WAHABI DHOLALAH DAN WAHABI HASANAH


WAHABI DHOLALAH dan WAHABI HASANAH
oleh: Drs. Hamzah Johan albatahany

Pendiri Wahabi adalah Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum wafat 211 H. Ia dipandang sebagai tokoh pembawa ajaran radikal dan sesat, saya beri istilah Wahabi Dholalah.

Berbeda dengan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab wafat 1206 H. yang dituduh dan difitnah sebagai wahabi, padahal beliau mendakwahkan kebenaran al-Qur'an dan Sunnah ajaran Islam yang murni. Namun sudah menjadi kenyataan setiap kebenaran ditegakkan pasti banyak fitnah dan musuh sebagaimana yang dialami nabi Muhammad SAW dimusuhi oleh kaum yang sesat, kaum itu tak menyadari kesesatannya bahkan mempertahankan kesesatan tersebut kecuali yang mendapat hidayah Allah SWT. Jika  Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab disebut juga wahabi maka namanya Wahabi Hasanah

Al-Wahabiyah merupakan firqah sempalan Ibadhiyah khawarij yang timbul pada abad ke 2 (dua) Hijriyah, yaitu sebutan Wahabi nisbat kepada tokoh sentralnya Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum yang meninggal tahun 211 H (sekitar 800Masehi). Wahabi merupakan kelompok yang sangat ekstrim kepada ahli sunnah , sangat membenci syiah . Khawarij ringkasnya sama dengan kelompok teroris yang banyak beredar di berbagai negara. Termasuk kelompok pimpinan Osama bin laden. Kelompok ini ingin menegakan syariat islam namun salah jalur, bayangkan saja Khawarij (termasuk osama bin laden) menganggap bahwa saudi bukan negara islam( bahkan mereka melakukan pengeboman di riyad)  mereka memusuhi ahlusunnah, termasuk salafi dan juga bermusuhan dengan Syiah dengan keras. Jadi mereka kwaharij adalah ekstrem kanan dan sangat ekstrim dalam agama. Salah satu keekstrimannya, mereka menganggap muslim pelaku dosa besar kekal dineraka. Nah inilah wahabi yang sesat itu.

Tulisan lain menyebutkan :

ia hanyalah manufer politik yang sengaja dilancarkan oleh daulah Attaturk (kerajaan Turki) tanpa landasan sama sekali, tapi sekedar mengalihkan perhatian.

Politik tersebut diciptakan oleh daulah attaturk pada saat munculnya seorang ahli ilmu dan tokoh pembaharu yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab, yang berasal dari bagian negeri Najed. Tokoh tersebut mengajak orang-orang disekitarnya kepada keikhlasan, beribadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Di antara fenomena kesyirikan itu, sangat disayangkan, masih saja ditemukan di sebagian negeri Islam, berbeda dengan negeri tempat munculnya sang pembaharu Muhammad bin Abdul Wahhab. Negeri tersebut hingga saat ini, Alhamdulillah, tidak ditemukan padanya salah satu jenis syirik. Sementara fenomena syirik demikian marak di sebagian besar negeri Islam yang lain, Sebagai contoh, figur Khomaini dan saat meninggalnya serta pengumuman penunjukan makan beliau sebagai Ka’bah (tempat menunaikan haji) bagi penduduk Iran, ini merupakan bukti nyata dan berita tentang hal ini masih hangat bagi kalian.

Sang tokoh, Muhammad bin Abdul Wahhab, ketika naik ke permukaan dalam rangka berdakwah untuk beribadah hanya kepada Allah, sangat bertepatan dengan hikmah yang dikehendaki Allah. Pada saat itu, di negeri tersebut terdapat seorang pemimpin di antara sekian pemimpin negeri Najed,beliau adalah Su’ud leluhur keluarga yang saat ini sedang memerintah Saudi. Akhirnya syaikh dan pemimpin tersebut bekerja sama, ilmu dan pedang pun saling membantu. Mereka mulai menyebarkan dakwah tauhid di negeri Najed, mengajak manusia sekali waktu dengan lisan dan di waktu yang lain dengan pedang. Siap yang menyambut ajakan, maka itulah yang diharapkan. Sedang bila tidak demikian, maka tidak ada jalan lain kecuali menggunakan kekuatan.

Dakwah tersebut berhasil menyebar hingga sampai ke negeri-negeri yang lain. Sementara perlu diketahui bahwa saat itu negeri Najed serta wilayah sekitarnya seperti Irak, Yordan, dan wilayah-wilayah lain berada di bawah kekuasaan Attaturk sebagai khilafah turun-temurun. Kemudian tokoh ini dengan ilmunya serta pemimpin tersebut dengan kepemimpinannya mulai populer. Dari sini, penguasa Attaturk merasa khawatir jika muncul di dunia Islam satu kekuatan yang mampun menyaingi kekuasaan Daulah Attaturk. Maka, mereka berkehendak membabat habis dakwah ini sebelum sempat beranjak dari negeri kelahirannya. Hal itu mereka tempuh dengan cara menggencarkan propaganda bohong mengenai dakwah tersebut, sebagaimana terungkap dalam pertanyaan di atas ataupun pernyataan serupa yang sering kita dengar....

Pandangan buya Hamka :

Dalam buku “Dari Perbendaharaan Lama,” Buya HAMKA dengan gamblang beliau merinci berbagai fitnah terhadap Wahabi di Indonesia sejatinya telah berlangsung berkali-kali. Sejak Masa Penjajahan hingga beberapa kali Pemilihan Umum yang diselenggarakan pada era Orde Lama, Wahabi seringkali menjadi objek perjuangan yang ditikam fitnah dan diupayakan penghapusan atas eksistensinya. Mari kita cermati apa yang pernah diungkap Buya Hamka dalam buku tersebut:

“Seketika terjadi Pemilihan Umum , orang telah menyebut-nyebut kembali yang baru lalu, untuk alat kampanye, nama “Wahabi.” Ada yang mengatakan bahwa Masyumi itu adalah Wahabi, sebab itu jangan pilih orang Masyumi. Pihak komunis pernah turut-turut pula menyebut-nyebut Wahabi dan mengatakan bahwa Wahabi itu dahulu telah datang ke Sumatera. Dan orang-orang Sumatera yang memperjuangkan Islam di tanah Jawa ini adalah dari keturunan kaum Wahabi.
Memang sejak abad kedelapan belas, sejak gerakan Wahabi timbul di pusat tanah Arab, nama Wahabi itu telah menggegerkan dunia. Kerajaan Turki yang sedang berkuasa, takut kepada Wahabi. Karena Wahabi adalah, permulaan kebangkitan bangsa Arab, sesudah jatuh pamornya, karena serangan bangsa Mongol dan Tartar ke Baghdad. Dan Wahabi pun ditakuti oleh bangsa-bangsa penjajah, karena apabila dia masuk ke suatu negeri, dia akan mengembangkan mata penduduknya menentang penjajahan. Sebab faham Wahabi ialah meneguhkan kembali ajaran Tauhid yang murni, menghapuskan segala sesuatu yang akan membawa kepada syirik. Sebab itu timbullah perasaan tidak ada tempat takut melainkan Allah. Wahabi adalah menentang keras kepada Jumud, yaitu memahamkan agama dengan membeku. Orang harus kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Ajaran ini telah timbul bersamaan dengan timbulnya kebangkitan revolusi Prancis di Eropa. Dan pada masa itu juga “infiltrasi” dari gerakan ini telah masuk ke tanah Jawa. Pada tahun 1788 di zaman pemerintahan Paku Buwono IV, yang lebih terkenal dengan gelaran “Sunan Bagus,” beberapa orang penganut faham Wahabi telah datang ke tanah Jawa dan menyiarkan ajarannya di negeri ini. Bukan saja mereka itu masuk ke Solo dan Yogya, tetapi mereka pun meneruskan juga penyiaran fahamnya di Cirebon, Bantam dan Madura. Mereka mendapat sambutan baik, sebab terang anti penjajahan.
Sunan Bagus sendiri pun tertarik dengan ajaran kaum Wahabi. Pemerintah Belanda mendesak agar orang-orang Wahabi itu diserahkan kepadanya. Pemerintah Belanda cukup tahu, apakah akibatnya bagi penjajahannya, jika faham Wahabi ini dikenal oleh rakyat.....

KESIMPULAN :

1. Ada dua sandaran penisbatan wahabi ini, yakni; disandarkan kepada Abdul Wahab bin Abdurrahman bin Rustum yang wafat 211 H. Dan ada pula yang menyandarkan pada  Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab wafat 1206 H. Serta ada pula yang menyandarkan kepada keduanya.

2. Sebagai orang yang bijak kita harus membedakan mana wahabi yang sesat ( wahabi dholalah), dan wahabi hasanah (jika dipakai juga untuk  Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab).

3. Wahabi dholalah membawa kehancuran di dunia dan diakhirat, sedangkan wahabi hasanah membawa kebahagian dunia dan akhirat.
Lebih baru Lebih lama