Menghargai Waktu

Belajar Menghargai Waktu (1)

komunitaspedulisomalia.wordpress.com
komunitaspedulisomalia.wordpress.com
Sering kita melihat warnet penuh dengan anak main game, asik memang. Bahkan orang dewasa juga banyak yang hobi ngegame. Di tempat-tempat pertemuan, sambil makan banyak juga terdengar orang ngegosip. Ada juga yang membaca komik dan novel untuk ‘membunuh waktu’. Kebanyakan kita akan menganggap biasa saja. Dan masih banyak lagi contohnya. Padahal, minimal perbuatan-perbuatan seperti di atas adalah wujud dari penyia-nyiaan waktu. Kalo sampai terjatuh ke dalam dosa lain seperti ghibah ya akan menyebabkan dosa besar (https://abumuhammadblog.wordpress.com/2013/01/16/dosa-dosa-besar-yang-tidak-diketahuidihiraukandiperhatikan-kebanyakan-kaum-muslimin-2/). Padahal islam sangat menghargai waktu, berikut pembahasannya.

Pentingnya Waktu
Al-Quran dan Sunnah sangat perhatian terhadap waktu dari berbagai sisi dan dengan gambaran yang bermacam-macam. Allah shubhana wa ta’ala telah bersumpah dengan waktu-waktu tertentu dalam beberapa surah Al Qur’an, seperti al-lail (waktu malam), an-nahâr (waktu siang), al fajr (waktu fajar), adh-dhuhâ (waktu matahari sepenggalahan naik), al ‘ashr (masa). Sebagaimana firman Allah shubhaana wa ta’ala,
“Demi malam apabila menutupi (cahaya) siang, dan siang apabila terang benderang.” (QS. Al-Lail: 1-2).
“Demi fajar dan malam yang sepuluh.” (QS. Al Fajr: 1-2).
“Demi waktu matahari sepenggalan naik. Dan demi malam apabila telah sunyi.” (QS. Adh-Dhuhâ: 1-2).
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al ‘Ashr: 1-2).
Ketika Allah shubhaana wa ta’ala bersumpah dengan sesuatu dari makhluk-Nya, maka hal itu menunjukkan urgensi dan keagungan hal tersebut. Dan agar manusia mengalihkan perhatian mereka kepadanya sekaligus mengingatkan akan manfaatnya yang besar.
Sunnah datang untuk lebih menekankan tentang pentingnya waktu serta berharganya zaman. Seluruh manusia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap nikmat waktu yang telah Allah berikan kepadanya. Rasulullah sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَزُوْلُ قَدَمُ عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ : عَنْ جَسَدِهِ فِيْمَا أَبْلاَهُ وَعَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْ أَيْ شَيْءٍ أَنْفَقَهُ وَعَنْ عِلْمِهِ كَيْفَ عَمِلَ فِيْهِ
“Tidak akan bergeser kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang empat perkara; Tentang badannya, untuk apa ia gunakan, tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan, dan tentang ilmunya bagaimana ia beramal dengannya.” (HR. Tirmidzi, dihasankan oleh Syekh Al Albani).
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun telah mengabarkan bahwasanya waktu adalah salah satu nikmat di antara nikmat-nikmat Allah kepada hamba-hamba-Nya yang harus disyukuri. Jika tidak, maka nikmat tersebut akan diangkat dan pergi meninggal pemiliknya.
Manifestasi dari syukur nikmat adalah dengan memanfaatkannya dalam ketaatan dan amal-amal shaleh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الْفَرَاغُ وَالصِّحَّةُ
“Ada dua nikmat yang kebanyakan orang merugi padanya: waktu luang dan kesehatan.” (HR. Bukhâri).
Waktu luang adalah salah satu nikmat yang banyak dilalaikan oleh manusia. Maka Anda akan melihat mereka menyia-nyiakannya dan tidak mensyukurinya. Padahal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
اِغْتَنَمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ : شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغُلِكَ وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ
“Gunakanlah lima perkara sebelum datang yang lima; masa mudamu sebelum datang masa tuamu, masa sehatmu sebelum datang masa sakitmu, waktu kayamu sebelum datang waktu miskinmu, waktu luangmu sebelum datang waktu sibukmu, dan masa hidupmu sebelum datang ajalmu.” (HR. Hâkim, dishahihkan oleh Al Albâni).
(http://abiaqila.wordpress.com/2009/10/18/akibat-kata-nanti-nanti-dan-nanti/ dan http://s1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single/id_how_we_invest_our_times.pdf)

Tinggalkanlah Hal-hal yang Tidak Bermanfaat
;-عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:«مِنْ حُسْنِ إِسْلاَمِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لاَ يَعْنِيْهِ». حَدِيْثٌ حَسَنٌ, رَوَاهُ التِّرْمِذِي وَغَيْرُهُ هَكَذَا.
Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318 dan yang lainnya)
Makna hadits ini adalah: meninggalkan perkara-perkara yang tidak bermanfaat, merupakan sebagian dari hal-hal yang bisa mendatangkan baiknya keislaman seseorang (Jami’ al-’Ulum, hal  208)
Standar yang harus kita gunakan untuk mengetahui apakah sesuatu itu termasuk bermanfaat bagi kita atau tidak adalah syariat dan bukan hawa nafsu. Mengapa? Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan “meninggalkan suatu hal yang tidak bermanfaat” sebagai tanda dari kebaikan keislaman seseorang. Ini menunjukkan bahwa patokan yang harus  kita gunakan dalam menilai bermanfaat tidaknya suatu perbuatan adalah syariat Islam. Hal ini perlu ditekankan karena banyak orang yang salah paham dalam memahami hadits ini, sehingga dia meninggalkan hal-hal yang diwajibkan syariat atau disunahkan, dengan alasan bahwa hal-hal itu tidak bermanfaat baginya (Qawa’id wa Fawaid min al-Arba’in an-Nawawiyah, oleh Nadzim Sulthan, hal: 123, dan Bahjatun- Nadzirin Syarh Riyadh ash-Shalihin, oleh Salim al-Hilaly I/142) (http://muslim.or.id/hadits/meninggalkan-perkara-tidak-bermanfaat-1.html)
Buah dari baiknya keislaman seseorang adalah pelipatgandaan kebaikan.
Diriwayatkan dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:
إِذَا أَحْسَنَ أَحَدُكُمْ إِسْلاَمَهُ ؛ فَكُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا تُكْتَبُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ، وَكُلُّ سَيِّئَةٍ تُكْتَبُ بِمِثْلِهَا، حَتَّى يَلْقَى اللهَ عَزَّ وَجَلَّ.
Jika salah seorang dari kalian memperbaiki keislamannya, maka setiap kebaikan yang dia kerjakan ditulis dengan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat, dan setiap kesalahan yang dilakukannya ditulis dengan kesalahan yang sama hingga dia bertemu dengan Allah Azza wa Jalla. [Shahîh. HR Muslim (no. 129)]
Satu kebaikan dilipatgandakan hingga sepuluh kali lipat merupakan suatu kepastian. Pelipatgandaan kebaikan itu sangat terkait dengan kebaikan keislaman seseorang, keikhlasan niat, dan kebutuhan kepada amal tersebut dan keutamaannya, seperti menyumbang dana untuk jihad, memberi nafkah untuk keperluan haji, memberi nafkah kepada sanak kerabat, anak-anak yatim, orang miskin, dan saat-saat di mana nafkah diperlukan.[Jâmi’ul-‘Ulûm wal-Hikam (I/295)]  (http://almanhaj.or.id/content/3344/slash/0/kebaikan-islam-seseorang-ialah-dengan-meninggalkan-apa-apa-yang-tidak-bermanfaat/)
Contoh Hal-hal yang Tidak Bermanfaat
canbeclub.com
canbeclub.com
1. Segala macam bentuk kesyirikan, kebid’ahan, dan kemaksiatan adalah hal-hal yang bukan saja tidak penting bahkan lebih dari itu justru memberikan kemudharatan dan kerugian di dunia dan akhirat.
2. Ingin ikut campur urusan orang lain padahal tidak ada kaitannya dengan dia.
Contohnya adalah ikut mencuri dengar pembicaraan orang lain. Dalam hadits dinyatakan :
وَمَنِ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ صُبَّ فِي أُذُنِهِ الْآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Dan barangsiapa yang menyimak percakapan satu kaum padahal mereka tidak suka (didengar) atau akan menjauh darinya (jika tahu), akan dituangkan timah panas pada telinganya di hari kiamat (HR Bukhari)
3Permainan yang melalaikan dari dzikir kepada Allah. Termasuk di antara hal ini adalah nyanyian dan musik.
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا أُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
Dan di antara manusia ada yang membeli ‘lahwal hadiits’ untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa ilmu dan menjadikannya sebagai bahan ejekan. Bagi mereka adzab yang menghinakan (Q.S Luqman: 6)
Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud sampai bersumpah 3 kali bahwa yang dimaksud dengan ‘lahwal hadiits’ dalam ayat itu adalah nyanyian (Tafsir at-Thobary (20/127)). Penafsiran ‘lahwal hadiits’ sebagai nyanyian juga berasal dari Aisyah dan Abu Umamah
Jual beli nyanyian dan pemasukan (penghasilan) dari nyanyian adalah haram, berdasarkan hadits :
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَيْعِ الْمُغَنِّيَاتِ وَعَنْ شِرَائِهِنَّ وَعَنْ كَسْبِهِنَّ وَعَنْ أَكْلِ أَثْمَانِهِنَّ
Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam melarang dari membeli wanita penyanyi, menjualnya, penghasilannya, dan dari memakan harganya (H.R Ibnu Majah dari Abu Umamah)
Demikian juga alat-alat musik, dalam hadits dinyatakan:
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ
Sungguh-sungguh akan ada kaum-kaum dari umatku yang menghalalkan zina, sutra (untuk laki-laki), khamr, dan alat-alat musik (H.R alBukhari)
Sahabat Nabi Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata :
الدُّفُّ حَرَامٌ وَالْمَعَازِفُ حَرَامٌ وَالْكُوبَةُ حَرَامٌ وَالْمِزْمَارُ حَرَامٌ
Rebana adalah haram, ma’aazif (alat musik) adalah haram, Kuubah (gendang kecil) adalah haram, dan seruling haram (riwayat alBaihaqy dalam as-Sunan al-Kubra no 21529, disebutkan oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam al-Mathoolibul ‘Aaliyah no 2247)
Demikianlah hukum alat musik secara asal. Dalam keadaan tertentu diperkecualikan, seperti penggunaan rebana oleh penyanyi wanita kecil dengan nyanyian yang tidak mengandung kemunkaran di hadapan para wanita pada waktu pernikahan.
4Berlebihan dalam hal-hal yang mubah, seperti terlalu banyak makan, terlalu banyak tidur, dan semisalnya.
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Dan makan dan minumlah, jangan melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (Q.S al-A’raaf:31)
5. Kebanyakan dari hobi-hobi yang menyianyiakan waktu dan harta.
6.  Membaca kisah-kisah (termasuk novel-ed), riwayat-riwayat, dan makalah yang tidak beradab yang akan mempengaruhi tabiat terhadap jalan-jalan yang diharamkan.
Baca juga http://muslim.or.id/hadits/meninggalkan-perkara-tidak-bermanfaat-1.html dan http://muslim.or.id/hadits/meninggalkan-perkara-tidak-bermanfaat-2.html

Dengan Apa Kita Dapat Memanfaatkan Waktu? 
Amalan-amalan untuk memanfaatkan waktu sangatlah banyak. Hendaklah seorang muslim memilih apa yang sesuai dan mudah baginya, diantaranya (http://s1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single/id_how_we_invest_our_times.pdf):
1Menghafal kitab Alloh dan mempelajarinya. Ini adalah cara terbaik, Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Yang terbaik diantara kalian adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” (HR Bukhori)
2Menuntut ilmu, baik dengan menghairi ceramah, mendengarkan kaset, ataupun membaca buku yang sarat dengan faedah
3Berdzikir kepada Alloh, Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Hendaklah lidahmu selalu basah oleh dzikir kepada Alloh” (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh Albani)
4. Memperbanyak amalan sunnah untuk meraih kecintaan Alloh
“Terus-menerus hamba-Ku mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan amalan sunnah, sehingga Aku mencintainya (HR. Bukhori)
5Berdakwah kepada Alloh dan amar ma’ruf nahi munkar
6. Mengunjungi kerabat (silaturahim). Ini juga merupakan sebab dilapangkannya rizki dan panjang umur
“Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan diakhirkan ajalnya, hendaklah dia menyambung silaturahmi” (HR Bukhori)
7Bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan mempelajari sesuatu yang bermanfaat untuk kehidupan dunia.

Kaidah dalam Mengoptimalkan Pemanfaatan Waktu 
Agar waktu yang kita miliki dapat bermanfaat secara optimal, maka perhatikanlah kaidah-kaidah berikut ini (http://www.alsofwah.or.id/index.php?pilih=lihathadits&id=190):
1. Memanfaatkannya dengan sesuatu yang paling penting kemudian yang penting, jangan sibuk dengan sesuatu yang rendah dan tidak bermanfaat dan meninggalkan sesuatu yang bermanfaat (menggunakan skala prioritas)
2Menjauhi sikap berlebih-lebihan dalam melakukan sesuatu mubah, karena hal itu akan menyebabkan kita menyia-nyiakan waktu, kalau kita melakukannya tidak dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena hal yang mubah/boleh bisa menjadi ibadah kalau diniatkan karena Allah.
3. Bersungguh-sungguh untuk mendapatkan waktu yang telah Allah istimewakan dengan kekhususan-kekhususan tertentu dari waktu-waktu yang lain, sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala mengistimewakan tempat-tempat tertentu dibandingkan yang lainnya dan mengistimewakan hari tertentu dari yang lainnya, bulan tertentu dari yang lainnya, seperti Ramadhan diistimewakan oleh Allah  Subhanahu wa Ta’ala dari bulan-bulan yang lainnya. Baca https://abumuhammadblog.wordpress.com/2013/01/17/cara-melipatgandakan-pahala-amal-sholih-2/ dan https://abumuhammadblog.wordpress.com/2013/01/17/cara-melipatgandakan-pahala-amal-sholih-3/
4Menghindari dan mewaspadai hal-hal yang menjadi perusak waktu, yang paling berbahaya adalah panjang angan-angan di dunia dan tertipu dengan amalan-amalannya (merasa amal shalihnya telah banyak), berprasangka baik dengan dirinya, teman yang buruk, kelalaian dan menunda-nunda amalan baik.

Belajar Menghargai Waktu (2)

Artikel sebelumnya di: Belajar Menghargai Waktu (1)
Belajar Memanfaatkan Waktu dari Para Ulama
rindusunnah.com
Para salafus soleh meninggalkan banyak pelajaran berharga dalam menghargai waktu. Berikut ini “secuil” nukilan dari kesibukan para ulama (semoga kita dapat mengambil pelajaran):
1. Imam Abu Hanifah (80 – 150 H)
Asad bin Amr berkata: “Abu Hanifah shalat Isya” dan Shubuh dengan sekali wudhu” selama 40 tahun.
Abu Yusuf berkata: “Abu Hanifah selalu menghidup­kan malam dengan shalat dan do”a.”
(Disalin dari Majalah al-Furqon Ed.8 th.V 1427 H/ 2006 M melalui perantaraan file Biografi Imam Empat [ Imam Al-Arba’ah ] yang diunduh dari ibnumajjah.wordpress.com)
Jauh banget lah dengan kita!
2. Imam Asy-Syafi’i (150 – 204 H)
Dalam usia 7 tahun Imam Asy-Syafi’i selesai menghafal Al-Qur’an dan usia 10 tahun beliau hafal Al-Muwaththa’ karya Imam Malik, usia 15 tahun dengan izin gurunya yang bernama Muslim bin Khalid Az-Zanji untuk berfatwa. Beliau juga banyak menghafal syair-syair Hudzail. Setelah itu beliau pergi ke Madinah untuk belajar fiqih dari Imam Malik bin Anas hingga Imam Malik wafat tahun 179 H, setelah itu beliau belajar dari Sufyan bin ‘Uyainah. (File Biografi Imam Empat [ Imam Al-Arba’ah ] yang diunduh dari ibnumajjah.wordpress.com)
Kita umur 15 tahun mah kerjaannya main terus!
Sekalipun beliau hanya hidup selama setengah abad dan kesibukannya melakukan perjalanan jauh untuk mencari ilmu, hal itu tidaklah menghalanginya untuk menulis banyak kitab. Jumlahnya menurut Ibnu Zulaq mencapai 200 bagian, sedangkan menurut al-Marwaziy mencapai 113 kitab tentang tafsir, fiqih, adab dan lain-lain. Yaqut al-Hamawi mengatakan jumlahnya mencapai 174 kitab yang judul-judulnya disebutkan oleh Ibnu an-Nadim dalam al-Fahrasat. Yang paling terkenal di antara kitab-kitabnya adalah al-Umm, yang terdiri dari 4 jilid berisi 128 masalah, dan ar-Risalah al-Jadidah (yang telah direvisi) mengenai Alquran dan As-Sunnah serta kedudukannya dalam syariat. (http://muslim.or.id/biografi/imam-syafii-sang-pembela-sunnah-dan-hadits-nabi.html)
Ibadahnya kayak gini. Al – Husain Al Karabisi berkata, ”Aku bermalam bersama Asy Syafi’i selama delapan puluh malam, dia selalu sholat sekitar sepertiga malam. Dalam sholatnya, aku juga tidak pernah melihatnya membaca Al-Qur’an kurang dari 80 ayat, kalau pun lebih tidak lebih dari seratus ayat, ketika membaca ayat yang berisi rahmat, maka ia selalu berdoa untuk dirinya dan orang mukmin semuanya. Dan ketika membaca ayat yang berisi adzab, maka ia selalu memohon perlindungan dari Allah untuk dirinya dan orang mukmin semuanya. Kalau aku perhatikan, maka seolah olah rasa takut dan penuh harap berkumpul dan bersatu menjadi satu dalam dirinya. (http://abualbinjy.files.wordpress.com/2008/03/biografi-imam-syafii.pdf)
Dengerin kajian biografi Imam Syafi’i disini http://bacasalaf.wordpress.com/2012/06/29/biografi-imam-syafii-dalam-mp3/ dan  http://ahsan.tv/kajian/Z/12-ustadz-abu-zubair-hawaary/31-biografi-ulama/431-biografi-imam-syafii-rahimahullah.html
3. Imam Ahmad bin Hanbal (164 – 241 H) 
Sebagaimana ulama yang lain, beliau sangat tekun dalam menuntut ilmu. Beliau menuntut ilmu kepada Imam Syafi‘i, Sufyan bin ‘Uyainah, Ismail bin ‘Ulayyah, Waki‘ bin al-Jarrah, Yahya al-Qaththan, Yazid bin Harun, dan lain-lain. Ketekunannya itu menyibukkannya dari hal-hal lain sampai-sampai beliau baru menikah setelah berumur 40 tahun.
Beliau menyusun kitabnya yang terkenal, al-Musnad, dalam jangka waktu sekitar 60 tahun. Beliau juga menyusun kitab tentang tafsir, tentang an-nasikh dan al-mansukh, tentang tarikh, tentang yang muqaddam dan muakhkhar dalam Alquran, tentang jawaban-jawaban dalam Alquran. Beliau juga menyusun kitab al-Manasik ash-Shagir dan al-Kabir, kitab az-Zuhud, kitab ar-Radd ‘ala al-Jahmiyah wa az-Zindiqah (Bantahan kepada Jahmiyah dan Zindiqah), kitab as-Shalah, kitab as-Sunnah, kitabal-Wara‘ wa al-Iman, kitab al-‘Ilal wa ar-Rijal, kitab al-Asyribah, satu juz tentang Ushul as-Sittah, Fadha’il ash-Shahabah.
(http://ahsan.tv/artikel/ulama/biografi/528-biografi-imam-ahmad-bin-hambal.html)
Jangan tanya soal ibadahnya, beliau adalah seorang yang sangat kuat ibadahnya. Putra beliau yang bernama Abdullah menceritakan tentang kebiasaan ayahnya: ” Dahulu ayahku shalat sehari semalam sebanyak 300 rakaat. Dan tatkala kondisi fisik beliau mulai melemah akibat pengaruh dari penyiksaan yang pernah dialaminya maka beliau hanya mampu shalat sehari semalam sebanyak 150 rakaat!” Suatu hari ada salah seorang murid beliau menginap di rumahnya. Maka beliau menyiapkan air untuknya (agar ia bisa berwudhu). Maka tatkala pagi harinya, beliau mendapati air tersebut masih utuh, maka beliau berkata: “Subhanallah, seorang penuntut ilmu tidak melakukan dzikir pada malam harinya?”
Abdullah mengatakan: … Ayah tidak pernah meninggalkan puasa Senin-Kamis dan puasa ayyamul bidh (puasa tiga hari, tanggal 13, 14, 15 dalam bulan Hijriyah).
Dalam riwayat lain beliau berkata: “Ayah membaca Al-Qur’an setiap harinya 1/7 Al-Qur’an.
(http://assunnah-qatar.com/artikel/tokoh-islam/663-mengambil-tauladan-dari-imam-ahmad-bin-hanbal.html)
Coba kita instrospeksi diri kita: Apakah kita pernah sangat tekun menyusun suatu kitab sampai bertahun-tahun (kalo bisa)? Sebagus apa kita sholat malam (itu pun kalo sholat malam)? Rutinkah kita puasa sunnah? Berapa lembar kita membaca Al-Qur’an setiap hari (itu pun kalo kita rutin membaca dan mempelajari Al-Qur’an)?
4. Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari (223 – 310 H)
Sepanjang hidupnya tercatat telah mengumpulkan 358 ribu halaman dari berbagai karangannya. Jika kita perkirakan masa kanak-kanak beliau sebelum baligh (14 tahun), maka dapat disimpulkan beliau menulis 14 halaman setiap harinya. Begitu perhatiannya beliau dengan waktu, sampai-sampai ketika kira-kira sejam sebelum kematiannya beliau masih menyempatkan diri menulis suatu do`a yang baru ia dengar dari Ja`far bin Muhammad. (http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single/id_Urgensi_Waktu_dan_Muhasabah.pdf)
Coba bandingkan dengan kita (sekalipun yang gemar menulis), jumlah 14 halaman per hari sangat sulit kita selesaikan kecuali sebatas ‘copas’.
5. Imam Nawawi (631 – 676 H) 
Beliau tidur dengan bersandarkan sebuah buku yang ditegakkan pada dagunya, begitu buku itu terjatuh maka beliau terjaga dan kembali menggoreskan tintanya.
(http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single/id_Urgensi_Waktu_dan_Muhasabah.pdf)
Kok gak kayak kita ya, mudah tidur?! Paling ngegame atau nonton bola biar tidak mengantuk?!
Ketika berumur 10 tahun, Syaikh Yasin bin Yusuf Az-Zarkasyi melihatnya dipaksa bermain oleh teman-teman sebayanya, namun ia menghindar, menolak dan menangis karena paksaan tersebut. Syaikh ini berkata bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang paling pintar dan paling zuhud pada masanya dan bisa memberikan manfaat yang besar kepada umat Islam.
Semasa tinggal di madrasah Ar-rawahiyyah di dekat Al-Jami’ Al-Umawiy, jadilah thalabul ilmi sebagai kesibukannya yang utama. Disebutkan bahwa ia menghadiri 12 halaqah dalam sehari. Ia rajin sekali dan menghafal banyak hal. Ia pun mengungguli teman-temannya yang lain.
Ia berkata: “Dan aku menulis segala yang berhubungan dengannya, baik penjelasan kalimat yang sulit maupun pemberian harakat pada kata-kata. Dan Allah telah memberikan barakah dalam waktuku.” [Syadzaratudz Dzahab 5/355].
Diantara syaikh beliau: Abul Baqa’ An-Nablusiy, Abdul Aziz bin Muhammad Al-Ausiy, Abu Ishaq Al-Muradiy, Abul Faraj Ibnu Qudamah Al-Maqdisiy, Ishaq bin Ahmad Al-Maghribiy dan Ibnul Firkah. Dan diantara murid beliau: Ibnul ‘Aththar Asy-Syafi’iy, Abul Hajjaj Al-Mizziy, Ibnun Naqib Asy-Syafi’iy, Abul ‘Abbas Al-Isybiliy dan Ibnu ‘Abdil Hadi. (http://muslim.or.id/biografi/biografi-ringkas-imam-nawawi.html)
Coba perhatikan diri kita saat berumur 10 tahun, hampir semua waktu luang kita habiskan dengan bermain, sama sekali tidak terlintas dalam benak kita untuk belajar agama. Perhatikan juga diri kita sekarang, sudahkah setiap hari kita mempelajari ilmu agama yang bermanfaat?
Baca juga biografi Imam Nawawi disini: http://solihin87.abatasa.com/post/detail/8757/biografi-imam-nawawi.html
6. Majduddin Abu al-Barakat `Abdussalam
Kakek dari Imam Ibnu Taimiyah ini, tiap kali masuk ke WC, beliau memerintahkan anaknya (orang tua Imam Ibnu Taimiyah) untuk membacakan suatu kitab dengan suara keras, hingga terdengar olehnya. (http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single/id_Urgensi_Waktu_dan_Muhasabah.pdf)
7. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah (661 – 728 H)
Tak aneh jika sikap sang kakek tersebut tertular kepada cucunya. Suatu ketika Imam Ibnu Taimiyah jatuh sakit, dokter menyarankan agar beliau untuk sementara waktu menghentikan dulu kegiatan belajar mengajarnya karena hal itu dikhawatirkan dapat memperparah kondisinya. Berkata Imam Ibnu Taimiyah kepada dokternya, “bukankah jika jiwa yang bahagia dan gembira dapat memperkuat daya tahan tubuh”, sang dokter membenarkannya.
“Maka sesungguhnya jiwaku merasa tenang jika berinteraksi dengan ilmu, dan tubuhku terasa kuat dan hanya dengan itu saya dapat beristirahat.” (http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single/id_Urgensi_Waktu_dan_Muhasabah.pdf)
Apakah kita bersemangat belajar ilmu agama? Kebanyakan kita belajar agama cuma dari khotib jumat yang menyampaikan hal-hal umum yang kebanyakan kita sudah tau, gimana ilmu kita mau berilmu?!
