PUASA MENGENDALIKAN HAWA NAFSU


PUASA DAPAT MENGENDALIKAN HAWA NAFSU
Oleh:Drs. Hamzah Johan


وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ(53)

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah

Sebahagian nafsu itu sangat penting bagi manusia. Tanpa nafsu, makanan terasa kurang lezat. Tanpa nafsu, istri kurang terasa bergairah . Dan tanpa nafsu, semangat mengejar cita-cita akan menjadi kendor. Oleh sebab itu nafsu sangat dibutuhkan oleh manusia.
Hanya saja, ada sebagian nafsu itu yang menyuruh kepada kejahatan , dan ada pula nafsu yang menyuruh kepada kebaikan. Di dalam Al-Qur’an dikemukakan bermacam-macam nafsu tersebut yang secara garis besarnya terbagi 2, yakni : Nafsu Syaithon dan nafsu rahmat

A. Nafsu Syaithon
Adalah nafsu yang diboncengi atau dibisiki oleh syaithon. Nafsu Saython ini mempunyai 4 tabi’at:
Ammaarotum bissu` ; sebagaiman disebutkan dalam surat Yusuf ayat 53:
إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.(Yusuf :53)

Nafsu Ammaarotum bissu` ini manakala menghinggapi seseorang, maka orang itu seperti binatang buas yang sulit dikendalikan. Dia sulit untuk dinasehati, apa pun nasehat yang kita berikan percuma saja, karena hatinya telah membatu

Lawwaamah ; sebagaimana yang disebutkan dalam surat Al-Qiyaamah ayat 2
وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).

Jika nafsu lawwaamah ini menghinggapi seseorang, maka orang itu menjadi labil. Ketika kejahatannya tidak ketahuan sama orang lain, maka ia amat semangat mengumbar nafsu, tapi begitu ketahuan sama orang lain, ia sangat menyesal. Setelah penyesalannya hilang, kejahatan yang ia lakukan tadi habis resikonya, mana kala ada kesempatan lagi, maka kejahatan yang sama terulang kembali.
Begitulah seterusnya. Berbuat jahat, selesai itu menyesal lagi. Berbuat jahat lagi, selesai itu menyesal lagi.

Sawwalah ; sebagaimana disebutkan dalam surat Yusuf ayat 83
قَالَ بَلْ سَوَّلَتْ لَكُمْ أَنْفُسُكُمْ أَمْرًا
Ya`qub berkata: "Hanya dirimu sendirilah yang memandang baik perbuatan (yang buruk) itu.
Nafsu sawwalah ini membuat seseorang memandang baik perbuatan buruk. Korupsi terasa indah, nipu orang terasa enak, menggunjingkan orang terasa ni’mat. Lagi tidur-tiduran, mata melotot, fikiran melayang kepada yang buruk-buruk…

Mulhamah ; yaitu hawa nafsu yang sering mendorong kepada kefajiran (kedurhakaan) dan ketaqwaan, sebagaimana disebutkan dalam surat Asy-Syams ayat 7- 8

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا(7)فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا(8)
dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.
Nafsu mulhamah ini bikin seseorang seperti bunglong. Jika berteman dengan ustad, dia menjadi ustad, jika berteman dengan penjahat, dia jadi penjahat. Tidak ada pendirian , condong kemana angin berhembus


B. Nafsu Rahmah
Adalah nafsu yang dirahmati oleh Allah s.w.t, sebagaimana disebutkan dalam surat Yusuf ayat 53 : إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي
sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang dirahmati Tuhan-ku.(Yusuf :53)

Nafsu rahmat ini mempunyai 3 tabi’at :
Muthmainnah
Raadhiyah
Mardhiyyah
Sebagaiman disebutkan dalam surat Al-Fajr ayat 27-30 :
يَاأَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ(27)ارْجِعِي إِلَى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً(28)فَادْخُلِي فِي عِبَادِي(29)وَادْخُلِي جَنَّتِي(30)
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku

Jika seseorang memiliki nafsul-Muthmainnah ini, maka hatinya terasa tentram bila beribadah, hatinya menjadi tentram ketika berzikir. Dan apabila kurang ibadahnya, sholatnya tergesa-gesa, maka hatinya jadi gelisah. Orang semacam itu obat hatinya adalah ibadah. Ia tampak khusyu` dan tawadhu’ kepada Allah s.w.t.
Jika seseorang memiliki nafsur-Raadhiyah, maka sifat orang itu; merasa puas dengan pemberian Allah, walaupun sedikit. Dia tidak iri hati dengan apa yang ada di tangan orang. Dia menjadi hamba yang pandai mensukuri nikmat Allah.
Jika seseorang memiliki Nafsul Mardhiyyah, maka kalau diajak kepada kebaikan, dia bersemangat, tapi kalau diajak kepada kejahatan dia jadi loyo. Dia bekerja, dia beribadah demi mencari ridho Allah swt.

Ma’asyirol muslimin rahimakumullah.

Itulah jenis-jenis nafsu yang mempengaruhi hidup manusia, yakni; nasusy-syaithon dan nafsur-Rahmah. Untuk mengatasi nafsusy-Syaithon itu diperlukan beberapa amalan, yang salah satunya adalah Puasa. Obat yang paling mujarab yang paling ampuh mengatasi nafsu-Syaithon tersebut adalah dengan puasa, sebagaimana sabda Rasulullah
الصِّيَامُ جُنَّةٌ
Puasa itu adalah perisai (dari segala macam penyakit dan kejahatan)
Puasa pada hakikatnya adalah menahan dari segala hawa nafsusy-Syaithon, puasa bukan hanya sekedar menahan makan dan minum, menahan untuk tidak bersenggama pada siang hari Ramadhan itu saja, akan tetapi hakikatnya mehahan diri dari segala godaan Syaithon sekali gus menahan diri dari hal-hal yang memancing kejahatan; termasuk mencium dan bercumbu dengan isteri,hal itu lebih baik dihindarkan, walupun ada nash yang membolehkan, akan tetapi ia bisa menjadi pintu kemafsadatan, apa lagi bagi penganten baru. Qaidah Fiqhiyyah menyatakan :

دَرْءُ الْمَفَاسِدِ مُقَدَّمٌ عَلَى جَلْبِ الْمَصَالِحِ
“Menolak kerusakan didahulukan dari pada menarik kemaslahatan”
maknanya: Apabila dalam suatu perkara terlihat adanya manfaat atau maslahat, namun disitu juga terdapat adanya kemafsadatan atau kerusakan, haruslah diutamakan menghilangkan kerusakan atau yang menjadi pintu yang akan menimbulkan kerusakan itu.
Jadi orang yang berpuasa adalah orang yang dapat mengendaliki diri, dapat menahan nafsyusy-Syaithon yakni : Nafsul-Ammaaratum bissu` , Nafsul-Lawwaamah, Nafsus-Sawwalah dan nafsul-Mulhamah, sebagaimana yang telah saya uraikan tadi.
Lebih baru Lebih lama