HADITS TENTANG PENDIDIKAN KARAKTER DAN AKHLAK

HADITS TENTANG PENDIDIKAN KARAKTER DAN AKHLAK

A.      Pendahuluan
Berbicara  mengenai  pendidikan,  tema  diskusi  dan  seminar  yang  marak akhir-akhir ini adalah tentang pendidikan  karakter, bukan hanya  karena terpengaruh oleh isu yang dilontarkan oleh Menteri Pendidikan  Nasional tentang  tema dalam  Peringatan  Hari  Pendidikan  Nasional  tahun  2010 ini, “Pendidikan Karakter untuk Membangun Peradaban Bangsa”,  tetapi  juga karena keprihatinan yang sama di berbagai kalangan masyarakat.
Berbagai diskusi itu diselenggarakan untuk  mencari akar  penyebab, dan selanjutnya  jika  mungkin  berusaha  menemukan jalan  keluarnya, untuk mengurangi  rasa  prihatin  itu.  Sudah barang tentu  persoalan  itu  bukan  hal ringan, bisa dijawab dengan cepat dan mudah. Persoalannya sudah sedemikian berat dan rumit. Ada berbagai variabel penyebab yang terlanjur terjadi, dan tidak bisa dihapus. Kemerosotan akhlak tersebut adalah merupakan akibat, sedangkan sebab-sebab yang mendahului sudah terjadi, dan karena itu tidak akan mungkin dihilangkan atau  ditarik kembali.[1]
Jika ingin mengurai, mengapa keadaan tersebut terjadi, kiranya perlu merenungkan peristiwa-peristiwa beberapa tahun terakhir di negeri ini.   Sejak tahun 1998 yang lalu, ketika terjadi reformasi,  sehari-hari di kampus-kampus, hingga di kota-kota kecil, dan bahkan di tingkat desa terjadi demonstrasi  yang seolah-olah  tidak  ada  henti-hentinya. Dalam setiap  demo  itu  selain  mereka membawa  poster-poster bernada protes, juga  melontarkan  teriakan-teriakan yang bernada mengolok-olok, dan  bahkan  juga  menghujat  terhadap mereka yang dianggap keliru atau salah dalam mengambil kebijakan.[2]
Maka dalam waktu yang cukup lama, muncul generasi yang pekerjaannya sehari-hari menyalahkan terhadap generasi sebelumnya. Siapapun dianggap salah, apalagi pejabat pemerintah. Dengan begitu sopan santun terhadap generasi tua, termasuk terhadap  orang  tua,  guru,  pemimpin menjadi  hilang.  Kewibawaan menjadi   tidak  ada.  Yang  terjadi  adalah menyalahkan dan menuduh. Keadaan seperti itu, maka otomatis menghilangkan tradisi yang sekian lama dipelihara, misalnya menghormat kepada orang tua, pemimpin, guru dan seterusnya.[3]
Generasi muda yang telah kehilangan figur mulai merasa bahwa dia yang paling benar dan jika dia disalahkan akan dengan mudah mengembalikan kepada mereka yang telah menuduhnya salah. Prestasi akademik yang membanggakan dirasa cukup baginya untuk menutupi  kekeliruan-kekeliruan akhlak yang diperbuat.  Sehingga  harapan  masyarakat  Indonesia untuk mewujudkan  tujuan  pendidikan  nasional  dapat  diibaratkan  seperti  telur  di ujung tanduk.
Wacana tentang pendidikan karakter yang dikenal  oleh  dunia  telah digagas oleh Dr. Thomas Lickona,  seorang profesor pendidikan dari Cortland University pada tahun 1991, namun menurut penulis, penggagas pembangunan karakter pertama kali adalah Rasulullah SAW. Pembentukan watak yang secara langsung dicontohkan Nabi Muhammad SAW  merupakan  wujud esensial dari aplikasi  karakter  yang  diinginkan  oleh  setiap  generasi.  Secara  asumtif  bahwa keteladanan yang ada pada diri Nabi menjadi acuan perilaku bagi para sahabat, tabi’in dan umatnya. Namun, sampai abad 15 sejak Islam menjadi agama yang diakui universal ajarannya, penerapan  pendidikan  karakter justru  dipelopori oleh negara-negara yang penduduknya minoritas muslim.
Namun, untuk mewujudkan generasi Qur’ani sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah bukan pekerjaan yang mudah. Ia harus diusahakan secara teratur dan berkelanjutan baik melalui pendidikan informal  seperti dalam  keluarga,  pendidikan  formal  atau  melalui  pendidikan  non  formal (masyarakat). Generasi Qur’ani tidak lahir dengan sendirinya, tetapi ia dimulai dari pembiasaan dan pendidikan dalam keluarga, misalnya  menanamkan pendidikan agama yang sesuai dengan tingkat perkembangan-nya, sebagaimana hadits Nabi: “Perintahlah anak-anakmu mengerjakan  shalat, lantaran ia sudah berumur 7 tahun, pukullah  mereka  setelah  mereka  berumur 10 tahun dan pisahkan tempat tidurmu dan tempat tidur mereka” (HR. Abu Daud).[4]
Dalam kaitan ini, maka nilai-nilai akhlak mulia hendaknya  ditanamkan sejak dini melalui pendidikan agama dan diawali dalam  lingkungan  keluarga melalui pembudayaan dan pembiasaan. Kebiasaan itu kemudian dikembangkan dan diaplikasikan dalam pergaulan hidup kemasyarakatan.  Di sini  diperlukan kepeloporan  para  pemuka  agama  serta  lembaga-lembaga keagamaan yang dapat mengambil  peran  terdepan  dalam  membina  akhlak  mulia  di  kalangan umat.[5]
B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan diangkat dalam makalah ini adalah sebagai berikut:
1.         Bagaimana pengertian pendidikan karakter?
2.         Bagaimana Hadits mengkaji tentang konsep pendidikan karakter?
C.      Pembahasan
1.         Pengertian pendidikan karakter
Istilah karakter digunakan secara khusus dalam konteks  pendidikan baru muncul pada akhir abad ke 18, terminologi karakter  mengacu pada pendekatan (approach) idealis spiritualis dalam  pendidikan yang juga dikenal dengan teori pendidikan normatif,  dimana  yang  menjadi  prioritas adalah  nilai-nilai  transenden  yang  dipercaya sebagai motivator dan dinamisator sejarah, baik bagi individu maupun bagi perubahan sosial.[6]
Doni A. Koesoema menengarai pendidikan karakter sudah dimulai dari Yunani. Dari zaman inilah dikenal konsep arête (kepahlawanan) dari bangsa Yunani, kemudian konsepsi Socrates yang mengajak manusia untuk memulai tindakan dengan “mengenali diri sendiri” dan “ilusi pemikiran akan kebenaran”. Doni A. Koesoema juga menjelaskan keseluruhan historis pendidikan  karakter  dengan  urutan:  homeros, hoseiodos, Athena, Socrates, Plato, Hellenis, Romawi, Kristiani, Modern, Foerster, dan seterusnya.[7]
Dalam kacamata Islam, secara historis pendidikan karakter merupakan misi utama para nabi. Muhammad Rasulullah sedari awal tugasnya memiliki suatu pernyataan yang unik, bahwa dirinya diutus untuk menyempurnakan karakter (akhlak). Manifesto Muhammad Rasulullah ini mengindikasikan bahwa pembentukan karakter merupakan kebutuhan utama bagi tumbuhnya cara beragama yang dapat men-ciptakan peradaban. Pada sisi lain, juga menunjukkan bahwa  masing-masing manusia telah memiliki  karakter tertentu, namun belum disempurnakan.[8]
Sebagaimana yang dikutip Ni’matulloh dalam buku Character of Education karangan Thomas Lickona, bahwa pendidikan karakter adalah pendidikan untuk “membentuk“ kepribadian  seseorang  melalui  pendidikan budi  pekerti,  yang  hasilnya  terlihat  dalam  tindakan  nyata  seseorang yaitu tingkah laku yang baik, jujur, bertanggung jawab,  menghormati  hak  orang lain, kerja keras dan sebagainya.[9]
Ada dua paradigma dasar pendidikan karakter:[10]
a.         Pertama,  paradigma  yang  memandang  pendidikan  karakter  dalam cakupan pemahaman moral yang sifatnya lebih sempit (narrow  scope  to moral  education).  Pada  paradigma  ini  disepakati  telah  adanya karakter tertentu yang tinggal diberikan kepada peserta didik.
b.        Kedua, melihat pendidikan dari sudut pandang pemahaman isu-isu moral yang lebih luas. Paradigma ini memandang pendidikan karakter sebagai sebuah pedagogi, menempatkan individu yang terlibat dalam dunia pendidikan sebagai pelaku utama dalam  pengembangan karakter. Paradigma memandang peserta didik  sebagai agen tafsir, penghayat, ekaligus pelaksana nilai melalui kebebasan yang dimilikinya.
