Dr. Nazarudin Rahman : Politik Islam Tidak Identik Dengan Rebutan Kedudukan Dan Haus Kekuasaan

Politik Islam Tidak Identik Dengan Rebutan Kedudukan Dan Haus Kekuasaan

Dr. Nazarudin Rahman
Dosen UIN Raden Fatah Palembang

Politik Islam tidak identik dengan rebutan kedudukan dan haus kekuasaan. Dalam bahasa Arab Siyasah itu diambil dari kata “sasa-yasusu-siyasatan” yang berarti memelihara, mengatur dan mengurusi. Pemaknaan politik (siyasat) menurut Imam al-Bujairimi, “memperbagus permasalahan rakyat dan mengatur mereka dengan cara membimbing mereka untuk mereka dengan sebab ketaatan mereka terhadap pemerintahan”. Dalam hal ini, maka dalam Islam, politik itu sangat diprioritaskan karena tidak bisa dipisahkan dari Islam.

Esensi politik dalam pandangan Islam adalah pengaturan urusan-urusan rakyat yang didasarkan kepada hukum-hukum Islam. Adapun hubungan antara politik dan Islam secara tepat digambarkan oleh Imam al-Ghazali: “Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak berpondasi niscaya akan runtuh dan segala sesuatu yang tidak berpenjaga niscaya akan hilang dan lenyap”.

Referensi lain yang dapat dijadikan rujukan dalam ajang berpolitik yang sehat dan bekal untuk memimpin bangsa antara lain ayat-ayat politik dalam kitab Imam Mawardi yang berjudul Al-Ahkam As-Sulthaniyyah yang dianggap sebagai buku pertama yang disusun khusus tentang pemikiran politik Islam.

Selain dari Al-Ahkam As-Sulthaniyyah, terdapat beberapa karyanya yang lain tentang politik Islam, seperti: Adab ad-dunya wa ad-din (Tata krama Kehidupan Politik/Duniawi dan Agamawi), Qawanin al-wizarah (Ketentuan-Ketentuan Kewaziran/Kementerian), Siyasah al-mulk (Strategi Kepemimpinan Raja).

Sumber: http://sumeks.co.id/kewajiban-berpolitik-bagi-umat-islam/


Lebih baru Lebih lama