Muhammad SAW Rasul Terakhir oleh DR. Majid 'Ali Khan

Muhammad SAW Rasul Terakhir 

oleh DR. Majid 'Ali Khan

Muhammad Saw oleh Majid Ali Khan I. PENDAHULUAN
Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi, Pembuat gelap dan terang. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada pemimpin kita, Muhammad saw, penutup para rasul, yang memberikan kabar gembira dan kabar menakutkan,
yang memberi janji dan peringatan, yang dengan kehadiran beliaulah Allah menyelamatkan manusia dari kesesatan, yang menunjukkan manusia ke jalan yang lurus, jalan yang ada dilangit dan dibumi, dan hanya kepada Allahlah semua urusan akan kembali.
Sirah Rasulullah saw tidak pernah lekang dan lapuk untuk menjadi bahan baku sejarah yang diambil generasi pewaris nubuwah sebagai bekal perjalanan dan penopang eksistensinya.
Bagi siapapun yang mempelajari sejarah beliau, akan memperoleh gambaran sejarah yang amat menakjubkan, bagaimana beliau dan para sahabatnya mampu menundukkan pesona dunia dan mengangkat nilai-nilai kemanusiaan hingga kesuatu tingkatan yang tidak pernah disaksikan oleh lembaga sejarah di manapun berada.
Pada hakikatnya istilah Sirah Nabawiyah merupakan ungkapan tentang risalah yang dibawa Rasulullah saw kepada masyarakat manusia, untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kepada cahaya, dari penyembahan terhadap hamba kepada penyembahan kepada Allah. Jadi tidak mungkin bisa menghadirkan gambarannya secara pas dan mengena kecuali setelah membandingkan hal-hal dibalik risalah ini dan pengaruhnya. Insyaallah melalui tulisan ini kami sedikit banyaknya akan mengulas tentang sirah Rasulullah yang kami ambil dari berbagai literatur dari kitab-kitab sirah.
Dalam pembahasan ini kami langsung membahas masalah dakwah Rasulullah di Makkah diawal pengangkatan Beliau menjadi Rasul. Dalam masalah ini kita bisa membagi masa dakwah Rasulallah menjadi dua periode, yang satu berbeda secara total dengan yang lain. Dimana pada periode Makkah ini berjalan sekitar tiga belas tahun, kemudian dilanjutkan pada periode Madinah yang berjalan sekitar sepuluh tahun.
Setiap periode memiliki tahapan-tahapan tersendiri, dengan kekhususannya masing-masing, yang satu berbeda dengan yang lain. Hal ini tampak jelas setelah meneliti berbagai unsur yang menyertai dakwah itu selama dua periode secara mendetail.
Periode Makkah dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu:
Tahapan dakwah secara sembunyi-sembunyi, yang berjalan selama tiga tahun
Tahapan dakwah secara terang-terangan di tengah penduduk Makkah, yang dimulai sejak tahun keempat dari nubuwah hinggan akhir tahun kesepuluh
Tahap dakwah di luar Makkah (seperti Tha’if) dan penyebarannya, yang dimulai dari tahun kesepuluh dari nubuwah hingga hijrah ke Madinah
Sedangkan periode Madinah dibagi menjadi tiga tahapan yaitu:
Tahapan masa yang banyak diwarnai guncangan dan cobaan, baik dari dalam maupun dari luar kota Madinah, tahapan ini berakhir dengan dikukuhkannya perjanjiaan Hudaibiyah pada bulan Dzulqa’dah tahun ke enam dari kenabian.
Tahapan masa perdamaian dengan para pemimpin paganisme, yang berakhir dengan Fathu Makkah pada bulan Ramadhan tahun ke-8 dari hijrah. Ini juga merupakan tahapan massa berdakwah kepada para raja untuk masuk Islam.
Tahapan masuknya manusia ke dalam Islam secara berbondong-bondong, yaitu masa kedatangan para utusan dari berbagai kabilah dan kaum ke Madinah.
Tahapan selanjutnya adalah tahapan akhir dari tahapan-tahapan kehidupan Rasulullah saw, menggambarkan kesuksesan yang dihasilkan dakwah Islam, setelah sekian lama terjun dalam jihad, melewati kesulitan, rintangan, yang dilalui selama lebih dari dua puluh tahun. Penaklukan Makkah merupakan hasil paling penting yang diraih orang-orang muslim pada tahun-tahun itu. Alhasil perjalanan hari dan udara jazirah Arab berubah total. Penaklukan Makkah ini merupakan batas penentu antara masa sebelumnya dan sesudahnya. Sebelum itu, Quraisy dimata bangsa Arab merupakan pelindung agama dan penolongnya. Bangsa Arab pada saat itu mengikuti mereka dalam masalah ini. Karena itu, tunduknya Quraisy dianggap sebagai kesudahan dari agama paganis di Jazirah Arab.
II. PERIODE MAKKAH
Muhammad Diangkat Menjadi Rasul
Selagi usia beliau genap 40 tahun, suatu awal kematangan, dan ada yang berpendapat bahwa pada usia inilah para Rasul diangkat menjadi Rasul, mulai tampak tanda-tanda Nubuwah yang menyembul dari balik kehidupan diri Beliau. Diantara tandanya adalah mimpi yang hakiki. Selama enam bulan mimpi yang Beliau alami itu hanya menyerupai fajar subuh yang menyingsing. Mimpi ini merupakan salah satu bagian dari empat puluh enam bagian dari Nubuwah. Akhirnya pada bulan Ramadhan tahun ketiga dari masa pengasingan di gua hira’, Allah berkehendak untuk melimpahkan rahmatnya kepada penghuni bumi, memuliakan beliau dengan Nubuwah dan menurunkan jibril sambil membawa ayat-ayat Qur’an.[1]
Dakwah Rasulallah saw Di Makkah
Dakwah secara sembunyi-sembunyi
Sebagaimana yang sudah diketahui, Makkah merupakan sentral agama bangsa Arab. Di sana ada peribadatan terhadap Ka’bah dan penyembahan terhadap berhala dan patung-patung yang disucikan seluruh bangsa Arab. Cita-cita untuk memperbaiki keadaan mereka tentu bertambah sulit dan berat jika orang yang hendak mengadakan perbaikan jauh dari lingkungan mereka. Hal ini membutuhkan kemauan keras yang tidak bisa di guncang musibah dan kesulitan. Maka dalam menghadapi kondisi seperti ini, tindakan yang paling bijaksana adalah memulai dakwah dengan sembunyi-sembunyi, agar penduduk Makkah tidak kaget karena tiba-tiba menghadapi sesuatu yang menggusarkan mereka.[2]
Dakwah dimulai kepada orang yang paling dekat dengan beliau, anggota keluarga dan sahabat-sahabat karib beliau. Sebelumnya beliau dikenal orang yang memiliki kepribadian yang baik, sehingga seruan beliau langsung diterima. Dalam tarikh Islam, mereka dikenal sebagai As-Sabiqunal-Awwalun (yang terdahulu dan yang pertama-tama masuk Islam). Mereka adalah istri beliau ummul-Mukminin Khadijah binti Khuwailid, Zaid bin Haritsah bin Syurahbil Al-Kalbi, Ali bin Abi Thalib dan Abu Bakar Ash-Shidiq. Sesudah itu diikuti oleh kerabat-kerabat lain atas dakwah yang disampaikan oleh para sahabat yang pertama masuk Islam. Kemudian Ibnu Ishaq berkata:”setelah itu banyak orang yang masuk Islam baik laki-laki maupun wanita, sehingga nama Islam menyebar keseluruh Makkah dan banyak yang membicarakannya”.[3]
Dakwah secara terang-terangan
Wahyu yang pertama turun dalam masalah ini adalah firman Allah:
وَأنْذِرْ عَشِيْرَتَكَ الْاَقْرَبِيْنَ. (الشعراء: ٢١٤)
“Dan, berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang dekat.” (Asy-Syu’ara’: 214)
Langkah pertama yang dilakukan Rasulallah saw setelah turun ayat diatas, ialah dengan mengundang Bani Hasyim. Mereka memenuhi undangan ini, yaitu beberapa orang dari Bani Al-Muthalib bin Abdi Manaf, yang jumlahnya ada empat puluh lima orang. Sebelum beliau berbicara, Abu Lahab sudah mendahului angkat bicara, “mereka yang hadir disini adalah paman-pamanmu sendiri dan anak-anaknya. Maka bicaralah jika ingin berbicara dan tidak perlu bersikap kekanak-kanakan. Ketahuilah bahwa tidak ada orang Arab yang berani mengenyitkan dahi terhadap kaummu. Dengan begitu aku berhak menghukummu. Biarlkanlah urusan bani bapakmu. Jika engkau tetap bertahan pada urusanmu ini, maka itu lebih mudah bagi mereka daripada seluruh kabilah Quraisy menerkammu dan semua bangsa Arab ikut campur tangan. Engkau tidak pernah melihat seorangpun dari Bani bapaknya yang pernah berbuat macam-macam seperti yang engkau perbuat saat ini”.[4]
Dalam mendakwahkan Islam secara terang-terangan Rasulullah dan para sahabatnya mengalami berbagai tekanan dari pihak Quraisy. Menurut Ibnu Ishaq tekanan tersebut justru dilakukan oleh tetangga beliau sendiri; seperti Abu Lahab dan lainnya. Tapi tekanan-tekanan tersebut tidaklah menyurutkan Beliau untuk mendakwahkan Islam, karena beliau memiliki kpribadian yang tidak ada duanya,berwibawa dan dihormati setiap orang. Di samping itu Beliau masih mendapat perlindungan dari Abu Thalib.[5]
Langkah bijaksana yang dilakukan Rasulullah dalam menghadapi berbagai tekanan tersebut adalah, beliau melarang orang Muslim menampakkan ke Islamannya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, hal ini terjadi pada tahun keempat dari nubuwah. Sekalipun demikian, kaum muslimin tetap mengadakan pertemuan secara sembunyi-sembunyi di rumah Arqam bin Abil Arqam.
Setelah berbagai macam tekanan yang dilakukan pihak Quraisy tidak dapat dibendung lagi maka Rasulullah menyuruh para sahabat untuk hijrah ke Habsyah yang pertama kali yang dipimpin oleh Utsman bin Affan. Walaupun berbagai macam tekanan yang dialami oleh Nabi saw, ternyata ada hikmah dari semua itu diantaranya; masuknya Hamzah bin Abdul Muthalib dan Umar bin Khattab kedalam Islam. Dengan masuk Islamnya kedua sahabat tersebut maka dakwah pun mulai dilakukan lagi secara terang-terangan yang sebelumnya dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Semenjak Hamzah dan Umar masuk Islam, Rasulullah mendapatkan perlindungan dari kecaman orang-orang Quraisy, sehingga orang-orang Quraisy tidak bisa secara bebas untuk melakukan berbagai tekanan lagi. Tapi diotak mereka muncul ide lain untuk membinasakan Rasulullah dan para sahabatnya yaitu mereka melakukan pemboikotan antara Bani Hasyim dan bani Muthalib. Diantara isinya adalah: larangan menikah, berjual beli, berteman, berkumpul, memasuki rumah, berbicara dengan mereka, kecuali jika secara suka rela mereka menyerahkan Muhammad untuk dibunuh. Pemboikotan itu tidak berjalan lama. Setelah 3 tahun tepatnya bulan Muharram tahun kesepuluh dari kenabian , papan piagam tersebut terkoyak dan isinya terhapus yang dilakukan oleh Hisyam bin Amr dari Bani Amir bin Lu’ay. Dengan demikian maka berakhirlah pemboikotan tersebut.[6]
Selang enam bulan dari pemboikotan, Abu Thalib meninggal dunia, dan kemudian disusul oleh Khadijah isrti Rasulullah saw setelah tiga tahun Abu Thalib meninggal. Inilah yang dirasakan sangat berat oleh Rasulullah, karena keduanya telah banyak berkorban terhadap Islam. Inilah yang dalam sejarah Rasulullah disebut dengan tahun duka cita.
Selagi rasulullah saw dalm keadaan terjepit di perjalanan antara keberhasilan dan tekanan, maka pada saat itulah Allah Mengisra’ Mi’rajkan beliau untuk menerima perintah Shalat lima waktu sehari semalam.
Dakwah Ke Tha’if
Pada bulan Syawwal tahun kesepuluh dari nubuwah, atau pada akhir-akhir bulan Mei atau awal-awal bulan Juni 619 M, Rasulullah saw pergi ke Tha’if, yang berjarak kurang lebih enam puluh mil dari Makkah, Beliau ditemani oleh Zaid bin Haritsah. Setiap kali melewati suatu kabilah , Beliau mengajak mereka kepada Islam. Namun tak satupun yang memenuhinya. Setiba di Tha’if beliau menemui tiga orang bersaudara dari pemimpin bani Tsaqif, yaitu Abdul Yalail, Mas’ud bin Hubaib, dan anak-anak Amr bin Umair Ats-Tsaqafi. Diantara Beliau dan ketiga orang tersebut terjadi dialog yang panjang. Beliau mengajak mereka kepada Islam, namun apa jawab mereka, “Demi Allah kami tidak sudi berbicara denganmu sama sekali. Jika kamu benar-benar Rasul Allah, tentunya kamu lebih berbahaya jika kami harus menyanggah perkataanmu. Dan jika kamu membuat kedustaan terhadap Allah, berarti kami layak berbicara denganmu.
Intinya dakwah yang disampaikan kepada penduduk Tha’if tidak mendapat hasil sama sekali (dalam arti tidak ada yang menerima beliau kecuali hanya pembantu kebun yang bernama Addas).