Pendidikan karakter yang berbasis Al Qur’an dan Assunnah, gabungan antara keduanya yaitu menanamkan karakter tertentu sekaligus memberi benih agar peserta didik mampu menumbuhkan karakter  khasnya pada saat menjalani kehidupannya. Hanya  menjalani  sejumlah gagasan atau model karakter saja tidak akan membuat peserta didik  menjadi  manusia kreatif  yang  tahu  bagaimana menghadapi perubahan zaman, sebaliknya membiarkan sedari awal agar peserta didik  mengembangkan nilai pada dirinya tidak akan berhasil mengingat  peserta  didik  tidak  sedari  awal menyadari kebaikan dirinya.[11]
Melalui gabungan dua paradigma ini, pendidikan karakter  akan bisa terlihat dan berhasil bila kemudian seorang  peserta  didik tidak akan hanya memahami pendidikan nilai sebagai sebuah bentuk  pengetahuan, namun juga menjadikannya sebagai bagian dari  hidup  dan  secara  sadar  hidup berdasar pada nilai tersebut.[12]
2.         Hadits tentang konsep pendidikan karakter
Hadits nabi yang berkaitan dengan konsep pendidikan karakter adalah hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari-Muslim sebagai berikut,
قال أسامة بن زيد رضي الله عنهما سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول يُؤْتَى بِالعاَلِمِ يَومَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فَيَدُورُ بِهاَ كَماَ يَدُورُ الْحِماَرُ بِالرِّحَى فَيُطِيْفُ بِهِ أَهْلُ النَّارِ فَيَقُوْلُونَ مَا لَكَ؟ فَيَقُولُ كُنْتُ آمُرُ بِالْمَعْرُوفِ وَ لاَ آتِيْهِ وَ انْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ وَ آتِيْهِ (متفق عليه)
Artinya    : “Usamah bin Zaid ra. berkata: Saya mendengar Rasulullah saw. bersabda: Akan dihadapkan  orang  yang  berilmu  pada  hari  kiamat, lalu keluarlah semua isi perutnya, lalu ia  berputar-putar dengannya, sebagaimana himar yang ber-putar-putar mengelilingi tempat tambatannya. Lalu penghuni neraka disuruh mengelilinginya seraya bertanya: Apakah yang  menimpamu?  Dia menjawab:  Saya pernah menyuruh orang pada kebaikan, tetapi saya sendiri tidak mengerjakan-nya, dan saya  mencegah  orang  dari  kejahatan,  tetapi saya sendiri yang mengerjakannya”. (Muttafaq Alaih)[13]

Menurut tinjuan Abubakar Muhammad dalam bukunya Hadits Tarbawi, hadits ini beberapa pelajaran yang harus diperhatikan oleh  para sarjana khususnya dan orang-orang yang berilmu pada khususnya:[14]
a.         Setiap orang yang berilmu, teritama para ulama, sarjana, pembesar, guru dan dosen, termasuk para muballigh dan khotib, harus konsekuen mengamalkan ilmunya untuk kesejahteraan umat manusia.
b.        Semua  orang  berilmu  harus  menjadi  teladan  bagi  orang  lain  dalam  tutur kata dan tingkah lakunya.
c.         Orang berilmu yang tidak konsekuen dengan tutur katanya, diancam dengan siksaan yang berat dalam neraka kelak.
d.        Dalam hadits tersebut terkandung larangan kepada para pembesar, ulama, muballigh, guru dan dosen, berakhlak tercela.
Dalam hadits riwayat Bukhori-Muslim di atas menguraikan bahwa pembentukan karakter yang didasari keteladanan akan menuai kebaikan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Dengan bukti adanya siksa Allah bagi orang yang hanya memerintahkan suatu kebaikan namun ia tidak turut menjalankannya. Oleh karenanya, pengaruh keluarga sebagai tempat pendidikan pertama bagi sang anak harus berupa orang-orang yang baik pula. Beberapa pandangan dari para ilmuwan dari Barat  menyoroti  masalah  pendidikan  dikenal  adanya tiga teori:
a.         Teori Nativisme
Teori ini mengemukakan bahwa manusia yang dilahirkan telah memiliki bakat-bakat dan pembawaan baik karena berasal dari  keturunan orang tuanya, nenek moyangnya maupun karena ditakdirkan demikian, yang penganutnya antara lain: Scopenhauer  yang mengatakan bahwa manusia  itu tidak berubah-ubah, akhlak manusia tetap seumur hidup.[15]
Penganut  teori  ini  mengatakan  bahwa  lingkungan  sekitar  manusia tidak akan memberi pengaruh apa-apa dalam  per-kembangan  manusia. Jika manusia membawa potensi jahat maka dalam perkembangannya ia akan menjadi jahat dan begitu juga sebaliknya, jika manusia sejak lahir membawa potensi  baik,  maka  perkembangan  hidup  selanjutnya  akan  menjadi  baik pula.[16]
Pandangan yang dilontarkan oleh faham nativisme ini, nampaknya terlalu mutlak menggantungkan kepada pembawaan diri manusia sejak lahir, dan tidak menerima masukan apapun di luar diri manusia. Dalam perspektif pendidikan, teori ini memang bertolak belakang dari kenyataannya, bahwa kegiatan pendidikan umumnya telah berhasil membentuk, mengarahkan, dan menumbuh-kembangkan bakat yang dibawa oleh manusia sampai menuju kearah yang diharapkan (kedewasaan), baik melalui proses pendidikan formal maupun non-formal.[17]
b.        Teori Empirisme
Teori kedua ialah teori Empirisme (teori  lingkungan)  yang mengemukakan  bahwa  anak  yang  lahir  itu  laksana  kertas  yang  putih  bersih atau  semacam tabularasa (meja lilin),  di  mana  kertas  dapat ditulisi dengan tinta macam warna apa  saja.  Inilah  teori  John  Lock,  yang  agak  mirip  atau mengikuti  teori  Rasulullah  tersebut,  yaitu bahwa anak dilahirkan dalam keadaan suci bersih, tergantung  kedua  orang tuanya, yang akan mencetaknya akan jadi apa anaknya itu.[18]
Dalam perspektif pendidikan teori  ini  menganggap  bahwa  pendidik sangat memegang peranan yang sangat penting terhadap peserta didik, sebab pendidik akan menyediakan lingkungan semaksimal mungkin sesuai dengan yang  dikehendaki  oleh  peserta  didik. Lingkungan pendidikan ini kemudian disajikan dan dikondisi-kan oleh pendidik kepada peserta didik sebagai pengalaman-pengalaman dalam kehidupannya dan selanjutnya melalui pengalaman-pengalaman tersebut akan membentuk pengetahuan, sikap dan tingkah laku peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan  yang diharapkan.[19]
c.         Teori Konvergensi
Teori yang ketiga adalah teori konvergensi atau  persesuaian  di  antara dua  teori.[20]
Teori ini dipelopori oleh William Stern dari Jerman  dengan pandangan yang lebih akomodatif. Hasil sintesa tersebut mengatakan bahwa manusia lahir di dunia ini telah membawa bakat dan  sekaligus  bakat  itu tidak  akan  berfungsi  jika  tidak  dikembangkan  oleh  lingkungan sekelilingnya. Jadi, pembawaan dan lingkungan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Lingkungan mendukung, tetapi bila bakat tidak ada  maka pribadi  manusia  sulit  untuk  bisa berkembang  dan  sebaliknya, bila  bakat  itu ada tetapi lingkungan tidak mendukung juga sulit untuk berkembang.[21]
Teori  ini  mengakui  bahwa  manusia  sejak  lahir  di  dunia  ini sudah membawa bakat baik dan buruk. Oleh karena itu, jika manusia hidup dalam lingkungan yang baik, maka bakat baiknya itu akan berkembang dan begitu pula sebaliknya, jika manusia hidup dalam lingkungan yang jelek maka bakat jelek yang dibawa sejak lahir tersebut akan mudah untuk tumbuh dan berkembang. Untuk itu, pandangan dunia pendidikan menganggap bahwa manusia akan berkembang ke arah mana yang dituju sangat bergantung pada; lingkungan pendidikan yang diterimanya.[22]
Ajaran Islam yang datangnya lebih dahulu dari teori-teori tersebut sebenarnya tidak terpengaruh, sebab ajaran Islam itu berdiri terlepas daripada teori bikinan manusia. Di samping orang tua ber-kewajiban mendidik anaknya menjadi anak yang baik, juga berkewajiban si anak untuk menuntut ilmu yang bermanfaat baik bagi hidupnya di dunia maupun bagi kehidupannya di akhirat kelak, sehigga ia akan bahagia hidup di dunia dan di akherat.[23]
Dalam pandangan Islam, kira-kira teori konvergensi inilah yang hampir memiliki kesamaan. Hanya saja yang membedakan bahwa dalam Islam manusia sejak lahir telah membawa fitrah, yang tercermin dalam beragama Islam.
Hadits riwayat Bukhori-Muslim, “Tiap manusia dilahirkan membawa fitrah (potensi), kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi”, mengandung makna bahwa, manusia  lahir di dunia ini membawa fitrah, atau dalam bahasa pendidikan  sering disebut potensi atau kemampuan dasar, atau dalam istilah psikologi disebut pembawaan (hereditas). Fitrah itu akan berkembang tergantung dari bagaimana  lingkungan  itu mempengaruhi. Lingkungan itu dapat mempengaruhi  perkembangan  manusia  baik  jasmani  maupun  ruhani.
Lingkungan manusia yang paling awal dan utama dalam membentuk dan mempengaruhi perkembangan manusia sejak lahir adalah lingkungan keluarga. Anak manusia akan tumbuh dan berkembang  menjadi  manusia  yang  memiliki sifat dan karakter seperti kaum Yahudi, Nasrani atau Majusi, sangat tergantung dari didikan dalam keluarga terutama yang diberikan oleh kedua orang tua.[24]
Konsep fithrah dalam Al-Qur’ân juga bertentangan dengan  teori  yang menganggap, manusia itu sesungguhnya suci bersih.  Pendukung aliran Behaviorisme dalam psikologi memandang bahwa manusia itu ketika dilahirkan tidak mempunyai kecenderungan baik maupun jahat.  Teori seperti ini yang kemudian disebut dengan “Teori Tabula Rasa”, lingkunganlah yang memainkan peranan dalam membentuk kepribadiannya.  Menurut Skinner, “lingkungan menentukan kehidupan manusia ketika manusia ini melibatkan dirinya dengan lingkungan sekitar”, maka manusia bukan warisan yang lebih dari refleksi-refleksi.  Agama sebagaimana aspek-aspek lain dari tingkah laku manusia dapat diwujudkan ke dalam terma-terma mengenai faktor-faktor lingkungan sekitar. Kenyataan menyebutkan, bahwa anak dari seorang muslim biasanya menjadi muslim, sedangkan dari keturunan Kristen biasanya beragama Kristen. Bukti ini dicatat oleh Skinner sebagai contoh untuk menjelaskan teorinya.[25]
Tidak diragukan lagi, periode defensi yang panjang selain pada masa kanak-kanak memberikan kemungkinan orang tuanya memberi pengaruh sangat besar bagi putra-putrinya. Fakta ini menurut Abdurrahman Saleh dalm bukunya Teori-teori Pendidikan  Berdasarkan Al-Qur’ân nampaknya telah menarik perhatian Skinner berkenaan  dengan Hadits Nabi saw. yang menunjukkan bagaimana fithrah itu dipengaruhi lingkungan.[26]
Hadits Nabi: “Tidaklah seorang anak itu dilahirkan, melainkan mempunyai  fithrah  Islam. Maka orang  tuanyalah  yang  mempengaruhi menjadi Yahudi, Nashrani atau Majusi” menekankan, bahwa fithrah yang dibawa sejak lahir bagi anak itu sangat besar dipengaruhi oleh lingkungan. Fithrah itu sendiri tidak akan berkembang tanpa dipengaruhi kondisi lingkungan sekitar, yang mungkin dapat dimodifikasikan atau dapat diubah secara drastis manakala lingkungannya itu tidak memungkinkan menjadikannya lebih  baik.
