Khutbah Idul Fitri

Khutbah Idul Fitri

MELESTARIKAN NILAI-NILAI RAMADHAN
SEBAGAI EKSISTENSI IDUL FITHRI
Oleh: Drs. Hamzah Johan Al-Batahany


السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

الله ُأَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ  اللهُ أَكْبَرُ  (۳ x  )

الله ُأَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُللهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ الله بُكْرَةً وَّأَصِيْلاً.

اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ.

 اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Sejak terbenamnya matahari akhir Ramadhan, maka berkumandanglah takbir, tahlil dan tahmid di berbagai belahan dunia; di semenanjung Arabia,  di benua Afrika, di Benua Amerika, di benua Australia, di negara-negara Eropa, di kota-kota besar Asia bahkan sampai di desa-desa terpencil, umat Islam berlomba mengagungkan Allah sebagai wujud kemenangan melawan hawa nafsu sebulan penuh.


Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.

Selain Allah kecil. Harta yang kita miliki kecil di hadapan Allah, Tahta yang kita miliki kecil di hadapan Allah, kecantikan kegagahan dan apapun di jagad raya ini kecil di hadapan Allah SWT. Dia-lah yang Maha Terpuji dan yang paling pantas untuk dipuji karena Dia-lah pemilik alam semesta ini yang sesungguhnya, sedangkan kita hanya penumpang sementara di bumi Allah ini.

Jamaah Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Suasana hati manusia pada hari ini menjadi dua golongan. Ada golongan yang bergembira dan ada pula golongan yang bersedih hati. Golongan yang bergembira karena dua sebab;  Pertama; bergembira karena merasa sukses menjalankan puasa Ramadhan, kesuksesan mendapatkan ampunan dosa, sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW;

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Siapa saja yang berpuasa Ramadhan dengan iman dan sesuai aturan maka diampuni dosa-dosanya yang terdahulu”.(HR. At-Tirmidzi).

Kedua ; bergembira karena terbebas dari belenggu Ramadhan. Yang mana selama Ramadhan, ia tidak bebas makan dan minum di tempat-tempat umum, namun setelah Ramadhan berlalu, dia merasa merdeka dan dia merasa sangat gembira dengan kepergian Ramadhan tersebut.

Ada pun golongan yang bersedih, disebabkan dua hal pula. Pertama; bersedih karena merasa tidak sukses menjalankan puasa Ramadhan tahun ini. Dia khawatir umurnya tidak sampai pada Ramadhan berikutnya, sehingga dia sangat bersedih hati. Dan Kedua; bersedih karena kepapaan, hidup sebagai yatim piatu, hidup sebagai fakir miskin. Melihat orang lain serba cukup dan bergembira pada idul fithri ini, sementara dia serba kekurangan bermandi air mata.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Jamaah Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Seuntai kalimat hikmah menyebutkan: Laa ‘idu liman labisal jadid, innamal ‘idu liman tho’atuhu tazid : “Tidaklah berhari raya itu bagi orang yang berbaju baru, sesunggunya berhari raya itu adalah bagi orang yang bertambahnya keta’atannya kepada Allah SWT”.

Sebagaima juga dikatakan syawwal yang berarti bulan peningkatan.
Bertambah dan meningkatnya keta’atan kepada Allah adalah merupakan eksistensi idul fithri. Ia lahir dari qiyamu Ramadhan yang mengajarkan nilai-nilai kecerdasan; Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Emosional dan Kecerdasan Spiritual.

Tiga kecerdasan ini merupakan hasil dari Sekolah Ramadhan. Sekolah Ramadhan adalah bulan tarbiyah yang melahirkan kecerdasan tersebut

Kecerdasan Intelektual adalah buah dari kegigihan para muballigh selama Ramadhan menyampaikan ilmu agama dan ilmu pengetahuan lainnya, sehingga ilmu kita bertambah, kecerdasan intelektual kita meningkat. Prinsip-prinsip dasar intelektualitas yang diajarkan oleh para muballigh tersebut benar-benar menjadi motivasi untuk kecerdasan Intelektual yang lebih tinggi. Kita dimotivasi dengan berbagai dalil, seperti firman Allah SWT:

 قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ ِ

  Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (tidak berilmu)?" (Surat Az-Zumar : 9]

Tentu saja tidak akan sama. Rasulullah SAW membandingkan orang yang berilmu itu sebagaimana sabdanya: “Kal qamari ‘ala sairil kawaqib”: “Seperti bulan purnama dibandingkan seluruh bintang-bintang”. Satu amalan orang yang berilmu lebih besar pahalanya dari pada orang yang banyak amalan tapi tanpa ilmu. Hal itu dapat kita rasa dalam realita kehidupan ini;

Seorang Pemuda yang berilmu ketika bertengkar dia akan mencari jalan keselamatan dan kedamaian, tapi pemuda yang dungu menyelesaikan masalah bukan dengan otak tapi selalu mengedepankan otot, sehingga dia sering celaka dan masuk penjara.

