PUASA MEMBENTUK AKHLAKUL KARIMAH


PUASA MEMBENTUK AKHLAKUL KARIMAH
Oleh : Drs. Hamzah Johan


Ma’asyirol muslimin rahimakumullah
Ada 4 pengertian karim di dalam Al-Qur’an .
Karim di artikan dengan kata : “mulia” , sebagaimana disebut dalam surat Al-Haaqqah ayat 40 :
إِنَّهُ لَقَوْلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ(40)
Sesungguhnya Al Qur'an itu adalah benar-benar wahyu (Allah yang diturunkan kepada) Rasul yang mulia
Karim diartikan dengan kata : “Menyenangkan”, sebagaimana disebut dalam surat Al-Waqi’ah ayat 44 :
لَا بَارِدٍ وَلَا كَرِيمٍ(44)
Tidak sejuk dan tidak menyenangkan.

Karim diartikan dengan kata : “Indah” , sebagaimana disebut dalam surat Ad-Dukhon ayat 26 :
وَزُرُوعٍ وَمَقَامٍ كَرِيمٍ(26)
dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah

Karim diartikan dengan kata: “Banyak”. Sebagaimana disebut dalam surat Al-Hadiid ayat 11 :
مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ(11)
Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak

Jadi, orang yang berakhlaqul karimah itu adalah orang yang hatinya mulia, hatinya bersih. Kalau bicara menyenangkan, kalau berpenampilan nampak bersih dan indah, dan ia suka bersedekah dan beribadah. Ini pengertian secara lughowi, secara bahasa.
Adapun pengerian secara istilahan atau defenitif adalah: “Hati dan prilaku seseorang sesuai dengan ajaran Al-Qur’an”, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim:

فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنَ
Sesungguhnya akhlak Rasulullah s.a.w ialah al-Quran.
Jadi, kalau kita ingin menjadi orang yang berakhlakul karimah, punya hati bersih, prilaku yang menyenangkan, maka wajib mengamalkan Al-Qur’an, yang salah satu ajarannya adalah berpuasa. يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ , “hai orang-orang yang beriman diwajibkan bagi kamu berpuasa”
Puasa itu menghasilkan 3 akhlakul karimah:
Akhlak Qolbiyyah
Ada pun Akhlak Qolbiyyah adalah; akhlak hati.
Puasa mendidik agar hati dipelihara. Puasa mengajarkan agar kita bisa menahan segala bentuk hawa nafsu, menahan rasa sombong, iri hati,kikir, dendam dsb. Di bulan puasa kita dianjurkan zikir sebanyak-banyaknya, bersedekah, dsb. Semuanya itu sangat berpengaruh kepada hati, agar hati terpelihara dari kekotorannya. Dalam al-Quran disebutkan:
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللَّهِ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ(28)
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram. (Ar-Ra’du:28)


Dan bagi hati orang yang sombong dan berbuat sewenang wenang allah akan kunci mati
كَذَلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَى كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ(35)
Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. (Al-Mu’min:35)
Kalau hati sudah dikunci mati oleh Allah maka prilaku orang tersebut berprilaku kotor. Fikiran jahatnya selalu timbul, bagaimana cara mengkorupsi uang negara dengan baik, bagaimana cara mencelakakan orang lain. Kalau berkata kasar tak berbudi; inilah yang disinyalir oleh rasulullah:
33 Diriwayatkan daripada Abi Mas'ud Uqbah bin Amru r.a katanya: Nabi s.a.w memberi isyarat dengan tangan ke arah Yaman, seraya bersabda: Ingatlah, sesungguhnya iman ada di sana sedangkan kekerasan dan kekasaran hati ada pada orang-orang yang bersuara keras وَغِلَظَ الْقُلُوبِ فِي الْفَدَّادِينَ

Akhlak Lisaniyyah
656 حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ يَوْمًا صَائِمًا فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ فَإِنِ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ *
656 Diriwayatkan daripada Abu Hurairah r.a katanya: Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila seseorang daripada kamu sedang berpuasa pada suatu hari, janganlah bercakap tentang perkara yang keji dan kotor. Apabila dia dicaci maki atau diajak berkelahi oleh seseorang, hendaklah dia berkata: Sesungguhnya hari ini aku berpuasa, sesungguhnya hari ini aku berpuasa *

Akhlak ‘amaliyyah
Pada puasa kita melatih diri dengan berbagai amalan-amalan ibadah, seperti sholat tarawih, zikir, I’tikaf dsb. Ini menunjukkan akhlak seorang hamba kepada khaiknya.


Jadi jelaslah bahwa berpuasa itu akan membentuk pribadi seseorang memiliki pribadi yang berakhlakul karimah, karena puasa telah melatih hatinya menjadi bersih, lisannya dilatih untuk tidak mengatakan perkataan yang dilarang dan hari-harinya terlatih beribadah kepada Allah swt. Sehingga akhlaknya kepada dirinya, akhlaknya kepada orang lain, dan akhlaknya kepada Allah swt akan terpelihara.

Sekali lagi kita sampaikan bahwa yang dimaksud orang yang berakhlakul karimah itu adalah orang yang hatinya dan prilakunya sesuai dengan ajaran Al-Qur’an, yang salah satu ajarannya adalah kewajiban menjalankan puasa Ramadhan. Kalau puasa itu dijalankan dengan sebenar-benarnya, maka puasa itu pasti membentuk pribadi yang karim, tapi kalau puasa itu dijalankan asal-asalan, maka bukan pribadi yang karim yang akan diperdapat , tapi pribadi yang karam.

Lebih baru Lebih lama