Materi Ceramah Memperingati NUZULUL QUR'AN

Materi Ceramah Memperingati NUZULUL QUR'AN

Oleh: Drs. Hamzah  Johan

A. MEKKAH SEBELUM NABI SAW DIUTUS

1. Moral :

Ja'far bin Abi Thalaib menggambarkan moral Bangsa Quraisy di masa jahiliyah di hadapan raja Najasyi: "Wahai raja, ketika kami hidup di zaman jahiliyah kami menyembah patung, senantiasa makan bangkai, senang pada barang keji, kami putuskan tali kekeluargaan dan hubungan baik dengan tetangga dan kami selalu memusuhi orang yang lemah".
Jadi mereka terbiasa dengan moral yang buruk sperti berjudi, minum khamar, pelacuran, perampasan harta atau hak-hak orang lain serta membunuh.

2. Aqidah:

Mereka kebanyakan sebagai penyembah berhala, hal itu disebabkan 2 hal :
Telah lama rasul tidak diutus oleh Allah, sehingga tidak ada yang memberi peringatan kepada mereka
Sangat banyak sekali penganjur menyembah berhala Hal ini sesuai firman Allah

لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ ءَابَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ

agar kamu memberi peringatan kepada kaum yang bapak-bapak mereka belum pernah diberi peringatan, karena itu mereka lalai. (Yaa Siin: 6)
Pada surat An-Nisa’ :117 disebutkan tentang  apa yang mereka sembah pada waktu itu :

إِنْ يَدْعُونَ مِنْ دُونِهِ إِلَّا إِنَاثًا وَإِنْ يَدْعُونَ إِلَّا شَيْطَانًا مَرِيدًا()

Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka,

Apa itu berhala ?

إِنَّمَا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْثَانًا وَتَخْلُقُونَ إِفْكًا

Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta.(Al-‘Ankabuut: 17)

  Jai jelaslah bagi kita bahwa pada masa jahiliyah atau masa sebelum Muhammad diutus, moral dan aqidah bangsa Arab pada waktu itu sudah jauh menyimpang dari ajaran Allah swt.

B. MUHAMMAD  MENJADI RASUL

Bertahannuts di Gua Hira

Melihat betapa buruknya moral dan aqidah orang-orang Arab pada waktu itu, Muhammad  sangat risau dan gelisah. Dia tidak tahu apa yang mesti diperbuat. Bertahun-tahun lamanya perasaan dan fikirannya dibebani oleh buruknya akidah dan akhlak manusia pada waktu itu, yang pada akhirnya Allah memberikan mimpi kepadanya, yang dengan mimpi itu menjadi petunjuk baginya  bertahannuts (menyendiri) ke Gua Hira, sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim

Diriwayatkan daripada Saidatina Aisyah r.a isteri Nabi s.a.w katanya: Diceritakan bahawa:
 كَانَ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّادِقَةَ فِي النَّوْم 
wahyu  yang mula-mula diterima oleh Rasulullah s.a.w  adalah dalam bentuk mimpi yang benar dalam tidur beliau. Beliau mendapati mimpi tersebut sebagaimana munculnya keheningan fajar subuh yang menyebabkan beliau suka menyepi diri. Beliau biasanya menyepi di gua Hira'.

  Setelah beberapa lama beliau bertahannust dalam gua Hira`, maka pada malam 17 Ramadhan datang malaikat jibril. Muhammad gemetar ketakutan. Disaat itu malaikat jibril berkata :   اقْرَأْ Bacalah wahai Muhammad!
Beliau menjawab   مَا أَنَا بِقَارِئٍ: Aku tidak pandai membaca.
Rasulullah s.a.w bersabda: Malaikat kemudiannya memegang aku lalu memelukku erat-erat sehinggalah aku kembali pulih dari ketakutan. Kemudian Malaikat melepasku dengan berkata: اقْرَأْ  Bacalah wahai Muhammad!
sekali lagi beliau menjawab: مَا أَنَا بِقَارِئٍ Aku tidak pandai membaca.
 Rasulullah s.a.w bersabda: Malaikat kemudiannya memegang aku buat kedua kalinya lalu memelukku erat-erat sehinggalah aku kembali pulih dari ketakutan. Malaikat seterusnya melepasku dengan berkata: اقْرَأْ Bacalah wahai Muhammad!
Beliau menjawab: مَا أَنَا بِقَارِئٍ Aku tidak pandai membaca.
 Rasulullah s.a.w bersabda: Malaikat kemudiannya memegang aku buat ketiga kalinya serta memelukku erat-erat sehinggalah aku kembali pulih dari ketakutan. Kemudian Malaikat melepaskan aku dan membaca firman Allah

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Bacalah wahai Muhammad dengan nama Tuhanmu yang menciptakan sekalian makhluk.
Dia menciptakan manusia dari segumpal darah,
Bacalah dan Tuhan mu Yang Maha Mulia
Yang mengajarkan manusia dengan kalam.
 Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahui.

 Setelah itu baginda pulang dalam keadaan ketakutan ke pangkuan Saidatina Khadijah, baginda berkata: زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي Selimutlah aku! Selimutlah aku. Lalu Saidatina Khadijah menyelimutkan baginda hingga hilang rasa gementar dari diri baginda.Itulah peristiwa penerimaan wahyu pertama yang dialami oleh Rasulullah. 

Yang menjadi fikiran kita kenapa setiap jibril menyuruh membaca, Muhammad saw selalu menjawab  مَا أَنَا بِقَارِئٍ? Hal itu dapat kita fahami; apa yang disuruh baca oleh Jibril bukan tulisan, tapi membaca masalah dunia dan akhirat, yang tersirat dalam wahyu pertama itu, paling sedikit 5 hal yang harus dibaca:
1. Membaca رَبِّكَ ; siapa  Tuhanmu ?
2. Membaca الْإِنْسَانَ  ; Tentang  Manusia. Tentang kejadiannya, tentang sifat-sifatnya, hak dan kewajibannya
3. Membaca رَبُّكَ الْأَكْرَمُ  ;bagaimana memuliakan Tuhan, bagaimana cara beribadah kepada Allah.
4. Membaca عَلَّمَ الْإِنْسَانَ  bagaimana mengajar manusia atau menda’wahi manusia.
5. Membaca مَا لَمْ يَعْلَمْ apa yang tidak diketahui manusia. Banyak yang tidak diketahui oleh manusia, apalagi tentang alam gaib, seperti surga dan neraka, alam kubur, hari kiamat, yaimul hisab, padang mahsyar. 7 lapis langit,  dsb.
Karena Muhammad saw tidak tahu semua persoalan itu, makanya dia selalu menjawab مَا أَنَا بِقَارِئٍ; Saya tidak pandai membaca.

Pada awalnya rasulullah memang tidak mengerti apa yang harus dibaca, namun setelah wahyu demi wahyu terus menerus dia terima akhirnya dia pandai membaca apa yang selama ini yang tidak diketahuinya, dia mendapat petunjuk dari Al-Qur’an, sebagaimana firman Allah:

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ(52)

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (Asy-Syuura: 52)

