JEBAKAN FANATIK GOLONGAN Dan METODE DAKWAH (mengkritisi fenomena tuduhan "Bid'ah" atau "Wahabi")


JEBAKAN FANATIK GOLONGAN Dan METODE DAKWAH  
(mengkritisi fenomena tuduhan "Bid'ah" atau "Wahabi")
 Oleh: Drs. Hamzah Johan

Pembahasan ini saya jelaskan sebagai berikut :

A. Fanatik dan Metode Talbis.

     Fanatik Golongan terkadang membutakan kebenaran. Sebagian orang rela meninggalkan kebenaran demi kepentingan kelompoknya. Apa yang datang dari kelompoknya dia anggap selalu benar, sementara kelompok yang lain yang berseberangan dengan  pendapatnya atau fahamnya dia cap selalu salah. Berbagai cara dilakukan untuk membela kelompoknya, antara lain dengan selogan-selogan yang melahirkan image negatif, seperti  tuduhan ; Sesat, Kafir, Ahli Bid’ah dan Wahabi.

    Ada sekelompok orang demi menguatkan golongannya selalu menggunakan tuduhan “Ahli Bid’ah” untuk menyerang golongan yang lain. Sebaliknya golongan yang lain itu balas menyerang dengan tuduhan “Wahabi”.

    Melontarkan tuduhan  “Ahli Bid’ah” atau “Wahabi” kepada golongan lain itu adalah metode dakwah murahan dan bersifat talbis (mencampurkan antara yang hak dengan yang bathil) bahkan bisa disebut sebagai “Metode Dakwah Talbis” (disingkat Metode Talbis) karena disatu sisi ada kebenaran yang sedang diperjuangkan, tapi disisi yang lain ada kebathilan yang digunakan untuk mencapai kebenaran tsb.

    Metode Dakwah Talbis ini sering membuat sekelompok orang melakukan generalisir faham, yakni manakala terjadi perbedaan pendapat tentang salah satu atau beberapa furu’ syari’ah meskipun dibidang ushul (pokok agama) banyak kesamaan mereka, maka perbedaan yang sedikit itu menjadi dasar untuk mencap kelompok lainnya sebagai “Ahli Bid’ah” atau “Wahabi”. Masing-masing merasa paling benar. Mereka seperti kaum yang disinyalir dalam Al-Qur’an :

فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Kemudian mereka (pengikut-pengikut rasul itu) menjadikan agama mereka terpecah belah menjadi beberapa pecahan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)” .(QS. Al-Mu’minun:53).

مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka”.(QS.Ar-Rum:32)
   
Metode Talbis ini bukannya menguatkan persatuan umat Islam tapi justru memperlebar jurang sesama muslim. Penggunaan metode ini disatu sisi seolah-olah menguntungkan golongan-golongan yang berseteru itu, tapi sebenarnya sangat merugikan ukhuwah islamiyah secara umum.

B. Metode Burhani

Syari’at Islam mengajarkan ketika kita berbeda pendapat tentang suatu hal dengan menggunakan metode, antara lain Metode Burhani, yakni dengan menunjukkan dalil, bukti atau petunjuk.

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Katakanlah: "Tunjukkanlah bukti (dalil) kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar".(QS. Al-Baqarah:111).

Oleh sebab itu sebagai seorang muslim yang ingin mempertahankan pendapatnya tidak selayaknya menggunakan Metode Talbis, karena begitu jelas petunjuk Allah cara menegakkan kebenaran tersebut adalah dengan mengemukakan hujjah atau dalil-dalil yang ada dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits.

C. Kesimpulan

  1. Tidak layak dalam berbeda pendapat menggunakan Metode Talbis, menuduh bid'ah atau wahabi pada orang lain, karena cenderung mengeneralisir dan menimbulkan perpecahan (tafarruq).
  2.  Sebaiknya ketika berbeda pendapat hendaklah berargumentasi dengan menggunakan Metode Burhani (mengemukakan dalil, bukti atau petunjuk).
  3. Sangat diharapkan bagi para ustadz berhujjah dengan dalil al-Qur’an dan al-Hadits, dan jangan ikut-ikutan melontarkan tuduhan  “Ahli Bid’ah” atau “Wahabi” pada orang yang berbeda pendapat dengan kita, karena cara tersebut hanya pantas bagi orang yang kurang memahami ajaran Islam.

wallahu A’lam.

Lebih baru Lebih lama