HAKAM DAN FASAKH

HAKAM DAN FASAKH    

Makna al-Hakam

Al-Hakam adalah salah satu dari Al-Asma’ul Husna, sebagaimana tersebut dalam hadits berikut ini:

قَالَ أَبُو دَاوُدَ: حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ عَنْ يَزِيدَ -يَعْنِى ابْنَ الْمِقْدَامِ بْنِ شُرَيْحٍ- عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ شُرَيْحٍ عَنْ أَبِيهِ هَانِئٍ أَنَّهُ لَمَّا وَفَدَ إِلَى رَسُولِ اللهِ n مَعَ قَوْمِهِ سَمِعَهُمْ يَكْنُونَهُ بِأَبِى الْحَكَمِ فَدَعَاهُ رَسُولُ اللهِ n فَقَالَ: إِنَّ اللهَ هُوَ الْحَكَمُ، وَإِلَيْهِ الْحُكْمُ فَلِمَ تُكْنَى أَبَا الْحَكَمِ؟ قَالَ: إِنَّ قَوْمِي إِذَا اخْتَلَفُوا فِي شَيْءٍ أَتَوْنِي فَحَكَمْتُ بَيْنَهُمْ فَرَضِيَ كِلاَ الْفَرِيقَيْنِ. فَقَالَ رَسُولُ اللهِ n: مَا أَحْسَنَ هَذَا، فَمَا لَكَ مِنَ الْوَلَدِ؟ قَالَ: لِي شُرَيْحٌ وَمُسْلِمٌ وَعَبْدُ اللهِ. قَالَ: فَمَنْ أَكْبَرُهُمْ؟ قُلْتُ: شُرَيْحٌ. قَالَ: فَأَنْتَ أَبُو شُرَيْحٍ.
Abu Dawud mengatakan: Telah mengabarkan kepada kami Ar-Rabi’ bin Nafi dari Yazid yakni Ibnul Miqdam bin Syuraih, dari ayahnya dari kakeknya, Syuraih, dari ayahnya, Hani’ bahwa ketika ia datang sebagai utusan kepada Rasulullah n bersama kaumnya, Nabi mendengar mereka memanggil kunyahnya (yakni julukan dengan didahului kata abu), Abu Al-Hakam. Maka Rasulullah memanggilnya dan berkata kepadanya:
Sesungguhnya Allah-lah Al-Hakam dan kepada-Nyalah makhluk berhukum. Kenapa kunyahmu disebut Abu Al-Hakam? Ia menjawab: Sesungguhnya bila kaumku berselisih dalam suatu urusan, mereka mendatangiku lalu aku putuskan hukum di antara mereka sehingga kedua belah pihak rela. Maka Rasulullah  berkata: Betapa bagusnya perbuatanmu ini. Siapa nama anak-anakmu? Saya punya anak bernama Syuraih, Muslim, dan Abdullah, jawabnya. Nabi  bertanya lagi: Siapakah yang terbesar? Aku menjawab: Syuraih. Maka Nabi  katakan: Kalau begitu engkau adalah Abu Syuraih. (Shahih, HR. Abu Dawud no. 4957)
 