Seorang pedagang yang berilmu akan selalu memikirkan cara yang halal untuk memperoleh harta benda, tapi pedagang yang dungu tak peduli halal dan haram yang penting untung. Mereka rajin berpuasa, rajin beribadah, tapi ketika menggunakan timbangan, mereka curang, mereka melakukan penipuan. Orang-orang semacam inilah yang disebut Rasulullah sebagai "manusia muflis, manusia yang bangkrut di akhirat". Mereka datang dengan segudang pahala ibadah; shalat, puasa, dsb. Akan tetapi pahala ibadahnya tersebut terkuras habis bahkan kurang untuk menebus perbuatan zholimnya itu.

Oleh sebab itu jauhilah berbuat aniaya; seperti menipu, mencuri, dan memfitnah, karena perbuatan tersebut membuat kita bangkrut di akhirat.

Jama’ah ‘idul fithri rahimakumullah

 Kecerdasan intelektual yang dilahirkan dari qiyamur Ramadhan adalah bukti nyata bahwa ajaran Islam sangat peduli dengan pendidikan. Jika pemerintah mewacanakan wajib belajar 12 tahun, maka Islam memberi sinyalemen wajib belajar sampai tua bangka bahkan hingga keliang kubur. “Utlubul ‘ilma faridhotam minal mahdi ilallahdi”, Menuntut ilmu itu adalah wajib dari lahir sampai ke liang lahad”.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Adapun Kecerdasan Emosional

Menurut Jhon Mayer (1990)  kecerdasan emosional adalah “ kemampuan mengetahui perasaan sendiri dan perasaan orang lain, serta menggunakan perasaan tersebut menuntun pikiran perilaku seseorang”. Salah satu prinsip kecerdasan emosional ini adalah perasaan peduli dengan penderitaan orang lain. Jauh sebelum Jhon Mayer mengemukakan teori tersebut, 1400 tahun yang lalu Islam telah mengemukakan hal itu. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah 177 :

وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ

“dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya”

Bahkan Allah SWT memberikan ancaman bagi orang-orang yang tidak memiliki perasaan peduli pada penderitaan orang lain, sebagaimana firman-Nya:

أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ وَلا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينِ

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik (menyia-nyiakan) anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (QS. Al-Ma’un:1-3)

Pada bulan Ramadhan tersebut, kecerdasan emosional, rasa peduli ini dipraktekkan oleh umat Islam dengan mengeluarkan zakat, berinfak, memberi makan fakir miskin, anak yatim dan lain sebagainya.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Adapun kecerdasan Spiritual

Secara sederhana menurut mimainas dalam mimainas multiply.com ; kecerdasan spiritual mencakup 5 (lima) komponen, yaitu 1) meyakini Tuhan sebagai Maha Segala-galanya  atas segala sesuatu. Wujud kecerdasan ini membuat manusia yakin betul bahwa Tuhan sebagai tempat bergantung bagi makhlukNya, 2) kemampuan untuk bekerja keras dan kemampuan untuk mencari ridho Tuhan. Sehingga seseorang akan memiliki etos kerja yang tinggi dan senantiasa bersungguh-sungguh dalam menjalankan aktivitasnya, 3) kemampuan untuk kokoh melakukan ibadah secara disiplin, 4) kecerdasan ini diisi dengan kesabaran, ketahanan dan kemampuan. Untuk melihat bahwa orang harus selalu berikhtiar agar tidak putus asa, 5) menerima keputusan terakhir akan takdir dari Tuhan yang akan mendatangkan ketenangan dari hidup.

Kecerdasan Spiritual ini dipraktekan umat Islam selama bulan Ramadhan dengan berbagai ibadah, seperti shalat tarawih, I’tikaf, zikir, membaca Al-Qur’an dsb.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Selain ketiga kecerdasan tersebut, ada lagi sebuah kecerdasan yang tidak kalah pentingnya, yakni Kecerdasan Berjama’ah, yaitu kecerdasan yang lahir dari shalat berjama’ah yang mengajarkan kebersamaan, ukhuwah islamiyah dan persatuan. Pesan Allah dalam Al-Qur’an Surah ‘Ali Imran ayat 103 :

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai”,

Jamaluddin Al-Afgany menyebutkan: “Laa gholabata illa bil quwwati wala quwwata illa bil ittihad” ( Tidak ada kemenangan tanpa kekuatan, dan tiada kekuatan tanpa persatuan).

Kita harus bersatu menghadapi musuh-musuh yang ingin memecah belah kita. Baik musuh eksternal maupun internal. Bahkan kata muhammad Abduh, musuh internal lebih berbahaya, sebagaimana ungkapannya; Al-Islamu Mahjubun ‘alal muslim ( Islam itu terhalang kemajuannya atau hancur oleh orang Islam sendiri). Perhatikan berapa banyak kelompok-kelompok yang sengaja mengadu domba lewat khilafiah. Mereka membesar-besarkan masalah khilafiah tsb. Mereka tidak sadar bahwa ummat Islam mayoritas sudah cerdas dan tak mudah terpancing dengan metode adu domba itu. Metode adu domba lewat khilafiah itu sudah kuno, sudah tidak mempan lagi untuk memecah belah kita. Kita sudah mengerti bahwa khilafiyah itu merupakan prodak ijtihad, dimana perbedaan ijtihad itu hal yang lumrah dan punya nilai kebenaran serta mendapat  pahala masing-masing. Jika benar ijtihadnya mendapat dua pahala, dan jika salah ijtihadnya mendapat satu pahala. Oleh sebab itu hasil ijtihad yang satu tidak dapat membatalkan ijtihad yang lain. Artinya jangan mau diadu domba karena khilafiah, karena khilafiyah sebagai rahmat atas kita ummat Islam.

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.

Jamaah Kaum Muslimin Rahimakumullah.

Meski pun Ramadhan telah berlalu, namun nilai-nilainya mesti kita pelihara dan kita pertebal pada bulan-bulan berikutnya. Jangan sampai kita merusak tenunan ibadah yang telah kita rangkai pada bulan Ramadhan menjadi berantakan kembali, sebagaiman firman Allah SWT dalam Suroh An-Nahl;92 :

وَلا تَكُونُوا كَالَّتِي نَقَضَتْ غَزْلَهَا مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ أَنْكَاثًا

Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali,

Nilai-nilai kecerdasan yang telah kita perbuat pada bulan Ramadhan seyogyanya kita tingkatkan pada bulan-bulan selanjut. Intelektualitas yang lebih baik, kepedulian kepada kaum dhu’afa yang lebih baik, pendekatan diri kepada Allah yang lebih berkwalitas dan persatuan umat Islam yang lebih kokoh.


KHUTBAH KEDUA

اللهُ أَكْبَرُ ٩x  لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ اللهُ اَكْبَرُ وَللهِ الحَمْدُ. الحَمْدُللهِ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَه وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَاَعَزَّ جُنْدَهُ وَحَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَه. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ الله وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَنبَِيَّ بَعْدَه. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَباَرِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ فَيَا عِباَدَ اللهِ اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِي يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىَ اِبْرَاهِيْم وَعَلىَ آلِ اِبْرَاهِيْم وَباَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا باَرَكْتَ عَلىَ اِبْرَاهِيْم فِى اْلعاَلَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْد.اللَّهُمَّ اغْفِرْلَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدِيْنَ وَارْحَمْهُمْ كَمَارَبَّوْنَا صِغَارًا وَلِجَمِيْعِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَات وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِناَتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْواَتِ بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

. اَللّهُمَّ آرِناَ الْحَقَّ حَقاًّ وَارْزُقْناَ اتِّباَعَهُ وَآرِناَ اْلباَطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْناَ اجْتِناَبَهُ.

اللَّهُمَّ افْتَحْ عَلَيْنَا اَبْوَابَ الخَيْرِ وَاَبْوَابَ البَرَاكَةِ وَاَبْوَابَ النِّعْمَةِ وَاَبْوَابَ السَّلاَمَةِ وَاَبْوَابَ الصِّحَّةِ وَاَبْوَابَ الجَنَّةِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لمَ ْتَغْفِرْلَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ. رَبَّناَ آتِناَ فِىالدُّنْياَ حَسَنَةِ وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةِ وَقِناَ عَذاَبَ الناَّر. وَصَلَّى اللهُ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ  وَالحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِيْنَ.















Lebih baru Lebih lama