Muhasabah Waktu dan Ibadah

MUHASABAH Waktu dan Ibadah

Oleh: Drs. Hamzah Johan


A. PENGERTIAN MUHASABAH

Pada kamus al-Ma’any ‘Araby Indunisy, secara etimologis makna MUHASABAH adalah : “laporan, pembukuan, perhitungan, akuntansi”, pada kamus KBBI diterjemahkan menjadi “Introspeksi”.
Pada tulisan ini pengertian muhasabah dapat dibagi dua :
Pertama ; MUHASABAH WAKTU
Muhasabah Waktu adalah mengintrospeksi, memperhitungkan mengevaluasi waktu yang dilalui dan dipergunakan seseorang pada rentang umurnya, baik waktu pendek, waktu menengah maupun waktu panjang. Waktu pendek berkisar satu hari sampai satu bulan, waktu menengah berkisar satuan tahun, dan waktu panjang jumlah tahun yang telah dan akan dilalui.
Secara umum disinyalir dalam beberapa ayat sebagai berikut:
“1. Demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian “(QS. Al-Ashr:1-2).
“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” (QS. Al-Isra’:12)
“Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan .” (QS: Yunus:5)

Kedua ; MUHASABAH IBADAH
Muhasabah Ibadah adalah mengintrospeksi dan mengevaluasi ibadah yang telah dilakukan guna peningkatan kualitas diri dalam ketaqwaan.
Secara umum disinyalir dalam ayat dan hadits sebagai berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”(QS.al-Hasyr:18).

“Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau bersabda: "Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah." ...Dan telah diriwayatkan dari Umar bin Al Khottob dia berkata: hisablah (hitunglah) diri kalian sebelum kalian dihitung dan persiapkanlah untuk hari semua dihadapkan (kepada Rabb Yang Maha Agung), hisab (perhitungan) akan ringan pada hari kiamat bagi orang yang selalu menghisab dirinya ketika di dunia.."(Sunan at-Tirmdzi, HN:2383).

B. MANFAAT MUHASABAH

Ada beberapa manfaat muhasabah
1. MENGETAHUI ‘AIB DAN KEKURANGAN DIRI
Dengan bermuhasabah diri, maka diri setiap muslim akan bisa mengetahui akan aib serta kekurangan dirinya sendiri. Baik itu dalam hal amalan ibadah, kegiatan yang memberikan manfaat untuk banyak manusia. Sehingga dengan demikian akan bisa memperbaiki diri apa-apa yang dirasa kurang pada dirinya.
2. MENINGKATKAN  IBADAH DAN MEMPERBAIKI DIRI
Dalam hal ibadah, kita akan semakin tahu akan hak kewajiban kita sebagai seorang hambaNya dan terus memperbaiki diri dan mengetahui hakekat ibadah bahwasannya manfaat hikmah ibadah adalah demi kepentingan diri kita sendiri. Bukan demi kepentingan Allah Ta'ala. Karena kita lah manusia yang lemah dan penuh dosa yang memerlukan akan pengampunan dosa-dosa kita yang banyak.
3. MENGETAHUI PERTANGUNGJAWABAN DIRI
Mengetahui akan segala sesuatu baik itu kecil maupun besar atas apa yang kita lakukan di dunia ini, akan dimintai pertanggungjawabannya kelak di akherat. Inilah salah satu hikmah muhasabah dalam diri setiap manusia.
4. MENGETAHUI PENGENDALIAN HAWA NAFSU
Mengetahu pengendalian hawa nafsu dan mewaspadainya. Dan senantiasa melaksanakan amal ibadah serta ketaatan dan menjauhi segala hal yang berbau kemaksiatan, agar menjadi ringan hisab di hari akhirat kelak.
5. MENUMBUHKAN KECINTAAN KEPADA ALLAH DAN KETENANGAN JIWA
Ketika seseorang mengetahui ‘aib dirinya, pertanggunganjawaban dirinya kepada Allah kemudian dia bertaubat dan meningkatkan amal shaleh maka itu tanda kecintaannya kepada Allah yang pada gilirannya akan mrmbawa ketenangan dalam jiwanya.

C. CARA BERMUHASABAH

Ada beberapa langkah bermuhadabah :

1. MENGINGAT-INGAT DOSA-DOSA TERDAHULU
"Cukuplah seseorang dianggap berilmu jika ia takut kepada Allah, dan cukuplah seseorang dianggap bodoh jika ia bangga dengan ilmunya, perawi berkata: Masruq berkata: 'Hendaknya seseorang memiliki tempat khusus yang ia pergunakan untuk menyendiri dan mengingat dosanya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah' ".(Sunan Darimi HN: 316).
2. MENGINGAT-INGAT KEMATIAN
“Ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam sampai di Madinah, Abu Bakar dan Bilal menderita sakit demam. Dan Abu Bakar bila merasakan demam yang panas bersya'ir; Setiap orang pada pagi hari bersantai dengan keluarganya. Padahal kematian lebih dekat dari pada tali sandalnya.(HR. Bukhari HN:1756)
3. MENGINGAT-INGAT NI’MAT ALLAH
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al-Baqarah:152)
4. MENGINGAT-INGAN PEMBERIAN ORANG LAIN DAN MENDO’AKAN MEREKA
“Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Humaid dari Anas berkata, para sahabat Muhajirin berkata, wahai rasulullah, kami tidak pernah melihat suatu kaum seperti yang kita datangi ini, mereka sangat istimewa pertolongannya dikala harta kita minim, dan sangat luar biasa pengorbanannya dikala harta kita banyak, mereka mencukupi kebutuhan kami dan mengikutsertakan kami saat mereka senang, sehingga kami menyangka bahwa mereka akan memborong semua pahala. (rasulullah Shallallu'alaihi wasallam) menjawab, "Tidak, selama kalian berterima kasih kepada mereka dan berdoa kepada Allah 'azza wajalla untuk mereka". (Musnad Ahmad HN:12602)
5. BERTAUBAT DAN BERAMAL SHALEH
“kecuali orang yang bertaubat, beriman dan beramal saleh, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak dianiaya (dirugikan) sedikitpun,” (QS. Maryam:60).

Wallahu 'alam.
Lebih baru Lebih lama