HIKMAH ISRA' DAN MI’RAJ & PENGARUH SOSIALNYA

HIKMAH ISRA’ DAN MI’RAJ & PENGARUH SOSIALNYA
Oleh: Drs. Hamzah Johan (Waka-1)

A. PENDAHULUAN

Banyak sekali hikmah yang terdapat pada peristiwa isra’ dan mi’raj. Saya akan mengemukakan berbagai pendapat ulama. Namun sebelumnya saya ingin menjelaskan sedikit tentang makna dan sejarahnya.
Isra’  adalah peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha di Palestina
Mi’raj adalah peristiwa perjalanan Nabi Muhammad SAW dari Masjidil Aqsha naik ke langit sampai ke shidratil Muntaha kemudian kembali ke bumi.
Isra’ Mi’raj adalah dua bagian dari perjalanan yang dilakukan oleh Muhammad  SAW dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa ini Nabi Muhammad SAW mendapat perintah untuk menunaikan shalat lima waktu sehari semalam.
Isra’ Mi’raj terjadi pada periode akhir kenabian di Makkah sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Menurut al-Maududi dan mayoritas ulama, Isra’ Mi’raj terjadi pada tahun pertama sebelum hijrah, yaitu antara tahun 620-621 M. Menurut al-Allamah al-Manshurfuri, Isra’ Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, dan inilah yang populer.

B. HIKMAH ISRA’ DAN MI’RAJ

Beberpa ulama mengemukakan hikmah dari peristiwa isra’ dan mi’raj tersebut, antara lain :

Imam as-Suyuthi :
1. Hikmah perjalanan isra’ dilakukan di malam hari karena malam hari adalah waktu yang tenang menyendiri dan waktu yang khusus. Itulah waktu shalat yang diwajibkan atas Nabi, sebagaimana dalam firman-Nya, “Berdirilah shalat di malam hari” (QS. Al-Muzammil: 2) (as-Suyuthi, al-Khasha-is an-Nabawiyah al-Kubra, Hal: 391-392).
2. Adapun hikmah dari peristiwa mi’raj dimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memilih susu daripada khamr menunjukkan fitrah dan murninya ajaran Islam yang sesuai dengan tabiat manusia. Sedangkan peristiwa terbukanya pintu langit yang sebelumnya terkunci, lalu Jibril ‘alaihissalam meminta untuk dibukakan, yang demikian agar alam semesta mengetahui bahwa sebelum kedatangan Nabi SAW hal ini belum pernah dilakukan. Sekiranya tidak demikian, mungkin orang akan menyangka bahwa pintu langit senantiasa terbuka. Dan Allah Ta’ala juga hendak mengabarkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dikenal oleh penduduk langit. Oleh karena itu, ketika pintu langit dibukakan, lalu Malaikat Jibril mengatakan kepada penjaga langit bahwa ia bersama Muhammad, malaikat penjaga tersebut bertanya, “Apakah dia telah diutus?” Bukan bertanya, “Siapa Muhammad?” (as-Suyuthi, al-Khasha-is an-Nabawiyah al-Kubra, 391-392).


Ibnu Hajar : 
Hikmah perjalanan isra’ menuju Baitul Maqdis sebelum naik ke langit adalah untuk menampakkan kebenaran terjadinya peristiwa ini dan membantah orang-orang yang ingin mendustakannya. Apabila perjalanan isra’ dari Mekah langsung menuju langit, maka sulit dilakukan penjelasan dan pembuktian kepada orang-orang yang mengingkari peristiwa ini. Ketika dikatakan bahwa Nabi Muhammad memulai perjalanan isra’ ke Baitul Maqdis, orang-orang yang hendak mengingkari pun bertanya tentang ciri-ciri Baitul Maqdis sebagaimana yang pernah mereka lihat, dan mereka pun tahu bahwa Nabi Muhammad belum pernah melihatnya. Saat Rasulullah mengabarkan ciri-cirinya, mereka sadar bahwa peristiwa isra’ di malam itu benar-benar terjadi. Kalau mereka membenarkan apa yang beliau katakan tentang isra’ konsekuensinya mereka juga harus membenarkan kabar-kabar yang datang sebelumnya (risalah kenabian). Peristiwa itu menambah iman orang-orang yang beriman dan membuat orang-orang yang celaka bertambah keras bantahannya (Ibnu Hajar, Fathul Bari, 7: 200-201).