C. PROSES TURUNNYA AL-QUR'AN



  1. Tahapan-tahapan Turunnya Wahyu
Allah menurunkan Al-Qur‘an kepada Rasul kita Muhammad untuk memberi petunjuk kepada manusia. Turunnya Al-Qur‘an merupakan peristiwa besar yang sekaligus menyatakan kedudukannya bagi penghuni langit dan penghuni bumi. Turunnya Al-Qur‘an yang pertama kali pada malam lailatul qadar merupakan pemberitahuan kepada alam tingkat tinggi yang terdiri dari malaikat-malaikat akan kemuliaan umat Muhammad.
Wahyu Al-Qur‘an diturunkan dalam 2 bentuk, yaitu sekaligus dan bertahap. Penurunan sekaligus terjadi saat al-Qur‘an diletakkan Allah SWT ke Lauh Mahfuzh. Kemudian dari Lauh Mahfudz, Allah SWT mengirimkannya ke Baitul ‘Izzah juga dengan bentuk sekaligus. Lauh Mahfudz adalah suatu tempat catatan segala ketentuan dan kepatian Allah, sedangkan Baitul ‘izzah ini, Allah SWT menurunkan al-Qur‘an secara bertahap kepada Nabi Muhammad SAW melalui malaikat Jibril AS.
Ketiga tahapan turunnya Al-Qur‘an tersebut ditunjukan dalam Al-Qur‘an dalam beberapa ayat serta didukung oleh beberapa hadis berikut ini:
  1. Dari Allah ke lauh Mahfudz
بَلْ هُوَ قُرْآنٌ مُّجِيْدٌ(21) فِيْ لَوْحٍ  مَّحْفُوْظٍ (22)
“Bahkan yang didustakan mereka itu ialah al-Qur‘an yang muliayang (tersimpan) dalam Lauh Mahfudz”. (Q.S. Al-Buruj  ayat 21-22).
  1. Dari Lauh Mahfudz ke Baitul ‘Izzah
اِنَّآ اَنْزَلْنهُ فِيْ لَيْلَةِ اْلقَدْرِ
“Sesungguhnya kami telah menurunkannya ( Al-Qur‘an) pada malam kemuliaan”. (Q.S. Al-Qadar ayat 1).
Hadis Riwayat Ibnu ‘Abbas
اُنْزَلَ اْلقُرْأنَ جُمْلَةً وَاحِدَةً اِلىَ سَمَآءِ الدُّنْيَا وَكَانَ بِمَوَاقِعِ النُّجُوْمِ وَكَانَ اللهُ
يَنْزِيْلُهُ عَلىَ رَسُوْلِهِ بَعْضَهُ فِيْ بَعْضٍ (رَوَاهُ الْحَاكِمِ)
“Al-Qur‘an diturunkan secara sekaligus ke langit dunia, dan hal itu adalah seperti perpindahan bintang-bintang. Allah menurunkannya kepada Nabi Muhammad SAW sedikit demi sedikit “. (Al-Hakim, 1990: II 787).
  1. Dari Baitul ‘Izzah kepada Nabi Muhammad SAW
وَقُرْآنً فَرَقْنهُ لِتَقْرَأَهُ عَلىَ النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنهُ تَنْزِيْلًا
“Dan Al-Qur‘an itu telah kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kami menbacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian” (Q.S Al-Isra’ ayat 106).
D. HIKMAH TURUNNYA AL-QUR'AN
Ada beberapa hikmah dari turunnya Al-Qur‘an sekaligus ke Baitul I’zzah:
  • Menunjukkan kekuasaan Allah SWT, tidak ada satu pun makhluk yang mampu menerima Al-Qur‘an bahkan tidak mampu menggambarkan bentuk Firman Allah SWT.
  • Menunjukan keagungan al-Qur‘an, karena Allah SWT telah memberitahukannya kepada semua makhluk sebelum diterima oleh manusia. Atas dasar ini, al-Qur‘an bersifat dahulu atau awal, bukan hal yang baru.
  • Menunjukan keutamaan Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi dan Rasul penerima al-Qur‘an.
Hikmah turunnya Al-Qur ‘an secara bertahap atau berangsur-angsur.
Al-Qur ‘an diturunkan secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari atau 23 tahun, 13 tahun di Mekah dan 10 tahun di Madinah. Hikmah Al-Qur ‘an diturunkan secara berangsur-angsur adalah:
  • Menguatkan atau meneguhkan hati Rasulullah SAW
  • Tantangan dan mukjizat
  • Mempermudah hafalan dan pemahamannya
  • Kesesuaian dengan peristiwa-peristiwa dan pentahapan dalam penetapan hukum
  • Bukti yang pasti bahwa al-Qur‘anul karim diturunkan dari sisi yang maha bijaksana dan maha terpuji. 

E. CARA, WAKTU, TEMPAT DAN LATARBELAKANG TURUNNYA AL-QUR'AN

1. Cara Turunnya Wahyu Al-Qur ‘an

Nabi menerima wahyu dengan tiga cara sebagiamana disebutkan dalam surat al-Syura ayat 51, yakni melalui  wahyu, dibalik tabir, atau melalui utusan. Hanya saja, untuk wahyu al-Qur‘an, nabi Muhammad menerimanya melaui perantara malikat Jibril As. Ketika Nabi Muhammad menerima Jibril As yang berwujud sebagai manusia biasa, terjadi keterlibatan unsur jasmani Nabi SAW sehingga hal itu tidak berat baginya. Namun, ketika Jibril As muncul kedalam ruhani Nabi SAW, maka terjadi interaksi yang tidak tampak, justru cara semacam ini sangat berat bagi Nabi SAW.
2. Waktu Turunnya Al-Qur‘an
Berdasarkan ayat-ayat Al-Qur‘an yang diperkuat dengan hadis-hadis nabi SAW diatas, maka dapat dinyatakan bahwa al-Qur‘an turun dari Lauh Mahfudz ke Baitul I’zzah secara sekaligus dimalam yang penuh berkah pada bulan Ramadhan. Nabi SAW menerima wahyu pertama kali ketika melakukan kesendirian berdiam di Gua hira tepatnya pada tanggal 17 Ramadhan atau 06 Agustus 610 Masehi. Sebelum kedatangan malaikat  Jibril, Nabi Muhammad sering mendapat mimpi yang baik. Mimpi itu juga dianggap sebagai wahyu. Hanya saja, tidak ayat yang diturunkan dalam mimpi tersebut. Mimpi inilah yang mendorong Nabi SAW untuk bergegas ke Gua Hira. Boleh jadi, ini merupakan isyarat al-Qur‘an akan segera diturunkan.
3. Ayat pertama dan tempat turunnya
Pendapat yang paling shahih mengenai yang pertama kali turun ialah Q.S Al-‘Alaq ayat 1-5. Ayat Pertama ini diturunkan kepada Nabi Muhammad berada di Gua Hira untuk beribadah beberapa malam. Di Gua hira dikejutkan oleh suatu kebenaran. Seorang malaikat datang kepadanya dan mengatakan: Bacalah! Rasulullah menceritakan, maka akupun menjawab : aku tidak pandai membaca.’ Malaikat tersebut memelukku sehingga aku merasa amat payah. Lalu aku dilepaskan, dan dia berkata lagi: Bacalah!. Maka akupun menjawab aku tidak pandai membaca. Lalu dia merangkulku yang kedua kali sampai aku kepayahan. Kemudian dia lepaskan lagi dan dia berkata: Bacalah! Aku menjawab: aku tidak pandai membaca. Maka ia merangkulku yang ketiga kalinya sehingga aku kepayahan. Kemudian dia berkata : Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang telah menciptakan..’ sampai dengan ‘… apa yang tidak diketahuinya”. Sedangkan surat al-Muddatstsir ayat 1-5 merupakan ayat pertama kali turun yang menetapkan Nabi sebagai Rasul yang harus menyampaikan wahyu-wahyu Allah.
Ketika dalam perjalanan pulang dari Gua Hira, Nabi SAW kembali melihat malaikat Jibril.  Nabi Muhammad pun bergegas pulang dan meminta Khadijah untuk menyelimutinya. Dalam kondisi berselimut dalam rumahnya, Nabi SAW kembali menerima ayat 1-5 Al-Muddatstsir setelah agak tenang, Nabi SAW pergi keluar. Ketika Nabi SAW sendirian, tiba-tiba ada suara yang didengar Nabi SAW dari arah belakang. Suara itu membacakan Nabi SAW surat Al-Fatihah. Setelah itu, Nabi SAW pergi bergegas pulang kerumah. Akhirnya, Khadijah mengajak Nabi SAW kerumah Waraqah. Jadi Surat Al-Fatihah turun ketika Nabi SAW dalam perjalanan pulang dari Gua Hira.
4. Ayat yang Terakhir dan Tempat Turunnya
Banyak pendapat yang berbeda-beda kapan turunnya wahyu Al-Qur‘an yang terakhir. Namun dari beberapa pendapat mengenai ayat yang turun paling akhir, terdapat dua pendapat yang memiliki alasan yang sama kuat. Pertama, yang menyatakan bahwa ayat yang paling akhir adalah surat Al-Maidah ayat 3.
…..اَلْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِ وَرَضِيْتُ لَكُمُ اْلاِسْلاَمَ دِيْنًا ….
….Pada hari ini telah Ku-sempurnkan untukmu Agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah ku ridhoi Islam jadi Agamamu…”. (Q.S. Al-Maidah ayat 3).
Ayat ini turun di Arafah saat nabi SAW berada di atas onta dalam rangka menjalankan haji wada, tepat pada hari jum’at tanggal 9 Dzulhijjah tahun 10 Hijriyah atau 27 oktober 632 M. Jarak antara turunnya ayat ini dengan wafatnya Nabi SAW adalah 81 hari.
Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa ayat yang turun paling akhir adalah surat Al-Baqarah ayat 281.
وَاتَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللهِ ثُمَّ تُوَفَى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لاَ يُضْلَمُوْنَ
“Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah, kemudian masing-masing diri diberi balsan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan)”. (Q.S. Al-Baqarah ayat 281).
Ayat ini didukung oleh banyak para ulama. Ayat ini turun pada hari sabtu dan jangka waktu antara turunnya ayat ini dan wafatnya Nabi SAW dalah 9 hari. Sebelum wafat, Nabi SAW mengalami sakit Keras. Karenanya, ayat ini turun di Madinah saat Nabi SAW terbaring sakit. Dibanding dengan pendapat pertama, pendapat yang kedua ini lebih akhir turunnya.
5. Latar Belakang Turunnya Ayat
Latar belakang turunnya ayat diartikan sebagai “segala sesuatu yang menjadi sebab turunnya ayat atau beberapa ayat, baik  sebagai penjelasan atau jawaban dari Nabi SAW atas suatu peristiwa atau pertanyaan”. Namun tidak semua ayat Al-Qur‘an diturunkan karena timbul suatu peristiwa dan kejadian, atau karena suatu pertanyaan. Tetapi ada diantara ayat Al-Qur‘an yang diturunkan sebagai permulaan, tanpa sebab, mengenai Akidah Iman, kewajiban Islam dan Syari’at Allah dalam kehidupan pribadi dan sosial. Al-Ja’bari menyebutkan: “Al-Qur ‘an diturunkan dalam dua kategori, yang turun tanpa sebab dan yang turun karena suatu peristiwa atau pertanyaan”.
Latar belakang turunnya ayat mengandung hikmah-hikmah sebagai berikut:
  • Mengetahui berbagai hikmah yang terkandung dalam pemberlakuan suatu hukum
  • Membantu untuk memahami ayat dan menghilangkan kerumitan dalam pemahaman tersebut
  • Menjelaskan pembatasan yang terdapat dalam suatu ayat dengan melihat konteks turunnya
  • Membantu menentukan spesifikasi berlakunya suatau hukum
  • Memberikan informsi yang akurat kepad siapapun suatu ayat yang diturunkan sehinggat tidak terjadi kesalah pahaman
  • Memudahkan pemahaman dan menguatkan ingatan terhadap kandungan suatu ayat.
Latar belakang turunnya ayat tidak berlaku untuk al-Qur ‘an secara keseluruhan. Apabila dihubungkan dengan proses turunnya ayat yang mengalami tiga tahap sebagiamana disebutkan sebelumnya, maka latar belakang turunnya ayat telah diketahui dan direncanakan Allah SWT jauh sebelum peristiwa itu terjadi. Allah SWT telah membuat situasi kasus yang sesuai dengan ayat al-Qur‘an yang akan diturunkan. Hal ini dimaksudkan untuk melekatkan pesan al-Qur‘an dengan kehidupan Nabi SAW. Al-Qur‘an dan Nabi SAW tidak bisa dipisahkan. Al-Qur‘an adalah pesan yang sakral dan konseptual,sementara kehidupan Nabi SAW adalah contoh konkrit dari pesan Al-Qur‘an, sebagaimana kata Aisyah, istri Rasulullah SAW, “Perilaku Nabi SAW adalah Al-Qur ‘an”.

F. FUNGSI AL-QUR’AN

يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ()

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Yunus:57)

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (Al-Baqarah : 185)

Dari dua ayat tersebut, ada 6 fungsinya:

  1. Maw’izhoh
  2. Syifaa`
  3. Huda
  4. Rahmat
  5. Bayyinaat
  6. Furqon


G. NAMA-NAMA AL-QUR’AN

1. Al-Huda (petunjuk)
2. Adz-Dzikru (peringatan)

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُون
َ
Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (Al-Hijr:9)

3. An-Nuur (cahaya)

يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمْ بُرْهَانٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَأَنْزَلْنَا إِلَيْكُمْ نُورًا مُبِينًا(174)
Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu bukti kebenaran dari Tuhanmu, (Muhammad dengan mu`jizatnya) dan telah Kami turunkan kepadamu cahaya yang terang benderang (Al Qur'an). (An-Nisa’ :174)

4. Asy-Syifa’ (Obat penawar)

5. Al-Furqaan (pembeda antara yang hak dengan yang bathil)

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan (Al Qur'an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, (Al-Furqan:1)

6. Al-Kitaab atau Kitabullah

ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِين

Kitab (Al Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (Al-Baqarah:2)

7. Al-Mubiin
8. Al-Kariim
9. Al-Kalaam


H. DERAJAT MEMBACA AL-QUR'AN

440 حَدِيثُ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الْأُتْرُجَّةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا طَيِّبٌ وَمَثَلُ الْمُؤْمِنِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ التَّمْرَةِ لَا رِيحَ لَهَا وَطَعْمُهَا حُلْوٌ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ رِيحُهَا طَيِّبٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ وَمَثَلُ الْمُنَافِقِ الَّذِي لَا يَقْرَأُ الْقُرْآنَ كَمَثَلِ الْحَنْظَلَةِ لَيْسَ لَهَا رِيحٌ وَطَعْمُهَا مُرٌّ *

Diriwayatkan daripada Abu Musa al-Asy'ari r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Perumpamaan orang mukmin yang membaca al-Quran ialah seperti perumpamaan buah utrujah iaitu buah yang berbau harum dan rasanya enak. Manakala perumpamaan orang mukmin yang tidak membaca al-Quran ialah seperti buah kurma, tidak ada baunya akan tetapi rasanya manis. Adapun perumpamaan orang munafik yang membaca al-Quran ialah seperti buah Raihanah iaitu buah yang berbau harum tetapi rasanya pahit. Sedangkan perumpamaan orang munafik yang tidak membaca al-Quran ialah seperti buah hanzhalah (peria) iaitu buah yang tidak ada bau sama sekali dan ditambah pula oleh rasanya yang pahit *

I. DUA PERKARA BOLEH IRI

447 حَدِيثُ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُنْفِقُهُ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ *

447 Diriwayatkan daripada Ibnu Umar r.a katanya: Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Tidak boleh berhasad dengki kecuali pada dua perkara iaitu terhadap seseorang yang dianugerahkan al-Quran dan dia membacanya sepanjang siang dan malam. Juga terhadap seseorang yang dikurniakan oleh Allah harta kekayaan lalu dia membelanjakannya dengan baik pada waktu malam dan juga pada waktu siang *

J. AYAT-AYAT MUTASYABIHAT

1554 Diriwayatkan daripada Saidatina Aisyah r.a katanya: Rasulullah s.a.w membaca firman Allah

: ( هُوَ الَّذِى أَنْزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّا الَّذِينَ فِى قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيْلَهُ إِلَّا اللَّهُ وَالرَّاسِخُونَ فِى الْعِلْمِ يَقُوْلُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ )

Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Ali Imran:7). Setelah selesai Saidatina Aisyah berkata: Rasulullah s.a.w bersabda:

 إِذَا رَأَيْتُمُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُولَئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللَّهُ فَاحْذَرُوهُمْ  

Apabila kamu melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat iaitu samar-samar dari al-Quran, maka mereka itulah orang-orang yang telah disebut oleh Allah. Oleh itu berhati-hatilah terhadap mereka *

K. NABI MUHAMMAD BELUM PERNAH MEMBACA DAN MENULIS KITAB SEBELUM AL-QUR'AN

وَمَا كُنْتَ تَتْلُو مِنْ قَبْلِهِ مِنْ كِتَابٍ وَلَا تَخُطُّهُ بِيَمِينِكَ إِذًا لَارْتَابَ الْمُبْطِلُونَ(48)

Dan kamu tidak pernah membaca sebelumnya (Al Qur'an) sesuatu Kitabpun dan kamu tidak (pernah) menulis suatu kitab dengan tangan kananmu; andai kata (kamu pernah membaca dan menulis), benar-benar ragulah orang yang mengingkari (mu). (Al-Ankabut:48)


L. RINGKASAN

الحمد لله الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ لِيَكُونَ لِلْعَالَمِينَ نَذِيرًا

لِتُنْذِرَ قَوْمًا مَا أُنْذِرَ ءَابَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Bacalah wahai Muhammad dengan nama Tuhanmu yang menciptakan sekalian makhluk.
Dia menciptakan manusia dari segumpal darah,
Bacalah dan Tuhan mu Yang Maha Mulia
Yang mengajarkan manusia dengan kalam.
Dia mengajar manusia apa yang tidak diketahui.

1. Membaca رَبِّكَ ; siapa  Tuhanmu ?
2. Membaca الْإِنْسَانَ  ; Tentang  Manusia. Tentang kejadiannya, tentang sifat-sifatnya, hak dan kewajibannya
3. Membaca رَبُّكَ الْأَكْرَمُ  ;bagaimana memuliakan Tuhan, bagaimana cara beribadah kepada Allah.
4. Membaca عَلَّمَ الْإِنْسَانَ  bagaimana mengajar manusia atau menda’wahi manusia.
5. Membaca مَا لَمْ يَعْلَمْ apa yang tidak diketahui manusia. Banyak yang tidak diketahui oleh manusia, apalagi tentang alam gaib, seperti surga dan neraka, alam kubur, hari kiamat, yaimul hisab, padang mahsyar. 7 lapis langit,  dsb.

FUNGSI AL-QUR’AN

يَاأَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ(57)
(An-Nisa’ :174)

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ
(Al-Baqarah : 185)

Dari dua ayat tersebut, ada 6 fungsinya:

  1. Maw’izhoh
  2. Syifaa`
  3. Huda
  4. Rahmat
  5. Bayyinaat
  6. Furqon


Lebih baru Lebih lama