PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK

KAJIAN PEMBELAJARAN AQIDAH AKHLAK


 
BAB II
PEMBELAJARAN TENTANG AQIDAH AKHLAK

A.     Dasar Tujuan Pembelajaran Aqidah Akhlak
  1. Dasar Pembelajaran Aqidah akhlak
Dasar pembelajaran aqidah adalah bersumber pada al-Qur’an dan hadis Rasulullah Saw. Dalam al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menjelaskan pokok aqidah yang dalam al-Qur’an, aqidah ini identik dengan keimanan, karna keimanan merupakan pokok-pokok dari aqidah Islam. Adapun ayat al-Qur’an yang memuat kandungan aqidah Islam, antara lain:
ءامن الرسول بما أنزل إليه من ربه والمؤمنون كل ءامن بالله وملئكته وكتبه ورسله لا نفرق بين أحد من رسله وقالوا سمعنا وأطعنا غفرانك ربنا وإليك المصير (البقرة: ٢٨٥)                                                       
Artinya: “Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): "Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya", dan mereka mengatakan: "Kami dengar dan kami taat." (Mereka berdoa): "Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali."                (QS. Al-Baqarah: 285)

Berdasarkan ayat di atas, dapat dipahami bahwa aqidah Islamiyah itu meliputi keimanan kepada Allah Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. Keimanan kepada Allah Swt yaitu dengan mengesakan-Nya dan tidak pernah mensekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.
Dasar pembinaan akhlak adalah al-Qur’an dan hadis kedua sumber itu menjadi landasan utama pembicaraan akhlak yang lebih tepat dan konkret sebagai pola hidup dalam menetapkan mana yang baik dan mana yang buruk. Dalam al-Qur’an terkandung bermacam akhlak yang perlu di sikapi oleh manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Terkait dengan pembahasan di atas, Allah Swt berfirman dalam surat           al-Ahzab ayat 21 yaitu sebagai berikut:
لقد كان لكم فى رسول الله أسوة حسنة لمن كان يرجوا الله واليوم الأخر وذكرالله كثيرا (الأحزاب: ٢١)                                                     
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah Swt dan percaya (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah Swt.  (Al-Ahzab: 21)
Pada ayat ini Allah Swt memberitahukan kepada hamba-Nya yang mukmin, bahwa pada diri Rasulullah Saw ini, penuh suri teladan yang harus di ikuti oleh orang-orang yang mengharapkan rahmat-Nya
Selain al-Qur’an, hadis merupakan dasar akhlak yang kedua, hadis dijadikan sebagai dasar akhlak dengan mempedomani perilaku dan akhlak Nabi Saw, dalam hal ini Allah Swt  berfirman dalam surat al-Qalam yaitu:
... وانك  لعلى خلق عظيم (القلم : ٤)  

Artinya: ... Dan sesungguhnya kamu ( hai Muhammad ) benar-benar berbudi pekerti yang agung (QS. Al-Qalam: 4)
Ayat di atas menunjukkan bahwa hadits merupakan dasar akhlak kedua, setelah Al-Quran. Melalui hadis, setiap mukmin dapat mencontoh perilaku nabi yang merupakan pedoman yang dapat menuntut manusia kepada akhlakul karimah. Rasulullah Saw bersabda:
عن النواس  سمعان  رضى الله  عنه قال  سألت  رسول الله  صلى الله  عليه وسلم  عن  البر الإثم  فقال البر  حسن  الخلق  والإثم   ما حاك  فى صدرك  وكرهت  أن  يطلع  عليه  الناس (رواه البخارى  و مسلم)
Artinya: Dari al-Nuwas  ibn sam’an ra. Ia berkata: aku bertanya kepada Rasulullah Saw tentang kebaikan dan dosa, Nabi menjawab: kebaikan adalah akhlak yang baik, dan dosa adalah sesuatu yang mengganjal di hatimu dan sesuatu yang engkau benci hal tersebut di alami oleh seorang (HR. Bukhari dan Muslim)[1]

Hadits di atas menunjukkan bahwa hadits juga sumber akhlak yang kedua setelah al-Qur’an. Di samping itu hadits juga menyuruh kepada kita untuk berbuat baik dan berakhlak yang mulia. Sebagaimana sabda nabi Saw, yaitu:
وعن  عبد الله بن  عمرو  بن  رضى  الله  عنهما  قال  لم   يكن  رسول الله  صلى الله عليه  وسلم  فاحشا  ولا  متفحشا وكان  يقول  إن  من  خيار كم   أحسنكم  أخلاقا (رواه مسلم)
Artinya:  Dari Abdullah ibnu umar bin al-Ash ra berkata: Rasulullah Saw bukanlah orang yang berbuat kejelekan, beliau bersabda: sebaik-baik kalian adalah orang yang terbaik tingkah laku (akhlak) nya. (HR. Muslim).[2]
Akhlak menjadi perhatian dari setiap orang, baik di dalam masyarakat yang telah maju maupun masyarakat yang masih terbelakang, dalam kehidupan sosial, akhlak yang baik sangat penting dimiliki oleh individu karena akhlak merupakan sumber kepercayaan atas diri seseorang. Bahkan akhlak turut berperan dalam menentukan kehormatan suatu bangsa.
Agama Islam memandang akhlak sebagai hal utama sehingga salah satu tugas Rasulullah Saw diutus Allah Swt adalah untuk memperbaiki akhlak manusia. Beliau bersabda dalam suatu hadits, yaitu:
عن أبى  هريرة رضى الله عنه  قال:  قال  رسول الله صلى الله عليه وسلم  إنما بعثت  لأ تم  مكارم الأخلاق   (رواه البيهقى)
Artinya: Dari Abu Hurairah ra berkata Rasulullah Saw sesungguhnya aku di utus untuk menyempurnakan akhlak manusia. (HR. Baihaqi).[3]
Dengan demikian nabi Muhammad Saw bertugas menyampaikan risalahnya kepada seluruh umat manusia yang ada di permukaan bumi ini serta untuk memperbaiki budi pekerti sehingga umatnya menjadi manusia yang mempunyai akhlakul karimah.
Kedudukan aqidah akhlak dalam kehidupan manusia menempati tempat yang sangat penting, baik sebagai individu maupun menjadi anggota masyarakat, jatuh bangunnya dan sejahtera tidaknya suatu bangsa, sangat  tergantung kepada akhlaknya. Apabila aqidah akhlaknya baik maka akan sejahtera  lahir dan  batinnya. Sebaliknya apabila akhlaknya buruk, maka rusaklah lahir dan batinnya. Sehubungan dengan hal ini, Anwar Masy’ari mengemukakan bahwa: “seseorang yang berakhlak karimah, selalu melaksanakan kewajiban-kewajibannya, memberikan hak yang harus diberikan kepada yang berhak perbuatan ini dilakukan dengan memenuhi kewajiban terhadap dirinya sendiri, terhadap tuhannya sesama manusia dan makhluk-makhluk lainnya selain manusia.”[4]
Ajaran Islam sangat mengutamakan akhlak karimah yakni yang sesuai dengan tuntutan syariat Islam. Dalam konsepsi Islam, aqidah akhlak juga dapat diartikan sebagai suatu istilah yang mencakup hubungan vertikal antara manusia dengan khaliknya dan hubungan horizontal antara hubungan manusia dengan dirinya atau alam sekitarnya.
Berdasarkan penjelasan di atas jelaslah bahwa sumber pendidikan akhlak adalah al-Qur’an dan hadis. Adapun pendidikan dan penerapan aqidah dan akhlak dalam Islam mempunyai pola yang mengatur hubungan tidak hanya sesama manusia, akan tetapi dengan khalik dan alam sekitarnya. Ketidak hubungan-hubungan tersebut mampu diciptakan dengan baik dan harmonis, maka hal tersebut merupakan suatu bentuk akhlak yang sebenarnya sebagaimana tuntunan Islam. Sehingga pada akhirnya seseorang tersebut akan memperoleh kebahagiaan hidup baik didunia ini maupun di akhirat kelak.
Sedangkan tujuan pengajaran aqidah akhlak secara umum terdiri dari dua kategori yaitu aqidah dan akhlak. Dalam pembahasan ini dijelaskan pembelajarannya satu persatu.
  1. Tujuan Pembelajaran Aqidah
Aqidah merupakan landasan utama bagi umat Islam, bila aqidah seseorang kuat dan sempurna, maka akan  sempurna pula mareka dalam  melaksanakan ajaran Islam. Sebaliknya jika Iman mareka rusak, maka rusaklah amalannya dan sia-sia segala perbuatannya. Menurut kurikulum aqidah akhlak 2006 disebutkan bahwa tujuan pengajaran aqidah akhlak adalah agar siswa sadar dan  memahami  tentang akhlak yang baik  berupa  patuh kepada orang tua, teman, guru dan berakhlak baik terhadap hewan, lingkungan serta menanamkan aqidah dini kepada siswa agar  tidak menyekutukan Tuhan dan sedikit pun sakwasangka terhadap Allah Swt beserta seluruh ciptaannya.[5]
Berdasarkan penjelasan tersebut ditegaskan bahwa salah satu kewajiban sekolah/ madrasah adalah menanamkan akhlak yang baik dan benar dengan maksimal kepada siswa/i serta mentauhidkan Allah Swt dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.
Berkaitan dengan pembahasan tersebut, menurut Sayid Sabiq menjelaskan bahwa untuk mengiring anak didik kearah kepercayaan yang  mutlak yang tidak ada   keraguan dan dimana saja serta tetap  tidak berubah-ubah dan manusia tidak boleh  berpaling dari aqidah yaitu beriman dengan setulus hati kepada Allah Swt, segala  apa yang terjadi pada manusia apa itu buruk, dan lainnya itu dating dari Allah Swt.[6]
Kutipan di atas menunjukkan bahwa tujuan pembelajaran aqidah adalah untuk membentuk anak didik dalam hal ketauhidan, maksudnya mengesakan Tuhan dengan tidak ada sedikitpun keraguan atau sakwasangka, walaupun Allah Swt itu tidak nampak dengan panca indera, namun dengan sifat Allah yang dimanifestasikan  dengan sifat  wujud (ada), hal itu wajib diyakini dan dipercayai. Di samping itu tujuan pembelajaran aqidah juga mengajak anak didik untuk tetap percaya bahwa qadha  dan qadar ketentuan Allah Swt, manusia bisa saja merencanakan, namun Allah Swt jualah yang menentukan segalanya.
Tujuan pembelajaran aqidah pada dasarnya untuk menumbuh kembangkan sikap percaya kepada Allah Swt serta sikap percaya kepada rukun iman yang diajarkan kepada siswa. Oleh sebab itu tujuan pembelajaran aqidah bertujaun untuk membawa pemikiran atau kecerdasan anak didik agar percaya dengan seyakin-yakinnnya bahwa Allah Swt yang patut disembah dan tidak ada keraguan terhadap keberadaan-Nya.
Dengan adanya pembelajaran aqidah, sehingga pada diri siswa akan tumbuh keimanan yang benar-benar dapat diwariskan kepada generasi berrikutnya terus menerus dengan baik. Dengan pembelajaran aqidah niscaya akan melahirkan perbuatan atau amal-amal saleh sepanjang hayatnya.
