawa nafsu kejahatan, sebagaiman disebutkan dalam surat Al-ankabut ayat 69 :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ(69)
Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.

Jihad yang paling besar adalah jihad menghadapi hawa nafsu sendiri. Kalau jihad menghadapi orang kafir, orang-orang ahli kebatilan, gerak geriknya mudah dibaca, tapi musuh yang bernama hawa nafsu itu tidak tampak , karena dia diboncengi oleh syetan. Sehingga Rasulullah menyatakan bahwa “Perang Badar” itu adalah perang Ashghor (perang kecil) dan “Puasa” dikatakan “Perang Akbar” karena menghadapinya membutuhkan kesabaran yang besar.
Oleh sebab itu lah manakala kita sukses menjalankan puasa Ramadhan maka insya Allah kesabaran yang lain akan mengakar kedalam diri kita.

Allah humma ya Allah, jadikanlah puasa ini penumbuh kesabaran di hati kami. Tegarkanlah hati kami dalam menghadapi rintangan hawa nafsu. Jadikan pula puasa ini bagi kami sebagai pengokoh jiwa penerang hati. Puasa yang dapat membentengi kami dari segala yang Engkau murkai, hingga kami hidup dalam cahaya-Mu.
Allah humma ya Allah, berilah kami ketenangan dan kesabaran dalam beribadah, hingga kami merasakan ni’matnya berpuasa , ni’matnya berdzikir dan sujud kepada-Mu . Tegarkanlah jiwa kami dari rayuan dunia. Beri semangatlah kami menumpas kemaksiatan. Dan nyalakanlah api jihad penegak kebenaran, agar negri madani dapat tercipta..
Rabbana…
Lebih baru Lebih lama