TIDAK SAH BERZAKAT TANPA MELALUI AMIL ZAKAT KECUALI DARURAT

TIDAK SAH BERZAKAT TANPA MELALUI AMIL ZAKAT KECUALI DARURAT
BY : Drs. HAMZAH JOHAN AL-BATAHANY
DESKRIPSI:
Zakat merupakan Rukun Islam yang ketiga yang wajib ditunaikan dan  wajib dikelola dengan serius oleh Amil Zakat. Amil Zakat adalah: Orang yang mendapat mandat  dari Ulil Amri untuk mengelola zakat ( merencanakan, mengumpulkan, mendistribusikan dan memberdayakan zakat). Dalam bahasa Arab terkadang petugas  zakat ini dinamakan dengan “mushaddiq” atau “jabi”.
Kedudukan Amil Zakat dalam hukum Islam dapat ditinjau dari  hukum taklifi dan hukum wadh’i. Pada hukum taklifi, Amil Zakat termasuk pada katagori wajib adanya, sedangkan pada hukum wadh’i  sebagian ulama (seperti  Wahbah Al-Zuhayly)  menetapkannya sebagai bagian dari rukun zakat. Maka dari perspektif  Ushul Fiqih; menunaian zakat tersebut SAH apabila memenuhi rukun dan syaratnya. Dan penunaian zakat tersebut TIDAK SAH apabila tidak memenuhi rukun dan syaratnya.
MENGINGAT:
1.      Firman Allah SWT:
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.“ (QS. Al- Taubah : 103).
إِنَّمَا الصَّدَقَاتُ لِلْفُقَرَاءِ وَالْمَسَاكِينِ وَالْعَامِلِينَ عَلَيْهَا وَالْمُؤَلَّفَةِ قُلُوبُهُمْ وَفِي الرِّقَابِ وَالْغَارِمِينَ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۖ فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ
Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para muallaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai    suatu ketetapan  yang  diwajibkan  Allah,  dan  Allah  Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana” (QS. Al-Taubah : 60).
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya”.(QS.An-Nisa’: 59)
2. Hadis Rasulullah SAW, antara lain:
Nabi Muhammad SAW ketika mengutus Muadz ke Yaman bersabda :  Maka beritahukan kepada mereka bahwa Allah SWT mewajibkan zakat yang diambil dari harta orang kaya  di  antara  merek da dikembalika kepad para orang-orang fakir di antara mereka “. (HR Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas)
Rasulullah SAW menugaskan seoranlaki-laki dari bani Al- Asdi yang bernama Ibnu Al-Lutbiyyah sebagai Amil zakat ddaerah bani Sulaim,   kemudian Rasulullah SAW melakukan evaluasi atatugas yang telah ia laksanakan “. (HR Bukhari dan Muslim dari Abi Humaid Al-Saaidy)
Uma RA  telah  menugaska kepadaku  untu mengurus harta zakat, maka tatkala telah selesatugasku, beliau memberiku bagian dari harta zakat tersebutaku berkata : sesungguhnya aku melakukan ini semua karena Allah SWT, semoga Allah kelak membalasnya. Beliau berkata : Ambillaapa yandiberikan sebagai bagianmu, sesungguhnya aku juga menjadamil zakat pada masa Rasulullah SAW dan beliau  memberiku  bagian  (dari harta zakat), saat  itu  aku mengatakan seperti apa yang kau katakan, maka Rasulullah SAW bersabda : Apabila engkau diberi sesuatu yang engkatidak memintanya maka ambillauntuk kau gunakan atau sedekahkan. (HR Muslim dari seorang Tabiin yang bernama Ibnu Al-Sa’di)
3. Qaidah fiqhiyyah
Sesuatu kewajiban yang hanya bisa diwujudkan dengan melakukan sesuatperkaramaka perkara tersebut hukumnya menjadi wajib “
“Tindakan pemimpin [ pemegang otoritas ] terhadap rakyat harus mengikuti kemaslahatan 
إِذَا تَزَاحَمَتِ الْمَصَالِحُ قُدِّمَ اْلأَعْلَى مِنْهَا وَإِذَا تَزَاحَمَتِ الْمَفَاسِدُ قُدِّمَ اْلأَخَفُّ مِنْهَا
Jika ada beberapa kemaslahatan bertabrakan, maka maslahat yang lebih besar (lebih tinggi) harus didahulukan. Dan jika ada beberapa mafsadah (bahaya, kerusakan) bertabrakan, maka yang dipilih adalah mafsadah yang paling ringan
الضَّرُوْرَاتُ تُبِيْحُ المحْظُوْرَات
“Keadaan darurat membolehkan suatu yang terlarang.”
MEMPERHATIKAN:
1.        Pendapat  Ibnu  Qosim  dalam  Kitab  Fathul  Qorib  (Syarah Bajuri 1/543) yang menjelaskan tentang definisi Amil sebagai berikut :
“Amil zakat adalah seseorang yang ditugaskan oleh imam (pemimpin negara) untuk mengumpulkan dan mendistribusikan harta zakat “.
2.        Pendapat Wahbah Al-Zuhayly, dalam kitab “Zakat: Kajian Berbagai Mazhab”, Bandung: Dar Al-Fikr, Damaksus, 1997. hlm. 89. Menyebutkan tentang rukun zakat :
a.  Pelepasan atau pengeluaran hak milik pada sebagaian harta yang dikenakan wajib zakat
b.  Penyerahan sebagian harta tersebut dari orang yang mempunyai harta kepada orang yang bertugas atau orang yang mengurusi zakat (amil zakat).
c.  Penyerahan amil kepada orang yang berhak menerima zakat sebagai milik.
3.         Pendapat Asy-Syaikh al-'Allamah Muhammad bin Sholeh al-'Utsaimin dalam kitabnya  Al-Ushul min 'Ilmil Ushul pada bab al-Ahkam, halaman 9-10:


Artinya:
Al-Ahkam al-wadh'iyyah adalah : "Apa-apa yang diletakkan oleh pembuat syari'at dari tanda-tanda untuk menetapkan atau menolak, melaksanakan atau membatalkan."
Dan diantaranya adalah sah (الصحيح) dan rusak(الفساد)/tidak sah-nya sesuatu.
1. Sah secara bahasa : “yang selamat dari penyakit”.
Secara istilah :"apa-apa yang pengaruh perbuatannya berakibat padanya, baik itu ibadah ataupun akad."
Maka  sah dalam  ibadah  :  apa-apa yang beban terlepas  dengannya (yakni ibadah yang sah) dan tuntutan gugur dengannya.
Dan sah dalam akad apa-apa yang pengaruh adanya akad tersebut berakibat terhadap keberadaannya, seperti pada suatu akad jual beli berakibat kepemilikan.
Dan tidaklah sesuatu itu menjadi sah kecuali dengan menyempurnakan syarat-syaratnya dan tidak ada penghalang-penghalangnya.
4.      Pendapat Syaikh Abdul Hamid Hakim dalam kitab Mabadi Awwaliyyah menerangkan:
الأحكام تسعة : الواجب والمندوب والمباح والحرام والمكروه والصحيح والباطل والرخصة والعزيمة.
فالواجب : مايثاب على فعله ويعاقب على تركه . كالصلوات الخمس وصوم رمضان.
المندوب : مايثاب على فعله ولايعاقب على تركه . كتحية المسجد.
الحرام : مايثاب على تركه ويعاقب على فعله . كالربا وفعل المفسدة
المكروه : مايثاب على تركه ولايعاقب على فعله . كتقديم اليسرى على اليمنى فى الوضوء
المباح : ما لا يثاب على فعله ولايعاقب على تركه . كالنوم فى النهار.
الصحيح : ما يجتمع فيه الركن والشرط
الباطل : ما لا يجتمع فيه الركن والشرط
الركن : ما يتوقف عليه صحة الشيء وكان جزأ منه. كغسل الوجه للوضوء وتكبيرة الاحرام للصلاة
الشرط : ما يتوقف عليه صحة الشيء وليس جزأ منه. كماء مطلق للوضوء وستر العورة للصلاة.
الرخصة : هي الحكم الذى يتغير من سعوبة الى سهولة مع قيام سبب الحكم الاصلي . كجوز الفطر للمسافر لا يجهده الصوم وأكل الميتة للمضطر
العزيمة : هي الحكم كوجوب الصلوابت الخمس وحرمة اكل الميتة لغير المضطر.
Artinya:
Al-Ahkam al-Syar`iy (hukum-hukum syariat) dibagi menjadi sembilan, yaitu: wajib, mandub, mubah, haram, makruh, sahih, bathil, rukhshah dan `azimah.
Wajib, yaitu sesuatu yang apabila dikerjakan akan diberi pahala dan ketika ditinggalkan akan disiksa. Seperti shalat lima waktu dan puasa Ramadhan.
Mandub, yaitu sesuatu yang apabila dikerjakan akan diberi pahala dan apabila ditinggalkan tidak akan disiksa. Seperti shalat tahiyat masjid.
Haram, yaitu sesuatu yang apabila ditinggalkan akan diberi pahala dan apabila dikerjakan akan disiksa. Seperti riba dan melakukan kerusakan.
Makruh, yaitu sesuatu yang diberi pahala apabila ditinggalkan, tapi tidak disiksa apabila dikerjakan. Seperti mendahulukan bagian yang kiri dalam wudhu.
Mubah, yaitu sesuatu yang apabila ditinggalkan dan dikerjakan tidak mendapat pahala dan siksa. Seperti tidur siang hari.
Shahih, yaitu sesuatu yang didalamnya mencakup rukun dan syarat.
Bathil, yaitu sesuatu yang didalamnya tidak mencakup rukun dan syarat.
Rukun adalah sesuatu yang menyebabakan sahnya sesuatu (pekerjaan) dan ia merupakan bagian (juz) dari sesuatu (pekerjaan) itu. Seperti membasuh wajah dalam berwudhu dan takbiratul ihram dalam shalat.
Syarat adalah sesuatu yang menyebabkan sahnya sesuatu (pekerjaan), namun ia bukanlah bagian (juz) dari sesuatu (pekerjaan) tersebut.
Rukhshah, yaitu perubahan hukum dari berat menjadi ringan, sedangkan sebab hukum asalnya masih tetap. Seperti diperbolehkannya membatalkan puasa bagi musafir meskipun ia tidak merasa keberatan untuk melanjutkan puasanya. Dan diperbolehkan memakan bangkai bagi orang yang terpaksa.
`Azimah, yaitu hukum seperti kewajiban shalat lima waktu dan haramnya memakan bangkai bagi yang tidak terpaksa.
5.      FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 8 Tahun 2011 Tentang AMIL ZAKAT, menetapkan, Amil zakat adalah :
a.   Seseorang atau sekelompok orang yang diangkat oleh Pemerintah   untuk   mengelola   pelaksanaan   ibadah zakat; atau
b.   Seseorang atau sekelompok orang yang dibentuk oleh masyarakat  dan disahkan  oleh  Pemerintah  untuk mengelola pelaksanaan ibadah zakat.
ANALISIS PERMASALAHAN :
Analisis permasalahan ini dimulai dengan beberapa pertanyaan, antara lain:
1.      Bagaimanakah kedudukan Amil Zakat dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits ?
2.      Siapakah yang berhak mengangkat Amil Zakat?
3.      Apakah Muzakki dapat mengangkat dirinya sendiri menjadi Amil Zakat?
4.      Manakah yang lebih besar manfaat atau  mudharatnya jika zakat didistribusikan oleh muzakki langsung kepada mustahiq tanpa melalui Amil Zakat?