Ibnu Taimiyah sudah menyibukkan diri dengan ilmu agama mulai dari kecil. Waktu kecil, ayahnya ingin membawa anak-anaknya rekreasi ke sebuah taman, lalu beliaupun berkata kepada Syaikhul Islam: ‘Hai Ahmad, engkau berangkat bersama saudara-saudaramu untuk bersantai.’ Tapi Ibnu Taimiyah memberi alasan kepada ayahandanya, sedangkan ayah beliau terus mendesak. Syaikhul Islam tetap menolak: ‘Saya ingin ayah memaafkan saya untuk tidak keluar.’ Akhirnya sang ayah meninggalkannya dan berangkat bersama saudara-saudara beliau yang lain. Mereka menghabiskan hari itu di taman tersebut, dan kembali menjelang sore. (http://asysyariah.com/sejarah-hidup-syaikhul-islam-ibnu-taimiyah.html)
Pada umurnya yang ke -17 tahun, beliau sudah siap mengajar dan berfatwa, amat menonjol dalam bidang tafsir, ilmu ushul dan semua ilmu-ilmu lain, baik pokok-pokoknya maupun cabang-cabangnya, detailnya dan ketelitiannya. (http://artikelassunnah.blogspot.com/2009/10/syaikh-ibnu-taimiyyah.html#.UQhu3791_j4)
Coba cek orang-orang yang mencela seenaknya tentang imam besar ini, waktu kecil para pencela itu digunakan untuk apa? bermain-main atau menuntut ilmu, tidakkah mereka tahu siapa yang dicela?
Waktu beliau dihabiskan dengan jihad dengan pena dan lisan. Beliau rahimahullah telah berdiri di depan musuh-musuh Islam dari penganut berbagai agama, aliran, isme yang batil, dan ahlul bid’ah bagaikan gunung yang kokoh. Kadang dengan perdebatan langsung, terkadang pula melalui tulisan. Beliau menghancurkan syubhat-syubhat (racun pemikiran) mereka dan mengembalikan tipu daya mereka –bihamdillah-. Beliau menghadapi ahli filsafat, bathiniyyah baik dari golongan sufiyyah, isma’iliyyah, nashiriyyah, dan selain mereka. Sebagaimana beliau juga menghadapi rafidhah dan golongan yang sesat (atheis). Beliau hancurkan syubhat-syubhat ahlul bid’ah yang diadakan di sekeliling masyahid (kuburan yang ramai untuk diziarahi), kuburan secara umum, dan semacamnya. Sebagaimana beliau menghadapi jahmiyyah, mu’tazilah, dan beliau membantah ahlul kalam dan asya’iroh. Orang yang melihat sisi ini dari kehidupan beliau hampir-hampir menegaskan tidak ada lagi waktu yang sia-sia yang tersisa dalam kehidupan beliau.  (http://yufidia.com/ibnu-taimiyyah)
Jumlah Total Karya Ibnu Taimiyah 621 yang mana banyak hasil karyanya telah hilang. (http://situs.assunnah.web.id/2008/01/02/biografi-syaikhul-islam-ibnu-taimiyah-tamat/)
Karya-karyanya bukan hanya berisikan ilmu diniyyah tapi juga ilmu dunia. Alhamdulillah, sebagian besar karya-karya beliau telah dicetak dan mencapai sekitar 200 jilid.
Majmu’ Fatawa yang merupakan kumpulan fatwa-fatwa beliau dan tergolong karya yang paling terkenal, mencapai 35 jilid, yang telah diterbitkan oleh beberapa penerbit.
Menurut asy-Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rohimahulloh, karya-karya Syaikhul Islam Ahmad bin Abdulhalim bin Taimiyah sangat lengkap dan meliputi seluruh bidang ilmu yang sahih (benar), mengumpulkan ilmu-ilmu dasar (ushul atau aqidah) dan cabang-cabangnya, ilmu-ilmu naql (syariat) dan ‘aql (akal), akhlak dan adab, lahir maupun batin. Mengumpulkan antara tujuan-tujuan akhir dan sarana-sarananya, antara masalah-masalah dan dalil-dalilnya, antara hukum-hukum dan keterangan hikmah-hikmah serta rahasianya. (http://asysyariah.com/berenang-di-samudra-ilmu-ibnu-taimiyah.html)
Penguasaan Ibnu Taimiyah dalam beberapa ilmu sangat sempurna, yakni dalam tafsir, aqidah, hadits, fiqh, bahasa arab dan berbagai cabang ilmu pengetahuan Islam lainnya, hingga beliau melampaui kemampuan para ulama zamannya.
Al-‘Allamah Kamaluddin bin Az-Zamlakany (wafat th. 727 H) pernah berkata: “Apakah ia ditanya tentang suatu bidang ilmu, maka siapa pun yang mendengar atau melihat (jawabannya) akan menyangka bahwa dia seolah-olah hanya membidangi ilmu itu, orang pun akan yakin bahwa tidak ada seorangpun yang bisa menandinginya”. Para Fuqaha dari berbagai kalangan, jika duduk bersamanya pasti mereka akan mengambil pelajaran bermanfaat bagi kelengkapan madzhab-madzhab mereka yang sebelumnya belum pernah diketahui. Belum pernah terjadi, ia bisa dipatahkan hujahnya. Beliau tidak pernah berkata tentang suatu cabang ilmu, baik ilmu syariat atau ilmu lain, melainkan dari masing-masing ahli ilmu itu pasti terhenyak. Beliau mempunyai goresan tinta indah, ungkapan-ungkapan, susunan, pem- bagian kata dan penjelasannya sangat bagus dalam penyusunan buku-buku.”
Adz-Dzahabi berkata: “Dia mempunyai pengetahuan yang sempurna mengenai rijal (mata rantai sanad), Al-Jarhu wat Ta’dil, Thabaqah-Thabaqah sanad, pengetahuan ilmu-ilmu hadits antara shahih dan dhaif, hafal matan-matan hadits yang menyendiri padanya ….. Maka tidak seorangpun pada waktu itu yang bisa menyamai atau mendekati tingkatannya …..
