SHALAT GERHANA MENURUT ORIENTALIS DAN ISLAM



SHALAT GERHANA MENURUT ORIENTALIS DAN ISLAM  
Oleh; Drs.Hamzah Johan Al-Batahany

I. Pendahuluan

Gerhana adalah fenomena astronomi yang terjadi apabila sebuah benda angkasa bergerak ke dalam bayangan sebuah benda angkasa lain. Istilah ini umumnya digunakan untuk gerhana Matahari ketika posisi Bulan terletak di antara Bumi dan Matahari, atau gerhana bulan saat sebagian atau keseluruhan penampang Bulan tertutup oleh bayangan Bumi. Namun, gerhana juga terjadi pada fenomena lain yang tidak berhubungan dengan Bumi atau Bulan, misalnya pada planet lain dan satelit yang dimiliki planet lain.(wikipedia).  

II. Shalat Gerhana Dalam Pandangan Orientalis dan Pandangan Islam.

A. Shalat Gerhana Dalam Pandangan Orientalis

Para orientalis menuduh bahwa Islam mengajarkan untuk menyembah matahari dan bulan dengan alasan; setiap gerhana, umat Islam disuruh rukuk dan sujud (shalat kusuf/khusuf). Mereka beranggapan bahwa shalat gerhana tersebut sebagai bentuk ketundukan dan penyembahan kepada matahari dan bulan.

B. Shalat Gerhana Dalam Pandangan Islam

Allah swt berfirman :

ﻭَﻣِﻦْ ءَاﻳَٰﺘِﻪِ ٱﻟَّﻴْﻞُ ﻭَٱﻟﻨَّﻬَﺎﺭُ ﻭَٱﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻭَٱﻟْﻘَﻤَﺮُ ۚ ﻻَ ﺗَﺴْﺠُﺪُﻭا۟ ﻟِﻠﺸَّﻤْﺲِ ﻭَﻻَ ﻟِﻠْﻘَﻤَﺮِ ﻭَٱﺳْﺠُﺪُﻭا۟ ﻟِﻠَّﻪِ ٱﻟَّﺬِﻯ ﺧَﻠَﻘَﻬُﻦَّ ﺇِﻥ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺇِﻳَّﺎﻩُ ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ  

Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (Fussilat - 41:37)

Rasulullah saw bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَصَلُّوا (رواه البخاري  

"Sesungguhnya matahari dan bulan tidak gerhana karena kematian seseorang atau karena kehidupannya. Akan tetapi keduanya merupakan tanda-tanda kebesaran Allah. Jika kalian menyaksikannya, maka hendaklah kalian shalat." (HR. Bukhari)

Dalam redaksi yang lain, Bukhari juga meriwayatkan,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يُخَوِّفُ بِهَا عِبَادَهُ  

"Sesungguhnya matahari dan bulan keduanya merupakan tanda-tanda kebesaran Allah, keduanya tidak gerhana karena kematian seseorang atau karena kehidupannya.. Akan tetapi Allah hendak membuat gentar para hamba-Nya." (HR. Bukhari)

III.Kesimpulan

Dari ketiga dalil tersebut dapat disimpulkan:

1. Bahwa gerhana merupakan " TANDA Waktu Shalat" bagi umat Islam, seperti shalat yang lain misalnya Shalat Dhuha menggunakan tanda/posisi matahari mulai sepenggalahan, waktu zhuhur matahari lidulukisy-syam dan sebagainya.

2. Allah dengan tegas melarang menyembah matahari dan bulan (QS.Fussilat - 41:37)

3. Rasulullah menegaskan bahwa gerhana muncul bukanlah gara-gara peristiwa yang dialami manusia.

4. Rasulullah juga menegaskan bahwa gerhana adalah sebagai tanda kebesaran Allah agar gemetar hati orang beriman dan bertambah keimanannya dengan peristiwa gerhana tersebut.

5. Umat Islam dianjurkan Shalat Gerhana sekali gus mempelajari peristiwa gerhana tersebut sehingga fenomena astronomis seperti itu bukan hanya sekedar tontonan dan ritualitas, tapi memperluas pengetahuan tentang jagad raya sehingga pada gilirannya akan lebih mengenal dan melihat kebesaran Allah. Ketika tanda-tanda kebesaran Allah itu tertanam dalam jiwa, maka keimanan akan bertambah-tambah.
Lebih baru Lebih lama