HIKMAH PERPINDAHAN ARAH QIBLAT

HIKMAH PERPINDAHAN ARAH QIBLAT
Oleh: Drs. Hamzah Johan



A. Sejarah Perpindahan Arah Qiblat

Salah satu tempat bersejarah yang perlu dikunjungi umat Islam ketika berhaji, yakni Masjid Qiblatain. Masjid ini dikenal dengan  dua arah kiblat. Masjid yang dulu bernama Masjid Bani Salamah itu menjadi saksi perpindahan arah kiblat kaum Muslim.

Masjid tersebut terletak di Quba, tepatnya di atas sebuah bukit kecil di sebelah utara Harrah Wabrah, Madinah. Sejarah masjid dua kiblat ini diawali dengan kedatangan Nabi Muhammad SAW beserta beberapa sahabat ke Salamah untuk menenangkan Ummu Bishr binti al-Bara yang ditinggal mati keluarganya.

Ketika itu bulan Rajab tahun 2 Hijriyah, (qatadah berpendapat; pertengahan Sya'ban), Rasulullah shalat Zhuhur di Masjid Bani Salamah. Ia mengimami para jamaah. Dua rakaat pertama shalat Zhuhur masih menghadap Baitul Maqdis, sampai akhirnya malaikat Jibril menyampaikan wahyu pemindahan arah kiblat. Wahyu datang ketika lelaki dijuluki Al-Amin ini baru saja menyelesaikan rakaat kedua.

Dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 144, Allah berfirman,

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِى ٱلسَّمَآءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَىٰهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنتُمْ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُۥ ۗ وَإِنَّ ٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْكِتَٰبَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ ﴿١٤٤﴾

"144. Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan."(Q.S.2:144)

Begitu menerima wahyu ini, Rasul langsung berpindah 180 derajat, diikuti oleh semua jamaah melanjutkan shalat Zhuhur menghadap Masjidil Haram.

Sejak saat itu, kiblat umat Islam berpindah dari Baitul Maqdis, Palestina (menghadap ke utara dari Madinah), menuju Masjidil Haram (menghadap arah selatan dari Madinah). Masjid Bani Salamah ini pun dikenal sebagai Masjid Qiblatain atau Masjid Dua Kiblat.



B. Hikmah Perpindahan Arah Qiblat

1. Dari perspektif penentuan Arah qiblat
2. Dari perspektif Geologi
3. Dari perspektif Keamanan
4. Dari perspektif Politik dan Ekonomi

1. Dari perspektif penentuan Arah qiblat

Masjidil Aqsha berada di lokasi dengan koordinat LU sebesar 31°46′ 40.93″. Garis ini jelas tidak dilalui matahari , sebab paling jauh matahari akan melewati pada garis Lintang Utara tanggal 21 Juni, tepat berada di lintang 23.5° LU. Jadi mustahil kita menentukan arah kiblat dengan melihat bayangan matahari.

Ka’bah di Masjidil Haram kota Mekkah, berada di garis koordinat 21°25′20.94″ Lintang Utara. Garis ini di bawah 23.5° LU batas matahari melakukan kulminasi. Sehingga berlaku Istiwa' A`zhom/matahari berkulminasi di atas ka'bah yang jatuh setiap tanggal 28 Mei & 16 Juli setiap tahun, sebagai tanggal atau hari untuk membenarkan / meluruskan arah qiblat yang disebut sebagai "yaumu rashdul qiblah" (hari meluruskan arah qiblat).

Pada tanggal 28 Mei pukul 16.18 WIB dan tanggal 16 Juli pukul 16.28 WIB posisi matahari tepat berada di atas ka'bah, sehingga pada saat itu setiap bayangan benda tegak atau garis bayangan benda tersebut akan mengarah tepat ke arah KIBLAT. Dan peristiwa istiwa' a'zhom tersebut mustahil terjadi pada koordinat masjidil aqsha.

2. Dari perspektif Geologi

Kota Makkah dan hampir keseluruhan Tanah Hijaz itu berdiri di atas bagian kerak Bumi yang sudah sangat tua dan stabil, dan dikenal sebagai Arabian-Nubian Shield. Disini sangat jarang terjadi gempa. Beda dengan Jerusalem, yang berdiri di atas lintasan patahan besar Laut Mati, yang membentang dari Teluk Aqaba di barat daya hingga Pegunungan Taurus dan Van di Turki. Patahan besar ini masih aktif dan berulang kali menjadi generator gempa merusak sepanjang sejarahnya.

Salah satu gempa yang fenomenal (dan kontroversial) terjadi sekitar 2150 BCE ketika segmen barat daya Laut Mati terpatahkan dan terdeformasi sehingga digenangi air Laut Mati. Gempa ini konon disertai letusan paroksimal (besar-besaran) gunung api yang bekas-bekasnya masih bisa dijumpai di dekat Bashan (Yordania) dan kemungkinan menghasilkan proses tektono-vulkanik. Kombinasi gempa dan letusan ini yang disebut-sebut menghancurkan kota Sodom, Gomorrah dan 5 pusat pemukiman lainnya yang menjadi hunian umat Nabi Luth AS. Apakah al-Aqsa bisa terkena gempa di masa mendatang? Kemungkinan itu sangat terbuka.

3. Dari perspektif Keamanan

Sampai hari ini masjidil aqsha tak pernah aman dari rongrongan yahudi, mereka terus mengintimidasi kaum mislimin, sehingga orang islam beribadah di masjidil aqsha dibawah tekanan dan penindasan. Berbeda dg di masjidil haram yang tenang dan damai.

4. Dari perspektif Politik dan Ekonomi

Ka'bah/masjidil haram yg menjadi kiblat umat Islam dikuasai oleh umat Islam sejak dari zaman nabiyulloh Muhammad SAW sampai saat ini. Dan ka'bah juga dapat sebagai perekat/pemersatu ukhuwah islamiyah dan menjadi daerah lintas ekonomi yang strategis.
Maknanya secara politik leadersip; Jika memilih pemimpin, maka berkiblatlah kepada pemimpin yang memperhatikan masjid dan umat Islam.

Di Batam dari data simas 2015 ada 689 masjid dan 498 mushalla tak bersertifikat dari Badan Pertanahan Nasional... kepada siapa kita harus minta tolong?

Potensi zakat kota batam tahun 2014 adalah 84 milyar yg dapat mensejahterakan umat Islam. Namun pada tahun 2014 tersebut terkumpul dari semua OPZ (Organisasi Pengumpul Zakat) hanya sekitar 14 milyar atau sekitar  11, 76 %  dari potensi yang ada. Kepada siapa kita minta percepatan realisasinya ?

Tentu kepada pemimpin yg beriman. Bukan pemimpin yang sibuk membesarkan diri sendiri, tapi pemimpin yang sibuk membesarkan Islam. Maka berqiblah/pilihlah pemimpin yg peduli dg masjid dan yang mau membesarkan Islam.

C. Kesimpulan

Demikianlah Hikmah Perpindahan Arah Qiblat yang membawa manfaat luar biasa, baik dari perspektif ekonomi, politik, geologi, keamanan dan sebagainya.






Lebih baru Lebih lama