Isra’ Mi’raj
Selagi Rasulullah saw dalam keadaan terjepit di perjalanan antara keberhasilan dan tekanan, maka pada saat itulah Allah Mengisra’ Mi’rajkan beliau untuk menerima perintah Shalat lima waktu sehari semalam. Mengenai waktu terjadinya Isra’ Mi’raj ini banyak pendapat dari kalangan sejarawan ada yang mengatakan terjadi pada tanggal 27 Rajab tahun kesepuluh dari nubuwah, ada yang mengatakan dua bulan sebelum hijrah tepatnya bulan Muharram tahun ke-13 dari kenabian dan masih banyak lagi pendapat-pendapat yang lain. [7]
Baitul Aqabah
Setelah terjadi peristiwa Isra’ Mi’raj maka terjadilah apa yang disebut dengan Baitul Aqabah. Al-Bukhari meriwayatkan dari Ubadah bin Ash-Shamit, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Kemarilah dan berbaiatlah kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anak sendiri, tidak akan berbuat dusta yang kalian ada-adakan antara tangan dan kaki kalian, tidak mendurhakaiku dalam urusan yang baik. Barangsiapa di antara kalian menepatinya, maka pahalanya ada pada Allah. Barangsiapa mengambil sesuatu dari yang demikian ini, lalu dia disiksa di dunia, maka itu merupakan ampunan dosa baginya, dan barangsiapa mengambil sesuatu dari yang demikian itu lalu Allah menutupinya, maka urusannya terserah Allah. Jika menghendaki Dia menyiksanya dan jika menghendaki Dia akan mengampuninya”. Lalu aku pun berbaiat kepada Beliau.[8]
Setelah baiat itu selesai dan musim haji juga telah selesai, maka Rasulullah mengirim duta yang pertama ka Yatsrib bersama-sama dengan mereka. Tugas itu dipimpin oleh Mush’ab bin Umair Al-Abdary. Bait Aqabah ini terjadi dua kali, yang dikenal dengan Baitul Aqabah Pertama dan Baiatul Aqabah Kedua.
Al-Imam Ahmad meriwayatkan masalah ini secara rinci dari Jabir, dia berkata, “Kami berkata, ‘Wahai Rasulullah, untuk hal apa kami berbaiat kepada engkau?” Kemudian Beliau menjawab sebagaimana yang dihimpunan didalam kausul bait yaitu:
Untuk mendengar dan taat takkala bersemangat dan malas
Untuk menafkahkan harta takkala sulit dan mudah
Untuk menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar
Untuk tegak berdiri karena Allah dan tidak merisaukan celaan orang yang suka mencela karena Allah.
Hendaklah kalian menolongku jika aku datang kepada kalian, melindungiku sebagaimana kalian melindungi diri kalian sendiri, istri, anak-anak kalian dan bagi kalian adalah surga.
III. PERIODE MADINAH
Hijrah Ke Madinah
Hijrah terjadi setelah peristiwa Bait Aqabah kedua. Hijrah ini bukan sekedar mengabaikan kepentingan, mengorbankan harta benda dan menyelamatkan diri semata, setelah hak mereka banyak yang dirampas. Tapi bisa saja mereka akan mengalami kebinasaan pada permulaan hijrah itu atau pada akhirnya. Hijrah ini juga menggambarkan sebuah perjalanan ke masa depan yang serba mengambang, tidak diketahui apa duka dan lara yang akan menyusul dikemudian hari. Sekalipun orang-orang Muslim menyadari semua itu toh mereka tetap mulai berhijrah. Sementara orang-orang Musyrik berusaha untuk menghalangi agar orang-orang Muslim tidak bisa keluar dari Makkah. Sebab jika dibiarkan, mereka menyadari akibatnya dikemudian hari.
Dakwah Di Madinah
Membangun Masjid
Ketika Rasulullah saw tiba di Madinah, Beliau singgah di Bai Najjar pada Hari Jumat 12 Rabiul Awwal 1 H, bertepatan 27 September 622 M, di situlah onta yang Beliau kendarai menderum di hamparan tanah tepatnya di depan rumah Abu Ayyub, maka Beliau bersabda, “Di sinilah tempat singgah insya Allah.”[9]
Berawal dari peristiwa hijrahnya kaum Muslimin dari Makkah ke Madinah, rasulullah saw. Paham betul dengan keadaan para sahabat, terutama masalah tempat tinggal yang harus mereka tempati, ketika pertama kali mereka sampai di madinah. Oleh karena itu Rasulallah mengambil inisiatif untuk mendirikan masjid sebagai wahana tempat tinggal bagi para sahabat yang miskin, yang datang ke madinah tanpa membawa harta, tidak mempunyai kerabat dan masih bujangan atau belum berkeluarga.[10]
Masjid bukan hanya sekedar tempat untuk melaksanakan shalat semata, tapi juga merupakan sekolahan bagi orang-orang muslim untuk menerima pengajian Islam, sebagai balai pertemuan dan tempat untuk mempersatukan berbagai unsure kekabilahan dan sisa-sisa pengaruh perselisihan semasa jahiliyah. Masjid juga sebagai tempat untuk mengatur segala urusan dan sekaligus sebagai gedung parlemen untuk bermusyawarah dan menjalankan roda pemerintahan. Juga merupakan sebuah organisasi sosial yang bergerak dibidang penyantunan anak yatim, fakir miskin, dan lainnya. Disamping itu masjid sebagai tempat penampungan orang-orang yang sedang mengemban, mencari ilmu serta penginapan sementara bagi tamu-tamu resmi dari negeri lain, seperti yang dilakukan Rasulallah terhadap delegasi dari Nasrani Najran.[11]
Mempersaudarakan Kaum Muhajirin Dan Kaum Anshar
Sebagaimana yang kita ketahui kaum muslimin yang hijrah ke Madinah mereka meninggalkan keluarga, tanah air serta tempat tinggal yang mereka cintai. Oleh karena itu adalah langkah yang sangat tepat apa yang telah dilakukan oleh Rasulallah yaitu mempersaudarakan kaum muhajirin dan kaum anshar dengan harapan mereka saling tolong menolong khususnya kaum anshar yang sangat diharapkan sekali bantuan dan perlindunga terhadap kaum muhajirin.