Imam al-Qurthubi :
Beliau menyatakan, pengkhususkan Nabi Musa dalam peristiwa shalat. Ada yang mengatakan karena Nabi Musa adalah nabi yang paling dekat posisinya saat Nabi Muhmmad turun. Ada juga yang mengatakan umatnya lebih banyak dari umat nabi selainnya. Ada lagi yang berpendapat karena kitab suci yang diturunkan kepada Nabi Musa adalah kitab yang paling mulia kedudukan dan hukum syariatnya sebelum Al-quran diturunkan. Atau juga karena umat Nabi Musa dibebankan amalan shalat sebagaimana umat nabi lainnya, lalu mereka merasa berat dengan syariat tersebut, maka Nabi Musa kasihan dengan umat Nabi Muhammad. Pendapat terakhir ini dikuatkan dengan riwayat tentang perkataan Nabi Musa,
“Saya lebih mengetahui karakter manusia dibanding Anda.”
Tidak heran Al-Quran banyak sekali memuat kisah Nabi Musa, tujuannya adalah agar kita banyak-banyak mengambil hikmah dari perjalanan hidup beliau, perjalanan dakwahnya, dll.

Hasan al-Banna :
Menguraikan dalam bukunya “ Kajian Penting Dalan Sirah Nabi “, menjelaskan,
Pelajaran pertama : Allah Swt hendak memuliakan Nabi dan kekasihnya Nabi Muhammad SAW.
Pelajaran kedua: “Allah  mewajibkan shalat  lima waktu. Ini adalah ketentuan dari Allah yang langsung diturunkan Nya dari atas langit ketujuh. Ini semua tidak lain adalah menunjukan kekuatan dan keutamaan shalat, “ barangsiapa telah mendirikan shalat berarti telah menegakkan  agama, dan siapa meninggalkan shalat berarti merobohkan agama”.

C. PENGARUH SOSIALNYA

Dari peristiwa isra’ dan mi’raj tersebut dapat ditarik tiga hal yang sangat mendasar yakni; Ilmu, Iman dan Ibadah. Ibadah yang dimaksud adalah Shalat. Shalat adalah oleh-oleh terbesar dari peristiwa isra’ dan mi’raj.  Dan ketika kita mengkaji tentang pengaruh  sosialnya sangat luar biasa, antara lain :

1.      Melatih Kedisiplinan
Artinya : “ Sungguh Shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman ” ( QS. al-Nisa : 103 )
Artinya: “ Peliharalah semua shalat dan shalat wustha, dan laksanakanlah ( Shalat ) dengan khusyu’ ” ( QS. Al-Baqarah : 238)
Secara tidak langsung shalat melatih kita untuk disiplin dalam menjalankan kehidupan sehari-hari sebagaimana kita diperintah untuk disiplin dalam melaksanakan shalat. Bahkan Nabi pernah bersabda bahwa amal yang paling disukai Allah adalah mendahulukan shalat diawal waktunya ( Ibnu Katsir. Hal  645 ).
2.      Meminimalisir Kemunkaran
Artinya :  “ Sesungguhnya shalat itu mencegah dari ( perbuatan ) keji dan munkar, dan ( ketahuilah ), mengingat Allah ( Shalat ) itu lebih besar ( keutamaanya dari pada ibadah yang lain ). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” ( QS. Al-Ankabut : 45 )
3.     Menghilangkan Sifat Mengeluh Dan Kikir
Artinya : “ Sungguh manusia diciptakan suka mengeluh.  Apabila ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah. Dan apabila mendapat kebaikan ( harta ), ia jadi kikir.  Kecuali orang-orang yang melaksanakan shalat.  Mereka yang tetap setia melaksanakan shalatnya” ( QS. Al-Maarij : 19-23)
D. KESIMPULAN

1. Hikmah dari peristiwa isra’ dan mi’raj itu sangat luar biasa, bahkan kalau bisa kita tambahkan, bahwa isra’ dan mi’raj itu menggambarkan dua hubungan yang harus dilakukan oleh manusia, yakni isra’’ menggambarkan hubungan horizontal (hablum minannas) dan Mi’raj menggambarkan hubungan Vertikal (hablum minallah). Artinya manusia yang baik adalah manusia yang selalu menjaga hubungannya dengan Allah SWT dan manusia.
2. Ibadah yang khusus mendapatkan  perintah dalam peristiwa isra’ dan mi’raj  adalah shalat. Dan shalat yang baik adalah memiliki dampak sosial yang positif, seperti disiplin, mencegah kemungkaran, suka bersedekah, berzakat dan sebagainya.
3. Isra’ dan mi'raj memicu perkembangan ilmu dan peningkatan keimanan manusia yang diharapkan bermanfaat untuk kehidupan agama dan sosialnya


Lebih baru Lebih lama