Sejarah dan ukuran dinar, rithl, uqiyah, nasy, nuwat, mistqal, dirham, daniq, qirath dan habbah

Sejarah Timbangan Dinar Dan Dirham, Dahulu Dan Islam Hari Ini

Dinar-411_9999
Bismillahirrahmanirrahim. Penjelasan ini dibuat sebagai jalan untuk mengenali masalah yang sebenarnya dan untuk mendorong muslim di Indonesia yang memiliki keinginan kuat untuk mengamalkan syari’at secara nyata sebagaimana semestinya, terutama dalam menegakkan kembali Muamalat Islam seperti perdagangan islam, pemerintahan islam, pencetakan dinar dan dirham, pasar, permodalan qirad dan syirkah, fungsi wakaf dan restorasi zakat. Seperti telah diketahui dinar dan dirham dicetak kembali oleh Islamic Mint Nusantara pada tahun 2000, dan selama ini kita tidak banyak mengetahui tentang apa dan bagaiaman sejarah timbangan dinar dan dirham. Kami ingin berbagi pengetahuan yang mudah-mudahan tulisan ini dapat menambah wawasan kita semua dan menjadi semakin memperjelas apa itu standar dinar dan dirham yang syar’i.
Dari Abu Bakar Ibn Abi Maryam radhiyallah anhu, dari Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam, bersabda:“Akan datang masanya ketika tidak ada yang tertinggal yang bisa dimanfaatkan kecuali dinar dan dirham.” (HR. Ahmad bin Hanbal).
Sebelum manusia mengenal uang mereka sudah melakukan aktifitas jual beli dan tukar menukar barang dan jasa atau barter. Kemudian munculah mata uang dimana dengan berjalannya waktu manusia mengenal emas dan perak sebagai tolok ukur yang menilai barang dan jasa, emas dan perak memiliki nilai intrinsik maka keduanya menjadi alat tukar atau uang.
Orang-orang Arab sebelum islam terutama Quraisy sudah berniaga dengan berbagai negara tetangga dan berbagai tempat, dan di antara mereka telah dikenal timbangan khusus antara rithl, uqiyah, nasy, nuwat, mistqal, dirham, daniq, qirath dan habbah. Mitsqal adalah timbangan emas yang dikenal luas dikalangan mereka, 1 mitsqal sama dengan 22 qirath kurang 1 habbah, ukuran 10 dirham saat itu sama dengan 7 mitsqal
Kemudian ketika masa Islam datang Rasulullah salallahu alaihi wassalam menetapkan (dengan taqrir, penggunaan) dinar dan dirham tersebut sebagai mata uang. Rasululllah menetapkan timbangan  dinar dan dirham yang telah berlangsung pada masa Quraisy. Dari Thawus dari Ibn Umar, Rasulullah salallahu alaihi wassalam bersabda:
Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah, dan takaran maka takaran penduduk Madinah. (HR. Abu Daud dan Nasa’i)
Diriwayatkan oleh Baladzuriy dari Abdulllah bin Tsa’labah bin Sha’ir: Dinar Hiraklius (Romawi) dan Dirham Persia biasa digunakan oleh penduduk Makkah pada masa Jahiliyah. Tetapi mereka tidak menggunakannya dalam jual beli, kecuali menjadikannya (timbangan) lantakan. Mereka sudah mengetahui timbangan mitsqal. Timbangannya adalah 22 qirath kurang (satu dirham) Kisra. Dan timbangan 10 dirham sama dengan 7 mitsqal. Satu rithlsama dengan 12 uqiyah, dan setiap uqiyah sama dengan 40 Dirham. Dan Rasulullah membiarkan hal itu. Begitu pula Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali.
Saat itu kaum muslim telah menggunakan bentuk cetakan dan gambar dinar Hirakliy dan dirham Kisra pada masa Rasulullah salallahu alaihi wassalam, Khalifah Abu Bakar Shiddiq dan pada permulaan masa Khalifah Umar. Pada masa pemerintahan Khalifah Umar, beliau mencetak dirham yang baru berdasarkan dirham Sasanid dimana bentuk dan timbangannya mengacu kepada dirham Kisra, gambar dan tulisannya bermotif Bahlawiyah dengan ditambahkan tulisan huruf Arab kufi, dengan nama Allah dan dengan nama Allah Rabbku.
Sejarah Timbangan Dinar dan Dirham
Imam Abu Zayd Ibn Khaldun (d. 1406) Umar bin Khattab, radiya’llahu’anhu menetapkan hubungan tegas antara keduanya sesuai berat mereka yakni:
“(berat) 7 Dinar harus setara dengan (berat) 10 Dirham” Wahyu Allah menyebut Emas dan Perak serta mengaitkannya dengan berbagai hukum , misalnya zakat, perkawinan, hudud. Sehingga sesuai wahyu Allah, Emas dan Perak mesti nyata dan memiliki ukuran dan penilaian tertentu (untuk zakat atau dan lainnya) yang mendasari segala ketentuannya, bukan atas sesuatu yang tak berdasarkan shari’ah (kertas dan logam lainnya). Ketahuilah bahwa terdapat persetujuan umum (ijma) sejak permulaan Islam dan masa Sahabat serta tabi’in, bahwa dirham yang sesuai shari’ah adalah yang sepuluh kepingnya seberat 7 mitsqal (bobot dinar) emas. Berat 1 mistqal emas adalah 72 butir gandum, sehingga dirham yang bobotnya 7/10-nya setara dengan 50-2/5 butir. Ijma telah menetapkan dengan tegas seluruh ukuran ini. (Al-Muqadimmah)”
Pada masa Abdul Malik bin Marwan telah mencetak dinar Islam dengan timbangan sendiri, sementara dinar Byzantium timbangannya menggunakan satuan mitsqal yang timbangannya lebih berat (dalam hitungan hari ini adalah 4.55 gram). 1 mitsqal sama dengan 8 daniq dan satu daniq sama dengan 20 qirath, atau 22 qirath kurang 1 dirham Kisra. Satu mitsqal setara dengan 72 biji gandum barley  ukuran sedang yang dipotong kedua ujung.
Rasulullah shalallahu alaihi wassalam telah menetapkan timbangan ini bagi dinar, dan mengaitkannya dengan hukum-hukum zakat, diyat, nishab potong tangan dalam pencurian, sehingga menjadi timbangan yang sesuai syar’iy bagi dinar, dan dikemudian hari timbangan ini pula yang digunakan sebagai acuan oleh Khalifah berikutnya.
Dirham memiliki timbangan yang bermacam-macam, saat itu saja dirham Persia saja memiliki tiga macam (timbangan) dirham: al-kibar (besar) dengan ukuran setara ukuran mitsqal atau 20 qirath, al wustha (pertengahan) dengan ukuran setiap 10 dirham sama dengan 6 mitsqal, yaiutu sama dengan 12 qirath dan ash-shigar (kecil) dengan ukuran setengah mitsqal.
Uang perak Sasanid yang dihitung ulang berdasarkan beratnya oleh Rasulullah, sallallahu alayhi wa sallam, yang disebabkan karena perselisihan antara Burairah RA dan Aisyah RA, pada awal hijriah di Madinah sebelum perang Badar, karena terdapat 3 macam dirham Sasanid yang berbeda berat dan ukuran, yaitu: dirham besar 20 qirat, dirham sedang 12 qirat, dirham kecil 10 qirat. Hitungannnya adalah: (20+12+10) : 3 = 14 qirath
Berat dirham menurut Rasulullah adalah 14 qirat atau 14/20 atau 7/10 mitsqal dari berat dinar. Pada masa Khalifah Umar Ibn Khattab RA, di tahun 20 Hijriah dirham standar Rasulullah ini dicetak untuk pertama kalinya dengan motif Sasanid.
Imam al Baladzuriy meriwayatkan dari Hasan bin Shalih bahwa:‘ Mata uang yang dibuat oleh orang Persia itu berbeda-beda, ada yang besar dan ada yang kecil. Dirham ukuran besar mereka tetapkan timbangan seberat 1 mitsqal yang sama dengan 20 qirath. Dirham kecil mereka tetapkan timbangannya seberat 12 qirath. Sedangkan dirham yang sedang mereka tetapkan timbangannya seberat 10 qirath atau setengah mitsqal.’
Dirham yang besar mereka sebut dirham baghliy atau as-suud al-wafiyah yang digunakan sebagai standar bagi dirham. Emas seberat 1 mitsqal yakni 8 daniq dan 1 daniq adalah sama dengan 2 ½ Qirath, jadi 1 mitsqal sama dengan 20 qirath. Timbangan ini telah diberlakukan sejak masa Sasanid dan di jaman Khulafa ar-Rasyidin.
Dirham ukuran sedang timbangan beratnya adalah 4.8 daniq adalah sama dengan 12 qirath. Dirham ukuran sedang ini disebut dirham al-jawaraqiyyah yang di ambil namanya dari daerah Jaurakan, tempat pencetakannya
Dirham ukuran kecil beratnya adalah ½ mitsqal dinamakan dirham ath-thibriyyah yang di ambilkan namanya dari daerah Thabaristan (wilayah Iran), tempat pencetakannya. Timbangannya adalah 4 daniq, yaitu sama dengan 10 qirath.
Setelah Islam datang maka ditetapkanlah kewajiban zakat atas perak, yaitu setiap 200 dirham zakatnya adalah 5 dirham. Dirham yang setiap 10 kepingnya berbeda-beda, dinilai seberat 7 mitsqal, sehingga dikenal dengan sebutan timbangan tujuh (waznuh as-sab’ah) yaitu timbangan untuk dirham ukuran sedang. Hal ini dilakukan setelah menyatukan timbangan qirath yang berlainan antara dirham besar, sedang dan kecil. Jumlah berat timbangan dari ke 3 macam dirham ini dibagi 3, sehingga berat rata-ratanya adalah 14 qirath, yaitu 6 daniq yang setara dengan berat 50 2/5 biji gandum ukuran sedang yang sudah dipotong kedua ujungnya, ukuran timbangan ini sama beratnya dengan 4200 biji khardal, inilah dirham syar’iy yang jadi standar untuk hukum zakat dan diyat.
Timbangan inilah yang dikenal dan dipandang sah pada masa Rasulullahsalallahu alaihi wassalam lalu di masa Khalifah Umar al-Khattab ditetapkan kembali beratnya dengan daniq dan qirath. Kemudian pada masa Abdul Malik bin Marwan seperti disebutkan di atas bahwa dia merubah timbanganmithqal  tersebut, lalu dikembalikan pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, beliau mengkoreksi dirham Khalifah Abdul Malik bin (99 – 101 H) dengan perkataannya bahwa dirham baru buatan Abdul Malik bin Marwan bobotnya kurang yaitu 7/10.5 mitsqal, tidak sesuai dengan wazan sab’ah 7/10mitsqal (disebutkan dalam kitab Adh-Dharaib Fi As Sawad, hal. 65). Dari perkataan Khalifah Umar bin Abdul Aziz dapat dihitung bahwa 7 mitsqal = 10,5 x 2.97 gr = 31,1 gr = 1 troy ounce (baca juga: Standar Dinar Dan Dirham Dalam Sejarah Dan Fikih Islam)
Dengan mengetahui perbandingan 7/10,5 dari Khalifah Umar bin Abdul Aziz maka didapat berat 10 dirham (perak murni) = 31,1 gram, maka bisa dihitung berapa berat 1 Dinar (emas murni atau dzahab) adalah 31,1 gram : 7 (mitsqal) = 4,4428571 gram. Alhamdulillah.
Penetapan Timbangan Dinar dan Dirham Islam Standar Nabawi
Berdasarkan sumber sejarah timbangan kaum muslimin dan masa sebelum Islam  hingga Islam hari ini, maka Islamic Mint Nusantara (IMN) telah melakukan menetapkan kembali timbangan berat dan kadar  yang mengacu juga kepada mitsqal pada masa Rasulullah dan tiga generasi awal Islam seperti yang telah dijelaskan di atas, dengan ijin Allah IMN-World Islamic Standard mencetak kembali dinar dan dirham standar baru tersebut. LihatMaklumat Pecahan Dinar Dan Dirham Baru.
Dari hasil penelitian mitsqal yang dilakukan oleh IMN-World Islamic Standard ditemukan juga kesetaraan  timbangan logam yang umum dikenal hari ini yaitu troy ounce dan  gram.
Maka dengan ditemukan kestaraan ini, dapat juga kita menghitung timbangan berat lain yang sudah ada pada pada masa awal Islam ini dalam satuan troy ounce dan gram hari ini, penulisan umum dalam satuan gram biasa dilakukan dua digit atau satu digit di belakang koma, dikarena timbangan umum biasanya adalah dua digit atau satu digit di belakang koma.