Ibnu Qayyim menuturkan: “kemudian Rasulallah mempersaudarakan antara kaum muhajirin dan kaum anshar di rumah Anas bin Malik, mereka yang dipersaudarakan ada 90 orang, separuh dari kaum muhajirin dan separuh dari kaum anshar. Beliau mempersaudarakan mereka agar saling tolong-menolong, saling mewarisi harta jika ada yang meniggal dunia disamping kerabatnya. Waris mereka itu berlaku hingga perang badar.[12]
Rasulallah mempersaudarakan para sahabatnya dari kaum muhahirin dan kaum anshar atas dasar kebenaran dan rasa persamaan, bahkan mereka dipersaudarakan untuk saling mewarisi sepeninggalan mereka, sehingga pengaruh ukhuwah Islamiyah lebih kuat dan membekas dari pada pengaruh ikatan darah.[13] Hikmah dari persaudaraan ini adalah untuk menghilangkan segala bayangan yang akan membangkitkan api permusuhan lama dikalangan mereka. Adapun hikmah lain sebagaimana yang dikatakan Muhammad Al-Ghazali yaitu: “agar fanatisme jahiliyah menjadi cair dan tidak ada sesuatu yang dibekali kecuali Islam.[14]
Piagam Madinah
Tidak lama setelah Nabi Saw menetap di Madinah (± 2 tahun) beliau mempermaklumkan satu piagam yang mengatur kehidupan dan hubungan antara komunitas-komunitas yang merupakan komponen-komponen masyarakat yang majemuk di madinah. Piagam tersebut lebih dikenal dengan “piagam Madinah”.[15]
Ibnu Ishaq berkata;”setelah itu Rasulallah membuat perjanjian antara kaum muhajirin dengan kaum anshar. Dalam perjanjian itu, Rasulallah tidak memerangi orang-orang yahudi, membuat perjanjian merekam, mengenai agama dan harta mereka serta membuat persyaratan dengan mereka (orang-orang yahudi).[16]
Banyak diantara pemimpin dan pakar ilmu politik Islam beranggapan bahwa piagam Madinah adalah konstitusi atau undang-undang dasar bagi Negara Islam yang pertama yang dibuat oleh Nabi Saw di Madinah. Satu hal yang patut di catat, bahwa piagam Madinah yang oleh banyak pakar politik didakwahkan sebagai konstitusi Negara Islam yang pertama itu tidak menyebut Negara agama.[17]
Mengenai kandungan piagam Madinah, kalau merujuk kitab-kitab sirah, banyak sekali ditulis isi-isi piagam Madinah, namun melalui tulisan ini kami tidak menyebutkan isi piagam Madinah tersebut, pembaca bisa merujuk dikitab sirah. Akan tetapi kami mencoba untuk merangkum isi kandungan dari piagam Madinah. Menurut hemat kami batu-batu yang diletakkan oleh piagam Madinah sebagai landasan bagi kehidupan bernegara untuk masyarakat majemuk di Madinah. Setidaknya ada dua poin yang perlu dicatat, yaitu:
a) Semua pemeluk agama Islam, meskipun berasal dari banyak suku, tetapi merupakan satu komunitas.
b) Hubungan antara sesama komunitas Islam dan anggota komunitas Islam dengan komunitas lainnya didasarkan pada prinsip-prinsip; bertetangga dengan baik, saling membantu dalam menghadapi musuh, membela mereka yang teraniaya, saling menasehati dan menghormati kebebasan beragama.