Berkenaan dengan ini, Sayid Sabiq mengatakan aqidah yang lurus itu dapat diumpamakan sebagai sebatang pohon yang baik banyak mengerluarkan hasil buah-buahnya tidak pernah putus dalam musim apapun juga, ia akan terus langsung mengeluarkan makanan setiap saat tampa hentinya, apakah itu musim kemarau atau musim penghujan apakah diwaktu malam atau siang. Orang mukmin itupun demikian pula halnya. Dari diri dan tubuhnya harus selalu timbul amal-amal perbuatanya yang shaleh dalam setiap waktu dan dimanapun juga ia berada.[7]
Dengan demikian tujuan pembelajaran aqidah pada siswa tidak semata-mata ditujukan untuk mengenal Allah, tetapi juga menyangkut amal shaleh, amal yang berguna untuk diri sendiri dan masyarakat serta seluruh ummat Islam dimanpun mareka berada. Dalam kaitan ini Sayid Qutub menguraikan bahwa aqidah tauhid ini dengan segala pancaran, menguasai dengan sepenuh-penuhnya segala aspek sistem sosial, memberikan patokan segala persediaannya dan segala cirinya yang lain dan menafsirkan sebagian dari perasaan dan budi, akhlak dan muamalah, hak dan kewajiban, hubungan dan ikatan yang terdapat dalam sistem pada segala bentuk dan rupanya.[8]  
Berpijak pada penjelasan di atas, bahwa tujuan pembelajaran aqidah akhlak bagi siswa merupakan suatu alternatif utama dalam ajaran Islam. Hal ini sejalan dengan nasehat Lukmanul Hakim terhadap anaknya, sebagaimana firman Allah Swt telah menjelaskan dalam surat Lukman ayat 13 yaitu sebagai berikut:
وإذ قال لقمن لابنه وهو يعظه يبني لا تشرك بالله إن الشرك لظلم عظيم (لقمان: ١٣)                                                                          
Artinya: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu  mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah  benar-benar  kezaliman  yang   Besar”. (QS. Luqman:13).
         Pembelajaran aqidah kususnya bagi siswa yaitu dengan mendidik dan mengajarkannya tentang tauhid dan menghilangkan sifat-sifat jelek yang dapat merusak aqidah yang dianutnya. Siswa akan terbina mentalnya dengan baik dan akan melahirkan sifat jujur, ikhlas, dan tawakkal kepada Allah Swt semata.
  1. Tujuan Pembelajaran Akhlak
Tujuan pembelajaran akhlak adalah untuk menjadikan insan yang berakhlakul karimah, yang sejahtera, aman dan damai dalam kehidupan manusia,  agar mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dalam hal ini tujuan pembinaan akhlak bukan hanya mengajarkan pengetahuan dan melatih keterampilan dalam melaksanakan ibadah saja, akan tetapi jauh lebih dari pada itu, pembinaan akhlak bertujuan membentuk kepribadian  anak yang sesuai dengan ajaran Islam.
Berkaitan dengan penjelasan di atas, menurut Muhammad Fhadil al-Djamali, sebagaimana dikutip oleh Rachmat Djatnika, menyatakan bahwa tujuan pembinaan akhlak dalam Islam adalah untuk menanamkan makrifat (kesadaran) dalam diri manusia terhadap dirinya sendiri selaku hamba Allah Swt  dan kesadaran selaku anggota masyarakat yang harus memiliki tanggung jawab sosial terhadap pembinaan masyarakatnya serta menanamkan kemampuan manusia untuk mengelola, memanfaatkan alam sekitarnya ciptaan Allah Swt  bagi kepentingan kesejahteraan manusia dan kegiatan ibadahnya kepada khalik pencipta alam itu sendiri.[9]
Berdasarkan penjelasan tersebut, dapat diketahui bahwa tujuan pembinaan akhlak harus mampu menciptakan manusia muslim (generasi Islam) yang berilmu pengetahuan tinggi, di mana iman dan taqwanya akan menjadi pengendalian dalam menerapkan ilmu dalam masyarakat.
Pada sisi lain, pembinaan akhlak mempunyai tujuan mendidik pribadi muslim ke arah kesempurnaan sebagai salah satu upaya mengoptimalkan pengabdian diri kepada Allah Swt. Tujuan pembinaan akhlak lebih ditekankan pada pembinaan moral untuk mewujudkan pribadi muslim yang sempurna. Hal tersebut senada dengan ungkapan Athiyah Al-Abrasyi sebagaimana dikutip oleh M. Arifin menjelaskan bahwa: “pembentukan moral yang tinggi adalah fungsi utama dari tujuan akhlak.”[10]
Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa tujuan pembinaan akhlak adalah agar seseorang itu mampu menjadi hamba Allah Swt yang bertaqwa dan memiliki multi pengetahuan akhlak lewat pembinaan. Kemudian merealisasikan segala perintah Allah Swt dan bertanggung jawab dalam melaksanakan seluruh aktivitasnya untuk memperoleh kebahagiaan hidup baik didunia mapun diakhirat. Melalui tujuan pembinaan ini dapat meningkatkan kualitas manusia (kualitas generasi Islam) dalam membina hubungan dengan Allah Swt  (hablumminallah) dan hubungan sesama manusia (hablumminnas).
Secara keseluruhan Mohd Athiyah al-Abrasyi menjelaskan tujuan pembinaan akhlak adalah untuk mendidik warga  negara mukmin dan masyarakat muslim agar dapat merealisasikan  ubudiyah. Dengan terealisasinya tujuan ini maka terealisasi pulalah segala keutamaan kehidupan sosial, seperti saling tolong menolong, bahu membahu, menjamin dan mencintai sesama makhluk ciptaan Allah  Swt.[11]
Dengan demikian, tujuan pembinaan akhlak memadukan secara seimbang antara pembinaan individual dengan pembinaan sosial kemasyarakatan supaya salah satu antara kedua belah pihak ini tidak saling meremehkan yang lain. Pembinaan individual akan membentuk pribadi-pribadi yang sehat bertaqwa serta taat kepada perintah Allah Swt. Sedangkan pembinaan sosial kemasyarakatan berorientasi ke arah hubungan antara sesama manusia. Terealisasinya pembinaan ini, akan membawa umat ke arah yang positif yaitu kehidupan yang berbahagia dunia dan akhirat. Orientasi pembinaan sosial terfokus pada pembinaan hubungan harmonis pada lingkungan sosial masyarakat. Dalam pembinaan  hubungan ini akhlak setiap individu masyarakat sangat penting, sehingga tidak terjadi sesuatu yang bersifat negatif. Melalui proses pembinaan akhlak secara optimal akan terlihat fungsi akhlak dalam membentuk perilaku muslim sejati yang dapat meningkatkan pengabdian kepada Allah Swt dan mengharmoniskan hubungan sesama manusia.

B.     Ruang Lingkup Aqidah Akhlak

Ruang lingkup pelajaran aqidah akhlak memiliki isi bahan pelajaran yang dapat mengarahkan pada pencapaian kemampuan peserta didik untuk dapat memahami rukun iman secara ilmiah serta pengalaman dan pembiasaan berakhlak Islami, untuk dapat dijadikan landasan perilaku dalam kehidupan sehari-hari serta sebagai bekal untuk jenjang berikutnya.
Adapun ruang lingkup pelajaran aqidah akhlak di dalam kurikulum untuk Madrasah Aliyah ada tiga aspek, yaitu:
a.  Aspek Aqidah
Aspek aqidah ini meliputi sub-sub aspek: kebenaran aqidah Islam, hubungan aqidah, akhlak, ke-Esaan Allah Swt, Allah Maha Pemberi Rizki, Maha Pengasih dan Penyayang, Maha Pengampun dan Penyantun, Maha Benar dan Maha Adil.[12] Dari beberapa sub aqidah ini tentu saja dengan menggunakan argumen dalil-dalil aqli dan naqli. Selain itu juga meyakini bahwaMuhammad Saw adalah rasul terakhir, meyakini kebenaran al-Quran dengan dalil aqli dan naqli. Meyakini qadha dan qadar, hubungan usaha dan doa, hubungan prilaku manusia dengan terjadinya bencana alam, dan lain sebagainya.[13]
b.  Aspek Akhlak
Adapun yang menjadi aspek akhlak di antaranya adalah dengan beradab secara Islam dalam bemusyawarah untuk membangun demokrasi, berakhlak terpuji kepada orang tua, guru, ulil amri, dan waliyullah.[14] Hal tersebut dimaksudkan untuk memperkokoh integrasi dan kredibilitas pribadi, memperkokoh kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, bersedia melanjutkan misi utama rasulullah Saw dalam membawa perdamaian, terbiasa menghindari akhlak tercela yang dapat merusak tatanan kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara seperti membunuh, merampok, mencuri, menyebar fitnah, membuat kekerasan, mengkonsumsi atau mengedarkan narkoba dan malas bekerja.
c.  Aspek Kisah Keteladanan
Aspek kisah keteladanan diantaranya mengapresiasi dan meneladani sifat dan prilaku Rasulullah Saw dan juga sahabat-sahabat utama beliau dengan landasan agama yang kuat.[15]
Ketiga aspek diatas merupakan bagian dari ajaran-ajaran dasar yang terdapat dalam agama Islam yang bersumber dari al-Quran dan hadis. Oleh karena itu, diharapkan dapat membentuk peserta didik menjadi pribadi yang beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt dan memiliki akhlak yang mulia sebagaimana akhlak yang telah dicontohkan oleh rasulullah Saw.

C.     Materi Pembelajaran Aqidah Akhlak

Materi pembelajaran aqidah akhlak merupakan materi yang harus diajarkan oleh guru kepada siswanya. Materi tersebut harus sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan dalam silabus. Silabus mata pelajaran aqidah akhlak merupakan suatu garis besar, ringkasan, ikhtisar atau pokok-pokok isi atau materi pelajaran. Silabus mata pelajaran aqidah akhlak merupakan suatu bentuk rangkuman materi untuk menentukan indikator yang siap diajarkan kepada siswa dalam proses pembelajaran.
Silabus yang menjadi pedoman bagi setiap guru aqidah akhlak sangat mendukung bagi pencapaian pelaksanaan pembelajaran. Tanpa silabus, materi pembelajaran aqidah akhlak yang disusun dalam perangkat pembelajaran akan mengalami kesulitan, hal ini turut menghambat proses pembelajaran. Jadi materi pengajar itu sama-sama dikembangkan berdasarkan silabus.
Mengingat program khusus (pembelajaran aqidah akhlak) merupakan program yang wajib bagi semua siswa MTs/MA. Maka materi pelajaran yang mencakup dalam program khusus hendaknya memenuhi kriteria patokan antara lain:
1.      Sesuai  dengan  tuntutan  penguasaannya  bagi  siswa sebagai program khusus, tidak  kekurangan  tapi  juga  tidak  berlebihan  dalam arti materi, metode, alat dan evaluasi yang sesuaai.
2.      Dapat  dijalankan  dasar  bagi  kelanjutan  pelajaran pelajaran pada kelas-kelas berikutnya.[16]
Jadi, jelas bahwa materi pembelajaran aqidah akhlak yang diajarkan tidak boleh meleset dari ketetapan yang telah ditetapkan berdasarkan silabus, materi pembelajaran yang diajarkan kepada siswa secara terus menerus atau berkelanjutan sebagai bahan pedoman untuk materi pelajaran yang ada pada kelas berikutnya.
             Adapun  materi  pembelajaran  aqidah akhlak yang diajarkan kepada siswa di MTs adalah:
    1.Sifat-Sifat Allah
A. Sifat-Sifat Wajib Allah Swt
B. Sifat-Sifat Mustahil Allah Swt
    2. Sifat Jaiz Allah
A. Pengertian Sifat Jaiz Allah Swt
B. Pembagian Sifat Jaiz Allah Swt
C. Dalil-Dalil Aqli dan Naqli Tentang Sifat Jaiz Allah Swt
D.Ciri-Ciri Serta Contoh Perilaku Orang yang Beriman Terhadap Sifat
    Jaiz Allah    
    3.  Akhlak Terpuji 
A. Pengertian Akhlak Terpuji
B. Ciri-Ciri Akhlak Terpuji
            C. Menunjukkan Dalil Aqli dan Naqli Akhlak Terpuji
            D. Menunjukkan Nilai Sikap dan Perilaku Akhlak Terpuji
            E.  Terbiasa Akhlak Terpuji
    4.  Akhlak Tercela
            A.  Pengertian Akhlak Tercela
            B.  Ciri-Ciri Sifat Tercela
            C.  Membiasakan Untuk Tidak Melaksanakan Sifat Tercela (pasif, Rendah
                 Diri, dan Tidak Mempunyai Pendirian
    5.  Perilaku Sahabat
            A.  Ketentuan dan Keteguhan Aqidah Sahabat, Rasul
            B. Meneladani sikap dan Perilaku Sahabat, Rasul Dalam Kehidupan
                 Sehari-Hari
    6.  Mukjizat Allah Swt
            A.  Pengertian Mukjizat, Karamah, Maunah, dan Irhas
            B.  Contoh-Contoh Mukjizat yang Diberikan Kepada Rasul
            C.  Hikmah dan Fungsi Mukjizat
            D.  Dalil-Dalil Tentang Mukjizat
            E.  Perbedaan dan Persamaan Karamah dan Irhas
            F.  Sikap dan Perilaku Terhadap Mukjizat Rasul
            G.  Pengertian Sifat-Sifat Wajib, Mustahil, dan Jaiz Rasul
H.  Dalil-Dalil Tentang Sifat, Mustahil dan Jaiz Rasul
 I.   Hikmah Beriman Kepada Rasul. 
    7.  Sifat-Sifat Rasul
            A.  Pengertian Sifat-Sifat Wajib, Mustahil, dan Jaiz Rasul
            B.  Macam-Macam Sifat Wajib, Mustahil, dan Jaiz Rasul
            C.  Dalil-Dalil Tentang Sifat Wajib, Mustahil, dan Jaiz Rasul
            D.  Hikmah Beriman Kepada Allah
E.  Ciri-Ciri Sikap dan Perilaku Orang yang Beriman Kepada Rasul Allah
    8.  Ulul Azmi
A.  Ulul Azmi
B.  Sifat-Sifat Nabi Ulul Azmi
    9.  Akhlak Nabi Muhammad Saw
A.  Akhlak Nabi Muhammad Saw
B.  Meneladani Akan Nabi Muhammad Saw
    10.  Meneladani Sahabat
A. Menunjukkan Sifat dan Perilaku Baik dari Kehidupan Abu Bakar as
     Sidiq RA
B. Identifikasi Nilai-Nilai yang Patut diTeladani
C. Meneladani Sifat dan Tingkah Laku Abu Bakar As Sidiq ra, Zaid bin
     Tsabit, Serta Abu Dzar al-qifari dalam Kehidupan Sehari-hari.
D. Terbiasa Meneladani Sifat dan Perilaku Abu Bakar as-Sidik ra.
     Dalam Kehidupan Sehari-hari.[17]