Bagaimana kesibukan beliau di penjara? Beliau berada di penjara ini selama dua tahun tiga bulan dan beberapa hari, mengalami sakit 20 hari lebih. Selama dalam penjara beliau selalu beribadah, berdzikir, tahajjud dan membaca Al-Qur’an. Dikisahkan, dalam tiap harinya ia baca tiga juz. Selama itu pula beliau sempat menghatamkan Al-Qur’an delapan puluh atau delapan puluh satu kali.  (http://artikelassunnah.blogspot.com/2009/10/syaikh-ibnu-taimiyyah.html#.UQhu3791_j4)
Melihat keluasan dan kedalaman ilmu beliau, bayangkan (kalo bisa) ketekunan beliau dalam menuntut ilmu!
8. Ibnu Al-Qayyim (691 – 751 H)
Beliau tidak rela kehilangan waktunya karena safar (suatu perjalanan), sehingga selama safarnya beliau mengisinya dengan menulis sehingga menghasilkan karya Zaadul Ma`ad. (http://d1.islamhouse.com/data/id/ih_articles/single/id_Urgensi_Waktu_dan_Muhasabah.pdf)
Kisah di atas bisa didapati di muqodimah Zaadul Ma’ad. Zaadul Ma’ad itu 4 atau 5 jilid lho, cuma beliau tulis saat safar. Btw, kalo kita sedang safar (misalnya pulang kampung), ngapain coba, gak bisa copass lagi kan? karena ilmu kita hanya sebatas ‘fii suthuur’ (di tulisan: buku atau komputer), bukan ‘fii-shuduur’ (menetap di dalam dada).
Beliau mempelajari hadits dan sibuk dengan ilmu. Dia menguasai berbagai cabang ilmu, utamanya ilmu tafsir, ilmu hadits, ilmu ushuluddin, bahasa Arab, ushul fikih, ilmu fikih, menguasai perbedaan pendapat para ulama dan mazhab-mazhab salaf. (http://kaahil.wordpress.com/2009/06/06/biografi-ibnu-qoyim-al-jauziyah/)
Cukuplah dengan melihat karya-karya beliau yang sangat banyak (lihat disini: http://kaahil.wordpress.com/2009/06/06/biografi-ibnu-qoyim-al-jauziyah/ dan http://artikelassunnah.blogspot.com/2010/02/biografi-imam-ibnul-qoyyim-al-jauziyyah.html#.UQo_wL91_j4), sehingga kita dapat mengetahui betapa sibuknya beliau bergelut dengan ilmu.
9. Syaikh Al-Albani (1333 – 1420 H)
Syeikh al-Albani sangat cinta terhadap dunia hadits. Beliau menghabiskan waktunya di Perpustakaan adh-Dhahiriyah (Damaskus), di samping juga meminjam buku-buku dari beberapa perpustakaan khusus. Beliau betah berlama-lama dalam perpustakaan adh-Dhahiriyah yang setiap harinya mencapai 12 jam. Tidak pernah istirahat mentelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu sholat tiba. Untuk makannya, seringkali hanya sedikit makanan yang dibawanya ke perpustakaan. Hal ini dijalaninya sampai bertahun-tahun.
Karya-karya beliau amat banyak, diantaranya ada yang sudah dicetak, ada yang masih berupa manuskrip dan ada yang mafqud (hilang), semua berjumlah 218 judul.
Di samping itu, beliau juga memiliki kaset ceramah, kaset-kaset bantahan terhadap berbagai pemikiran sesat dan kaset-kaset berisi jawaban-jawaban tentang berbagai masalah yang bermanfaat. (http://al-madina.s5.com/Kisah/Biografi_Albani.htm)
Melihat gambaran sekilas tersebut, begitu tampak bahwa beliau sangat menghargai waktu.

Dialog Penulis dengan Seorang Akhil Fadhil/Ustadz Hafidzohullohu Ta’ala
Ini merupakan kisah nyata yang pernah penulis (Abu Muhammad) alami. Berikut kisahnya, semoga bermanfaat dapat diambil ibrohnya.
26 Desember 2012, saat itu saya menjadi lebih sadar akan pentingnya menghargai waktu. Sebelumnya saya memang bertanya macam-macam dengan beliau tentang hal-hal teknis terkait kuliah di Saudi, seperti syarat-syarat applynya, TOEFL dan ‘tetek bengeknya’, biaya hidup, tiket, dll, yang memang kalo dipikir-pikir pertanyaan saya tersebut tidak perlu dan ‘bawel’, berikut jawaban dari ustadz tersebut:  (asli ‘copas’ dari email, yang huruf miring  adalah perkatan beliau)
Waktu itu kutanya apakah beliau bisa kuhubungi kalau sudah pulang ke Indonesia
“Kalau sy ada waktu luang, bisa. Sy di Indonesia, lbh sibuk dari di Saudi krn sy ngurus pesantren di desa saya.” 
Ternyata beliau tidak terlalu suka dipanggil mas oleh orang yang tidak dikenal
“Sy memang agak risih kalau tidak kenal namun sok akrab, apalagi kurang menghargai waktu saya. Afwan.”