Perjanjian tersebut menunjukkan keadilan Nabi saw terhadap pihak yahudi. Perjanjian yang adil antara kaum muslimin dengan pihak yahudi. Akan tetapi orang-orang yahudi tidak mentaati perjanjian yang telah disepakatinya. Mereka tidak saja mengindahkan tugas-tugas yang telah ditetapkan dalam dokumen, tetapi justru mereka menjadi agresif. Maka dari itu, Nabi saw mengambil tindakan untuk mengusir mereka dari Madinah. Pengusiran tersebut dilakukan kepada Bani Qainuqa’, Bani Nadzir dan Bani Quraizhah.[18]
Pertempuran Yang Pernah dilakukan Rasulullah
Mengenai pertempuran banyak sekali yang pernah dilakukan Rasulullah saw dan para sahabatnya. Di antaranya Perang Badar, Perang Uhud, Perang Ahzab (Khandak), Perang Bani Quraizah, Perang Bani Mushthaliq atau Perang Al-Muraisi, dan masih banyak lagi yang lainnya. Di setiap pertempuran yang beliau pimpin selalu mendapat kemenangan kecuali pada perang Uhud, itupun dikarenakan pasukan pemanah tidak mengindahkan komando dari Nabi saw. Mengenai penjelasan lebih luas mengenai pertempuran-pertempuran yang pernah dilakukan oleh Nabi saw dapat dirujuk pada kitab-kitab Sirah.
Apabila kita mengamati pertempuran yang dilakukan Rasulullah saw dan pengiriman satuan pasukan, maka tidak ada pilihan bagi kita dan bagi siapapun yang bisa mengamatinya, melainkan mengatakan bahwa beliau adalah komando militer terbesar di dunia, yang paling besar, paling tajam kekuatan firasatnya dan paling teliti. Beliau tidak turun dalam kancah perjuangan melainkan menampakkan tekad yang bulat, keberanian dan kejelian. Karena itu Beliau tidak pernah mengalami kegagalan karena salah dalm mengambil kebijaksanaan, mengatur pasukan, menyusun strategi, menentukan tempat dan menempatkan bentuk serangan.
Perjanjian Hudaibiyah
Bangsa Quraisy’ menyadari posisinya yang cukup rawan. Maka mereka mengutus Suhail bin ‘Amr untuk mengadakan perundingan dengan Rasulallah Saw. Adapun hasil perundingan tersebut adalah:[19]
Rasulallah harus pulang pada tahun dan tidak boleh memasuki Makah kecuali tahun depan bersama orang-orang muslim. Mereka diberi jangka waktu selama tiga hari berada di Makah dan hanya boleh membawa senjata yang biasa dibawa musafir, yaitu pedang yang disarungkan. Sementara pihak Quraisy’ tidak boleh menghalangi dengan cara apapun.
Gencatan senjata diantara kedua belah pihak selama 10 tahun, diantara mereka tidak boleh saling memerangi antara satu sama lain.
Siapa yang ingin bergabung dengan Muhammad dan perjanjiannya, maka dia boleh melakukannya, begitu sebaliknya dengan pihak Quraisy’. Kabilah manapun yang bergabung dengan salah satu pihak, maka kabilah tersebut menjadi pihaknya sehingga penyerangan yang ditujukan kepada kabilah tertentu, dianggap sebagai penyerangan terhadap pihak yang bersangkutan dengannya.
Siapapun orang Quraisy’ yang mendatangi Muhammad tanpa izin walinya (melarikan diri) maka dia tidak boleh dikembalikan kepadanya.
Perjanjian Hudaibiyah ini mengakhiri berbagai macam pergolakan-pergolakam yang terjadi yang terjadi di Madinah.
Umrah Qadha’
Al-Hakim menuturkan, “Dengan tibanya bulan Dzul-Qa’dah, tersiar kabar bahwa Rasulullah dan para sahabat hendak melaksanakan umrah qadha’. Siapapun yang dulu ikut dalam peristiwa Hudaibiyah disuruh berangkat. Karena itu mereka pun berangkat kecuali yang mati syahid. Di samping mereka, ada pula orang-orang yang memang ingin melakukan umrah. Jumlah mereka dua ribu orang selain wanita dan anak-anak.