Makna Al-Hakam
Al-Hakam sama dengan Al-Haakim, yakni Yang menetapkan hukum. Adapun kata hukum dalam bahasa Arab pada asalnya bermakna: mencegah kerusakan dan kezaliman serta menyebarkan keadilan dan kebaikan. (Shifatullah Al-Waridah fil Kitab was Sunnah hal. 88)
Al-Baghawi mengatakan: Al-Hakam adalah Al-Haakim. Yaitu Yang bila menetapkan suatu hukum maka hukumnya tidak bisa ditolak atau dihindari. Sifat ini tidak pantas untuk selain Allahl. Allah  berfirman:
Dan Allah menetapkan hukum (menurut kehendak-Nya), tidak ada yang dapat menolak ketetapan-Nya; dan Dia-lah Yang Maha cepat hisab-Nya. (Ar-Rad: 41)
Susunan kalimat (dalam hadits) khabar (Al-Hakam) yang didahului dengan dhamir fashl (huwa) menunjukkan pembatasan sifat itu hanya pada Allah. Maka sifat ini khusus bagi-Nya saja, tidak melampaui yang lain. (dinukil dari kitab Taisir Al-Aziz Al-Hamid hal. 616)
Ibnu Utsaimin mengatakan: Yakni Dialah yang berhak menjadi hakim atas hamba-Nya. Adapun hukum Allah  itu terbagi menjadi dua:
Pertama, hukum kauni, alam.
Terhadap hukum yang ini, tiada yang dapat menolaknya. Tak seorangpun. Di antara ayat yang menunjukkan demikian:
Sebab itu aku tidak akan meninggalkan negeri Mesir, sampai ayahku mengizinkan kepadaku (untuk kembali), atau Allah memberi ketentuan/ keputusan terhadapku. Dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya. (Yusuf: 80)
Kedua, hukum syari.
Di hadapan hukum syari, manusia terbagi menjadi dua golongan, mukmin dan kafir. Maka yang ridha dengannya dan berhukum dengannya adalah mukmin. Sedangkan yang tidak ridha dan juga tidak berhukum dengannya maka kafir. Di antara ayat yang menunjukkan demikian adalah:
Tentang sesuatu apapun kamu berselisih maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Rabbku. Kepada-Nyalah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali. (Asy-Syura: 10) [Al-Qaulul Mufid, 3/23-24 dengan diringkas]
As-Sadi mengatakan: Di antara nama-nama Allah adalah Al-Hakam Al-Adl, yang menghukumi di antara hamba-hamba-Nya di dunia dan di akhirat nanti dengan keadilan-Nya. Sehingga Ia tidak akan menzalimi walaupun seberat semut kecil. Tidak akan menimpakan dosa seseorang kepada orang lain. Sehingga Ia tidak memberikan balasan kepada seseorang lebih dari dosanya. Allah  akan sampaikan hak kepada masing-masing yang berhak mendapatkannya, sehingga tidak ia biarkan seorang pun yang punya hak melainkan haknya akan sampai kepadanya. Dan Dia Yang Adil dalam pengaturannya:
Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Rabbku dan Rabbmu. Tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Rabbku di atas jalan yang lurus. (Hud: 56)
Hakim Yang Adil, yang kepada-Nyalah kembalinya hukum segala sesuatu. Maka Allah menghukumi dengan syariat-Nya dan Dia menerangkan kepada hamba-Nya seluruh cara yang dengannya diadili di antara dua pihak yang bertikai, dan diputuskan antara dua pihak yang berselisih dengan cara-cara yang adil dan hikmah. Dia menghukumi di antara manusia pada apa yang mereka perselisihkan. Allah menghukumi padanya dengan hukum qadha dan qadar, sehingga berjalan pada mereka hukum tersebut sesuai dengan hikmahnya. Dia letakkan segala sesuatu pada tempatnya dan menempatkannya pada posisinya. Dia memutuskan di antara mereka pada hari pembalasan dan pada hari perhitungan, menghukumi di antara mereka dengan kebenaran. Makhluk pun memuji-Nya atas hukum-Nya, sampaipun yang Allah  putuskan siksa untuk mereka. Mereka mengakui keadilan Allah dan bahwa Allah l tidak menzalimi mereka walupun seberat semut kecil. (Tafsir Al-Asmaul Husna karya As-Sadi)
 
Buah Mengimani Nama Allah Al-Hakam

Dengan mengimani nama Allah tersebut maka akan menumbuhkan ketundukan kita kepada Allah , karena mengakui akan kebesaran dan kemampuan-Nya, serta mengetahui kelemahan makhluk dan keterbatasan mereka. Juga membuahkan rasa takut kepada-Nya, karena di akhirat kelak, Allah akan menghukumi dengan keadilan yang hakiki. Kalaulah bukan karena rahmat-Nya niscaya kita akan diazab-Nya.
Wallahu alam bish-shawab.
Fasakh (Batalnya Pernikahan) dan Hukumnya
Pengertian Fasakh

Kata fasakh berarti merusakkan atau membatalkan. Jadi, fasakh sebagai salah satu sebab putusnya perkawinan ialah merusakkan atau membatalkan hubungnan perkawinan yang telah berlangsung[1].

Dalam referensi yang lain fasakh artinya putus atau batal[2], batal adalah rusaknya hukum yang ditetapkan terhadap suatu amalan seseorang, karena tidak memenuhi syarat dan rukunnya yang telah ditetapkan oleh syara’. Jadi, secara umum batalnya pernikahan adalah “rusak atau tidak sahnya perkawinan karena tidak memenuhi salah satu syarat atau diharamkan oleh agama.” Contoh perkawinan yang batal (tidak sah), yaitu perkawinan yang dilangsungkan tanpa calon mempelai laki-laki atau calon mempelai perempuan, perkawinan seperti ini batal (tidak sah) karena tidak terpenuhi salah satu rukunnya, yaitu tanpa calon mempelai laki-laki atau calon mempelai perempuan. Contoh lain, perkawinan yang saksinya orang gila, atau perkawinan yang walinya bukan muslim atau masih anak-anak.

Fasakh bisa terjadi karena tidak terpenuhinya syarat-syarat ketika berlangsung akad nikah, atau karena hal-hal yang datang kemudian dan membatalkan kelangsungan perkawinan.
1.  Fasakh karena syarat-syarat yang tidak terpenuhi ketika akad nikah.
a.  Setelah akad nikah ternyata diketahui bahwa istrinya adalah sudara kandung atau saudara sesusuan pihak suami.
b.  Suami isti masih kecil, kemudian setelah dewasa ia berhak meneruskan ikatan pernikahannya atau mengakhirinya. Cara seperti ini disebut khiyar baligh, jika yang dipilih mengakhiri ikatan suami istri, maka hal ini disebut fasakh baligh.
2.  Fasakh karena hal-hal yang datang setelah akad
a. Jika seorang suami murtad atau keluar dari agama Islam dan tidak mau kembali sama sekali, maka akadnya batal (fasakh) karena kemurtadan yang terjadi belakangan.
b. Jika suami yang tadinya kafir masuk Islam, tetapi istri masih tetap dalam kekafirannya, yaitu tetap menjadi musyrik, maka akadnya batal (fasakh). Lain halnya kalau istrinya ahli kitab. Maka akadnya tetap sah sepertisemula. Sebab perkawinannya dengan ahli kitab dari semula dipandang sah.[3]

Golongan Hanafiyah membuat rumusan umum guna membedakan pengertian pisahnya suami istri sabab talak dan sebab fasakh. Kata mereka: “Pisahnya suami istri karena suami dan samasekali tidak ada pengaruh istri disebut talak, dan setiap perpisahan suami istri karena istri, bukan karena suami atau karena suami, tapi dengan pengaruh dari istri disebut fasakh.”

     Sebab-Sebab Terjadinya Batal Perkawinaan (Fasakh)

Selain hal-hal tersebut ada juga hal-hal lain yang menyebabkan terjadinya fasakh, yaitu sebagai berikut:

1.  Karena ada balak (penyakit belang kulit). Dalam kaitan ini ada sebuah hadits yang artinya:
Dari Ka’ab Bin Zaid radhiallahu ‘anh bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah menikahi seorang perempuan bani Ghifar. Maka, tatkala beliau masuk menemuinya dan perempuan itu telah meletakkan kainnya dan ia duduk di atas tempat tidur terlihatlah putih (balak) di lambungnya, lalu beliau berpaling seraya berkata: ambillah kainmu, tutuplah badanmu, da beliau tidak menyuruh mengambil kembali barang yaqng telah diberikan kepada permpuan itu.” (HR. Ahmad dan Baihaqi)

2.  Karena gila
3.  Karena penyakit kusta.

4.  Karena ada penyakit menular, seperti sipilis, TBC, dsb.
Dijelaskan dalam suatu riwayat.
“Dari Sa’id bin Musayyab radhiallahu ‘anh ia berkata: Barangsiapa di antara laki-laki yang menikah dengan seorang perempuan, dan pada laki-laki itu terdapat tanda-tanda gila, atau tanda-tanda yang membahayakan, sesungguhnya perempuan itu boleh memilih jika mau ia tetap dalam perkawinannya dan jika berkehendak cerai maka perempuan itu boleh bercerai.” (HR. Malik)

5.  Karena ada daging tumbuh pada kemaluan perempuan yang menghambat maksud perkawinan (bersetubuh).

6.  Karena ‘unnah, yaitu zakar laki-laki impoten sehingga tidak mencapai apa yang dimaksudkan dengan nikah.

Dalam suatu riwayat dari Sa’id bin Musayyab radhiallahu ‘anh ia berkata. “Umar bin Khathab telah memutuskan bahwasanya laki-laki yang ‘unnah diberi tenggat satu tahun sebelum dijatuhkan fasakh.” Seperti itu juga pendapat Ibnu Mas’ud.
Diriwayatkan dari ‘Utsman bahwa laki-laki yang ‘unnah tidak diberi tenggat, dari al-Harits bin ‘Abdillah bahwa laki-laki yang ‘unnah diberi tenggat sepuluh bulan. Imam Ahmad, al-Hadi dan ulama’ lain menyatakan bahwa pada keadaan seperti itu tidak terjadi fasakh[4].

Dalam masalah suami yang ‘unnah dan hal itu membuat tidak bisa memenuhi hak istrinya maka bisa terjadi fasakh, setelah menunggu dengan waktu tertentu karena untuk mengetahui dengan jelas bahwa suami itu ‘unnah atau tidak atau mungkin bisa sembuh, jika sembuh maka tidak terjadi fasakh. 

Hal-hal yang lain juga diqiyaskan dengan aib yang enam macam tersebut, yaitu aib-aib yang lain yang menghalangi maksud perkawinan, baik dari pihak laki-laki maupun dari pihak perempuan. 

Pendapat lain mengatakan fasakh artinya merusak akad nikah, bukan meninggalkan. Pada hakekatnya, fasakh ini lebih keras daripada khulu’, dan tak ubahnya seperti melakukan khulu’ pula. Artinya, khulu’ yang dilakukan oleh pihak perempuan disebabkan ada beberapa hal. Perbedaannya adalah khulu’ diucapkan oleh suami sendiri, sedangkan fasakh diucapkan oleh qadhi nikah setelah istri mengadu kepadanya dengan mengembalikan maharnya.

Akibat-Akibat Fasakh

Pisahnya suami istri akibat fasakh berbeda dengan pisahnya karaena talak. Sebab talak ada talak raj’i dan talak ba’in. Talak raj’i tidak mengakhiri ikatan suami istri dengan seketika, sedangkan talak ba’inmengakhirinya seketika itu juga. Adapun fasakh, baik karena hal-hal yang terjadi belakangan ataupun karena adanya syarat-syarat yang tidak terpenuhi, ia mengakhiri perkawinan seketika itu.

Istri yang diceraikan pengadilan dengan jalan fasakh tidak dapat dirujuk oleh suaminya. Apabila mereka akan kembali hidup bersuami istri harus melakukan akad nikah baru. 

Fasakh tidak mengurangi bilangan talak yang menjadi hak suami. Dengan demikian, suami istri yang diceraikan pengadilan dengan fasakh, apabila nantinya mereka kembali hidup bersuami istri, suami tetap mempunyai hak talak tiga kali[5]. 

Mengenai sebab-sebab batalnya perkawinan dan permohonan pembatalan perkawinan di Indonesia, Kompolasi Hukum Islam secar rinci menjelaskan dalam Bab XI tentang batalnya perkawinan sebagai berikut:

Pasal 70
Perkawinan batal apabila :
a. Suami melakukan perkawinan, sedang ia tidak berhak melakukan akad nikah karena sudah mempunyai empat orang isteri sekalipun salah satu dari keempat isterinya dalam iddah talak raj`i;
    -seseorang menikah bekas isterinya yang telah dili`annya;
    -seseorang menikah bekas isterinya yang pernah dijatuhi tiga kali talak olehnya, kecuali bila bekas isteri tersebut pernah menikah dengan pria lain kemudian bercerai lagi ba`da al dukhul dan pria tersebut dan telah habis masa iddahnya;

b. perkawinan dilakukan antara dua orang yang mempunyai hubungan darah; semenda dan sesusuan sampai derajat tertentu yang menghalangi perkawinan menurut pasal 8 Undang-undang No.1 Tahun 1974, yaitu :
1. berhubungan darah dalam garis keturunan lurus kebawah atau keatas
2. berhubugan darah dalam garis keturunan menyimpang yaitu antara saudara, antara seorang dengan saudara orang tua dan antara seorang dengan saudara neneknya.
3. berhubungan semenda, yaitu mertua, anak tiri, menantu dan ibu atau ayah tiri.
2. berhubungan sesusuan, yaitu orng tua sesusuan, anak sesusuan dan bibi atau paman sesusuan.

c.  isteri adalah saudara kandung atau sebagai bibi atau kemenakan dan isteri atau isteri-isterinya.

Pasal 71
Suatu perkawinan dapat dibatalkan apabila:
a. seorang suami melakukan poligami tanpa izin Pengadilan Agama;
b. perempuan yang dikawini ternyata kemudian diketahui masih menjadi isteri pria lain yang mafqud.
c. perempuan yang dikawini ternyata masih dalam iddah dan suami lain;
d. perkawinan yang melanggar batas umur perkawinan sebagaimana ditetapkan dalam pasal 7  Undang-undang-undang No.1. tahun 1974;
e. perkawinan dilangsungkan tanpa wali atau dilaksanakan oleh wali yang tidak berhak;
f.  perkawinan yang dilaksanakan dengan paksaan.

Pasal 72
(1) Seorang suami atau isteri dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan apabila perkawinan dilangsungkan dibawah ancaman yang melanggar hukum.
(2) Seorang suami atau isteri dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan apabila pada waktu berlangsungnya perkawinan terjadi penipuan atau salah sangka mengenai diri suami atau isteri
(3) Apabila ancaman telah berhenti, atau yang bersalah sangka itu menyadari keadaanya dan dalam jangka waktu 6 (enam) bulan setelah itu masih tetap hidup sebagai suami isteri, dan tidak dapat menggunakan haknya untuk mengajukan permohonan pembatalan, maka haknya gugur.

Pasal 73
Yang dapat mengajukan permohonan pembatalan perkawinan adalah :
a.  para keluarga dalam garis keturunan lurus ke atas dan ke bawah dari suami atau isteri;
b.  Suami atau isteri;
c.  Pejabat yang berwenang mengawasi pelaksanaan perkawinan menurut Undang-undang.
d. para pihak yang berkepentingan yang mengetahui adanya cacat dalam rukun dan syarat perkawinan menurut hukum Islam dan Peraturan Perundang-undangan sebagaimana tersebut dalam pasal 67.

Pasal 74
(1) Permohonan pembatalan perkawinan dapat diajukan kepada Pengadilan Agama yang mewilayahi tempat tinggal suami atau isteri atau perkawinan dilangsungkan.
(2) Batalnya suatu perkawinan dimulai setelah putusan pengadilan Agama mempunyai kekuatan hukum yang tetap dan berlaku sejak saat berlangsungnya perkawinan.

Pasal 75
Keputusan pembatalan perkawinan tidak berlaku surut terhadap :
a.  perkawinan yang batal karena salah satu sumaiatau isteri murtad;
b.  anak-anak yang dilahirkan dari perkawinan tersebut;
c.  pihak ketiga sepanjang mereka memperoleh hak-hak dengan ber`itikad baik, sebelum keputusan pembatalan perkawinan kekutan hukum yang tetap.

Pasal 76
Batalnya suatu perkawinan tidak akan memutuskan hubungan hukum antara anak dengan orang tuanya.




[1] KH. Ahmad Azhar Basyir, MA, Hukum Perkawinan Islam (Yogyakarta: UII press, 2010) hal. 85.
[2] Slamet Abidin dan H. Aminudin, fiqih munakahat 2 (Bandung: Pustaka setia, 1999), hal. 73.
[3] Ibid, hal. 73.
[4] As-Shon’ani, subulussalam (Beirut: Darul kutub ilmiyah/III) hal. 140.
[5] KH. Ahmad Azhar Basyir, MA, Hukum Perkawinan Islam, op.cit., hal. 87.
Lebih baru Lebih lama