Halal bi halal Timbul dari Pertemuan Hamka dan Bung Karno

Halal bi halal Timbul dari Pertemuan Hamka dan Bung Karno



Lebaran telah tiba. Acara Halal bi halal segera diadakan di banyak tempat. Ada yang di lingkungan tempat tinggal, lingkungan kantor, lingkungan asosiasi, ikatan perantau dari daerah tertentu, dan yang paling banyak adalah yang berbau reuni teman sekolah atau kuliah.
Halal bi halal, meski selintas terdengar sangat berbau Arab, karena kata "halal" adalah bahasa Arab, namun sesungguhnya istilah tersebut adalah produk asli bumi nusantara ini. Orang Arab sendiri malah tidak tahu apa itu halal bi halal. Nah, ada banyak versi tentang asal muasal istilah halal bi halal. Salah satu versi yang saya yakin valid adalah apa yang dituturkan dalam buku yang berjudul "Hamka dan Bahagia" karangan M Alfan Alfian (Penjuru Ilmu 2014). 
Pengarang buku tersebut mengutip keterangan Ketua MUI Umar Shihab bahwa halal bi halal pertama kali dikenal pada tahun 1963. Saat itu Buya Hamka bertemu dengan Bung Karno di Istana Negara dalam suasana Idul Fitri. Pada saat keduanya berjabat tangan, Buya Hamka mengatakan " kita halal bi halal" dan Bung Karno mengatakan juga dengan keras "halal bi halal". Lalu tahun-tahun berikutnya Bung Karno yang mempopulerkannya.  Menurut Buya Hamka dalam sebuah wawancara, makna halal bi halal adalah bertemunya pribadi-pribadi yang suci yang telah serius menggembleng dirinya dalam bulan Ramadhan.
Itulah sedikit kisah tentang asal usul istilah halal bi halal yang sekarang menjadi tradisi di negara kita. Acara ini melibatkan semua pihak tidak hanya umat Islam, namun juga saudara-saudara kita yang bukan muslim banyak berpartisipasi. Bahkan di perusahaan-perusahaan yang kebetulan pemiliknya atau manajemen puncaknya non-muslim tetap mengadakan acara halal bi halal karena berdampak baik untuk membangun kekompakan di samping ajang silaturahmi.
Lebih baru Lebih lama