5.      Apakah sah ibadah fardhu seperti zakat ditunaikan tanpa memenuhi rukun dan syaratnya ?
6.      Dalam keadaan bagaimanakah Muzakki boleh langsung memberikan zakat pada mustahiq ?
JAWABAN DAN PENJELASAN :
PERTANYAAN :
1. Bagaimanakah kedudukan Amil Zakat dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits?
JAWABANNYA:
Dalam Al-Qur’an surat At-Taubah ayat 60 begitu jelasnya Allah SWT menyebut kata “Amil” sebagai pengelola zakat. Dapat difahami bahwa secara langsung  dan tegas pada ayat ini  “Allah telah menetapkan bahwa pengelola zakat itu adalah Amil”.  Oleh karena seseorang menjabat sebagai Amil maka dia mempunyai hak untuk memiliki sebagian dari zakat tersebut.
Dalam hadits  riwayat Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas  disebutkan secara tegas bahwa Rasulullah SAW mengutus Mu’az sebagai Amil Zakat ke Yaman.  Demikian pula  disebutkan dalam hadits: Rasulullah SAW menugaskan seoranlaki-laki dari bani Al- Asdi yang bernama Ibnu Al-Lutbiyyah sebagai Amil zakat ddaerah bani Sulaim,   kemudian Rasulullah SAW melakukan evaluasi atatugas yang telah ia laksanakan “. (HR Bukhari dan Muslim dari Abi Humaid Al-Saaidy).
Pada hadits riwayat  Muslim, Abu Dawud, Nasa’i dan Ahmad;  Ibnu Al-Saa’idi bercerita  bahwa Umar bin Khaththab pernah menugaskan dirinya sebagai Amil Zakat.
Jadi jelas  dalam Al-Qur’an dan  hadits  disebutkan bahwa  petugas yang mengurus zakat  adalah  Amil Zakat.
PERTANYAAN :
2- Siapakah yang berhak mengangkat Amil Zakat?
JAWABANNYA:
Yang berhak mengangkat Amil Zakat adalah Ulil Amri (Pemerintah) sesuai dengan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah semasa beliau memimpin ummat Islam, mengangkat Mu’az menjadi Amil Zakat, begitu pula dizaman Umar bin Khaththab mengangkat Ibnu Saa’idi menjadi Amil Zakat. Dan dipertegas oleh firman Allah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ
“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.”.(QS.An-Nisa’: 59)
Demikian pula pendapat   Ibnu  Qosim  dalam  Kitab  Fathul  Qorib  (Syarah Bajuri 1/543) yang menjelaskan tentang definisi Amil sebagai berikut :
“Amil zakat adalah seseorang yang ditugaskan oleh imam (pemimpin negara) untuk mengumpulkan dan mendistribusikan harta zakat”.
Dan FATWA MAJELIS ULAMA INDONESIA Nomor: 8 Tahun 2011 Tentang AMIL ZAKAT, menetapkan, Amil zakat adalah :
a.   Seseorang atau sekelompok orang yang diangkat oleh Pemerintah   untuk   mengelola   pelaksanaan   ibadah zakat; atau
b.   Seseorang atau sekelompok orang yang dibentuk oleh masyarakat  dan disahkan  oleh  Pemerintah  untuk mengelola pelaksanaan ibadah zakat.
PERTANYAAN :
3- Apakah Muzakki dapat mengangkat dirinya sendiri menjadi Amil Zakat?
JAWABANNYA:
Muzakki tidak dapat mengangkat dirinya sendiri menjadi Amil Zakat, karena pengangkatan itu adalah kewenangan Ulil Amri.
PERTANYAAN :
 4- Manakah yang lebih besar manfaat atau  mudharatnya jika zakat didistribusikan oleh muzakki langsung kepada mustahiq tanpa melalui Amil Zakat?