Berdasarkan kutipan diatas jelas bahwa meteri pembelajaran aqidah akhlak yang di ajarkan di MTs meliputi sifat-sifat Allah, sifat jaiz Allah, akhlak terpuji, akhlak tercela, perilaku sahabat, mukjizat Allah Swt, sifat-sifat rasulullah Saw, Ulul Azmi, akhlak nabi Muhammad Saw dan meneladani sahabat-sahabat nabi.
Dengan materi-materi yang di ajarkan tersebut, diharapkan siswa/i yang telah mengikuti pelajaran tersebut akan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

D.    Metode Pembelajaran Aqidah Akhlak
Dalam dunia pendidikan, proses belajar mengajar yang disingkat menjadi PBM, sebuah ungkapan popular di kenal dengan: “metode jauh lebih penting dari materi.” Demikian urgennya metode dalam proses pendidikan dan pengajaran, sebuah proses belajar mengajar bisa dikatakan tidak berhasil bila dalam proses tersebut tidak mengunakan metode.
Seiring dengan itu, seorang pendidik/guru dituntut agar cermat memilih dan menetapkan metode apa yang tepat digunakan untuk menyampaikan materi pelajaran kepada peserta didik. Karena dalam proses belajar mengajar dikenal ada beberapa macam metode, antara lain: metode ceramah, diskusi, tanya jawab, demonstrasi dan lain sebagainya. Semua metode tersebut dapat diaplikasikan di dalam proses belajar mengajar. Oleh Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar mengatakan bahwa ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih dan mengaplikasikan sebuah metode:
1.      Tujuan yang hendak dicapai.
2.      Kemampuan guru.
3.      Anak didik
4.      Situasi dan kondisi pengajaran dimana berlangsung
5.      Fasilitas yang tersedia
6.      Waktu yang tersedia
7.      Kebaikan dan kekurang sebuah metode.[18]

Penjelasan tentang metode-metode yang dipakai dalam pendidikan dan pengajaran aqidah akhlak, dapat dilihat sebagai berikut:
1.      Metode Ceramah
Adapun yang dimaksud dengan metode ceramah ialah cara penyampaikan sebuah materi pelajaran dengan cara penuturan lisan kepada siswa atau khalayak ramai. Ini relavan dengan defenisi yang dikemukakan Ramayulis, bahwa metode ceramah ialah “penerangan dan penuturan secara lisan guru terhadap murid di ruangan kelas.”[19]
Adapun menurut pendapat Zuhairini dkk, mendefinisikan bahwa metode ceramah adalah “suatu metode di dalam pendidikan dimana cara penyampaian materi-materi pelajaran kepada anak didik dilakukan dengan cara penerangan dan penuturan secara lisan.”[20]
Dari kedua defenisi di atas, terlihat bahwa substansi metode adalah sama yaitu sama-sama menerangkan materi pelajaran kepada anak didik dengan penuturan kata-kata/lisan dan dengan menggunakan berbagai strategi yang sesuai dengan metode yang digunakan. Metode ceramah dikenal juga sebagai metode kuliah, karena umumnya banyak dipakai di perguruan tinggi, dan disebut pula sebagai metode pidato atau  khutbah.
Sejak zaman Rasulullah Saw, metode ceramah merupakan cara yang paling awal yang dilakukan Rasulullah Saw dalam menyampaikan wahyu kepada  umat. Karakteristik yang menonjol dari metode ceramah adalah peranan guru tampak lebih dominan. Sementara siswa lebih banyak bersifat pasif dan menerima dengan baik terhadap apa yang disampaikan oleh guru.
2.      Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab ialah penyampaian pelajaran dengan cara guru mengajukan pertanyaan dan murid menjawab atau suatu metode di dalam pendidikan dimana guru bertanya sedangkan murid menjawab tentang materi yang ingin diperolehnya.[21]
Pengertian lain dari metode tanya jawab adalah cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab, terutama dari guru kepada murid atau dapat juga dari murid kepada guru.[22]
Dalam sejarah perkembangan Islam pun dikenal metode tanya jawab, karena metode ini sering dipakai oleh para Nabi Muhammad Saw dan Rasul Allah dalam mengajarkan ajaran yang dibawanya kepada umatnya. Metode ini termasuk metode yang paling tua disamping metode ceramah, namun efektifitasnya lebih besar dari pada metode lain. Karena, dengan metode tanya jawab, pengertian dan pemahaman dapat diperoleh lebih mantap. Sehingga segala bentuk kesalah pahaman dan kelemahan daya tangkap terhadap pelajaran dapat dihindari semaksimal mungkin.
3.      Metode Diskusi
Kata “diskusi” berasal dari berasal dari  bahasa Latin yaitu ”discussus” yang berarti “to examine”. “Discussus” terdiri dari akar kata “dis”dan“ cuture.” “Dis” artinya terpisah,  sementara “Cuture” artinya  menggoncang  atau  memukul. Secara etimologi, “discuture” berarti suatu pukulan yang memisahkan sesuatu. Atau dengan kata lain membuat sesuatu menjadi jelas dengan cara memecahkan atau menguraikannya (to clear away by breaking up or cuturing).[23]
Mansyur, bahwa diskusi adalah percakapan ilmiah yang berisikan pertukaran pendapat, pemunculan ide, secara pengujian pendapat yang dilakukan oleh beberapa orang yang tergabung dalam kelompok untuk mencari kebenaran.[24] 
Sedangkan metode diskusi dalam proses belajar mengajar adalah sebuah cara yang dilakukan dalam mempelajari bahan atau menyampaikan materi dengan jalan mendiskusikannya, dengan tujuan dapat menimbulkan pengertian serta perubahan tingkah laku pada siswa.[25]
Dalam pengertian lain, metode diskusi adalah suatu cara penyajian bahan pelajaran dimana guru memberi kesempatan kepada para siswa untuk mengadakan pembicaraan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan atas suatu masalah.[26]
Ramayulis juga mengemukakan pengrtian yang hampir sama, bahwa metode diskusi dalam pendidikan adalah suatu cara penyajian/penyampaian bahan pelajaran dimana guru memberikan kesempatan pada para siswa atau kelompok-kelompok siswa untuk mengadakan pembicaraan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusun berbagai alternatif pemecahan masalah.[27]  
Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa metode diskusi adalah salah satu alternatif metode/cara yang dapat dipakai oleh seorang gur di kelas dengan tujuan dapat memecahkan suatu masalah berdasarkan pendapat para siswa.
Metode diskusi hampir semua mata pelajaran di MTs biasa mengunakan metode tersebut. Metode diskusi adalah suatu metode yang dilakukan dalam proses belajar mengajar yang bertujuan untuk memecah masalah secara bersama-sama dengan mengemukakan jawaban-jawaban yang setepat-tepatnya, dimana dalam penyajian materi guru memberikan kesempatan kepada siswa secara berkelompok untuk mengadakan perbincangan ilmiah guna mengumpulkan pendapat, membuat kesimpulan atau menyusunan berbagai alternative pemecahan atas sesuatu masalah.
Hal ini sesuai dengan ungkapan Winarto Surakhmad sebagai berikut:
1.      Metode diskusi melibatkan seluruh siswa secara langsung dalam proses Pembelajaran.
2.      Setiap siswa dapat menguji tingkat pengetahuanya dan penguasaan bahan/materi pelajaran.
3.      Metode diskusi dapat menumbuhkan dan mengembangkan cara berfikir dan sikap ilmiah siswa.
4.      Dengan mengajukan dan mempertahankan pendapatnya dalam diskusi diharapkan siswa akan dapat memperoleh kepercayaan akan kemampuan diri sendiri.[28]

4.      Metode Keteladanan
            Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan, bahwa “Keteladanan” dasar katanya” teladan” yaitu: “(Perbuatan atau barang dsb,) yang patut ditiru dan dicontoh.”[29]Oleh karena itu “keteladanan” adalah hal-hal yang dapat ditiru atau di contoh. Dalam bahasa Arab “keteladanan diungkapkan dengan kata”uswah” dan “ qudwah”. Kata “uswah” terbentuk dari huruf-huruf: hamzah, as-sin, dan al-waw. Secara etimologi setiap kata bahasa Arabyang terbentuk dari ketiga huruf tersebut memiliki persamaan arti yaitu”pengobatan dan perbaikan”. Terkesan lebih luas pengertian yang diberikan oleh Al-Ashfahani, bahwa menurut beliau “al-uswah” dan “al-iswah” sebagaimana kata ”alqudwah” berarti “suatu keadaan seorang mengikuti orang lain, apakah dalam kebaikan, kejelekan, kejahatan, atau kemurtadan.[30]
            Metode dalam pembelajaran, tidak saja menggunakan metode ceramah, diskusi, tanya jawab dan resitasi, tetapi dapat juga digunakan dalam bentuk penampilan atau kepribadian. Menurut Hamzah Ya’qub bahwa: “kepribadian ialah aktivitas psychis yang dimanifestasikan oleh individu dalam berhubungan dengan lingkungannya atau suatu cara penyampaian langsung ditunjukkan dalam bentuk perbuatan yang nyata misalnya penampilan, tingkah laku, sopan santun yang dapat menyentuh perasaan orang yang melihatnya dan lain-lain”.[31]
            Penggunaan bentuk-bentuk metode tersebut dihubungan dengan kondisi siswa yang bersangkutan. Perlu diperhatikan kepentingan siswa yang dihadapi dan kemampuan guru itu sendiri antara lain segi tenaga, waktu, daya fakir, biaya dan lain-lain. Kenyataannya menurut pengalaman dalam praktek dan penemuan-penemuan teori belajar, semakin banyak indera yang dirangsangsemakin banyak pula bahan-bahan yang masuk dalam pengertian mareka.[32]
5.      Metode Pembiasaan
Metode pembiasaan ini merupakan suatu metode yang dapat menyikapi makna dari suatu peristiwa yang di kaji secara berulang-ulang supaya ingatan peserta didik lebih kuat dalam mengingat dengan apa-apa yang di berikan oleh seorang pendidik.[33]
Adapun metode ini adalah salah satu yang digunakan oleh Rasulullah Saw dalam mendidik sahabat-sahabatnya yaitu dengan memberikan latihan-latihan atau pembiasaan sehingga kebiasaan mereka menjadi terbina dengan akhlak-akhlak yang baik sebagaimana yang telah dicontohkan oleh rasulullah Saw. Dengan demikian, penerapan metode ini diharapkan dapat menggugah akhlak yang baik dari setiap pribadi siswa baik saat sekarang maupun untuk masa yang akan datang dan baik dalam mencapai kebahagiaan di dunia maupun di akhirat.
6.      Metode mendidik dengan kisah Qur’ani dan Nabawi
Dalam pendidikan Islam, kisah mempunyai fungsi edukatif yang dapat di jadikan sebagai salah satu metode dalam mewujudkan pelaksanaan pendidikan agama, hal ini disebabkan “kisah qur’ani dan nabawi memiliki beberapa keistimewaan yang mempunyai dampak edukatif yang sempurna dalam pelaksanaan pendidikan agama.”[34]
Melalui kisah qur’ani dan nabawi tersebut dapat menceritakan kepada peserta didik tentang peristiwa-peristiwa yang di alami oleh para nabi yang pernah terjadi di masa lampau yang dapat menjadi pengetahuan dan pengalaman dalam pembentukan akhlak anak didik di masa yang akan datang. Seperti dalam kisah nabi Yusuf yang mempunyai kesabaran yang luar biasa dalam menghadapi godaan dari Siti Zulaiqa seorang istri pembesar Mesir untuk membuat kemaksiatan, namun nabi Yusuf menolaknya karena rasa takut kepada Allah Swt.
Dengan demikian kisah di atas dapat di pahami bahwa begitu pentingnya bimbingan dan pembinaan yang di berikan oleh seorang pendidik kepada anak didik dalam menerapkan akhlak yang baik, sehingga bisa terhindar dari perbuatan maksiat dalam kehidupan sehari-hari.




[1]Abdul Wahid, Validasi Hadis Moral (Kajian Matan Hadis dalam Kitab Targhib wa Al-Terhib), (Banda Aceh: Ar-Raniry Press, 2007), hal. 120.

[2]Abdul Wahid, Validasi Hadis Moral…, hal. 155.

[3]Imam Baihaqi, Sunan Al-Kubra, Juz x, (Beirut: Darul Ilmi, t.t), hal. 275.

[4]Anwar Masy’ari, Butir-butir Problematika Dakwah Islamiyah, (Surabaya: Bina Ilmu, 1993), hal. 87.

[5]Departemen Agama, Kurikulum MTs, Petunjuk Teknis Mata Pelajaran Aqidah Akhlak, (Jakarta: Depag, 2006), hal. 5.

[6]Sayid Sabiq, Aqidah Islamiyah, Ali Bahasa Mohd. Abdai Rathony, (Bandung: Diponegoro, 1993), hal. 516.

[7]Sayid Sabiq, Aqidah…, hal. 517.

[8]Sayid Qutub, Masyarakat Islam, Alih Bahasa A. Mu’thi Nurdin, (Bandung: Al-Ma’rif, 1983), hal. 123.

[9]Rachmat Djatnika, System Ethika Islam, (Jakarta: Pustaka Panji Mas, 1996), hal. 11.

[10]M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1993),  hal. 133.

[11]Mohd Athiyah al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Terj. Bustami al-ghani dan Djhsr Bahri, (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), hal. 136.

[12] Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan Kurikulum Sekolah, (Bandung: Sinar Baru, 1989), hal. 23.

[13] Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan…, hal. 23.

[14] Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan…, hal. 24.

[15]Nana Sudjana, Pembinaan dan Pengembangan…, hal. 24.

[16]Departemen Agama, Kurikulum Aqidah Akhlak Berdasarkan KTSP, (Jakarta: Depag, 2006), hal. 2.

[17]Departemen Agama, Kurikulum, Aqidah Akhlak Berdasarkan KBK, (Semarang: Depag, 2006), hal. 5-6.

[18]Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar, Metodologi Pengajaran Agama dan bahasa Arab, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1995), hal.7-10.

[19]Ramayulis, Metodologi Pengajaran Agama Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 1990), hal. 102.

[20]Zuharini dkk, Metode Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1998),      hal. 83.

[21]Zuharini dkk, Metode Khusus…, hal. 86.

[22]Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Jailani, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, t.th.), hal. 107.

[23] Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Jailani, Strategi Belajar…, hal. 127.

[24]Mansyur dkk, Metodologi Pendidikan Agama, (Jakarta: Forum, 1982), hal. 97.

[25]Zuharini dkk, Metode Khusus…, hal. 89.

[26]J.J. Hasibuan dan Moejiono, Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remaja Rordakarta, 1995), hal. 20.

[27]Ramayulis, Metodologi Pengajaran..., hal. 127.

[28] Winarno, Teknik Interaksi…, hal. 79.

[29]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besarhal. 1025.

[30]Al-Raghib Al-Ashfahany, Mufradat Alazh al-Qur’an, (Damsiq: Dar Al-Qalam, t.t.),        hal. 105.

[31]Hamzah Ya’qub, Publisistik Islam Seni dan Teknik Dakwah, (Bandung: Diponegoro, 1993), hal. 43.

[32]Hamzah Ya’qub, Publisistik Islam…, hal. 43.

[33]Abdurrahman An-Nahlawy, Prinsip-prinsip dalam Metode Pendidikan Islam, (Bandung: Diponegoro, 1992), hal. 143.

[34]Abdurrahman An-Nahlawy, Prinsip-prinsip…, hal. 65.
Lebih baru Lebih lama