ZAKAT DAN KESEJAHTERAAN UMAT



ZAKAT DAN KESEJAHTERAAN UMAT

Oleh : Drs. Hamzah Johan


PENGERTIAN ZAKAT

     Menurut bahasa, kata “zakat” berarti tumbuh, berkembang, subur atau bertambah. Dalam Al-Quran dan hadits disebutkan, “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” (QS. al-Baqarah[2]: 276); “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka” (QS. at-Taubah[9]: 103); “Sedekah tak akan mengurangi harta” (HR. Tirmidzi).

     Menurut istilah, dalam kitab al-Hâwî, al-Mawardi mendefinisikan zakat dengan nama pengambilan tertentu dari harta yang tertentu, menurut sifat-sifat tertentu, dan untuk diberikan kepada golongan tertentu. Adapun kata infak dan sedekah, sebagian ahli fikih berpendapat bahwa infak adalah segala macam bentuk pengeluaran (pembelanjaan), baik untuk kepentingan pribadi, keluarga, maupun yang lainnya. Sementara kata sedekah adalah segala bentuk pembelanjaan (infak) di jalan Allah.

     Berbeda dengan zakat, sedekah tak dibatasi atau tak terikat dan tak memiliki batasan-batasan tertentu. Sedekah, selain bisa dalam bentuk harta, dapat juga berupa sumbangan tenaga atau pemikiran, dan bahkan sekadar senyuman.

     Di dalam Al Quran, zakat mempunyai beberapa istilah, yakni zakat, sadaqah, haq, nafaqah, dan afuw. Namun yang berkembang pada masyarakat di Indonesia adalah istilah “zakat” digunakan untuk sadaqah wajib, sedangkan “sedekah” digunakan untuk sadaqah sunah.

     Zakat, sebenarnya, bukan monopoli ajaran Islam karena instrumen sejenis (meskipun banyak perbedaan) juga ditemui dalam ajaran lain. Dalam ajaran Hindu disebut “datria datrium”, ajaran Budha menyebut “sutta nipata”, sedangkan ajaran Kristiani mengenal “tithe” yang didefinisikan sebagai bagian dari pendapatan seseorang yang ditentukan oleh hukum untuk dibayar kepada gereja bagi pemeliharaan kelembagaan, dukungan untuk pendeta, promosi kegiatannya, dan membantu orang miskin. Dalam kenyataan di lapangan, “tithe” lebih berhasil dibandingkan “zakat”, padahal kewajiban “tithe” adalah 10%, sedangkan “zakat” hanya 2,5% (pada umumnya).


PENGERTIAN SEJAHTERA


     Dalam istilah umum, sejahtera menunjuk ke keadaan yang baik, kondisi manusia di mana orang-orangnya dalam keadaan makmur, dalam keadaan sehat dan damai.

     Dalam ekonomi, sejahtera dihubungkan dengan keuntungan benda. Sejahtera memliki arti khusus resmi atau teknikal , seperti dalam istilah fungsi kesejahteraan sosial.

     Dalam kebijakan sosial, kesejahteraan sosial menunjuk ke jangkauan pelayanan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Ini adalah istilah yang digunakan dalam ide negara sejahtera. (wikipedia).


      Kesejahteraan hidup seseorang dalam realitanya, memiliki banyak indicator keberhasilan yang dapat diukur. Dalam hal ini Thomas dkk. (2005:15) menyampaikan bahwa kesejahteraan masyarakat menengah ke bawah dapat di representasikan dari tingkat hidup masyarakat ditandai oleh terentaskannya kemiskinan, tingkat kesehatan yang lebih baik, perolehan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, dan peningkatan produktivitas masyarakat.


URGENSI ZAKAT UNTUK KESEJAHTERAAN UMAT.

     Tidak dapat dipungkiri bahwa zakat merupakan sumber dana kesejahteraan umat (untuk pengentasan kemiskinan, peningkatan kesehatan, pendidikan dan produktivitas).

     Terkait dengan kemiskinan menurut Badan Pusat Statistik; pada Maret 2014, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah Garis Kemiskinan) di Indonesia mencapai 28,28 juta orang (11,25 persen).

     Potensi zakat nasional tahun 2014 adalah 217 triliun rupiah bahkan ada yang memperkirakan 300 triliun rupiah per tahun.

     Jika diasumsikan umat islam yang miskin 70 persen dari 28,28 juta orang maka umat islam di Indonesia yang miskin sama dengan 19.796.000 orang. Dengan potensi zakat 217 atau 300 triliun rupiah tersebut sangat membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan dan membantu mereka kepada kehidupan yang sejahtera.

     Barang kali dengan alasan apapun, yang jelas pemerintah melihat potensi besar yang ada pada zakat untuk kesejaheraan umat, makanya pemerintah menggulirkan aturan-aturan dan perundang-undangan, seperti UU nomor 23 tahun 2011 dan PP nomor 14 tahun 2014 tentang Pengelolaan Zakat. Undang-undang dan Peraturan tersebut harus dioptimalisasikan untuk mensejahterakan umat tersebut. Minimal optimalisasi zakat itu diperlukan :

1. Penguatan aturan dan undang-undang zakat itu sendiri, seperti aturan di Malaysia memberi sanksi dan denda terhadap muzakki yang tidak menjalankan kewajibannya.

2. Penguatan Badan dan Lembaga pengelola zakat yang profesional.

3.  Penguatan kesadaran para muzakki dalam menunaikan kewajiban berzakat.

4. Penguatan peran ulama, muballigh, para pejabat, tokoh masyarakat, pengurus masjid dan mushalla dalam mensosialisasikan perzakatan.

     Dengan optimalnya pengelolaan zakat tersebut yang terindikasi dengan besarnya perhatian pemerintah dan masyarakat Islam tentu mendorong terciptanya kesejahteraan umat.

Wallahu a'lam.



Lebih baru Lebih lama