INTERPRETASI RAHMATAN LIL 'ALAMIN

Interpretasi Rahmatan Lil 'álamín

By Hamzah Johan Albatahany


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman,

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.-(Surat Al-Anbiya', Ayat 107)

Ayat ini mengandung 3 hal :

Pertama, وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا ,  ini dapat bermakna , bahwa Nabi Muhammad saw adalah manusia yang sangat penting, sangat dibutuhkan, dan paling utama. Dan itu terbukti Pada tahun 1978, Michael H. Hart seorang sejarahwan dan ilmuwan AstroFisika Asal Amerika Serikat menerbitkan buku yang ia beri judul:The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History atau 100 orang yang paling berpengaruh dalam sejarah (dunia).

Buku ini menuai banyak pro dan kontra salah satunya dikarenakan tercantumnya Nabi Muhammad saw sebagai orang yang paling berpengaruh dalam sejarah urutan pertama. Michael H. Hart berpendapat bahwa Muhammad adalah satu-satunya pemimpin agama yang tidak hanya menjadi panutan dalam hal agama namun juga merupakan pemimpin Negara, militer, meletakkan dasar ekonomi dan budaya.

Kedua, ada kata رَحْمَةً

Secara etimoligis, Ar-Raghib al-Ashfahani menguraikan bahwa ar-rahmah merupakan lafadz musytarok ( satu kata banyak arti), kadang berkonotasi al-riqqah (kelembutan) atau berkonotasi al-ihsân (kebajikan); atau al-khayr  (kebaikan) dan an-ni’mah (kenikmatan).

Secara terminologis, "rahmat" bermakna; kasih sayang, kebaikan, dan nikmat yang diberikan oleh Allah SAW  kepada seluruh makhluk.

Ketiga, ada kalimat لِلْعَالَمِينَ
Bermakna universal, yakni manusia secara umum, muslim dan non muslim, Arab dan Non Arab dan melingkupi makhluk lainnya.

Jika kita rangkai kembali ketiga kalimat tersebut …..maka dapat bermakna : Bahwa Allah swt sengaja mengutus Nabi Muhammad SAW untuk menumbuhkan kasih sayang diantara manusia, membawa kebaikan dan manfaat, menciptakan nikmat kemakmuran dan kesejahteraan bersama di muka bumi ini.

Namun  Konsep tentang "Nabi sebagai rahmatan lil 'alami, hanya terjadi jika syariat yang dia bawa diberlakukan;

ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ الْأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama itu, maka ikutilah (syariat itu) dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui.-(Surat Al-Jatsiyah, Ayat 18)

Dengan diberlakukannya syari'at térsebut maka negeri2 yang menerapkannya akan menjadi aman, contoh Makkah al- Mukarramah,

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (1) وَطُورِ سِينِينَ (2) وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ

"Demi (buah) tin dan (buah) zaitun, dan demi Bukit Sinai, dan demi kota (Mekah) ini yang aman"

Ingat, sebelum Syari'at Islam datang, Makkah diliputi kejahiliyyahan dan kemaksiatan, tatanan hidup masyarakat amburadul, budaya jahiliyah lebih menguasai masyarakat,

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَىٰ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ قَالُوا حَسْبُنَا مَا وَجَدْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْلَمُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (mengikuti) apa yang diturunkan Allah dan (mengikuti) Rasul.” Mereka menjawab, “Cukuplah bagi kami apa yang kami dapati nenek moyang kami (mengerjakannya).” Apakah (mereka akan mengikuti) juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?-(Surat Al-Ma'idah, Ayat 104)

Dengan diterapkannya syari'at Islam maka Makkah menjadi aman dan mendapat rahmat Allah swt. sebagaimana yang kita saksi di zaman ini.

Demikian pula di ACEH setelah diterapkannya syari'at Islam, negeri ini lebíh baik dari sebelumnya......
Cerita Evriani Rotua Gea , Gadis Non Muslim yang Nyaman Hidup di Aceh
yang diterbitkan mediaaceh.co.

Media online tsb menuliskan :"Evri mengaku senang hidup di Aceh, walaupun sebagai minoritas dia tetap bebas menjalankan keyakinannya tanpa gangguan dari manapun. Masyarakat Aceh menurutnya sangat toleran dalam menerima perbedaan".

Kesimpulannya:

Bahwa Muhammad SAW diutus untuk membawa rahmat kepada seluruh manusia. Membuat manusia saling berkasih sayang dan memperoleh banyak kebaikan, kebaikan keadilan dan nikmat kemakmuran.

Dan rahmat itu hanya bisa dirasakan apabila Syari'at yang dibawa rasulullah diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama