Masalah Quraish Shihab: Katup Jantung Babi, Jilbab, Syi’ah, dan Tafsir Al-Mishbah (1&2)

Masalah Quraish Shihab: Katup Jantung Babi, Jilbab, Syi’ah, dan Tafsir Al-Mishbah (1)
Quraish Shihab mantan menteri agama 70 hari zaman Presiden Soeharto ternyata selama ini menyebarkan pendapat bolehnya menggunakan katup jantung babi sebagai pengganti katup jantung manusia. Alasannya, karena tidak digunakan untuk dimakan Penyebaran pendapatnya itu ditulis dalam bukunya, apa yang dinamai Tafsir Al-Mishbah, volume tiga, halaman 16, dalam menafsiri Surat Al-Maaidah ayat 3.
Di samping itu, selama ini Quraish Shihab dikenal dengan pendapatnya yang tidak mewajibkan jilbab bagi wanita Muslimah, sehingga anak perempuannya, Najwa Shihab yang dikenal pernah sebagai salah seorang pembawa acara televise swasta di Jakarta, pernah dijadikan cover satu majalah dari kelompok yang dekat dengan liberal dengan tulisan mencolok: terhormat tanpa memakai jilbab.
Masalah katup jantung babi, insya Allah akan kita bicarakan dalam membahas Tafsir Al-Mishbah. Sebelum sampai ke sana, mari kita cermati, bagaimana kiprah Qurasih Shihab dalam hal tidak menerapkan pemakaian jilbab dalam keluarganya, dapat disimak dari tulisan tentang sosok puteri Quraish Shihab yakni Najwa Shihabberikut ini.

Pilih Tak Berjilbab
By redaksiMinggu, 18-Januari-2009, 05:41:12
WANITA kelahiran 16 september 1977 ini hidup dalam keluarga religius. Najwa yang akrab dipanggil Nana bahkan selalu menempuh studi di jalur agama. Ketika tinggal di Makasar, dia bersekolah di TK Al-Quran. Bahkan, dia pun melanjutkan ke Sekolah Dasar di Madrasah Ibtidaiyah Nurul Hidayah (1984-1990), lalu SMP Al-Ikhlas, Jeruk Purut, Jakarta Selatan, pada 1990-1993.
Pendidikan keagamaan itu juga diterapkan oleh keluarga besar Quraish Shihab, sang ayah. Nana dengan lima orang saudaranya sejak magrib harus ada di rumah. ’’Jadi berjamaah magrib, ngaji Al-Quran, lalu baca ratib Haddad bersama itu sudah menjadi ritual keluarga sampai saya SMU.”
Setelah kuliah, karena banyak kegiatan, Nana baru boleh keluar setelah magrib. Itu karena keluarganya memang sangat memprihatikan faktor pendidikan. ’’Pendekatan pendidikan di keluarga tidak pernah dengan cara-cara yang otoriter. Saya rasa itu sangat mempengaruhi, bagaimana pola didik orang tua ke anak akan mempengaruhi perilaku,” ujar mantan reporter Metro TV tersebut.
Kendati dididik dalam keluarga religius, namun soal mengenakan jilbab tak dituntut menjadi keharusan. Menurut ibu satu putra itu, kalau orang pakai jilbab itu bagus dan sangat terhormat. Tapi, kalau tak berjilbab juga tidak apa-apa. Karena memang, kata Nana, ayahnya mendidik bahwa yang lebih penting bagi wanita adalah menjadi terhormat dan menjaga kehormatan baik dalam berperilaku dan berpakaian.’’Tapi tidak pernah ada keharusan untuk berjilbab dalam keluarga saya, saya juga yakin banyak cara untuk terhormat selain dengan jilbab.” ucapnya.
Dengan cara berpakaian seperti itu, kata Nana, tak pernah ada yang komplain. Walaupun kadang Nana sering mengaku risih karena ada sejumlah orang yang mempertautkan penampilannya dengan sang ayah yang selain ahli tafsir Al Quran juga pernah menjabat sebagai Menteri Agama di era Presiden Soeharto. ’’Karena mungkin melihat ayah, memang banyak yang komplain. Kalau sudah begitu paling pas ya bercanda. Dan saya selalu bilang: ya insyaallah mudah-mudahan suatu saat. Yang pasti hatinya berjilbab kok.” Pungkas dia.
Quraish Shihab, pakar tafsir itu, bagi Nana, adalah sosok bapak yang terbuka. Jadi beliau, kata Nana, membebaskan pilihan kepada anak-anaknya untuk sekolah ke mana saja. Tidak hanya persoalan pendidikan, kebebasan juga diberikan oleh sang bapak untuk menentukan pasangan hidupnya. “Bahkan saat saya memutuskan untuk nikah muda, 20 tahun, ayah memberi kepercayaan. Bagi beliau yang penting kuliah selesai.”
Menjelang pernikahan, kata Nana, keluarga sempat ragu, tapi karena pengalaman kakak yang nikah saat usia 19 tahun akhirnya diizinkan. Tapi sebelum itu mereka sekeluarga umroh dulu. “Di sana ayah bertanya, ‘udah mantep?’ saya jawab, ‘udah’. Ya sudah diizinkan,” tutur Nana. (zul) (Radar Banten).
Untuk mengetahui lebih jelas pendapat Quraish Shihab tentang jilbab, mari kita simak ulang tulisan di nahimunkar.com tentang itu dan bantahan terhadap Quraish yang mengangagp jilbab itu khilafiyah, sebagai berikut:

Masalah Jilbab

Selain berpaham Syi’ah militan, Quraish Shihab juga berbanjar bersama-sama dengan sejumlah orang yang menempatkan berjilbab (menutup aurat) pada posisi khilafiah, sebagaimana ditulisnya dalam sebuah buku berjudul Jilbab, Pakaian Wanita Muslimah: Pandangan Ulama Masa Lalu dan Cendekiawan Kontemporer di tahun 2006.
Menurut Quraish, ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang pakaian wanita mengandung aneka interpretasi. Selain itu, ketetapan hukum tentang batas yang ditoleransi dari aurat atau badan wanita bersifat zhanniy yakni dugaan semata. Quraish juga bersikap, bahwa adanya perbedaan pendapat para pakar hukum tentang batasan aurat adalah perbedaan antara pendapat-pendapat manusia yang mereka kemukakan dalam konteks situasi zaman serta kondisi masa dan masyarakat mereka, serta pertim-bangan-pertimbangan nalar mereka, dan bukannya hukum Allah yang jelas, pasti dan tegas.
Sikap seperti itu jelas menepis Al-Qur’an. Sebab, Allah sudah secara tegas berfirman melalui surat Al-Ahzaab ayat 59:
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا(59)
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. (QS Al-Ahzab/ 33: 59).
Sedangkan berkenaan dengan batasan aurat, sudah secara tegas difirmankan melalui surat QS An Nuur ayat 31:
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا لِبُعُولَتِهِنَّ أَوْ ءَابَائِهِنَّ أَوْ ءَابَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ أَبْنَائِهِنَّ أَوْ أَبْنَاءِ بُعُولَتِهِنَّ أَوْ إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي إِخْوَانِهِنَّ أَوْ بَنِي أَخَوَاتِهِنَّ أَوْ نِسَائِهِنَّ أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُنَّ أَوِ التَّابِعِينَ أَوِ التَّابِعِينَ غَيْرِ أُولِي الْإِرْبَةِ مِنَ الرِّجَالِ أَوِ الطِّفْلِ الَّذِينَ لَمْ يَظْهَرُوا عَلَى عَوْرَاتِ النِّسَاءِ وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ(31)
Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS An-Nur/ 24: 31).
Sebab turunnya ayat ini, dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Asma’ binti Murtsid pemilik kebun kurma, sering dikunjungi wanita-wanita yang bermain-main di kebunnya tanpa berkain panjang sehingga kelihatan gelang-gelang kakinya, demikian juga dada dan sanggul-sanggul mereka. Berkatalah Asma’: langkah buruknya (pemandangan) ini. Turunlah ayat ini (S.24:31) sampai عَوْرَاتِ النِّسَاءِauratinnisa (aurat wanita) berkenaan dengan peristiwa tersebut yangmemerintahkan kepada Kaum Mu’minat untuk menutup aurat mereka. (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Muqatil yang bersumber dari Jabir bin Abdillah.)
Sebab turunnya ayat (penggalan selanjutnya QS 24: 31) ini, dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa seorang wanita membuat dua kantong perak yang diisi untaian batu-batu mutu manikam sebagai perhiasan kakinya. Apabila ia lewat di hadapan sekelompok orang-orang, ia memukul-mukulkan kakinya ke tanah sehingga dua gelang kakinya bersuara beradu . Maka turunlah kelanjutan ayat ini ( S. 24 : 31, dariوَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ“wala yadlribna bi arjulihinna” sampai akhir ayat) yangmelarang wanita menggerak-gerakan anggota tubuhnya untuk mendapatkan perhatian laki-laki. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Hadhrami). (KHQ Shaleh dkk, Asbabun Nuzul, CV Diponegoro, Bandung, cetakan 7, tt, hlm 356).

Fatwa-fatwa tentang jilbab.
Mari kita bandingkan pendapat Quraish Shihab tersebut di atas dengan fatwa-fatwa berikut ini.
1. Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Syaikh berfatwa: Bahwa wanita itu adalah aurat, diperintahkan untuk berhijab dan menutup. Dan dilarang tabarruj (membuka aurat yang diperintahkan untuk ditutupi, atau berhias dan bertingkah laku untuk dilihat lelaki) dan dilarang memperlihatkan perhiasannya, kecantikannya, dan bagian-bagian tubuh yang menimbulkan fitnah. Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Ahzab ayat 59, QS An-Nur: 31, dan QS Al-Ahzab: 33.
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu (QS Al-Ahzab/ 33: 33). (Fatawa dan surat-surat Muhammad bin Ibrahim Alu Al-Syaikh juz 2/ halaman 124).
2. Fatwa dari Qitho’il Ifta’ di Kuwait: Wajib atas perempuan muslimah sejak umur baligh untuk menutup seluruh badannya selain wajah dan dua tapak tangannya. Hal itu apabila ia keluar dari rumahnya atau adanya laki-laki bukan mahramnya, maka tidak boleh bagi perempuan muslimah menampakkan kepada lelaki ajnabi (bukan mahramnya) sebagian tubuhnya seperti: rambutnya, atau lehernya, atau hastanya (lengan/ dzira’) atau betisnya yang oleh sebagian wanita muslimah biasa terbuka pada masa kini menirukan orang bukan Islam. Apabila wanita muslimah menampakkan sebagian dari tubuhnya itu maka sungguh dia telah berbuat haram yang telah pasti haramnya.
Dalil atas wajibnya wanita menutup seluruh badannya selain wajah dan dua tapak tangan adalah nash-nash yang banyak dari Al-Qur’anul karim dan sunnah Nabi yang shahih. Di antaranya firman Allah Ta’ala dalam QS An-Nur: 31. Maksud dari firman-Nya إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا(kecuali yang (biasa) nampak daripadanya) adalah wajah dan dua tapak tangan. Sebagaimana hal itu telah ditunjukkan oleh As-Sunnah dan atsar dari sahabat.  Maksud dari firman-Nyaوَلْيَضْرِبْنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلَى جُيُوبِهِنَّ }(Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya), adalah hendaknya wanita melabuhkan kerudung yakni tutup kepalanya dimana agar menutup jaibuts tsaub yaitu bukaan leher. Oleh karena itu Allah berfirman:
يَاأَيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَنْ يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا(59)
Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang. (QS Al-Ahzab/ 33: 59).
Dan dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
يَا أَسْمَاءُ  إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لا يَصْلُحُ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى كَفِّهِ وَوَجْهِهِ (أخرجه أبو داود (4/62 ، رقم 4104) ، والبيهقى فى السنن الكبرى (7/86 ، رقم13274) . وأخرجه أيضًا : فى شعب الإيمان (6/165 ، رقم 7796) ). – ( ضعيف ) وصححه الشيخ الألبانيفي صحيح سنن أبي داود وقال في  الترغيب  والترهيب : ( حسن لغيره برقم2045)
Wahai Asma’: Sesungguhnya wanita apabila telah sampai haidh maka tidak pantas untuk dilihat daripadanya kecuali ini dan ini, dan beliau menunjuk ke telapak tangan beliau dan wajah beliau. (HR Abu Dawud, dan Al-Baihaqi, dhaif, tetapi dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud, dan dihasankan lighoirihi dalam At-Targhib wat Tarhib).
Atas dasar yang demikian itulah maka telah terjadi ijma’ ulama ummat sejak zaman Nabi, maka siapa yang menganggap bolehnya wanita muslimah di depan lelaki ajnabi (bukan mahram) membuka rambutnya atau lehernya atau semacamnya dari apa-apa yang diperintahkan untuk ditutupnya, maka sungguh telah menyelisihi Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’, dan telah menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Fatawa Qitha’il Ifta’ bil-Kuwait juz 6 halaman 223-224).
Kembali ke sikap dan pemahaman yang dihembuskan Quraish Shihab:
Anak perempuan Quraish Shihab, Najwa Syihab (penyiar televisi swasta?), dalam salah satu edisi majalah buatan kelompok yang dekat dengan liberal, menjadi gambar sampul, dengan tulisan mencolok, terhormat tanpa memakai jilbab. Dia menganggap, jilbab tidak wajib, dan dia mengaku bahwa itu mengikuti fatwa bapaknya.
Begitulah watak Quraish Shihab, terhadap urusan yang sudah jelas landasannya saja ia masih berani membantah. (haji/tede). (nahimunkar.com, Quraish Shihab, Syi’ah, dan Jilbab, 3:43 am Artikel ).
Komentar-komentar terhadap pendapat ataupun sikap Quraish Shihab pun beredar. Di antaranya sebagai berikut:

Diskusi online infoPalestina.com
UIN
muwahhid Posted on 6/3/2005 3:42:33 PM
Assalamu’alaikum wr wb.
Seperti kita ketahui ,bahwa UIN SYARIF HIDAYATULLOH ,JIL DAN YAHUDI memiliki kaitan satu sama lain.Setidaknya fakta dan data mereka telah tercium oleh beberapa intelek muslim yang mempunyai tanggung jawab dalam membersihkan akidah umat.Seperti kata Bang Ridwan Saidi,penulis buku DATA DAN FAKTA YAHUDI DI INDONESIA ,beliau berkata dalam suatu majelis,bahwa Al-Misbach,buku karangan Quraish Shihab itu artinya adalah lampu  sinagog.Sebenarnya kengawuran orang ini(quraish) sangat banyak dan  akidahnya yang tidak jelas,contoh dalam karangan bukunya Dia ada di mana-mana_.iniseperti ucapan orang-orang jahmiyyah yang mentakwilkan Al Quran seenak udelnya serta mengingkari Alloh berada di langit.  Padahal Alloh berfirman bahwa Dia beristiwaa di Arsi Nya dalam tujuh tempat di dalam kitabNya:
@Dalam surat Al A’rof
@surat Yunus
@Surat Arro’du
@Surat Al Furqon
@Surat Assajdah
@Surat Thohaa
@Surat Al Hadid
Dan Ibnu Taimiyyah juga sering mendebat para jahmiyyin dan mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang bodoh.
Itu pada masa ibnu Taimiyyah,apalagi sekarang kebodohan itu merata pada sebagian intelek yang intisab pada Islam,padahal Islam berlepas diri dari mereka disebabkan penafsiran Al Qur’an dan Assunnah sesuai hawa nafsunya bahkan di banyak tempat(radio,tv)mereka mengatakan ngga usahlah sholat tanpa adzan_’celana diatas mata kaki,atau memelihara jenggot itu kuno dan ketinggalan zaman_, ada juga yang mengatakan’Islam mengajarkan demokrasi dan kebebasan pendapat_,Islam adalah agama damai dan menolak kekerasan(maksudnya jihad),minuman keras itu hanya utk mengusir hawa dingin jadi tidak haram,ada yang menganjurkan dialog lintas agama(penyamaan agama).
Naudzubillah,sebegitu parahkah keadaan mereka,bahkan kabar terakhir yang
dikatakan bang ridwan saidi. Ketua MUI ,Umar syihab mengusir seorang ustadz
yg datang dari Arab yang menelanjangi gerakan Yahudi di Indonesia,dan kabarnya sang ustadz sudah dideportasi.
Ya Alloh inikah ketua MUI ?
Bahkan lanjut bang ridwan, Quraish syihab menurut salah seorang temannya yang dulu juga sama kuliah di al azhar mengatkan bahwa Quraish Shihab adalah seorang SYI’I (penganut syiah) Anaknya Najwa Syihab, dalam salah satu edisi majalah buatan kaum sesat, mengatakan terhormat tanpa memakai jilbab!!! dan menganggap jilbab tidak wajib.!!! (infoPalestina.com)
Apa yang disebut perkataan teman Quraish Shihab itu adalah Osman Ali Babseil yang menulis pernyataan pada Maret 1998, menjelang diangkatnya Quraish Shihab sebagai menteri agama oleh Presiden Soeharto. Beritanya sebagai berikut, sekalian disambung dengan pendapat Quraish Shihab tentang tidak wajibnya jilbab dan sanggahan dari nahimunkar.com yang diambil dari fatwa para ulama:

Benarkah Quraish Shihab penganut paham Syi’ah?
LPPI pernah mendapatkan surat pernyataan dari Osman Ali Babseil (PO Box 3458 Jedah, Saudi Arabia, dengan nomor telepon 00966-2-651 7456). Usianya kini sekitar 74 tahun, lulusan Cairo University tahun 1963.
Dengan sungguh-sungguh seraya berlepas diri dari segala dendam, iri hati, ia menyatakan:
  1. Sebagai teman dekat sewaktu mahasiswa di Mesir pada tahun 1958-1963, saya mengenal benar siapa saudara Dr. Quraish Shihab itu dan bagaimana perilakunya dalam membela aqidah Syi’ah.
  2. Dalam beberapa kali dialog dengan jelas dia menunjukkan sikap dan ucapan yang sangat membela Syi’ah dan merupakan prinsip baginya.
  3. Dilihat dari dimensi waktu memang sudah cukup lama, namun prinsip aqidah terutama bagi seorang intelektual, tidak akan mudah hilang/dihilangkan atau berubah, terutama karena keyakinannya diperoleh berdasarkan ilmu dan pengetahuan, bukan ikut-ikutan.
  4. Saya bersedia mengangkat sumpah dalam kaitan ini dan pernyataan ini saya buat secara sadar bebas dari tekanan oleh siapapun.
Pernyataan itu dibuat Osman Ali Babseil sepuluh tahun lalu (Maret 1998), namun hingga kini masih relevan, karena Quraish Shihab pun hingga kini terbukti masih menyebarluaskan doktrin Syi’ah.
Ke-Syi’ah-an Quraish Shihab juga terlihat ketika ia meluncurkan Ensiklopedi Al-Qur’an: Kajian Kosa Kata dan Tafsirnya, yang diterbitkan oleh Bayt Al-Qur’an dan Museum Istiqlal bekerjasama dengan Yayasan Bimantara (2007). Salah satu indikasinya, dalam Ensiklopedi itu terlalu gandrung menggunakan tafsir Syi’ah Al Mizankarangan Tabataba’i sebagai referensi dalam penulisan entri. Bahkan dapat dikatakan, rujukan utama Ensiklopedi ini adalah tafsir Syi’ah yang memberikan penafsiran terhadap Al-Qur’an sesuai dengan pemahaman aliran Syi’ah yang memusuhi sahabat-sahabat Nabi Muhammadshallallohu ‘alaihi wa sallam.
Contoh lain ketika ia menerbitkan buku berjudulSunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? Pada buku itu antara lain dikatakan, bahwa di antara Sunnah-Syi’ah terdapat kesamaan dalam prinsip-prinsip ajaran, sedang dalam rinciannya terdapat perbedaan. Namun persamaannya jauh lebih banyak. Ini bisa dilihat dari masalah keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan hari kemudian, ketaatan kepada Rasul dan mengikuti apa yang dinilai sah bersumber dari beliau, serta melaksanakan Rukun Islam yang lima.
Benarkah demikian?
Dalam buku Syi’ah sendiri dinyatakan: Abi Abdullah berpesan; sesungguhnya dunia dan akhirat adalah kepunyaan Imam, diberikannya kepada yang dikehendakinya dan ditolaknya bagi yang tak diingininya. Ini kekuasaan yang diberikan oleh Allah kepada Imam. Sebagaimana ditulis oleh Muhammad bin Ya’kub al-Kulaini dalam kitab Ushul Kafi, khususnya pada bab yang berjudul Bumi Seluruhnya Adalah Milik Imam.
Salah satu ulama Syi’ah lainnya, Jakfar as-Shadiq  diklaim mengatakan:
“Yang punya bumi adalah Imam, maka apabila Imam keluar kepadamu cukuplah akan menjadi cahaya (nur). Manusia tidak akan memerlukan matahari dan bulan.” (lihat Tarjumah Maqbul Ahmad, hal. 339). Tarjumah Maqbul Ahmad. (bahasa Urdu) hal. 339. Diterjemahkan secara harfiyah
Padahal, Allah subhanahu wa ta’ala mengatakan dalam Al-Qur’an, surat al-Araf:

إِنَّ الْأَرْضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَنْ يَشَاءُ

“Sesungguhnya bumi adalah kepunyaan Allah,diwariskan kepada orang yang dikehendaki-Nya”. (QS Al-A’raf: 128)
Menurut Quraish pula, secara bahasa Suni atauSunah berarti perilaku atau tindakan Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam. Sedangkan Syi’ah berarti mengikuti, maksudnya adalah menjadi pengikut Nabi Muhammadshallallohu ‘alaihi wa sallam. Karena itu, semua Sunah adalah Syi’ah, dan semua Syi’ah adalah Sunah. Karena mereka yang mengikuti perilaku Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam adalah pengikutnya Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam dan begitu juga sebaliknya.
Padahal, makna Syi’ah adalah pengikut (‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu). Quraish jelas telah memanipulasi makna Syi’ah. Kalau Sunnah dan Syi’ah tidak ada perbedaan, tentu tak perlu repot-repot mengidentifikasikan dirinya dengan nama yang berbeda.(lihat tulisan nahimunkar.com berjudul Ahmadiyah, Syi’ah dan Liberal, April 7, 2008 2:30 am).
Apakah Quraish Shihab cukup menyuntikkan faham Syi’ah lewat pendapatnya saja atau dia juga aktif di lembaga yang ditengarai menyebarkan Syi’ah? Berikut ini beritanya:

Aktif di Lembaga Iran
Kembali tentang Syi’ah di Indonesia, lebih dari itu, Iran memiliki lembaga pusat kebudayaan Republik Iran, ICC (Islamic Cultural Center), berdiri sejak 2003 di bilangan Pejaten, Jakarta Selatan. Dari ICC itulah didirikannya Iranian Corner di 12 tempat tersebut, bahkan ada orang-orang yang aktif mengajar di ICC itu. Menurut Majalah Hidayatullah yang mewawancarai pihak ICC, di antara orang-orang yang mengajar di ICC itu adalah kakak beradik: Umar Shihab (salah seorang Ketua MUI –Majelis Ulama Indonesia Pusat–?) dan Prof Quraish Shihab (mantan rector IAIN Jakarta dan Menteri Agama zaman Soeharto selama 70 hari, pengarang tafsir Al-Mishbah), Dr Jalaluddin Rakhmat, Haidar Bagir, dan O. Hashem penulis produktif yang meninggal akhir Januari 2009. Begitu juga sejumlah keturunan alawiyin atau habaib, seperti Agus Abu Bakar al-Habsyi dan Hasan Daliel al-Idrus.
Di samping itu banyak tokoh Islam Indonesia yang diundang untuk berkunjung ke Iran, kemudian ngomongnyasudah pelo, ada yang menganggap perbedaan Syi’ah dengan Sunni bukan perbedaan principal dan sebagainya. Tanpa malu-malu mereka telah menjilat Iran, padahal negeri itu adalah pembantai Ulama-ulama Sunni, bahkan penghancur masjid-masjid dan kitab-kitab rujukan Sunni.
Syi’ah di Iran yang memusnahkan Ahlis Sunnah itu di Indonesia berpenampilan seakan lemah lembut. Hingga banyak kaum ibu yang tertarik ikut ke pengajian-pengajian mereka. Bahkan Syi’ah merekrut para pemuda untuk diberi bea siswa untuk dibelajarkan ke Iran. Kini ada 300-an mahasiswa Indonesia yang dibelajarkan di Iran, disamping sudah ada 200-an yang pulang ke Indonesia dengan mengadakan pengajian ataupun mendirikan yayasan dan sebagainya. Di antaranya seperti ditulis Majalah Hidayatullah:
Sekembalinya ke tanah air, para lulusan Iran ini aktif menyebarkan faham Syi’ah dengan membuka majelis taklim, yayasan, sekolah, hingga pesantren. Di antaranya Ahmad Baraqbah yang mendirikan Pesantren al-Hadi di Pekalongan(sudah hangus dibakar massa), ada juga Husein al-Kaff yang mendirikan Yayasan Al-Jawwad di Bandung, dan masih puluhan yayasan Syi’ah lainnya yang tersebar di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.
Menurut pusat data lembaga penelitian Syi’ah di Yogyakarta, Rausyan Fikr, seperti disampaikan dalam makalah yang ditulis oleh Pengurus wilayah Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Yogyakarta, AM Safwan, pada tahun 2001, terdapat 36 yayasan Syi’ah di Indonesia dengan 43 kelompok pengajian. Sebanyak 21 yayasan/ kelompok pengajian di tingkat provinsi, dan 33 yayasan/ kelompok pengajian di tingkat kabupaten. Kota.
Tidak hanya melalui pengajian, upaya penyebaran paham Syi’ah juga gencar dilakukan melalui penerbitan buku. Menurut hasil hitungan Rausyan Fikr, hingga Februari 2001 saja, tidak kurang 373 judul buku mengenai Syi’ah telah diterbitkan oleh 59 penerbit yang ada di Indonesia. (MajalahHidayatullah, Rabi’ul Tsani 1430H/ April 2009, halaman 29). (Iran Membunuh Dua Ulama Sunni,1:16 amArtikelhttps://www.nahimunkar.com/iran-membunuh-dua-ulama-sunni/#more-325

Masalah Quraish Shihab: Katup Jantung Babi,
Jilbab, Syi’ah, dan Tafsir Al-Mishbah (2)
Majalah Al-Furqon terbitan Ma’had Al-Furqon, Sidayu, Gresik, Jawa Timur, memuat tulisan Kritik Atas Tafsir Al-Mishbah karya M. Quraish Shihab. Kritikan itu dimuat pada edisi 09 tahun ke-8, Rabi’uts Tsani 1430H/ April 2009M halaman 41-44, dengan cover berjudul Di Balik Istilah Pemikiran Islam.
Masalah Quraish Shihab menyebarkan pendapat bolehnya katup jantung babi dijadikan pengganti katup jantung manusia dikritik pula dalam majalah ini. Krikitkan selengkapnya sebagai berikut:
Kritik Atas Tafsir Al-Mishbah
Oleh Ustadz Abu Ahmad as-Salafi hafidhahullah
Telah masuk kepada kami pertanyaan dari sebagian pembaca AL-FURQON perihal buku Tafsir Al-Mishbah, Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an karya M. Quraish Shihab.
Atas kehendak Alloh telah sampai kepada kami volume yang ketiga daripada Tafsir tersebut yang berisi tafsir Surat Al-Ma’idah. Setelah kami telaah ternyata ada hal-hal yang perlu kami luruskan dan adasyubhat-syubhat yang perlu kami jelaskan.
Sebab itu, dalam pembahasan kali ini insya Alloh kami berusaha melakukan telaah kritis terhadap Volume Ketiga daripada Tafsir ini sebagai awal telaah terhadap Tafsir ini secara keseluruhan.
Penulis dan Penerbit Buku Ini
Buku ini ditulis oleh Prof. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA dan diterbitkan oleh Penerbit Lentera Hati Ciputat Tangerang cetakan kelima Februari 2006M/ Muharrom 1427H.
Katup Jantung Babi Pengganti Katup Jantung Manusia
Penulis berkata dalam halaman 16 pada tafsir Surat al-Ma’idah ayat 3:
Atas dasar ini pula agaknya kita dapat berkata bahwa penggunaan katup jantung babi sebagai pengganti katup jantung manusia yang sakit dapat dibenarkan, karena tidak digunakan untuk dimakan. (halaman 16).
Kami katakan:
Imam Al-Qurthubi berkata dalam Al-Jami’li Ahkamil Qur’an 2/ 222:

{ ولحم الخنزير } خص الله تعالى ذكر اللحم من الخنزير ليدل على تحريم عينه ذكي أو لم يذك

“Dan ‘daging babi’ Allah khususkan penyebutan ‘daging’ dari babi untuk menunjukkan atas keharamanzatnya dalam keadaan disembelih atau tidak disembelih.”
Beliau juga berkata di dalam Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an 2/223: “Tidak ada khilaf (beda pendapat) bahwaseluruh tubuh babi haram kecuali bulunya maka sesungguhnya boleh digunakan untuk menjahit kulit.”
Nukilan di atas menunjukkan bahwa para ulama sepakat atas haramnya seluruh tubuh babi –termasuk katup jantungnya— selain bulunya. Tentang bulu babi atau babi hutan, Imam Al-Khoththobirahimahullah berkata: “Para ulama berbeda pendapat tentang menggunakan bulu babi. Sekelompok ulama memakruhkannya. Di anara yang melarangnya adalah Ibnu Sirin, Al-Hakam, Hammad, As-Syafi’i, Ahmad, dan Ishaq. Ahmad dan Ishaq berkata: ‘Sabut lebih kami sukai’. Sedangkan Hasan, Al-Auza’i, Malik, dan Ashabur Ra’yi memberi keringanan padanya.” (Aunul Ma’bud: 9/ 273).
Masalah Tawassul
Penulis berkata dalam halaman 88 di dalam tafsir ayat 35 dari Surat Al-Maidah:
Ayat ini dijadikan oleh sementara ulama sebagai dalil yang membenarkan apa yang diistilahkan dengan tawassul –yakni mendekatkan diri kepada Allah dengan menyebut nama Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam dan para wali (orang-orang yang dekat kepadanya), yakni berdoa kepada Allah guna meraih harapan demi Nabi dan atau para wali yang dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala. Sementara orang – tulis As-Sy’rawi— mengkafirkan orang-orang yang bertawassul. Tentu saja, bila ia percaya bahwa sang wali memberinya apa yang tidak diizinkan Allah atau apa yang tidak wajar diperolehnya, maka hal ini terlarang. Tetapi, jika ia bermohon kepada Allah dengan didasari kecintaannya kepada siapa yang ia yakini lebih dekat kepada Allah daripada dirinya, maka ketika itu cintanya yang berperanan bermohon, dan dalam saat yang sama ia yakin tidak akan memperoleh dari Allah sesuatu yang tidak wajar diperolehnya. Setelah menjelaskan hal di atas, Mutawalli As-Sya’rawi, ulama Mesir kontemporer kenamaan itu, mengemukakan sebuah hadits yang juga seringkali dijadikan oleh para ulama sebagai alasan pembenaran wasilah/ tawassul. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi, dan An-Nasai bahwa Umar bin Khaththab berkata: “Pada masa Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam, jika kami kekeringan karena hujan tak turun, kami bertawassul dengan (menyebut nama) Nabi kiranya hujan turun. Setelah Nabi wafat, kami betwasassul dengan menyebut nama Al-‘Abbas paman Nabi shallallhu ‘alaihi wa sallam.
Kami katakan:
Penulis menukil perkataan Mutawalli As-Sya’rawi di atas dan tidak memberikan sanggahan terhadapnya, adalah sekurang-kurangnya ada dua poin yang menjadi catatan bagi perkataan Mutawalli As-Sya’rawi di atas:
Pertama: Definisi tawassaul menurut As-Sya’rawi adalah: “mendekatkan diri kepada Allah dengan menyebut nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para wali (orang-orang yang dekat dengan-Nya), yakni berdoa kepada Alloh guna meraih harapan demi Nabi dan atau para wali yang dicintai oleh AllohSubhanahu wa Ta’ala.” Definisi ini definisi yang sempit karena seakan-akan yang disebut tawassulhanyalah hal itu saja. Yang benar, tawassul adalah “melakukan hal-hal yang bisa mendekatkan diri kepada Allah” sebagaimana dikatakan oleh Mujahid, Abu Wail, Hasan Al-Bashri, Abdullah bin Katsir, As-Suddi, Ibnu Zaid dan lain-lain. Al-Hafidh Ibnu Katsir menukil perkataan para imam tersebut kemudian berkata: “Yang dikatakan oleh para imam di atas tidak menimbulkan beda pendapat di kalangan ahli tafsir.” (Tafsir Ibnu Katsir: 2:52-53).
Kemudian yang perlu diketahui, tidak semua tawassul dibolehkan..Tawassul ada yang disyari’atkan dan ada yang dilarang.
Tawassul yang disyari’atkan adalah tawassul sebagaimana yang diperintahkan oleh Al-Qur’an, diteladankan oleh Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dan dipraktekkan oleh para sahabat. Di antara tawassul yang disyari’atkan:
1.Tawassul dengan nama-nama Allah, sebagaimana tersebut dalam firman-Nya:

وَلِلّهِ اْلأَسْمَاءُ اْلحُسْنَى فَادْعُوْهُ بِهَا

Hanya milik Allah Asmaa-ul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaa-ul Husna itu…. (QS Al-A’raf / 7: 180).
2.Tawassul dengan sifat-sifat Allah sebagaimana do’a Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam:

« يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ ».

Wahai Dzat yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluq-Nya), dengan rahmatMu aku mohon pertolongan.” (HR At-Tirmidzi dalam Jami’nya: 5/ 539 dan dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Shohihul Jami’ : 4777).
3.Tawassul dengan amal sholih, sebagaimana tersebut dalam kitab Shohih Muslim (4/2099) sebuah riwayat mengisahkan tiga orang yang terperangkap di dalam guwa. Lalu masing-masing bertawassul dengan amal sholihnya. Orang pertama bertawassul dengan amal sholihnya berupa memelihara hak buruh. Orang kedua dengan baktinya kepada kedua orang tua. Orang yang ketiga bertawassul dengan takutnya kepada Alloh, sehingga menggagalkan perbuatan keji yang hendak ia lakukan. Akhirnya Alloh membukakan pintu guwa itu dari batu besar yang menghalanginya, hingga mereka bertiga selamat. Imam Muslim mebawakan riwayat tersebut di bawah judul: Bab Kisah Tiga Orang yang Terperangkap dalam Guwa dan Tawassul dengan Amal yang Sholih.
4.Tawassul dengan memohon do’a kepada para nabi dan orang-orang shalih yang masih hidup, sebagaimana tersebut dalam riwayat, bahwa seorang buta datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang itu berkata: “Ya Rosululloh, berdoalah kepada Alloh agar menyembuhkanku (sehingga bisa melihat kembali).” Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Jika engkau menghendaki aku akan berdoa untukmu dan jika engkau menghendaki bersabar adalah lebih baik bagimu.” Ia (tetap) berkata: “Doakanlah.” Lalu Rosululloh shallallohu ‘alaihi wa sallam menyuruhnya berwudhu secara sempurna, lalu sholat dua raka’at, selanjutnya beliau menyuruhnya berdoa dengan mengatakan:

اللَّهُمَّ إنِّي أَسْأَلُك وَأَتَوَجَّهُ إلَيْك بِنَبِيِّك مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إنِّي أَتَوَجَّهُ بِك إلَى اللَّهِ فِي حَاجَتِي هَذِهِ فَتُقْضَى لِي وَتُشَفِّعُنِي فِيهِ وَتُشَفِّعُهُ فِيَّ قَالَ فَفَعَلَ الرَّجُلُ فَبَرِئَ

“Ya Alloh seungguhnya aku memohon kepadaMu, dan aku menghadap kepadaMu dengan (perantara) NabiMu, seorang Nabi yang membawa rahmat. Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap dengan (perantara)mu kepada Tuhanku dalam hajatku ini, agar dipenuhi-Nya untukku. Ya Alloh jadikanlah ia pemberi syafa’at kepadaku, dan berilah aku syafaat (pertolongan) di dalamnya.” Ia (rowi hadits) berkata: “Laki-laki itu kemudian melakukannya sehingga ia sembuh. (HR Ahmad dalam Musnadnya: 4/ 138 dan At-Tirmidzi dalam Jami’nya, dan dia berkata: “hasan shohih ghorib”, dan dishohihkan oleh Al-Hakim dalam Mustadrok: 1/ 458, dan disetujui oleh Adz-Dzahabi dan Al-Albani dalam Shahihul Jami’: 1279).
Adapun Tawassul yang dilarang adalah tawassul yang tidak ada dasarnya dalam agama Islam, seperti: tawassul dengan orang-orang mati (sebagaimana disebutkan oleh As-Sya’rawi tadi), meminta hajat dan memohon pertolongan kepada mereka, tawassul dengan jah (kemuliaan) Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam. Contohnya, ucapan mereka: “Wahai Tuhanku, dengan kemuliaan Muhammad, sembuhkanlah aku” adalah perbuatan bid’ah. Sebab para sahabat tidak melakukan hal tersebut.
Tawassul bid’ah ini bisa menyebabkan kemusyrikan. Yaitu jika ia mempercayai bahwa Alloh membutuhkan perantara sebagaimana yang berlaku pada seorang pemimpin atau penguasa. Sebab kalau demikian, ia menyamakan Tuhan dengan makhluq-Nya. Para imam banyak yang mengingkari tawassul-tawassul bid’ah ini. Imam Abu Hanifah rahimahulloh berkata: “Tidak selayaknya bagi seorang pun berdoa kepada Alloh kecuali dengan-Nya, aku membenci jika dikatakan: ‘Dengan ikatan-ikatan kemuliaan dari arsy-Mu, atau dengan hak makhluq-Mu’.” Hal senada juga dikatakan oleh Imam Abu Yusuf. (Lihat Fatawa Hindiyyah: 5/ 280).
Kedua: Hadits tentang tawassul Umar, teksnya adalah begini:

عَنْ أَنَسٍ – رضى الله عنه أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ كَانَ إِذَا قَحَطُوا اسْتَسْقَى بِالْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ ، فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنَّا كُنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا – صلى الله عليه وسلم – فَتَسْقِينَا ، وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا . قَالَ فَيُسْقَوْنَ .

Dari Anas bahwasanya Umar bin Khoththob radhiyallahu ‘anhu jika terjadi kekeringan maka bertawassul dengan (do’a) al-Abbas bin Abdul Muththalib radhiyallahu ‘anhu. Umar berkata: “Ya Alloh, dahulu kami bertawassul dengan Nabi kami hingga Engkau menurunkan hujan kepada kami. Dan sekarang kami bertawassul dengan pamannya Nabi kami, maka turunkan hujan kepada kami!” kemudian turunlah hujan. (HR. Bukhari: 4/ 99 no. 954 dan lain-lain).
Maksud bertawassul dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan “bertawassul dengan menyebut nama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam“ sebagaimana disebutkan oleh penulis (M. Quraish Shihab) di atas atau dengan kedudukannya. Akan tetapi, maksudnya adalah bertawassul dengan do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana di dalam riwayat Mustakhraj al-Ismaili (dalam Fathul Bari: 2/495) terhadap hadits ini dengan lafazh;

” كَانُوا إِذَا قَحَطُوا عَلَى عَهْد النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اِسْتَسْقَوْا بِهِ ، فَيَسْتَسْقِي لَهُمْ فَيُسْقَوْنَ فَلَمَّا كَانَ فِي إِمَارَة عُمَر ” فَذَكَرَ الْحَدِيث .

Pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam para sahabat meminta hujan dengan perantaraan Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam jika mengalami kekeringan (kemarau panjang ), maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memintakan hujan kepada Alloh untuk mereka. Kemudian mereka diberi hujan . Pada zaman pemerintahan Umar …….. (dan menyebut hadits di atas ).
Demikian juga bertawassul dengan al – ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu juga bukan menyebut namanya atau dengan jah (kemuliaan) al – ‘Abbas melainkan dengando’anya sebagaimana dikatakannya oleh al- Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fatahul Bari 2/497 ; “ Zubair bin Bakkar dalam al- Ansab telah menjelaskan sifat do’a al-‘Abbas dalam kejadian ini.” Kemudian beliau sebutkan do’a al-Abbas pada waktu itu .
Manusia Bebas Menganut Keyakinan ?
Penulis berkata di dalam hlm .112 di bawah tafsir ayat 48 dari Surat al- Ma’idah:
Melalui tuntunan syari’at itu, kamu semua berlomba–lombalah dengan sungguh-sungguh berbuat aneka kebajikan, dan jangan menghabiskan waktu atau tenaga untuk memperdebatkan perbedaan dan perselisihan yang terjadi antara kamu dan selain kamu, karena pada akhirnya,hanya kepada Allahlah tidak kepada siapapun selainNya kembali kamu semuanya wahai manusia , lalu Dia memberi tahukan kepada kamu pemberitahuan yang jelas serta pasti apa yang kamu telah terus menerus berselisih dalam menghadapinya, apapun perselisihan itu, termasuk perselisihan menyangkut kebenaran keyakinan dan praktek–praktek agama masing–masing.
Kami katakan:
Pernyataan penulis di atas mengesankan bahwa Alloh memberikan kebebasan kepada manusia untuk berkeyakinan karena toh semuanya akan kembali kepada Alloh. Padahal tidak demikian karena ada kalimat di dalam ayat yang ditinggalkan oleh penulis yaitu وَلَكِنْ لِيَبْلُوَكُمْ فِي مَا آَتَاكُمْ (Tetapi Dia hendak menguji kalian terhadap apa yang diberikan–NYA kepada kalian). al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan: “Bahwasanya Alloh Ta’ala menjadikan sayari’at-syari’at yang bermacam–macam untuk menguji hamba–hamba–Nya pada apa yang Alloh syari’atkan atas mereka dan memberikan pahala kepada mereka atas ketaatannya kepada-Nya atau menghukum mereka atas kemaksiatan kepada-Nya .” ( Tafsir Ibnu Katsir: 2/84 )
Kemudian pada hlm . 114 penulis berkata :
Kata لَوْ lauw/sekiranya dalam firmanNYA : لَوْ شَاءَ اللَّهُ lauw sya’a Allah / sekiranya Allah menghendaki, menunjukkan bahwa hal tersebut tidak dikehendakiNya, karena kata lauw, tidak digunakan kecuali untuk mengandaikan sesuatu yang tidak mungkin terjadi, yakni mustahil . Ini berarti, Allah tidak menghendaki menjadikan manusia semua sejak dahulu hingga kini satu umat saja, yakni satu pendapat, satu kencenderungan, bahkan satu agama dalam segala prinsip dan rinciannya. Karena jika Allah swt menghendaki demikian, Dia tidak akan memberi manusia kebebasan memilah dan memilih, termasuk kebebasan memilih agama dan kepercayaan. Kebebasan memilah dan memilih itu, dimaksudkan agar manusia dapat berlomba-lomba dalam kebajikan, dan dengan demikian akan terjadi kreativitas dan peningkatan kualitas, karena hanya dengan perbedaan dan perlombaan yang sehat, kedua hal itu akan tercapai.
Kami katakan:
Alloh memerintahkan kepada hamba-hamba–Nya untuk memilih jalan yang satu yaitu yang haq, dan bukan memberi kebebasan kepada mereka untuk memilih semua jalan, Syaikh Muhammad bin Sholih al–Utsaimin berkata: “Barang siapa berkeyakinan bahwa boleh hukumnya bagi seseorang untuk menganut agama apa saja yang dia kehendaki dan bahwa dia bebas di dalam memilih agamanya; maka dia telah kafir karena Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

( وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الإِسْلامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ) [ آل عمران: 85]

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. ( QS , Ali Imron [ 3 ] :85 )
Dan firman –NYA:

إِنَّ الدِّيْنَ عِنْدَ اللهِ اْلإِسْلاَمِ

Sesungguhnya agama ( yang diridhoi ) di sisi Alloh hanya lah Islam …….( QS . Ali Imron [3] : 85 )
Oleh karena itu, tidak boleh seseorang berkeyakinan bahwa agama selain Islam adalah boleh, bagi manusia boleh beribadah melaluinya. Bahkan bila dia berkeyakinan seperti ini, maka para ulama telah secara jelas–jelas menyatakan bahwa dia telah kafir yang mengeluarkan dari agama ini (Islam) . ( lihatMajmu’ Fatawa wa Rosa’il Fadhilah asy-Syaikh Ibn Utsaimin juz 3 hlm . 99-100)
Mentakwil Sifat Mahabbah
Penulis berkata di dalam hlm. 130:
Cinta Allah kepada hamba-Nya, dipahami oleh pakar-pakar Al – Qur’an dan Sunnah dalam arti limpahan kebaikan dan anugerah-Nya.
Kami katakan:
Penulis telah melakukan penolakan (ta’ thil ) sifat mahabbah (kecintaan) bagi Alloh dan memalingkannya kepada limpahan kebaikan dan anugrah–Nya, karena yang benar sebagaimana dipahami oleh Ahlu Sunnah wal Jama’ah bahwa Alloh memiliki sifat mahabbah ( kecintaan ) sesuai dengan keagungan-Nya tidak sama dengan sifat kecintaan dari para makhluk-Nya .
Penulis Tafsir Fathul Qodir (1/333) menafsirkan mahabbah di atas dengan anugerah nikmat dan ampunan. Namun, penafsiran ini dikomentari oleh Syaikh Muhammad al- Khummais: “Ini adalah tafsir dengan lazim (keharus)nya . Yang benar adalah jalan yang ditempuh oleh salaful ummah (pendahulu umat) dengan menetapkan sifat mahabbah bagi Alloh sesuai dengan keagungan–Nya . “ (‘Adzbul Ghodir fi Bayani Takwilat fi Kitab FathulQodir halaman 8.)

Penutup

Demikianlah penjelasan atas sebagian kesalahan – kesalahan dan syubhat – syubhat buku ini yang bisa kami paparkan. Sebetulnya masih banyak hal – hal lainya belum kami bahas mengingat keterbatasan tempat. Semoga sedikit yang kami paparkan di atas bisa menjadi pelita bagi kita dari kesamaran syubhat – syubhat buku ini dan semoga Alloh selalu menunjukkan kita ke jalan – Nya yang lurus dan dijauhkan dari jalan –jalan kesesatan . Aamiin. Wallohu A’lamu bish – showab. (Majalah al-Furqon, Edisi 9 tahun kedelapan, Robbi’uts Tsani 1430/ April ’09, halaman 41-44).

Tergelincirnya Orang Alim

Setelah kita cermati, ternyata banyak masalah mengenai Islam yang ditimbulkan oleh Quraish Shihab. Kalau mengikuti Quraish Shihab, maka sikap seorang muslim kurang lebihnya bisa digambarkan:
–  Bolehkah katup jantung babi untuk manusia? Boleh karena tidak digunakan untuk dimakan.
–  Wajibkah Muslimah pakai jilbab? Tidak.
–  Bolehkah ikut atau bahkan aktif di aliran sangat sesat bernama Syi’ah? Boleh.
–  Bolehkah manusia menganut keyakinan apapun? Boleh
nBolehkah menolak sebagian sifat Allah? Boleh
Bagaimana jadinya, kalau yang seharusnya tidak boleh –seperti katup jantung babi– malah dikatakan boleh. Sebaliknya, yang seharusnya wajib –seperti jilbab bagi Muslimah— malah jadi tidak wajib. Kalau sudah seperti itu, maka apa bedanya dengan kaum sepilis (sekulerisme, pluralisme agama, dan liberalisme) yang dinyatakan sesat dan haram oleh Munas MUI (Majelis Ulama Indonesia) tahun 2005?
Imam Ibnu Taimiyah memperingatkan:

قَالَ ابْنُ مُجَاهِدٍ وَالْحَكَمُ بْنُ عُتَيْبَةَ وَمَالِكٌ وَغَيْرُهُمْ : لَيْسَ أَحَدٌ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ إلَّا يُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ إلَّا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ سُلَيْمَانُ التَّيْمِيُّ إنْ أَخَذْت بِرُخْصَةِ كُلِّ عَالِمٍ اجْتَمَعَ فِيك الشَّرُّ كُلُّهُ قَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ هَذَا إجْمَاعٌ لَا أَعْلَمُ فِيهِ خِلَافًا

Telah berkata Ibnu Mujahid, Al-Hakam bin ‘Utaibah, Malik dan lainnya: Tidak ada seorang pun dari makhluq Allah kecuali (ada yang) diambil dari perkataannya dan (ada yang) ditinggalkan kecuali (perkataan) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dan telah berkata Sulaiman At-Taimi, apabila kamu memegangi rukhshoh (keringanan) setiap orang alim (ulama) maka terkumpullah padamu seluruh keburukan. Ibnu Abdil Barr berkata, ini adalah ijma’ (kesepakatan) tidak ada di dalamnya suatu perbedaan (pendapat).
Selanjutnya Ibnu Taimiyah mengutip perkataan sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَقَالَ زِيَادُ بْنُ حُدَيْرٍ : قَالَ عُمَرُ : ثَلَاثٌ يَهْدِمْنَ الدِّينَ زَلَّةُ الْعَالِمِ وَجِدَالُ الْمُنَافِقِ بِالْقُرْآنِ وَأَئِمَّةٌ مُضِلُّونَ .

Ziyad bin Hudair berkata, Umar telah berkata: Tiga perkara yang merusak agama adalah tergelincirnya orang alim (ulama), bantahan orang munafiq dengan Al-Qur’an, dan pemimpin-pemimpin (imam-imam) yang menyesatkan.

وَقَالَ الْحَسَنُ : قَالَ أَبُو الدَّرْدَاءِ : إنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ زَلَّةَ الْعَالِمِ وَجِدَالَ الْمُنَافِقِ بِالْقُرْآنِ,…) الفتاوى الكبرى – (ج 9 / ص 108)(

Al-Hasan berkata, telah berkata Abu Darda’: “Sesungguhnya di antara hal yang aku khawatirkan atas kamu sekalian adalah tergelincirnya orang alim (ulama), dan bantahan orang munafiq dengan Al-Qur’an… (Ibnu Taimiyyah, al-Fatawa Al-Kubro, juz 9 halaman 108).
Dalam hal ini Ibnu Taimiyyah menegaskan:

وَلِهَذَا قِيلَ : احْذَرُوا زَلَّةَ الْعَالِمِ فَإِنَّهُ إذَا زَلَّ زَلَّ بِزَلَّتِهِ عَالَمٌ . مجموع فتاوى ابن تيمية – (ج 4 / ص 296)

Oleh karena itu dikatakan: Awas hati-hati (hindarilah) tergelincirnya orang alim (ulama), karena sesungguhnya ketika ia tergelincir maka tergelincirlah dunia karena tergelincirnya (ulama itu). (Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, juz 4 halaman 296). (haji). (Selesai, alhamdulillah).
Sumber: (nahimunkar.com)
Lebih baru Lebih lama