Faktor-faktor eksternal bergabung dengan fithrah, sifat dasarnya bergantung kepada sejauh mana interaksi eksternal dengan fithrah itu berperan. Sebaliknya, menurut pengamat behavioris, fithrah tidak mengharuskan manusia berusaha sekeras tenaga terhadap lingkungannya. Dua orang anak yang hidup dalam kondisi sama barangkali memberi respon terhadap setiap stimulus serupa dalam cara yang berbeda-beda satu dengan yang lain.[27] Lingkungan merupakan salah satu fakor yang mem-pengaruhi perkembangan kehidupan manusia, namun bukan satu-satunya faktor. Karena di samping itu juga dalam perkembangan seorang anak sebaiknya juga memperhatikan faktor gen, makanan, teman, masyarakat, ekonomi, budaya dan sebagainya.
Mencermati hadits-hadits tersebut dapat dipahami bahwa  pendidikan, utamanya pendidikan yang diberikan kedua orang tua  terhadap anak-anaknya memiliki pengaruh yang sangat besar dalam  pengembangan  fithrah anak, karena pada dasarnya anak  memiliki  sifat dasar atau kecenderungan beragama yang  lurus yaitu  agama  tauhid, hanya saja persoalannya kemudian bagaimana kedua orang tua “khususnya” dan lembaga pendidikan/sekolah serta masyarakat  lingkungan di mana peserta didik berada memberikan pendidikan kepadanya, karena berbicara masalah pendidikan sesungguhnya  terdapat tiga titik sentral dalam arena pendidikan anak yaitu, keluarga, sekolah  dan masyarakat, yang ketiganya saling terkait terintegrasi dan tidak  mungkin dipisah-pisahkan.[28]
Orang tua sebagai figur pendidik pertama dan utama  bagi  anak-anak tentu memiliki peran yang teramat besar dalam  memeberikan dasar bagi pendidikan putra-putrinya, dan sekolah  sebagai penerus pendidikan keluarga juga punya tanggung jawab moral untuk membentuk kepribadian peserta didik menjadi manusia yang baik, sementara masyarakat di mana anak tinggal, punya andil  cukup besar di dalam turut memberikan warna dan membentuk  karakter kepribadian mereka.[29]
Jika kemudian dalam pertumbuhan dan perkembangan anak  mendapati kuman-kuman  yang  dapat  mempengaruhi  potensi  baiknya -dalam Hadits disebutkan unsur-unsur Yahudi, Nasrani dan Majusi-  maka tidakmenutup kemungkinan potensi taqwa anak akan  hilang dan berganti dengan potensi fujûr karena pembiasaan yang diterapkan oleh lingkungannya.
Menurut penulis, teori yang dikemukakan dalam Hadits merupakan penguatan dari tujuan awal Allah menciptakan manusia, yaitu sebagai khalifah di bumi. Dalam arti luas khalifah dimaksudkan bukan hanya memimpin dan bertanggung jawab pada  alam dan seisinya, namun  manusia juga memiliki kewajiban untuk bertanggung jawab pada  dirinya sendiri untuk mengasah dan mengembangkan potensi baik dengan perbuatan dan pembiasaan  yang baik pula (amal shalih).
Mengetahui fithrah sebagai potensi dan sifat dasar manusia adalah sangat penting dan besar manfaatnya, yakni:[30]
a.         Pemahaman atas fitrah  akan  memberikan  harapan  yang  optimis  akan penyelamatan dan kesuksesan dalam menata kehidupan ke arah masa depan.
b.        Pemahaman atas fitrah akan menanamkan kepercayaan  diri  melalui potensinya  sendiri  untuk  melakukan sesuatu  yang  baik  dan  benar  dan menolak yang jahat dan salah.
c.         Pemahaman atas fitrah akan memacu  dan mendorong  untuk  secara  aktif mengejar  semua  yang  baik  dan  benar  serta  menolak  segala  yang  jahat  dan keliru.
d.        Pemahaman  atas  fitrah  akan  membangkitkan  semangat  dan  daya  untuk mengembangkan  berbagai  potensi diri yang dimiliki;  potensi  kalbu (iman), potensi akal (ilmu pengetahuan) dan potensi tangan (keterampilan).
