ELINGISME



ELINGISME

Oleh : Drs. Hamzah Johan Al-batahany

Prolog

ELINGISME adalah aliran yang berfaham bahwa shalat itu dipandang cukup jika seseorang Eling [ingat] pada Allah. Aliran ini meyakini bahwa mengerjakan shalat secara fisik tidak diperlukan. Yang penting eling dan dampaknya dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar. Jika seseorang sudah eling dan dari elingnya itu menumbuhkan sifat-sifat baik, maka dipandang telah mendirikan shalat.

Pembatasan

Pada tulisan ini saya tidak akan mengemukakan alasan dan dalil yang mereka pergunakan untuk mendukung faham mereka tersebut guna mempersingkat tulisan ini. Saya hanya ingin memberikan pandangan seperlunya yang saya anggap berguna dan semoga menjadi bahan perbandingan bagi mereka yang elingisme.

Bahan Pertimbangan

Manusia Utuh Dua Dimensi, Ibadah Utuh Dua Dimensi.

Manusia terdiri dari dua dimensi yakni; Rohani dan Jasmani. Rohani bersifat abstrak, tidak dapat diraba tapi dapat dirasakan. Berfikir, berzikir, mengingat, eling adalah bahagian dari kegiatan Rohani. Berdiri, berlari, berjalan, melompat, rukuk dan sujud adalah bahagian dari kegiatan jasmani.

Manusia yang utuh adalah manusia yang dapat memfungsikan kedua dimensi tersebut dalam kehidupannya baik berhubungan dengan sesama manusia maupun dalam ranka menyembah Allah.

Manusia Utuh, perspektif; Hubungannya Dengan Manusia.

Banyak sekali aspek hubungan manusia dengan manusia lain dalam kehidupan ini, seperti aspek moral, politik, sosial, budaya dan sebagainya. Kita contohkan saja pada aspek moral atau akhlak. Ketika kita mendefenisikan akhlak pasti kita tertuju pada dua dimensi tadi yakni rohani dan jasmani. Yang terbayang oleh kita bahwa orang yang berakhlak mulia itu adalah seseorang yang rohaninya baik dan jasmaninya menunjukan sikap mulia. Dan kita tidak dapat memprediksi seseorang baik atau tidak akhlaknya jika ditinjau dari rohaninya saja. Meskipun seseorang mengaku niatnya baik, fikirannya baik, cita-citanya baik, tapi secara fisik/jasmani tidak dibuktikan, maka tetap saja belum dikatakan berakhlak mulia, karena baru berada pada alam niat/alam abstrak.

Akhlak mulia itu baru berwujud setelah niat mulia [rohani] sejalan dengan sikap mulia [jasmani] seseorang. Contoh sederhana akhlak mulia itu adalah kebiasaan memberi salam ketika bertemu. Jika seseorang hanya menggunakan dimensi rohaninya saja memberi salam pada orang lain, tentu salamnya tidak wujud, karena abstrak. Tapi ketika niatnya, fikirannya berkeinginan mengucapkan salam diiringi dengan suara salam itu maka baru dikatan seseorang itu memberi salam, salamnya wujud. Wujudnya salam itu menjadi utuh ketika terjadi perpaduan rohani dan jasmani. Dengan demikian dapat kita pastikan bahwa manusia yang utuh pada dimensi kemanusiaannya adalah manusia yang menggunakan seutuhnya jasmani dan rohaninya seiring sejalan.

Manusia Utuh, perspektif; Hubungannya Dengan Allah.

Banyak aspek hubungan manusia dengan Allah, seperti aspek aqidah, ibadah, jihad dan sebagainya. Kita ambil contoh pada aspek ibadah. Pada aspek ibadah ini manusia diatur pada dua dimensi, yakni dimensi rohani dan dimensi jasmani, atau dengan istilah lain; ibadah rohani dan ibadah jasmani [ibadah utuh dua dimensi]. Saya kemukakan contoh-contohnya sebagai berikut;

1. Ibadah Haji [ibadah zhohir dan ibadah batin]

Jika ibadah haji kita tinjau dari makna dan hikmahnya saja maka kita tidak perlu ke Mekkah, karena makna haji itu secara etimologis berarti "sengaja". Dan hikmahnya agar manusia tidak berbuat keji dan tidak berbantah-bantahan. Apakah jika seseorang telah sengaja berniat ke Makkah dan dia tidak berbuat maksiat bisa dikatakan dia telah berhaji?
Jawabannya adalah bahwa Ibadah haji itu terdiri dari dimensi rohani dan jasmani. Dimensi rohani, dia wajib punya niat yang suci menunaikannya, hati yang bersih ketika melaksanakannya. Dan pada dimensi jasmani dia harus mengikuti aturannya. Ketika kedua dimensi tersebut dilaksanakan , maka dia telah menunaikan ibadah haji. Dengan demikian terlihat bahwa keutuhan ibadah haji itu adalah terdiri dari ibadah zhohir dan ibadah batinnya.


2. Ibadah Shalat [ibadah zhohir dan ibadah batin]

Jika ibadah shalat ditinjau dari makna dan hikmahnya saja, maka orang cukup eling [ingat] saja. Tapi shalat itu bukan hanya sekedar ibadah batin [ingat] , melainkan berpadu dengan ibadah zhohir. Terbukti dengan kata rukuk dan sujud dalam al-qur'an, terbukti secara zhohir kaki Nabi saw diriwayatkan bengkak-bengkak mengerjakan shalat tersebut, terbukti dengan pengerjaan shalat tarawih setiap bulan Ramadhan, terbukti dengan shalat dalam peristiwa perang yang dilaksanakan secara bergiliran, dsb.

Kesimpulan :

Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa
1. Manusia terdiri dari dua dimensi, rohani dan jasmani.
2. Ibadah terdiri dari dua dimensi, zhoir dan batin.
3. Shalat terdiri dari dua dimensi, rohani dan jasmani, zhohir dan batin.
4. Eling [ingat] hanya satu dimensi ibadah rohani/tidak utuh/tidak sempurna tanpa ibadah zhohir [rukuk, sujud dsb].
5. Menetapkan suatu hukum tidak akan tercapai jika berdasarkan makna etimologis dan hikmahnya saja.
Lebih baru Lebih lama