IV. FATHUL MAKKAH
Ibnu qoyim berkata: “Ini merupakan penaklukan terbesar yang dengannya Allah memuliakan agama, Rasul, para prajurit dan pasukannya yang dapat dipercaya, yang dengan penaklukan ini pula dia menyelamatkan negeri dan rumahnya, yang telah dijadikan sebagai petunjuk bagi semesta alam, menyelamatkannya dari cengkeraman tangan orang-orang kafir dan musyrik. Ini merupakan penaklukan dan sekaligus kemenagan yang telah dikabarkan dari langit yang kemudian semua manusia masuk ke dalam agama Allah secara berbondong-bondong, sehingga wajah bumi berseri-seri memancarkan cahaya dari keceriaan”.[20] Fathul Makkah ini terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke-8 dari Hijrah
Adapun yang menyebabkan pembebasan kota Makkah ini akibat dari konflik antara bani baker dan bani khuza’ah. Bani baker berpihak kepada bangsa Quraisy’, sedangkan bani khuza’ah berpihak kepada Rasulallah. Menurut beberapa sejarahwan, bangsa Quraisy’ secara terbuka membantu bani baker dengan tentara dan senjata. Iklimah bin Abu Jahl, Sofyan bin Umayah, Suhail bin Amr dan lain-lain ikut ambil bagian dalam perang dengan cara menyamar. Bani khuza’ah lalu berlindung di Makah, tetapi bani bakar tidak berhenti membunuhi bani khuza’ah walaupun ditanah suci (haram), padahal menurut tradisi yang dijunjung tinggi orang arab, di tanah suci ini dilarang menumpahkan darah. Bani khuza’ah lapor kepada pihak Quraisy’ tetapi mereka tidak peduli , akhirnya bani khuza’ah mengirim perutusan ke Madinah, memohon Rasulallah agar memberi perlindungan. Setelah bermusyawarah, bertukar pikiran dengan para sahabat, Rasulallah mengirim pesan kepada bangsa Quraisy’ dengan tiga syarat, dan memilih salah satu syarat tersebut:[21]
Bangsa Quraisy harus membayar tebusan darah bagi orang-orang bani khuza’ah yang terbunuh, atau
Mereka tidak berbuat apa-apa terhadap segala hal yang menimpa bani bakar, atau
Agar mereka menyatakan gencatan senjata hudaibiyah tidak berlaku lagi.
Pihak Quraisy tidak mau menerima salah satu dari dua syarat pertama, bahkan mereka mengirim pesan kepada Rasulallah melalui Qurth bin Umar bahwa mereka hanya mau menerima syarat yang ketiga saja. [22]
Pada hari kedua setelah penaklukan, Rasulullah saw menyampaikan pidatonya di hadapan kaum Muslimin, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah mensucikan Makkah pada saat Dia menciptakan langit dan bumi. Makkah adalah tempat yang suci dengan kesucian Allah hingga hari Kiamat. Tidak diperkenankan orang yang beriman kepada Allah dan hari Akhir untuk menumpahkan darah di dalamnya atau menebang pohon. Apabila seseorang yang menganggap bahwa ada keringannan bagi Rasulullah untuk berperng, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah telah mengizinkan hal itu bagi Rasul-Nya dan tidak mengizinkan bagi kalian’. Kesuciannya telah kembali pada hari ini seperti kesuciannya yang terdahulu. Hendaklah yang hadir di sini menyampaikan hal ini kepada yang tidak hadir.”penaklukan Makkah merupakan peperangan yang final, melumatkan paganisme secara total, karena itu bangsa Arab bisa mengetahui mana yang haq dan mana yang batil, tidak lagi dihantui keraguan-keraguan, dan setelah itu mereka pun buru-buru masuk Islam.
V. HAJI WADA’
Tuntas sudah pekerjaan berdakwah, menyampaikan risalah. Maka Rasulullah mengumumkan niatnya untuk melaksanakan haji yang mabrur. maka manusia datang berbondong-bondong ke Madinah, yang semuanya hendak ikut beliau jumlah mereka semuanya adalah seratus dua puluh empat ribu atau seratus empat puluh ribu orang muslim. Pada saat pelaksanaannya beliau menyampaikan pidatonya menyampaikan pesan-pesan terakhirnya kepada kaum Muslimin.[23] Haji wada’ adalah kenang-kenangan terakhir beliau dengan para sahabat-sahabatnya tercinta. Di akhir khutbah wada’, beliau berpesan kepada umat; rasanya tugas yang ia pikul sudah selesai, setelah ia berkhutbah beliu bersabda, “Ya Allah persaksikanlah, hendaklah yang hadir mengabarkan yang tidak hadir. Waktu itu para sahabat tercengang seakan-akan ia berpidato untuk yang terakhir kalinya.
VI. RASULULLAH WAFAT
Setelah ibadah haji wada’ selesai dilaksanakan oleh Nabi dan para sahabatnya pengaruh agama Islam semakin mengakar dan tersebar di segenap penjuru dunia, seluruh manusia tahu tentang ajaran Muhammad yang dibawanya yaitu menghadapakan wajah hanya kepada Allah yang maha kuasa, qalbu beriman hanya kepada Allah yang Maha Esa.
Pada tanggal dua puluh sembilan Shafar 11 H bertepatan dengan hari Senin Rasulullah menghadiri prosesi jenazah di Baqi’. Sepulang dari Baqi’ dan selagi dalam perjalanan beliau merasakan pusing di kepala dan panas tubuhnya langsung melonjak. Beliau sakit selama 13 atau 14 hari, dan tetap shalat bersama orang-orang selama 11 hari dari masa sakitnya. Sebelum wafat beliau memerdekakan para pembantu laki-lakinya sehari menjelang beliau wafat, dan beliau menshadaqahkan tujuh dinar harta dan senjata kepada orang-orang Muslim. Tibalah detik-detik terakhir dari hidup Beliau. Aisyah menarik tubuh beliau kepangkuannya. Sebagaimana yang dikatakannya, “Sesungguhnya diantara nikmat Allah yang dilimpahkan kepadaku, bahwa Rasulullah saw meninggal dunia di rumahku, pada hari giliranku, berada dalam rengkuhan dadaku, bahwa Allah menyatukan antara ludahku dan ludah beliau saat wafat.
Kabar kesedihan langsung menyebar. Seluruh pelosok Madinah seperti berubah menjadi muram. Anas menuturkan;”Aku tidak pernah melihat suatu hari yang lebih baik dan lebih terang selain dari hari saat Rasulallah saw masuk ke tempat kami, dan tidak kulihat hari yang lebih buruk dan lebih muram selain dari hari saat Rasulallah meninggal dunia”.
Bahkan ketika Umar bin Khatab mendengar kematian beliau secara tidak sadar ia berkata:”Sesunggunya beberapa orang munafik beranggapan bahwa Rasulallah akan meninggal dunia. Sesungguhnya beliau tidak meninggal dunia, tetapi pergi ke hadapan Rabbnya seperti yang dilakukan Musa bin Imran yang pergi dari kaumnya selama 40 hari, lalu kembali lagi. Demi Allah Rasulallah benar-benar akan kembali. Maka orang yang beranggapan bahwa beliau meninggal dunia harus dipotong tangan dan kakinya”. Akan tetapi Abu Bakar menyadarkan Umar bin Khatab atas sikapnya terhadap Rasulallah.[24]
REFERENSI:
¶ Syaikh Safiyurrahman Al-Mubarrkfury,sirah nabawiyah (pustaka Al-Kautsar, Jakarta:2000).
¶ M. Said Ramadhan Al-Buthy,sirah Nabawiyah, (Rabbani Press, Jakarta, cet.VI).
¶ M. Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, (Pustaka Nasional, Bogor:1998, cet.III).
¶ H. Munawwir Sjazali, Islam dan tata Negara, (UI Press, Jakarta: 1990, cet.II).
¶ Abu M. Malik bin Hisyam Al-Muafiri, sirah nabawiyah ibnu hisyam, (Darul Falah, Jakarta: 2004, cet. IV).
¶ Prof. Dr. Akram Dhiyauddin Umari, Masyarakat Madani, (GIP, Jakarta, cet. II).
¶ Dr. Majid ‘Ali Khan, Muhammad Saw rasul terakhir, (Salmania, Bandung:1985, cet. I).
[1] Syaikh Safiyurrahman Al-Mubarrkfury,sirah nabawiyah(pustaka Al-Kautsar, Jakarta:2000), hal.90
[2] Ibid, hal. 103
[3] Ibid, hal. 104
[4] Ibid, hal. 108
[5] Ibid hal. 123
[6] Ibid hal 151
[7]Keterangannya bisa dilihat di Ar-Rahiqul Makhtum karya Al-Mubarakfury hal 191.
[8] Ibid hal. 200
[9] Ibid, hal. 247
[10] Ibid, hal.428
[11] Ibid, hal.248
[12] Ibid
[13] M. Said Ramadhan Al-Buthy,sirah Nabawiyah, (Rabbani Press, Jakarta, cet.VI), hal.173
[14] M. Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, (Pustaka Nasional, Bogor:1998, cet.III), hal.279
[15] H. Munawwir Sjazali, Islam dan tata Negara, (UI Press, Jakarta: 1990, cet.II), hal.10
[16] Abu M. Malik bin Hisyam Al-Muafiri, sirah nabawiyah ibnu hisyam, (Darul Falah, Jakarta: 2004, cet. IV), hal. 454
[17] H. Munawwir Sjazali, Islam dan tata Negara, op. cit. hal.16
[18] Prof. Dr. Akram Dhiyauddin Umari, Masyarakat Madani, (GIP, Jakarta, cet. II), hal. 108
[19] Syaikh Safiyurrahman Al-Mubarrkfury,sirah nabawiyah, op. cit. hal. 444
[20] Ibid, hal. 517
[21] Dr. Majid ‘Ali Khan, Muhammad Saw rasul terakhir, (Salmania, Bandung:1985, cet. I), hal. 222
[22] Ibid
[23] Isi pidatonya bisa dilihat di Kitab Ar-Raqul Makhtu karaya Al-Mubarakfuri hal. 606.
[24] Ibid, hal. 620
Lebih baru Lebih lama