Dalam Hadits Nabi Riwayat  Bukhori  dan  Muslim  yang  telah  penulis sampaikan pada  bab  sebelumnya, bahwa  keteladanan  memiliki  andil  yang sangat besar dalam  proses pembentukan  karakter  manusia.  Setiap manusia memiliki prosentasi hak dan kewajiban yang sama sebagai subjek dan objek pendidikan karakter, tidak terkecuali.  Rasulullah sebagai sumber teladan merupakan  wujud  nyata  dari  firman Allah yang  masih  terbatas  bagi  manusia untuk menafsirkannya.
Menurut M. Quraish Shihab, keteladanan diperlukan karena tidak jarang nilai-nilai yang bersifat abstrak itu tidak dipahami, bahkan tidak terlihat keindahan dan manfaatnya oleh orang kebanyakan. Hal-hal abstrak dijelaskan dengan perumpamaan yang konkret dan indrawi.  Keteladanan, dalam  hal  ini, melebihi  dalam  perumpamaan  itu  dalam  fungsi dan peranannya. Itu pula sebabnya maka keteladanan diperlukan dan memiliki peranan yang sngat besar dalm mentransfer sifat dan karakter.[31]
Dalam kehidupan sehari-hari dapat terlihat betapa contoh/ keteladanan yang diberikan oleh mereka yang dinilai baik  atau terhormat oleh suatu kelompok, menjalar  demikian  cepat  dan  mudah di tengah masyarakat. Lebih-lebih dalam hal-hal yang bersifat material atau cara pergaulan. Warga kampus dapat menjadi teladan yang baik, apalagi kedudukan mereka  sebagai  ilmuwan mempunyai  daya  tarik  tersendiri,  karena semua ingin dinilai ilmuwan. Semua berpacu meraih gelar kesarjanaan, bahkan sebagian membelinya.
D.      Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan di atas, maka dapat kami simpulkan,
1.         Pendidikan karakter adalah penanamkan karakter tertentu sekaligus memberi benih agar peserta didik mampu menumbuhkan karakter khasnya pada saat menjalani kehidupannya. Hanya  menjalani  sejumlah gagasan atau model  karakter  saja  tidak  akan  membuat  peserta  didik  menjadi  manusia kreatif yang tahu  bagaimana menghadapi perubahan zaman, sebaliknya membiarkan sedari awal agar peserta didik  mengembangkan nilai pada dirinya tidak akan berhasil mengingat peserta didik tidak sedari awal menyadari kebaikan dirinya.
2.         Adapun konsep pendidikan karakter dalam hadits adalah sebagai berikut:
a.         Pembentukan karakter yang didasari keteladanan akan menuai kebaikan bagi dirinya sendiri dan orang lain. Oleh karenanya pengaruh keluarga sebagai tempat pendidikan  pertama  bagi  sang  anak harus  berupa  orang-orang yang baik pula.
b.        Dalam  pandangan Islam, manusia lahir  di  dunia  ini  membawa  fitrah, potensi,  kemampuan  dasar,  atau  pembawaan  (hereditas).  Fitrah itu akan berkembang tergantung dari bagaimana lingkungan itu mempengaruhi.
E.       Referensi
A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam, Malang: UIN Malang Press, 2008
Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, Jakarta: Rineka Cipta, 1994
Abubakar Muhammad, Hadits Tarbawi III, Surabaya: Karya Abditama, 1997
Bambang  Q-Anees  dan Adang  Hambali,  Pendidikan  Karakter Berbasis Al-Qur’ân, Bandung: PT. Simbiosa  Rekatama  Media, 2008
Imam  Suprayogo,  Generasi  Miskin  Tauladan, http://www.facebook.com,  diakses pada tanggal 5 Februari 2013
Juwairiyah, Hadits Tarbawi, Yogyakarta: Teras, 2010
M. Furqon Hidayatullah, Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter Kuat dan Cerdas, Surakarta: Yuma Pustaka, 2010
M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’ân, Jakarta: Lentera Hati, 2008
Mustafa, Smart Parenting: 30 Strategi Mendidik Anak, Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2007
Ni’matulloh. et.  all, Pendidikan  Karakter  Dalam  Persfektif  Pendidikan  Islam, http://nimatulloh.blogspot.com, diakses  pada tanggal 5 Februari 2013
Redja  Mudyarahardjo, dkk., Materi Pokok Dasar-dasar Kependidikan, Jakarta: Universitas Terbuka, 1995
Said  Agil  Husin  al  Munawar,  Aktualisasi  Nilai-nilai Qur‟ani dalam Sistem Pendidikan Islam, Jakarta Selatan: Ciputat Press, 2003
Said Agil Husin al Munawar, Al-Qur’ân: Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, Jakarta: Ciputat Press, 2002
Wajidi  Sayadi,  Hadis Tarbawi: Pesan-pesan  Nabi Saw. Tentang  Pendidikan,  Jakarta: Pustaka Firdaus, 2009

[1] Imam  Suprayogo,  Generasi  Miskin  Tauladan, (http://www.facebook.com,  diakses pada tanggal 5 Februari 2013)
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Said Agil Husin al Munawar, Al-Qur’ân: Membangun Tradisi Kesalehan Hakiki, (Jakarta: Ciputat Press, 2002), cetakan kedua, hlm. 353.
[5] Said  Agil  Husin  al  Munawar,  Aktualisasi  Nilai-nilai Qur‟ani dalam Sistem Pendidikan Islam, (Jakarta Selatan: Ciputat Press, 2003), hlm. 27.
[6] Ni’matulloh. et.  all, Pendidikan  Karakter  Dalam  Persfektif  Pendidikan  Islam, (http://nimatulloh.blogspot.com, diakses  pada tanggal 5 Februari 2013)
[7] Bambang  Q-Anees  dan Adang  Hambali,  Pendidikan  Karakter Berbasis Al-Qur’ân, (Bandung: PT. Simbiosa  Rekatama  Media, 2008), hlm. 100
[8] Ibid.
[9] Ni’matulloh, loc.cit.
[10] Bambang Q-Anees dan Adang Hambali, op.cit., hlm. 103.
[11] Ni’matulloh, loc.cit.
[12] Ibid.
[13] Abubakar Muhammad, Hadits Tarbawi III, (Surabaya: Karya Abditama, 1997), hlm. 70.
[14] Ibid.
[15] Mustafa, Smart Parenting: 30 Strategi Mendidik Anak, (Jakarta: Maghfirah Pustaka, 2007), hlm. 39.
[16] Redja  Mudyarahardjo, dkk., Materi Pokok Dasar-dasar Kependidikan, (Jakarta: Universitas Terbuka, 1995), hlm. 198.
[17] Ibid, hlm. 58-59.
[18] M. Furqon Hidayatullah, Guru Sejati: Membangun Insan Berkarakter Kuat dan Cerdas, (Surakarta: Yuma Pustaka, 2010), Cetakan ketiga, hlm. 100
[19] A. Fatah Yasin, Dimensi-dimensi Pendidikan Islam, (Malang: UIN Malang Press, 2008), hlm. 60.
[20] M. Furqon Hidayatullah, loc.cit.
[21] A. Fatah Yasin, loc.cit.
[22] Ibid, hlm. 61.
[23] M. Furqon Hidayatullah, loc.cit.
[24] A. Fatah Yasin, op.cit., hlm. 61-62.
[25] Abdurrahman Saleh Abdullah, Teori-teori Pendidikan Berdasarkan Al-Qur’an, (Jakarta: Rineka Cipta, 1994), hlm. 61-62.
[26] Ibid, hlm. 62.
[27] Ibid.
[28] Juwairiyah, Hadits Tarbawi, (Yogyakarta: Teras, 2010), hlm. 6-7.
[29] Ibid.
[30] Wajidi  Sayadi,  Hadis Tarbawi: Pesan-pesan  Nabi Saw. Tentang  Pendidikan,  (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2009), hlm. 168.
[31] M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’ân, (Jakarta: Lentera Hati, 2008), hlm. 724.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama