Debat Atheis dengan Imam Abu Hanifah

Debat Atheis dengan Imam Abu Hanifah


Menurut suatu riwayat, waktu Imam Abu Hanifah di usia muda ditanya oleh seorang atheis.

Pertanyaan atheis itu ada tiga, yaitu : 

1. Siapa yang menciptakan Allah?? Bukankah semua yang ada didunia ada karena ada penciptanya?? Bagaimana mungkin Allah ada bila tak ada penciptanya??

2. Bagaimana caranya manusia dapat makan serta minum tanpa ada buang air?? Bukankah itu janji Allah di Syurga?? Jangan pakai dalil, namun pakai akal....

3. Ini pertanyaan ketiga, bila iblis itu terbuat dari Api, lalu bagaimana bisa Allah menyiksanya di dalam neraka?? Bukankah neraka juga dari api??

Abu Hanifah menjawab satu per satu pertanyaan sang atheis: 

1. Apakah engkau tahu, dari angka berapakah angka 1 itu berasal?? Seperti angka 2 yaitu 1+1 atau 4 yaitu 2+2?? Atheis itu diam membisu..

 " Apabila kamu tahu bila 1 itu yakni bilangan tunggal. Dia bisa mencipta angka lain, namun dia tak tercipta dari angka apapun, lalu apa kesulitanmu mengerti kalau Allah itu Zat Maha Tunggal yg Maha mencipta namun tidak bisa diciptakan?? "

2. Saya ingin bertanya kepadamu, apakah kita waktu dalam perut ibu kita semuanya makan? Apakah kita juga minum? Apabila memang kita makan serta minum, lantas bagaimana kita buang air waktu dalam perut ibu kita dahulu?? Apabila anda dahulu percaya bila kita dulu makan serta minum di perut ibu kita serta kita tak buang air didalamnya, lantas apa kesulitanmu meyakini bila di Syurga kita akan makan serta minum juga tanpa buang air??

3. Abu Hanifah itu menampar sang atheis dengan keras. Sampai sang atheis geram serta kesakitan. Sembari memegang pipinya, sang atheis-pun beberapa geram pada Abu Hanifah , lalu Abu Hanifah mengatakan : " Tanganku ini terlapisi kulit, tanganku ini dari tanah.. serta pipi anda juga terbuat dari kulit dari tanah juga.. lantas apabila keduanya dari kulit serta tanah, bagaimana anda bisa kesakitan waktu saya tampar?? Bukankah keduanya juga tercipta dari bahan yang sama, seperti Syetan serta Api neraka??

Atheis TERPELONGOH.

Lebih baru Lebih lama