Qurban : Sejarah dan Hikmahnya

QURBAN ; SEJARAH DAN HIKMAHNYA

HJ.

A. Sejarah Qurban


1. Qurban Keluarga Nabi Adam
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ ءَادَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الآخَرِ قَالَ لأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
“Ceriterakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan qurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!" Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa" (QS Al-Maa-idah 27).
(لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ)
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik". [Surat Al-Hajj 37]

2. Qurban keluarga Nabi Ibrahim as.
Disebutkan dalam surat As-Shaaffaat 102:
(فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ)
“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar". 
(فَلَمَّا أَسْلَمَا وَتَلَّهُ لِلْجَبِينِ)
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). [Surat As-Saaffat 103]
(وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ)
Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, [Surat As-Saaffat 104]
(قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا ۚ إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ)
sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. [Surat As-Saaffat 105]
(إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ)
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. [Surat As-Saaffat 106]
(وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ)
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. [Surat 
As-Saaffat 107]

3. Qurban Nabi Muhammad saw dan Umatnya
     Allah Swt. berfirman:
فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
Artinya:” Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkorbanlah” (QS Al-Kautsaar 2).
Rasulullah Saw. bersabda:
من كان له سعة ولم يضح فلا يقربن مصلانا
“Siapa yang memiliki kelapangan dan tidak berqurban, maka jangan dekati tempat shalat kami” (HR Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim).
Hukum berqurban menurut jumhur ulama adalah sunnah muaqqadah sedang menurut madzhab Abu Hanifah adalah wajib.

B. Hikmah Berqurban


1. Menyebarkan Nikmat Allah
ِ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.(al-Kautsar;1).
(وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ)
"Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan". [Surat Ad-Dhuha 11]

2. Penyembelihan Sifat-sifat Hewani
(وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً ۖ نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ)
"Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya". [Surat An-Nahl 66]

3. Menumbuhkan keakraban sesuai dg asal kata قرب

     Keakraban sosial, ukhuwwah Islamiyyah, dan al-Jama'ah. Sabda Rasulullah:


اَلْجَمَاعَةُ : هِيَ الَّتِيْ مَا اَنَا عَلَيْهِ وَاَصْحَابِيْ

“Al-Jamaah: Iaitu yang serupa dengan apa yang ada pada diriku dan para sahabatku”.


Pen. Hamzah Johan al-Batahany
Lebih baru Lebih lama