OBAT PENGHILANG RASA SIAL ('adwa, thiyarah, haamah dan shafar)

OBAT PENGHILANG RASA SIAL ('adwa, thiyarah, haamah dan shafar)
Oleh: Drs. Hamzah Johan al-Batahany



Sebagian orang berkeyakinan ada tanda-tanda alam dan waktu yang membawa sial dalam kehidupan. Rasa Sial adalah rasa mendapat celaka disebabkan oleh sesuatu. Untuk lebih jelasnya fahami tulisan berikut ini.

A. BENTUK RASA SIAL
Rasa Sial itu ada 4 tergambar dalam hadits:

عن أَبَي هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ وَفِرَّ مِنْ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنْ الْأَسَدِ. رواه البخاري و مسلم

Artinya: " Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada 'adwa, thiyarah, haamah, Shofar dan menjauhlah dari orang yang kena penyakit kusta (lepra) sebagaimana kamu menjauh dari singa". Hadits riwayat Bukhari dan Muslim

Catatan :

'Adwa artinya: keyakinan penularan penyakit dengan sendirinya tanpa kehendak dan takdir Allah Ta'ala.
Thiyarah artinya: merasa bernasib sial karena melihat burung, binatang tertentu yang melintas, tergilas  dsb.
Haamah artinya: keyakinan jika burung hantu hinggap di atas rumah maka akan ada yang mati
Shafar artinya: keyakinan bahwa bulan Shafar adalah bulan sial dan tidak menguntungkan

Sebagian berkeyakinan bahwa bulan Shafar bulan yang ke-2 tahun Hijriah adalah bulan sial, bulan penuh bala’, sehingga banyak pernikahan dan acara bepergian serta aktivitas lainnya digagalkan, hal ini berdasarkan sebuah keyakinan bahwa tiap hari Rabu terakhir dari bulan Shafar diturunkan 320.000 bala'.

Bahkan ada yang menyebarkan hadits palsu tentang bulan Shafar, diantaranya;

من بشرني بخروج صفر بشرته بالجنة

Artinya: “Barangsiapa yang bergembira dengan keluarnya bulan Shafar maka aku akan berikan kabar gembira dengan surga”.

Ini hadits dinilai palsu oleh Al ‘Iraqi di dalam Al Fawaid Al Majmu’ah fil Ahadits Al Maudu’ah, Ash Shaghani di dalam kitab Al Maudhu’at dan Muhammad bin Khalil Ath Tharablisi di dalam kitab Al Lu’lu’ Al Marshu’.

B. OBAT PENGHILANG RASA SIAL

1. AL-IDZNIYYAH (اﻹذنيّة), bersifat izin. Meyakini bahwa semua yang terjadi di alam semesta ini adalah dengan izin dan kehendak Allah Ta’ala

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ [التغابن : 11]

Artinya: “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS. At Taghabun: 11.

2. AL-KITAABIYYAH ( الكِتَابِيّة ) , bersifat tertulis. Meyakini bahwa semua makhluk sudah ditakdirkan Allah Ta’ala dan takdirnya dituliskan di Al Lauh Al Mahfuzh.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ

Artinya: “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah”. QS. Al Hadid: 22.

Hal ini juga sudah ditegaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam;

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رضى الله عنهما قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ».

Artinya: “Abdullah bin ‘Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah telah menulis takdir seluruh makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi 50 ribu tahun”. HR. Muslim.

3. AT-TAWAKKAL

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sudah menyatakan bahwa tidak ada diantara kita melainkan terhinggap perasaan pesimis karena sesuatu atau merasa bernasib sial karena mendengar atau melihat sesuatu, maka untuk menghilangkannya dengan cara bertawakkal pada Allah, beliau bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ رضى الله عنه عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « الطِّيَرَةُ شِرْكٌ الطِّيَرَةُ شِرْكٌ ». ثَلاَثًا « وَمَا مِنَّا إِلاَّ وَلَكِنَّ اللَّهَ يُذْهِبُهُ بِالتَّوَكُّلِ ».

Artinya: “Abdullah bin Masud radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ath Thiyarah adalah kesyirikan, Ath Thiyarah adalah keyirikan,” beliau ucapkan itu tiga kali, kemudian beliau bersabda: “Dan tidak ada diantara kita melainkan (akan timbul perasaan itu), akan tetapi Allah menghilangkannya dengan bertawakkal (bersandar kepada-Nya).” HR. Abu Daud.

4. AL- FA'LU

عن أَبَي هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - يَقُولُ « لاَ طِيَرَةَ ، وَخَيْرُهَا الْفَأْلُ » . قَالُوا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ « الْكَلِمَةُ الصَّالِحَةُ يَسْمَعُهَا أَحَدُكُمْ » .

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada thiyarah, dan sebaik-baiknya perasaan itu adalah Al fa’lu”, para shahabat bertanya: “Apakah itu al fa’lu?”, beliau bersabda: “Perkataan yang baik yang didengarkan oleh salah seorang dari kalian.”(HR. Bukhari).

عَنْ أَنَسٍ - رضى الله عنه - عَنِ النَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ ، وَيُعْجِبُنِى الْفَأْلُ الصَّالِحُ ، الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ» .

Artinya: “Anas Bin Malik radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada ‘Adwa, thiyarah dan aku kagum dengan Al Fa’lu Ash Shalih, yaitu perkataan baik.” (HR. Bukhari).

عنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضى الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَأُحِبُّ الْفَأْلَ الصَّالِحَ ».

Artinya: “Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada ‘Adwa, thiyarah dan aku menyukai dengan Al Fa’lu Ash Shalih.” (HR. Muslim).

Catatan:
Al-Fa'lu itu seperti kalimat "Tidak ada kesialan dan saya yakin semua musibah tergantung izin dan takdir Allah".

5   AD-DU'A

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رضى الله عنهما قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ رَدَّتْهُ الطِّيَرَةُ مِنْ حَاجَةٍ فَقَدْ أَشْرَكَ ». قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا كَفَّارَةُ ذَلِكَ قَالَ « أَنْ يَقُولَ أَحَدُهُمْ اللَّهُمَّ لاَ خَيْرَ إِلاَّ خَيْرُكَ وَلاَ طَيْرَ إِلاَّ طَيْرُكَ وَلاَ إِلَهَ غَيْرُكَ ».

Artinya: “Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anhuma berkata: ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang dipalingkan dari keperluannya oleh perasaan bernasib sial maka sungguh dia telah berbuat syirik.” Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apa penebus perasaan itu”, beliau menjawab: “Salah seorang dari kalian mengucapakan: “Allahumma laa khaira illa khairuka wa laa thaira illa thairuka wa laa ilaaha ghairuka” (Wahai Allah, tidak ada kebaikan melainkan kebaikan-Mu, tidak ada kesialan kecuali kesialan yang engkau takdirkan dan tidak ada sembahan selain-Mu).” (HR Ahmad no. 1065).

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama