GUNJING DI MASA PILKADA

GUNJING DI MASA PILKADA



Masa pilkada ini banyak orang beranggapan mengemukakan keburukan paslon adalah ghibah (gunjing) sehingga calon pemilih tidak mendapatkan informasi yang lengkap apakah paslon tsb buruk atau baik utk dipilih. 
Semestinya kita berterima kasih kepada wartawan atau warganet yg memposting kelebihan dan kelemahan sang paslon sehingga tidak ibarat membeli kucing dalam karung. Namun sebagian orang memposting pelanggaran hukum yg dilakukan paslon dianggap gunjing (ghibah, membuka aib orang) dan berdosa. 
Tapi jangan khawatir karena ada enam keadaan yang dibolehkan menyebutkan ‘aib orang lain menurut Imam Nawawi rahimahullah
adalah sebagai berikut:

1- Mengadu tindak kezaliman kepada penguasa atau pada pihak yang berwenang. Semisal mengatakan, “Si Ahmad telah menzalimiku.”

2- Meminta tolong agar dihilangkan dari suatu perbuatan mungkar dan untuk membuat orang yang berbuat kemungkaran tersebut kembali pada jalan yang benar. Semisal meminta pada orang yang mampu menghilangkan suatu kemungkaran, “Si Rahmat telah melakukan tindakan kemungkaran semacam ini, tolonglah kami agar lepas dari tindakannya.”

3- Meminta fatwa pada seorang mufti seperti seorang bertanya mufti, “Saudara kandungku telah menzalimiku demikian dan demikian. Bagaimana caranya aku lepas dari kezaliman yang ia lakukan.”

4- Mengingatkan kaum muslimin terhadap suatu kejelekan seperti mengungkap jeleknya hafalan seorang perowi hadits.

5- Membicarakan orang yang terang-terangan berbuat maksiat dan bid’ah terhadap maksiat atau bid’ah yang ia lakukan, bukan pada masalah lainnya.

6- Menyebut orang lain dengan sebutan yang ia sudah ma’ruf dengannya seperti menyebutnya si buta. Namun jika ada ucapan yang bagus, itu lebih baik. (Syarh Shahih Muslim, 16: 124-125)

Kalau kita perhatikan apa yang dimaksud oleh Imam Nawawi di atas, ghibah masih dibolehkan jika ada maslahat dan ada kebutuhan. Misal saja, ada seseorang yang menawarkan diri menjadi pemimpin dan ia membawa misi berbahaya yang sangat tidak menguntungkan bagi kaum muslimin, apalagi ia mendapat backingan dari non muslim dan Rafidhah (baca: Syi’ah), maka sudah barang tentu kaum muslimin diingatkan akan bahayanya. Namun yang diingatkan adalah yang benar ada pada dirinya dan bukanlah menfitnah yaitu menuduh tanpa bukti. Wallahu waliyyut taufiq.


Artikel Muslim.Or.Id

Simak selengkapnya disini. Klik https://muslim.or.id/21518-ghibah-yang-dibolehkan.html

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama