Baha'i : Pengertian, ajaran dan perkembangannya


PENGERTIAN DAN ASAL BAHA'I

Berdasarkan sumber Wikipedia, bahwa Agama Bahá’í (bahasa Arab: ﺑﻬﺎﺋﻴﺔ ; Baha’iyyah) adalah agama monoteistik yang menekankan pada kesatuan spiritual bagi seluruh umat manusia. Agama Baha’i lahir di Persia (sekarang Iran) pada abad 19. Pendirinya bernama Bahá’u’lláh. Pada awal abad kedua puluh satu, jumlah penganut Bahá’í sekitar enam juta orang yang berdiam di lebih dari dua ratus negeri di seluruh dunia.

Baha’iyah atau baha’isme ini menyatukan atau menggabungkan agama-agama: Yahudi, Nasrani, Islam dan lainnya menjadi satu. Hingga aliran ini jelas-jelas dinyatakan sebagai non-Islam. Aliran ini berasal dari Syi’ah Itsna ‘Asyariyah yang Pendirinya adalah Mirza Ali Muhammad al-Syairazi (sang Bab) lahir di Iran 1252H/ 1820M. Dia menyerukan bahwa dirinya adalah potret dari nabi-nabi terdahulu. Tuhan pun menyatu dalam dirinya (hulul), risalah Nabi Muhammad SAW bukan risalah terakhir.

Mirza Ali dibunuh pemerintah Iran tahun 1850, saat berumur 30 tahun. Yang pada akhirnya dimakamkan di Haifa, Israel. Sebelum mati, Mirza memilih dua muridnya, Subuh Azal dan Baha’ullah. Keduanya diusir dari Iran. Subuh Azal ke Cyprus, sedang Baha’ullah ke Turki. Pengikut Baha’ullah lebih banyak, hingga disebut Baha’iyah atau Baha’isme, dan kadang masih disebut aliran Babiyah, nama yang dipilih pendirinya, Mirza Ali. Kemudian kedua tokoh itu bertikai, Subuh Azal diusir dari Turki. Baha’ullah diusir ke Akka Palestina. Di sana ia memasukkan unsur syirik dan menentang Al-Quran dengan mengarang Al-Kitab Al-Aqdas (yang lebih suci) diakui sebagai wahyu, Ia menganggap agamanya universal, semua agama dan ras bersatu di dalamnya. Rumah ibadah Bahá’í di New Delhi, India. (arifmaulana.com)

Republika online menyebutkan;

Seperti dikutip dari situs www.bahai.org, disebutkan bahwa ada seorang pemuda yang dikenal dengan nama Bab asal kota Shiraz, Iran, mengumumkan akan adanya seorang pembawa wahyu ke muka bumi. Bab mengumumkan itu pada 23 Mei 1844.

Namun Bab akhirnya ditangkap dan dipenjara oleh otoritas Persia, dan dieksekusi di lapangan kota Tabriz pada 9 Juli 1850. Makamnya yang terdiri dari bangunan megah dengan kubah emas, berada di Haifa, Israel.

Setelah Bab dieksekusi mati, pada 1863 seorang bernama Baha'u'llah mengaku dirinya adalah orang yang dijanjikan (baca: nabi) oleh Bab. Baha'u'llah  lahir di Iran tahun 1817, berasal dari keluarga ningrat Persia.

Ia kemudian di kirim ke Konstantinopel, Adrianople dan ke Acre di Israel, tempat dimana ia menjadi tahanan pada 1868.

Baha'u'llah mengumumkan misinya untuk menciptakan kesatuan umat manusia serta mewujudkan keselarasan di antara agama-agama.

Ia menyatakan bahwa tujuan agamanya adalah mewujudkan transformasi rohani dalam kehidupan manusia, dan memperbarui lembaga-lembaga masyarakat berdasarkan prinsip-prinsip keesaan Tuhan, kesatuan agama, dan persatuan seluruh umat manusia.

Dalam perjalanannya di sebagian besar kerajaan Turki, Baha'u'llah banyak membuat tulisan, yang disebut sebagai wahyu yang diterimanya, dan menjelaskan secara luas tentang Keesaan Tuhan, kesatuan agama, dan kesatuan umat manusia.

Baha'u'llah meninggal pada 1892 di Bahji, kota sebelah utara Acre di Israel. Namun dalam surat wasiatnya, Baha'u'llah menunjuk putra sulungnya, Abdu'l Baha', sebagai penerusnya. Abdu'l Baha juga ditunjuk sebagai penafsir yang sah atas tulisan Baha'u'llah.

Abdu'l Baha' menjadi pemimpin agama Baha'i setelah Baha'u'llah meninggal.

Abdul Baha' pernah melakukan perjalanan ke Mesir, Eropa dan Amerika pada 1911-1913. Dalam perjalanannya itulah, ia mengumumkan misinya kepada berbagai elemen masyarakat.

Abdu'l Baha' meninggal pada 1921. Dan digantikan dengan cucu tertuanya, Shoghi Effendi Rabbani, sebagai Wali agama dan penafsir ajaran Baha'i. Hingga kematiannya pada 1957, Shoghi menerjemahkan tulisan Baha'u'llah dan Abdul Baha' ke dalam bahasa Inggris.

Selepas Shoghi, umat Baha'i dibimbing oleh lembaga internasional yang dinamakannya Balai Keadilan Sedunia.

BAHA'I DI INDONESIA

Baha’i masuk ke Indonesia sekitar tahun 1878, dibawa oleh dua orang pedagang dari Persia dan Turki, yaitu Jamal Effendi dan Mustafa Rumi. Dalam situs resmi agama Baha’i di Indonesia, dijelaskan, agama Baha’i adalah agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte dari agama lain.

AJARAN BAHA'I

Beberapa ajaran/ritual agama Baha’i sebagaimana kami rangkumkan dari berbaai sumber:

- Kaum Baha’i melakukan puasa selama 19 hari sebelum merayakan Hari Raya Naurus yang jatuh setiap 21 Maret.

- Puasa dipandang sebagai periode persiapan spiritual dan regenerasi untuk tahun baru di depan. Dalam kalender Barat, periode ini terjadi antara tanggal 2 dan 21 Maret.

- Bahaullah merekomendasikan bahwa umat Baha’i harus bermeditasi setiap hari, berpikir tentang apa yang mereka lakukan pada siang hari dan pada apa tindakan mereka yang layak. Baha’i percaya, bahwa melalui meditasi pintu pengetahuan yang lebih dalam dan inspirasi dapat dibuka, tetapi mereka menghindari takhayul dalam meditasi.

- Baha’i tidak menerima syariat zakat, yang menurut penilaian mereka sebagai perbuatan boros. Karenanya, dalam setiap acara kegiatan sosial, kendurian misalnya, mereka memilih mengundang sedikit orang, dengan alasan tidak melakukan pemborosan.

- Dalam Baha’i ada ketentuan sembahyang wajib. Bahá’u’lláh membuat doa sehari-hari pribadi kewajiban agama bagi semua Baha’i dari usia 15 ke atas. Setiap hari, salah satu dari tiga sembahyang wajib harus dikatakan:Doa pendek dibacakan sekali setiap 24 jam antara siang dan matahari terbenam;
Doa menengah diucapkan tiga kali sehari, di pagi hari, pada siang hari dan di malam hari;
Doa panjang yang harus dibacakan sekali dalam setiap 24 jam setiap saat – idealnya ketika dalam keadaan kagum dan hormat.

- Wudhu harus dilakukan sebelum sembahyang wajib. Doa dilakukan di tempat yang bersih, dan menghadap ke arah kuil Bahaullah. Hanya mereka yang sakit atau tua (lebih dari 70) dibebaskan dan mereka mungkin malah membacakan ayat tertentu dari kitab suci mereka 95 kali selama periode 24-jam

- Dalam sembahyangnya, Baha’i berkiblat ke Gunung Karmel atau Karamel di Israel.

- Baha’i tidak mengenal adanya sembayang wajib yang harus dilakukan secara berjamaah. Pengecualiannya adalah sembayang wajib yang dilakukan secara berjamaah untuk jenazah. Jadi, hanya jenazah saja yang wajib disembahyangkan secara berjamaah.

- Iman Baha’i tidak memiliki pendeta atau sakramen, dan hampir tidak ada ritual. Hanya ada tiga ritual Baha’i:- Doa harian wajib
– Membaca doa untuk orang mati di pemakaman
– Ritus pernikahan sederhana

- Ada dua alasan Baha’i menghindari ritual:- Ritual mudah berubah dan menjadi tidak berarti, sehingga orang membawa mereka keluar demi ritual dan melupakan tujuan spiritual di belakang mereka.- Ritual dapat menjadi bentuk imperialism budaya, memaksakan ritual yang sama pada budaya yang berbeda dan menghancurkan keragaman mereka.

- Hari-hari Suci Baha’i:
Hari raya Sembilan belas
Naw-Ruz
Deklarasi dari Bab
Hari Raya Ridwan
Lahirnya Bab
Hari Lahir Bahaullah
Kenaikan Bab
Wafatnya Bahaullah

- Tahun Baha’i terdiri dari 19 bulan yang masing-masing 19 hari (361 hari), dengan penambahan “hari-hari kabisat” antara bulan kedelapan belas dan kesembilan belas untuk menyesuaikan kalender dengan tahun matahari. Bulan yang bernama setelah sifat-sifat Allah.

Demikkian beberapa ajaran/ritual agama Bahai yang berhasil kami kumpulkan dari beberapa sumber.

(Sumber: news.okezone.com, agamaminorr.wordpress.com, chrispoerba.wordpress.com)


KOMENTAR ULAMA

Idjoel News – Inilah beberapa kritik dan komentar ulama Majelis Permusyawaratan Ulama (MUI) kepada aliran Baha’i yang menjadi agama baru di Republik Indonesia.

Lalu bagaimana komentar dari para ulama yang ada di Indonesia?

Sebenarnya isu ini sudah lama beredar dan sudah sempat dilarang oleh Presiden Republik Indonesia ke 1, Soekarno melalui Keppres Nomor 264 Tahun 1962. Isi Keppres tersebut pada dasarnya selain melarang Agama Baha’i, juga melarang Freemasonry dan segala turunannya.

Menurut lasniran dari voa-islam, Ketua Dewan Pimpinan MUI Pusat, KH. Muhyidin Djunaidi, menyatakan Baha’i adalah agama produk manusia dengan pendirinya, Bahaullah, yang mengaku sebagai manifestasi Tuhan di dunia.

“Misi utama agama Baha’i adalah menyampaikan perdamaian dan keadilan universal. Semua agama dianggapnya sama baik,” tutur Muhyidin saat dihubungi ROL, Kamis (23/7) malam.

Menurut Kiai Muhyidin, Baha’i mengakui Bahaullah sebagai Tuhan Maha Esa yang mereka sembah. Pengikut Baha’i menekankan tentang pentingnya pendidikan dan emansipasi mutlak bagi kaum perempuan.

Pendiri agama Baha’i adalah orang Iran pada tahun 1884 yang bernama Babullah, atau “pintu Allah”. Jadi, sebenarnya Baha’i punya kemiripan dengan agama dunia lainnya seperti Hindu, Buddha dan Shinto.

“Makam Babullah ada di Haifa, Israel. Saya khawatir pengikut Baha’i akan minta izin pemerintah untuk dibolehkan ziarah ke Israel dengan alasan agama,” ungkap Muhyidin.

Ditempat terpisah, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Da’i Indonesia (Ikadi), KH. Ahmad Satori Ismail menyatakan, Baha’i termasuk ke dalam 11 kriteria aliran sesat yang telah ditetapkan MUI.

Salah satu kriteria aliran sesat MUI, lanjut Satori, adalah pengakuan adanya nabi baru setelah Nabi Muhammad SAW. Dari sisi ini, Bahai sangat dekat dengan Ahmadiyah Qadian.

MUI memang tidak menetapkan satu per satu aliran apa yang termasuk sesat dalam agama Islam. “MUI hanya menetapkan 11 kriteria aliran sesat berdasarkan fatwa MUI,” ungkap Satori.

Baha’i masuk ke Indonesia sejak sekitar tahun 1878, dibawa oleh dua orang pedagang dari Persia dan Turki, yaitu Jamal Effendi dan Mustafa Rumi. Dalam website resmi Agama Baha’i di Indonesia, dijelaskan, Agama Baha’i adalah agama yang independen dan bersifat universal, bukan sekte dari agama lain.

Sebagai catatan, tahun 2009 lalu, ratusan penganut agama ini sempat membuat heboh warga Tulungagung. Warga menolak keberadaan mereka karena ritualnya dianggap menyesatkan. Para penganut ajaran ini meyakini kitab suci mereka adalah Akhdas. Sedangkan salatnya berkiblat ke Gunung Karmel atau Karamel di Israel. Mereka salat sehari sekali, dan berpuasa hanya 17 hari.  Beberapa penganut agama ini juga tercatat di Kota Samarinda, Kalimantan Timur.

Selain itu, beredar kabar yang memberitakan bahwa Baha’i adalah sebuah paham atau aliran sesat yang dipelihara dan dimunculkan saat diperlukan saja. Yang menjadi pertanyaan adalah siapa yang memeliharanya? 
Lebih baru Lebih lama