Ternyata Ahok Sejak 2010 Sudah Menyoal Al Maidah 51, Bahkan Menyoal Keyakinan Budha dan Hindu

Ternyata Ahok Sejak 2010 Sudah Menyoal Al Maidah 51, Bahkan Menyoal Keyakinan Budha dan Hindu
455100_8104

Ternyata Ahok Sejak 2010 Sudah Menyoal Al Maidah 51, Bahkan Menyoal Keyakinan Budha dan Hindu

Jakarta ~ Ahok ternyata sudah sejak lama mempersoalkan Surah Al maidah. Ahok telah mengungkapkan dalam sebuah buku berjudul ‘Merubah Indonesia’. Laman Ahok.org, telah mengunggah buku versi PDF itu pada Juli 2010 lalu. Bagaimana bisa yakin kita kalau Ahok tak berniat kalau sejak 2010 dia sudah coba mempersoalkan Keyakinan Orang? Wajar saja kalau Din Syamsudin sebut ahokmerusak kerukunan antaragama dan antarsuku atau ras yang tengah dirajut bangsa Indonesia.
Berikut kutipan lengkap pernyataan Ahok tentang Al Maidah di halaman 40, Bab 4, sub bab berjudul, “Berlindung di Balik Ayat Suci”.
BERLIDUNG di BALIK AYAT SUCI
Selama karir politik saya dari mendaftarkan diri menjadi anggota partai baru, menjadi ketua cabang, melakukan verifikasi, sampai mengikuti pemilu, kampanye pemilihan bupati, bahkan sampai gubernur, ada yang yang sama yang saya begitu kenal digunakan untuk memecah belah rakyat dengan tujuan memuluskan jalan meraih puncak kekuasan oleh oknum yang kerasukan roh kolonilalisme.
Ayat itu sengaja disebarkan oleh oknum-oknum elite karena tidak bisa bersaing dengan visi misi program dan integritas pribadinya. Mereka berusaha berlindung di balik ayat-ayat suci itu agar rakyat dengan konsep “seiman” memilihnya.
Dari oknum elite yang berlindung di balik ayat suci agama Islam, mereka menggunakan Al-Maidah 51. Isinya, melarang rakyat menjadikan kaum Nasrani dan Yahudi menjadi pemimpin mereka, dengan tambahan jangan pernah memilih kafir jadi pemimpin. Intinya, mereka mengajak agar memilih pemimpin dari kaum seiman.
Padahal setelah saya tanyakan ke teman-teman, ternyata ayat ini diturunkan pada saat adanya orang-orang Muslim yang ingin membunuh Nabi Besar Muhammad SAW dengan cara membuat koalisi dengan kelompok Nasrani dan kelompok Yahudi di tempat itu. Jadi, jelas bukan dalam rangka memilih kepala pemerintahan, karena di NKRI kepala pemerintahan bukanlah kepala agama/imam kepala.
Bagaimana dengan oknum elite yang berlindung dibalik ayat suci agama Kristen. Mereka menggunakan surat Galatia 6:10. Isinya, selama kita masih ada kesempatan, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama pada kawan-kawan kita seiman.
Saya tidak tahu apa yang digunakan oleh oknum elite di Bali yang beragama Hindu atau yang beragama Buddha. Tetapi saya berkeyakinan, intinya pasti jangan memilih yang beragama lain atau suku lain atau golongan lain atau yang rasnya lain. Intinya, pilihlah yang seiman/sesami kita (suku agama, rasa, dan antar golongan). Mungkin ada yang lebih kasar lagi, pilihla yang sesama kita manusia yang lain bukan, karena dianggap kafir atau najis atau binatang.
Karena kondisi banyaknya oknum elite yang pengecut dan tidak bisa menang dalam pesta demokrasi dan akhirnya mengandalkan hitungan suara berdasarkan se-SARA tadi, maka betapa banyaknya sumber daya manusia dan ekonomi yang kita sia-siakan.
Seorang putra terbaik bersuku Padang dan Batak Islam tidak mungkin menjadi pemimpin di Sulawesi. Apalagi di Papua. Hal yang sama seorang Papua, tidak mungkin menjadi pemimpin di Aceh atau Padang.
Kondisi inilah yang memiu kita tidak mendapatkan pemimpin terbaik dari yang terbaik. Melainkan kita kita mendapatkan yang buruk dari yang terburuk karena rakyat pemilih memang diarahkan, diajari, dihasut untuk memilih yang se-SARA saja.  Singkatnya, hanya memilih yang seiman (kasarnya yang sesama manuia).
Sumber ROL.
Lebih baru Lebih lama