Inilah nasihat emas beliau
“Dan sy rasa pertanyaan2 yg ditanyakan sebenarnya tidak perlu ditanyakan, sebagian sudah sy jelaskan di web sy. Jadi, itu dapat menghemat waktu saya. Mohon maaf sekali, aktifitas sy itu begitu padat. Setiap melihat email ada, sy harus balas. Walaupun singkat2. Karena bukan email antum sj yg saya jawab, puluhan email setiap hari harus sy reply. Namun kalau kesannya dari awal sdh membuat sy risih. Jadinya sy kurang suka untuk meladeni selanjutnya.  Jadi yg sy minta, mohon yg urgent2 sj yg ditanyakan. Adapun tanya TOEFL di mana? Diterima atau tidak? Ini pertanyaan teknis, yg banyak orang sudah tidak perlu menannyakannya lagi.”
Kalo terkesan agak ketus ya wajar, lha wong saya sudah membuat beliau risih duluan (lihat baris kedua dari bawah)
Selanjutnya saya sadar akan betapa sibuknya beliau hafidzohullohu ta’ala. berkut ini kesibukannya:
1. Mengasuh 5 situs islami, penulis amati, beliau hampir setiap hari posting (mengupload tulisan)
2. Kuliah s2 di Saudi
3. Dai dan pengajar bahasa arab dasar
4. Pekerja magang
5. Pemimpin pondok pesantren
6.  Kajian tematik bersama para ustadz mahasiswa pascasarjana di Saudi
7. Durus (kajian) harian dan / atau pekanan serta dauroh bersama para ulama di Saudi Arabia
Coba bayangkan kesibukan beliau, pantes kan kalo pertanyaan-pertanyaan tidak penting saya membuat beliau risih (bahkan waktu itu saya merasa dimarahi)
‘Ala kulli hal, saya beruntung mendapat nasihat ini, dengan nasihat ini pula saya menggunakan sebagian waktu luang untuk ngeblog. Bagaimanapun nasihat ini seperti membangunkan saya dari tidur selama ini dari menyepelekan waktu. Hal tersebut lebih dikarenakan kekurang-bergaulan saya dengan para asatidz.
Memang seharusnya kita banyak bergaul dengan orang-orang yang menghargai waktu dan berusaha menjauhi orang-orang yang menyepelekan waktu.
Abdullah bin Mas’ud berkata, “Kenalilah seseorang dengan melihat dengan siapa ia berteman, karena orang yang menemaninya adalah semisal dengannya.” (http://abiaqila.wordpress.com/2009/10/18/akibat-kata-nanti-nanti-dan-nanti/)
Alhamdulillah dan syukron kepada Akhil Fadhil / Ustadz tersebut hafidzohullohu ta’ala, semoga Alloh yang berada di atas ‘Arsy selalu melimpahkan rahmat dan taufiqnya kepada saya dan beliau.
Btw, meskipun saya tidak menyebutkan nama beliau, tapi yang biasa membaca tulisan beliau pasti tahu siapa beliau. Seandainya beliau membaca tulisan ini, saya berharap beliau mengizinkan untuk memuat email yang saya tulis di atas, karena email ini memuat faedah bagi saya dan semoga juga kepada siapa saja yang membaca tulisan ini.

Penutup 
cafe-islamicculture.blogspot.com
cafe-islamicculture.blogspot.com
Yahya bin Muhammad bin Hubairah berkata: “Waktu akan semakin berharga bila dijalankan dengan baik, dan aku melihat waktu itu sesuatu yang paling mudah untuk kita lalaikan” (Dzail Thabaqatil Hanabilah I/281)
Abdullah bin Mas’ud berkata: “Aku tidak senang melihat seseorang yang menganggur, tidak mengurus urusan dunia maupun akhirat” (Siyar A’lam An Nubala I/496)
Memanfaatkan waktu bagi seorang muslim bisa juga mengerjakan kebajikan sesegera mungkin. Dan tidak menunda-nunda kebaikan itu.
Sebagaimana nasihat Hasan Al Bashri, “Jangan lagi katakan ‘Besok, besok’ karena kamu tidak pernah tahu, kapan kamu akan kembali menemui Rabbmu” (Hilyatul Auliya’ 2/140)
Jangan biarkan umur kita pergi sementara kita belum melakukan apa-apa.
“Wahai anak Adam, sesungguhnya kamu ini tidak lain hanyalah perjalanan waktu; setiap kali waktu berlalu, berarti hilanglah sebagian dirimu” (Hasan Al Bashri, sebagaimana dinukil dalam Siyar A’lam An Nubala 1/496). (http://cafe-islamicculture.blogspot.com/2011/10/manfaatkan-waktu-ala-generasi-salaf.html)
Al-Imam asy-Syafi’i berkata: “Barangsiapa yang ingin Allah membukakan dan menerangi hatinya, hendaknya ia meninggalkan ucapan yang tidak berguna dan menjauhi kemaksiatan” (Tahdziibul Asmaa’ karya al-Imam anNawawy (1/79)
Saif al-Yamani menyatakan: “Sesungguhnya salah satu tanda bahwa Allah berpaling dari seorang hamba adalah Allah jadikan kesibukannya pada hal-hal yang tidak berguna” (Thobaqoot al-Muhadditsiin bi Asbahaan karya Abusy Syaikh al-Asbahaany (3/150). (http://www.salafy.or.id/tinggalkan-hal-yang-tidak-penting/)
Semoga Alloh selalu melimpahkan rahmat dan taufiq-Nya kepada kita semua sehingga kita bisa memanfaatkan sisa umur kita dengan amal yang bermanfaat. Semoga Sholawat dan Salam selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad berserta sahabatnya dan orang-orang yang mengikutinya hingga hari kiamat.

Abu Muhammad
Lebih baru Lebih lama