SEJARAH DAN KEWAJIBAN BERPUASA


SEJARAH & KEWAJIBAN BERPUASA
Oleh: Drs. Hamzah Johan

  يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa  (Al-Baqarah:183)

  Puasa merupakan kebutuhan bagi orang yang beriman. Dengan berpuasa hidup terasa indah, hati terasa tentram. Jauh sebelum agama Islam datang, peraturan puasa ini telah ada juga pada zaman-zaman dahulu, seperti puasa pada zaman Mesir purbakala, puasa orang Yunani, puasa orang Romawi, puasa orang Hindu, dan banyak lagi puasa-puasa yang dilakukan oleh umat manusia.  Menurut K.H. Mawardi Labay El-Sulthani, bahwa di dalam taurat, puasa itu hanya dipuji-puji dan dianjurkan, tetapi tidak ada ayat yang mewajibkan puasa tersebut. Hanya Nabi Musa pernah berpuasa selama 40 hari, hal mana memberikan pengertian kepada kita, bahwa puasa itu termasuk ibadah yang pernah diperintahkan Allah kepada hamba-Nya di masa-masa dahulu. Di dalam kitab taurat ada anjuran berpuasa siang dan malam, yaitu pada hari yang ke 10 dari bulan Tamuz (bulanJuli), yang terkenal di dalam masyarakat Yunani dengan nama hari ‘Aasyura.  Di dalam Hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan  

 حَدِيثُ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ يَوْمًا تُعَظِّمُهُ الْيَهُودُ وَتَتَّخِذُهُ عِيدًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُوهُ أَنْتُمْ *   643 

Diriwayatkan daripada Abu Musa r.a katanya: Hari Asyura adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan menjadikannya sebagai Hari Raya. Kemudian Rasulullah s.a.w bersabda: Berpuasalah kamu pada hari ‘Asyura tersebut *    
Adapun puasanya kaum Nasrani yang dahulu, ialah puasa besar yang berlaku sebelum hari Paskah. Hari itu dipuasakan oleh Nabi Musa, Nabi Isa, dan Al Hawariyyin (murid-murid Nabi Isa). Kemudian oleh pemuka-pemuka gereja mengadakan bermacam-macam jenis puasa, sesuai dengan pendapat pendeta mereka masing-masing, sehingga  diantara mereka ada yang berpuasa dari makan daging saja sedangkan makan yang lain boleh, ada yang berpuasa dari makan ikan saja sedangkan makan yang lain boleh, ada yang berpuasa dari makan telor saja sedangkan makan yang lain boleh, dan ada yang berpuasa dari minum susu saja sedangkan yang lain boleh.  Adapun kepada bunda Nabi Isa, Siti Maryam, juga diperintahkan berpuasa dari makan dan minum, dan berpuasa dari bicara dalam satu hari, sebagaimana firman Allah swt dalam surat Maryam ayat 26  

فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنْسِيًّا(26)

Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada hari ini".(Maryam:26) Umumnya puasa pada zaman dahulu itu, hanya boleh makan minum sekali saja dalam sehari semalam.    
Sedangkan puasa dalam agama Islam diwajibkan pada tahun ke 2 Hijriyah, perintahnya sangatlah jelas, sebagaimana disebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 183 ;

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ(183)

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa  (Al-Baqarah:183)    

 Dan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim disebutkan:

بُنِيَ الْإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ  شَهَادَةِ اَنْ لآاِلَهَ اِلاَّ اللَّهُ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْـتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ  وَصَوْمِ رَمَضَانَ  *   10 

Hadis Ibnu Umar r.a: Nabi s.a.w telah bersabda: Islam ditegakkan di atas lima  dasar yaitu; 1. Bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad itu utusan Allah,2.Mendirikan shalat, 3.Membayar zakat, 4.Mengerjakan haji ke Baitullah, 5.Puasa Ramadhan *  

Keterangan berpuasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan  disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim; 660 حَدِيثُ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : مَا صَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا كَامِلاً قَطُّ غَيْرَ رَمَضَانَ

660 Diriwayatkan daripada Ibnu Abbas r.a katanya: Rasulullah s.a.w tidak pernah berpuasa satu bulan penuh kecuali pada bulan Ramadan.  Dari dalil-dalil tersebut jelaslah bagi kita, bahwa puasa sebulan penuh pada bulan Ramadhan itu diwajibkan bagi ummat Islam. Dan bagi orang-orang yang tidak mau melakukannya, padahal dia tidak dalam keadaan sakit atau berhalangan seperti haid dsb, maka dosanya sangat luar biasa, sebagaimana sabda Rasulullah s.a.w yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim

مَنْ اَفْطَرَ يَوْمًا مِنْ رَمَضَانَ مِنْ  غَيْرِ  رُخْصَةٍ  وَلاَ  مَرَضٍ  لَمْ يَقْضِ عَنْهُ صَوْمُ الدَّهْرِ كُلِّهِ وَ اِنْ صَامَهُ

“Barangsiapa berbuka puasa sehari tanpa rukhshah (alasan yang dibenarkan- sep. musafir) atau sakit, maka tidak akan dapat ditebus (dosanya) dengan berpuasa seumur hidup meskipun dia melakukannya"  

Oleh sebab itu berusahalah melakukan puasa Ramadhan dengan sungguh-sungguh, sebab jika ditinggalkan tanpa alasan yang dibenarkan oleh agama, walaupun ditinggalkan Cuma satu hari saja, maka dosanya tidak dapat ditebus lagi. Dan seandainya kita mati dalam keadaan seperti itu, tentu kita mati dalam keadaan kafir. Kita menjadi orang yang sangat merugi dan sia-sia. Padahal kalaulah kita renungkan tentang pahala puasa Ramadhan itu, betapa luar biasa keuntungan yang kita peroleh. Sebelas bulan kita berbuat dosa kecil maupun dosa besar , atau katakanlah seumur hidup yang telah kita pakai, hanya untuk berbuat dosa, maka  akan terhapus hanya dalam satu bulan, sehingga dia menjadi orang suci, seperti bayi yang baru dilahirkan, sebagaiman sabda Rasulullah s.a.w مَنْ صَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَ احْتِسَابًا غُفِرَلَهُ مَا  تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ “Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan keimanan dan sesuai aturan, maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu” (HR. Bukhari)  Dalam hadits riwayat Ahmad disebutkan pula; "Allah ‘Azza Wajalla mewajibkan puasa Ramadhan dan aku mensunnahkan shalat pada malam harinya. Barangsiapa berpuasa dan shalat malam sesuai aturan, maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang baru dilahirkan ibunya ( Kayaumi waladat-hu ummuhu ).  Untuk mencapai tingkat fithrah atau kesucian diri tersebut, kita harus melakukan Ramadhan itu dengan persyaratan iman dan ihtisaab. Apa itu iman dan ihtisaab? Akan kita bahas pada pertemuan berikutnya. Insya Allah.  

Billahittaufiq wal hidayah wassalamu'alaikum w.w.    
Lebih baru Lebih lama