Dibawah ini kami memamparkan ukuran-ukuran berat pada masa Islam awal yang di aplikasikan dalam satuan ukuran berat gram hari ini, sebagai berikut:
Timbangan 1 dinar beratnya adalah 1 mitsqal dan mitsqal adalah standar timbangan seluruh mata uang emas, maka dengan mengenal ini maka kita akan mengetahui dengan mudah timbangan berat dirham, daniq, qirath, habbah yang dibandingkan dengan mitsqal dan juga Dirham.
1 mitsqal = 4.4432 gram setara dengan 8 daniq, maka timbangan 1 daniq emas dalam satuan gram adalah 4.4432 gram berat 1 mitsqal dibagi dengan 8 daniq = 0.555 gram, berat 1 daniq.
1 mitsqal = 20 qirath, maka berat 1 qirath dalam satuan gram adalah 4.4432 gram berat 1 mitsqal dibagi dengan 20 qirath = 0.222 gram, berat 1 qirath.
1 mitsqal sama beratnya dengan timbangan 72 biji gandum, maka timbangan 1 biji gandum dalam satuan gram adalah 4.4432 gram berat 1 mitsqal dibagi berat 72 biji gandum = 0.0616 gram, berat emas sebesar biji gandum, yang sama dengan berat 83.3 biji khardal.
1 dirham sama dengan 7/10 mitsqal, dan tiap 10 dirham sama dengan 7 mitsqal, maka berat timbangan 1 dirham dalam satuan gram adalah 4.4432 gram berat 1 mitsqal x7/10 = 3.1103 gram, berat 1 dirham.
10 dirham yang timbangan beratnya 7 mitsqal, timbangan berat 10 dirham dalam satuan gram adalah 10 dirham x 3.11 gram berat 1 dirham = 31.103 gram, berat timbangan 10 dirham
atau 7 mitsqal sama dengan 10 dirham, maka timbangan berat 7 mitsqal dalam satuan gram adalah 7 mitsqal x 4.4432 gram berat 1 mitsqal = 31.103 gram, timbangan 7 mitsqal.
Berat 1 dirham sama dengan 6 daniq , maka berat 1 daniq perak dalam satuan gram adalah 3.1103 gram berat 1 dirham dibagi dengan 6 daniq = 0.518 gram, berat 1 daniq perak. (*daniq telah dicetak pertamakali secara akurat oleh Islamic Mint Nusantara)
1 uqiyah yang digunakan untuk menimbang dirham itu sama dengan 40 dirham, maka timbangan perak uqiyah dalam satuan gram adalah 3.1103 gram berat 1 dirham x 40 dirham berat 1 uqiyah = 124.412 gram, berat 1 uqiyah perak
Timbangan-timbangan yang disebutkan diatas adalah di masa sebelum Islam, dan Islam mengakui semua jenis mata uang tersebut, dan mengakuinya penggunaannya sebagai alat tukar (pembayaran) yang berlaku dan beredar di tengah tengah masyarakat, sekaligus dijadikan sebagai standar bagi nilai komoditas, barang dan jasa, semua ini adalah merujuk kepada timbangan penduduk Makkah.
Sebagaimana dalam sebuah riwat disampaikan Rasulullah salallahi alaihi wassalam: ‘Timbangan adalah timbangan penduduk Makkah’ (HR. Abu Daud dan Nasa’i)
Jadi dari penjelasan hasil penelitian dan penimbangan IMN-World Islamic Standard tersebut  kita dapat  mengetahui sejarah timbangan dinar dan dirham Islam terdahulu yang menjadi penghubung dengan timbangan logam yang berlaku umum hari ini (urf ), apa yang dilakukan IMN-World Islamic Standard adalah untuk semua muslim sebagai bagian dari ibadah, untuk menggunakan standar yang telah ditetapkan IMN-world Islamic Standard tidak perlu lisensi dan kami silahkan semua muslim  menggunakannya.
Demikianlah sejarah timbangan dinar dan dirham ini, semoga Allah menambahkan kekuatan kita kepada kita semua untuk mengembalikan penggunaan dinar dan dirham dalam muamalah Islam secara luas, dan juga meninggalkan sistem riba secepatnya dan masuk kedalam Islam secarakaffahAmin (Abbas/IMN/2011)
Lebih baru Lebih lama