GERHANA di Zaman Rasul SAW

GERHANA di Zaman Rasul SAW



Secara sains, Gerhana adalah peristiwa saling menutupi benda angkasa. Gerhana Bulan karena cahaya Matahari yang menyinari Bulan tertutup oleh Bumi, saat fase Bulan purnama atau oposisi. Gerhana Matahari karena cahaya Matahari yang akan menyinari Bumi tertutup oleh Bulan, saat fase Bulan baru/mati atau konjungsi.
Gerhana Matahari disebut ‘Al-Kusuf Al-Syams’ (الكسف الشمس) di dalam bahasa Arab yang berarti tertutupnya cahaya Matahari (oleh Bulan), baik sebagian atau seluruhnya.
Gerhana adalah fenomena alam yang sudah ada bersamaan diciptakannya Bumi-Bulan-Matahari. Gerhana juga terjadi di zaman Nabi Muhammad SAW masih hidup. Dan ini adalah taqdir Allah SWT, agar ummat Islam mendapatkan ilmu tentang gerhana, sebagaimana telah beliau sampaikan dalam beberapa hadits shahihnya. Dan kini Ummat Islam telah memetik hasilnya, sehingga ummat Islam tidak perlu lagi melakukan hal-hal yang berbau mitos dan hal2 yang tidak masuk di logika ketika akan menyambut datangnya gerhana.

Ayat dan Hadits sehubungan dengan Gerhana 

Allah swt berfirman :

ﻭَﻣِﻦْ ءَاﻳَٰﺘِﻪِ ٱﻟَّﻴْﻞُ ﻭَٱﻟﻨَّﻬَﺎﺭُ ﻭَٱﻟﺸَّﻤْﺲُ ﻭَٱﻟْﻘَﻤَﺮُ ۚ ﻻَ ﺗَﺴْﺠُﺪُﻭا۟ ﻟِﻠﺸَّﻤْﺲِ ﻭَﻻَ ﻟِﻠْﻘَﻤَﺮِ ﻭَٱﺳْﺠُﺪُﻭا۟ ﻟِﻠَّﻪِ ٱﻟَّﺬِﻯ ﺧَﻠَﻘَﻬُﻦَّ ﺇِﻥ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺇِﻳَّﺎﻩُ ﺗَﻌْﺒُﺪُﻭﻥَ  

Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (Fussilat - 41:37)

٩٨٢ - حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ قَالَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ يُونُسَ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْكَسَفَتْ الشَّمْسُ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجُرُّ رِدَاءَهُ حَتَّى دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَدَخَلْنَا فَصَلَّى بِنَا رَكْعَتَيْنِ حَتَّى انْجَلَتْ الشَّمْسُ فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَصَلُّوا وَادْعُوا حَتَّى يُكْشَفَ مَا بِكُمْ

982. Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin 'Aun berkata, telah menceritakan kepada kami Khalid dari Yunus dari Al Hasan dari Abu Bakrah berkata, "Kami pernah duduk-duduk bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lalu terjadi gerhana matahari. Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berdiri menjulurkan selendangnya hingga masuk ke dalam masjid, kamipun ikut masuk ke dalam Masjid, beliau lalu mengimami kami shalat dua rakaat hingga matahari kembali nampak bersinar. Setelah itu beliau bersabda: "Sesungguhnya matahari dan bulan tidak akan mengalami gerhana disebabkan karena matinya seseorang. Jika kalian melihat gerhana keduanya, maka dirikanlah shalat dan banyaklah berdoa hingga selesai gerhana yang terjadi pada kalian."(HR. Bukhari)

١٤٤٢ - أَخْبَرَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ يُونُسَ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ تَعَالَى لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ وَلَكِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُخَوِّفُ بِهِمَا عِبَادَهُ

1442. Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah dia berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad dari Yunus dari Al Hasan dari Abu Bakrah dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Matahari dan Bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah Ta'ala. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang, tetapi Allah Azza wa Jalla menakut-nakuti hamba-Nya dengan keduanya'."(HR. An-Nasai: 982)

Diriwayatkan oleh al-Bukhari (H.N. 986) dari Aisyah r.a. bahwa Nabi SAW bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَر َ آيَتَانِ مِنْ ايَاتِ اللهِ لاَيَخْسِفَان ِ لِمَوت ِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذلِكَ فَادْعُوا 

اللهَ وَكَبِّرُوا وَتَصَدَّقُوا وَصَلُّوا


“Sesungguhnya Matahari dan Bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana Matahari atau Bulan itu bukanlah disebabkan adanya hidup atau matinya seseorang. Maka jikalau kamu melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, bersedekahlah serta bershalatlah.”


Gerhana Zaman Rasul SAW: (Gerhana Matahari)

Menurut Jumhur, Rasul SAW diangkat menjadi Rasulullah saat menerima wahyu pertama di gua Hira pada tanggal 17 Ramadhan tahun Gajah (Agustus 610 M). Rasul SAW mengakhiri dakwahnya dan wafat pada tanggal 12 Rabiul awal 11 H (Juni 632). Selama kurun waktu dari Agustus 610 M s/d Juni 632 M, hanya ada lima kali gerhana matahari yang melintasi kawasan Mekkah-Madinah.

Dari  tahun 610 M sampai dengan tahun 632 M, gerhana Matahari yang pernah terjadi di muka Bumi ini ada sebanyak 36 kali gerhana matahari. Gerhana Matahari pertama berupa GMT terjadi pada tanggal 30 Maret 610 M. Selanjutnya gerhana matahari cincin pada tanggal 22 September 610 M. Dan… seterusnya sampai gerhana ke-36 yakni berupa gerhana Matahari Cincin 23 Juli 632 M. Nah, diantara ke-36 gerhana Matahari itu, yang pernah melintasi wilayah Rasul berada adadalam tabel di bawah ini:

Tanggal
Awal bulanJenis gerhana
Jalur gerhana
26 Juli 613 MSyawal 10 SHTotalAfrika, Arab bag.Tengah, India,Samudra Hindia,Australia
24 Mei 616 MRamadan 7 SHCincinAfrika, Arab bag Utara, Asia Tengah, Jepang
7 Nov. 617 MRabiulawal 5 SHCincinEropa, Timur Tengah, India, Asia Tenggara
5 Sept 620 MSafar 2 SHTotalAfrika, Arab bag. Selatan, India, Asia Tenggara
27 Januari 632Dzulqa’dah 10 HCincinAfrika, Arab bag selatan, India, Asia tengah


tabel dari Prof. Thomas Djamaluddin, Ketua Lapan.

Gerhana yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW adalah gerhana Matahari Sebagian pada tanggal 27 Jan 632 M. 



Dan yang benar2 dialami Rasul SAW dan menjadi asbab al-wurud hadits tentang gerhana adalah gerhana Matahari Cincin pada tanggal 27 Januari 632 M.


Dan dari banyak data gerhana selama kurun 610 M – 632 M ini, secara astronomis hanya gerhana sebagian yang teramati di wilayah Rasul SAW berada. Selebihnya tidak teramati karena jalur gerhana matahari total/cincin melintasi selatan atau utara kedua kota suci itu. Gerhana Matahari Total yang terjadi pada tanggal 23 Juli 613 M juga sempat melintas tidak jauh di sebelah selatan kota Mekkah.

Total gerhana yang dialami Rasul SAW ada 5 kali. Empat gerhana masing-masing terjadi sebelum Rasul SAW hijrah ke Madinah dan hanya satu yang terjadi setelah Rasul SAW hijrah ke Madinah, yakni GMC 27/1/632 M.

Dalam kaitannya dengan salat gerhana, Nabi melaksanakannya setelah isra mi’raj (27 Rajab 1 SH) yang membawa perintah salat wajib. Hadits-hadits tentang salat gerhana mengisyaratkan bahwa pada saat itu telah ada salat wajib. Misalnya, hadits riwayat Ahmad dan Nasai menyatakan perintah Nabi, “Bila kamu melihat gerhana maka salatlah sebagaimana salat wajib yang biasa kamu kerjakan.”

Khutbah gerhana pertama kali disampaikan Rasul SAW berkaitan dengan dugaan banyak orang bahwa gerhana yang terjadi saat itu berkaitan dengan wafatnya putra Rasulullah, Ibrahim bin Muhammad yang baru berumur 16 bulan. Itu terjadi pada tahun 10 Hijrah, sebelum beliau melaksanakan haji wada’.
Analisis astronomis menunjukkan bahwa gerhana yang terjadi di Madinah pada tahun 10 H adalah gerhana cincin pada pagi 27 Januari 632 M. Pada saat itu di Madinah mengalami gerhana sebagian dengan kegelapan sekitar 85%.

Dari kronologi riwayat, tampaknya Ibrahim bin Muhammad dimakamkan di pemakaman Baqi pada pagi hari. Kemudian sekitar pukul 9 terjadi gerhana matahari. Orang-orang mengira gerhana matahari sebagai mu’jizat atau tanda matahari pun turut bersedih atas wafatnya putra Rasulullah. Maka, seusai salat gerhana Nabi menjelaskan dalam khutbahnya bahwa gerhana semata-mata bukti kekuasaan Allah, tidak ada kaitannya dengan kematian seseorang.

Jadi, salat gerhana itu merupakan salat gerhana matahari yang pertama dan yang terakhir yang dilaksanakan Rasulullah. Sebab sekitar 4 bulan setelah itu, 12 Rabiul awal 11 H (Juni 632 M), Rasulullah s.a.w. wafat.

Berikut visual GMS pada tanggal 27 Januari 632 M dengan markaz Madinah:

Gerhana Matahari Sebagian


Gerhana Matahari Sebagian

Matahari nampak sebagian, di sisi kiri Bulan. Seolah ada Matahari Sabit saat terjadi puncak gerhana pada masa itu.

Berdasarkan perhitungan dari Simulator StarryNight Pro Plus, pada tanggal 27 Januari 632 M, Matahari terbit di ufuk timur kota Madinah adalah sekitar pukul 07:07 Waktu Madinah. Bulan terbit dari ufuk timur pada pukul 07:06. Dan pada saat itu Matahari dan Bulan sedang terjadi kontak awal:


Sunrise dan Kontak Awal GMS Era Rasul SAW


Sunrise dan Kontak Awal GMS Era Rasul SAW

Selanjutnya, pergerakan Matahari seperti hari2 sebelumnya dimana semakin lama semakin naik ke atas dari ufuk timur dan pagi semakin nampak terang menuju siang.
Dan aktifitas rutin mengemban amanah masing-masing, Rasulullah SAW dan para sahabat serta masyarakat di Madinah kembali beraktifitas seperti sedia kala.

Suasana kala itu, kembali terjadi di Indonesia pada 9 Maret 2016. Bila kita tinggal di kawasan utara Indonesia benar2 akan ada yang bakal mengalami Gerhana Matahari Sebagian dan sebagiannya ada yang mirip dengan apa yg pernah terjadi di zaman Rasul SAW

Peta Jalur GMC 27 Jan 632 M


Peta Jalur GMC 27 Jan 632 M

Wallahu a'lam.

Lebih baru Lebih lama