JAWABANNYA:
Kemudharatannya lebih besar dari kemaslahatannya karena :
1.      Mengabaikan syari’at Islam yang mengajarkan pendistribusian zakat melalui Amil.
2.      Mengangkat diri sendiri jadi Amil, padahal itu kewenangan Ulil Amri.
3.      Dapat menguntungkan orang tertentu  karena faktor kedekatannya, sehingga mengabaikan hak-hak  mustahiq.
4.      Secara psikhis menumbuhkan sifat tunduk  mustahiq pada muzakki.
5.      Melanggar  Undang-undang dan Peraturan Pemerintah.
PERTANYAAN :
5- Apakah sah ibadah fardhu seperti zakat ditunaikan tanpa memenuhi rukun dan syaratnya?
JAWABANNYA:
Tidak Sah karena setiap ibadah fardhu wajib memenuhi rukun dan syaratnya sebagaimana ditegaskan oleh Syaikh Abdul Hamid Hakim dalam kitab Mabadi Awwaliyyah:
الصحيح : ما يجتمع فيه الركن والشرط
الباطل : ما لا يجتمع فيه الركن والشرط
الركن : ما يتوقف عليه صحة الشيء وكان جزأ منه. كغسل الوجه للوضوء وتكبيرة الاحرام للصلاة
الشرط : ما يتوقف عليه صحة الشيء وليس جزأ منه. كماء مطلق للوضوء وستر العورة للصلاة.
Artinya:
Shahih, yaitu sesuatu yang didalamnya mencakup rukun dan syarat.
Bathil, yaitu sesuatu yang didalamnya tidak mencakup rukun dan syarat.
Rukun adalah sesuatu yang menyebabakan sahnya sesuatu (pekerjaan) dan ia merupakan bagian (juz) dari sesuatu (pekerjaan) itu. Seperti membasuh wajah dalam berwudhu dan takbiratul ihram dalam shalat.
Syarat adalah sesuatu yang menyebabkan sahnya sesuatu (pekerjaan), namun ia bukanlah bagian (juz) dari sesuatu (pekerjaan) tersebut.
Demikian juga pendapat Asy-Syaikh al-'Allamah Muhammad bin Sholeh al-'Utsaimin dalam kitabnya  Al-Ushul min 'Ilmil Ushul pada bab al-Ahkam, halaman 10:
“Dan tidaklah sesuatu itu menjadi sah kecuali dengan menyempurnakan syarat-syaratnya dan tidak ada penghalang-penghalangnya.
Tidak memenuhi syarat-syaratnya menjadi tidak sah, apalagi tidak memenuhi rukunnya. 
Menurut Pendapat Wahbah Al-Zuhayly, dalam kitab “Zakat: Kajian Berbagai Mazhab”, Bandung: Dar Al-Fikr, Damaksus, 1997. hlm. 89 menyebutkan bahwa salah satu rukun zakat itu adanya penyerahan zakat tersebut kepada Amil untuk kemudian didistribusikan pada mustahiq.
Jadi jika Muzakki tidak menyerahkan zakatnya kepada Amil, maka muzakki tidak sah berzakat karena tidak memenuhi rukun zakat. Dan pemberian tersebut (yang dimaksud zakat oleh muzakki) hanya bersifat sedekah biasa.
PERTANYAAN :
6- Dalam keadaan bagaimanakah Muzakki boleh langsung memberikan zakat pada mustahiq?
JAWABANNYA :
Muzakki boleh langsung memberikan zakat pada mustahiq dalam keadaan darurat, seperti di suatu wilayah atau daerah yang tidak ada petugas zakat (Amil Zakat) di tempat tersebut . Maka keadaan tersebut dianggap darurat dan kedaruratan membolehkan yang dilarang. Qaidah Fiqhiyyah menyebutkan:
 الضَّرُوْرَاتُ تُبِيْحُ المحْظُوْرَات
“Keadaan darurat membolehkan suatu yang terlarang.”
Kaidah ini didasari oleh firman Allah SWT:
وَقَدْ فَصَّلَ لَكُمْ مَا حَرَّمَ عَلَيْكُمْ إِلَّا مَا اضْطُرِرْتُمْ إِلَيْهِ
Dan sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kalian apa yang Dia haramkan, kecuali yang terpaksa kalian makan.”(QS. Al-An’am 119)
فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَا إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Siapa yang dalam kondisi terpaksa (memakannya) sedangkan ia tidak menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka ia tidak berdosa. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.”(QS. Al-Baqarah 173)
Darurat menurut syara' ialah datangnya kondisi bahaya atau kesulitan yang amat berat kepada diri manusia yang membuat dia khawatir akan terjadi kerusakan atau suatu yang menyakiti jiwa, anggota tubuh, kehormatan, dan yang bertalian dengannya. Ketika itu boleh tidak mengerjakan yang di haramkan atau meninggalkan yang di wajib kan, atau menunda waktu pelaksanaannya guna menghindari kemadharatan yang di perkirakannya dapat menimpa dirinya selama tidak keluar dari syarat-syarat yang di tentukan oleh syara'. (Wahbah Zuhaili, Ushul Fiqh Al Islami, Damaskus, Darul Fikri,1996. hal.72)
Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Bassam rahimahullah mendefinisikan makna darurat sebagai uzur yang menyebabkan bolehnya melakukan suatu perkara yang terlarang.( Al-Bassam, Abdullah bin Abdurrahman. 1416 H. Taudhih al-Ahkam fi Bulugh al-Maram. Dar al-Qiblah li ats-Tsaqafah al-Islamiyah: Jeddah – KSA. Cetakan ke-1. Jilid ke-1. Halaman 80)
Dari kedua pendapat ini maka darurat tidak hanya terkait dengan makanan dan jiwa tapi secara luas setiap uzur yang menyebabkan bolehnya melakukan suatu perkara yang terlarang, seperti terlarangnya muzakki mendistribusikan zakat langsung pada mustahik tapi karena amil tidak ada maka muzakki boleh mendistribusikannya.
Hal itu senada dengan Pasal 66 Peraturan Pemerintah Nomor 14 Tahun 2014 berbunyi:
(1) Dalam hal di suatu komunitas dan wilayah tertentu belum terjangkau oleh BAZNAS dan LAZ, kegiat & Pengelolaan Zakat dapat dilakukan oleh perkumpulan   orang,   perseorangan tokoh   umat Islam (alim ulama), atau pengurus/ takmir masjid/musholla sebagai amil zakat.
(2) Kegiatan   Pengelolaan   Zakat   oleh   amil   zakat sebagaimana  dimaksud  pada  ayat (1) dilakukan dengan  memberitahukan  secara  tertulis  kepada kepala kantor urusan agama kecamatan.
KESIMPULAN :
Menetapkan 
1. “TIDAK SAH BERZAKAT TANPA MELALUI AMIL ZAKAT KECUALI DARURAT” . Melalui Amil Zakat lebih besar maslahatnya/kebaikannya dari pada kemudhoratannya. Hal itu sesuai  dengan Qaidah Fiqhiyyah:
إِذَا تَزَاحَمَتِ الْمَصَالِحُ قُدِّمَ اْلأَعْلَى مِنْهَا وَإِذَا تَزَاحَمَتِ الْمَفَاسِدُ قُدِّمَ اْلأَخَفُّ مِنْهَا
"Jika ada beberapa kemaslahatan bertabrakan, maka maslahat yang lebih besar (lebih tinggi) harus didahulukan. Dan jika ada beberapa mafsadah (bahaya, kerusakan) bertabrakan, maka yang dipilih adalah mafsadah yang paling ringan".
2. Amil Zakat yang dimaksud adalah Amil Zakat yang RESMI terdaftar di Pemerintah, seperti LAZ DSNI Amanah Kota Batam dan lain sebagainya yang memenuhi aturan yang berlaku.
3. Dalam keadaan dharuroh, tidak adanya amil zakat yang resmi di daerah/wilayah muzakki maka muzakki dapat mendistribusikan zakatnya pada mustahiq.
4. Muzakki dapat memilih Amil Zakat yang dia percayai, yang lebih amanah.
===== wallahu a’lam ======
Batam, 8 Ramadhan 1438 H/ 3 Juni 2017M
Lebih baru Lebih lama