KARAKTER POLITIKUS MUSLIM TERHADAP ISLAM

 


KARAKTER POLITIKUS MUSLIM TERHADAP  ISLAM

By Hamzah Johan Albatahany

Banyak umat Islam yang terjun ke dunia politik, ada yang di legislatif, eksekutif dan ada pula di yudikatif. Dalam berpolitik mereka sering melibatkan umat Islam dan atribut-atribut Islam dengan tujuan mendapatkan kemenangan. Namun setelah  menjabat  ada sebagian dari mereka yang lupa dengan janji-janji kampanye dan bahkan melupakan Islam dan umat Islam. Atau mereka seperti tidak berdaya membela kepentingan Islam, mungkin karena dijajah sistem demokrasi yang liberal, materialistik dan duniawistik atau mungkin karena globalis dan oligarkis.

Dari sekian banyak politikus muslim yang menduduki jabatan tersebut paling tidak terdapat lima karakter yang salah satunya dapat melekat pada diri diantara mereka, yakni: tak tahu, tak peduli, tak yakin, takut dan berani. Penjelasannya sebagai berikut ;

1. TAK TAHU

Mereka tak tahu dengan syari'at Islam, kalau pun tahu sangat sedikit sekali ajaran Islam yang mereka fahami. Mereka mungkin merasa dengan tahu shalat, puasa, zakat, haji dan akhlak sudah cukup menjadi seorang muslim. Padahal Allah mengajarkan masuk Islam itu harus secara kaffah (totalitas) bukan parsial (sebagian tertentu) saja.

Firman Allah swt dalam Al-Baqarah 2:208,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱدْخُلُوا۟ فِى ٱلسِّلْمِ كَآفَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ 

"Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu".

Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan; "firman-Nya: masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhannya. (Al-Baqarah: 208) Yakni masuklah kalian ke dalam syariat Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam dan janganlah kalian meninggalkannya".

Hal ini dipertegas lagi dengan Firman Allah pada Al-Jatsiyah 45:18

ثُمَّ جَعَلْنَٰكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ ٱلْأَمْرِ فَٱتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَ ٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ 

"Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama itu, maka ikutilah (syariat itu) dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui".

Syariat Islam (bahasa Arab: شريعة إسلامية‎) yakni berisi hukum dan aturan Islam yang mengatur seluruh sendi kehidupan umat manusia, baik muslim maupun non- muslim. 

Syari'at Islam mencakup totalitas aturan; baik aqidah, ibadah, muamalah, akhlak, jinayah, siyasah (politik), sistem negara dan lain sebagainya.

Selain berisi hukum dan aturan, Syariat Islam juga berisi penyelesaian masalah seluruh kehidupan ini. Maka oleh sebagian penganut Islam, Syariat Islam merupakan panduan integral/ menyeluruh dan sempurna seluruh permasalahan hidup manusia dan kehidupan dunia ini.

Maka ketidaktahuan politikus muslim terhadap Syari'at Islam ini akan menimbulkan dampak negatif terhadap dirinya dan Islam dalam kerangka bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

2. TAK PEDULI

Sebagian politikus Islam sudah tahu dengan syariat Islam bahkan ada yang bergelar doktor, profesor dan sebagainya, tetapi mereka kurang peduli dengan Islam, mungkin karena mereka ditimpa penyakit wahan.

Disebutkan dalam suatu hadits,

عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يُوشِكُ الأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ». فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ « بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزِعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِى قُلُوبِكُمُ الْوَهَنَ ». فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهَنُ قَالَ « حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ ».

Dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Hampir saja para umat (yang kafir dan sesat, pen) mengerumuni kalian dari berbagai penjuru, sebagaimana mereka berkumpul menghadapi makanan dalam piring”. Kemudian seseorang bertanya,”Katakanlah wahai Rasulullah, apakah kami pada saat itu sedikit?” Rasulullah berkata,”Bahkan kalian pada saat itu banyak. Akan tetapi kalian bagai sampah yang dibawa oleh air hujan. Allah akan menghilangkan rasa takut pada hati musuh kalian dan akan menimpakan dalam hati kalian ’Wahn’. Kemudian seseorang bertanya,”Apa itu ’wahn’?” Rasulullah berkata,”Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Daud no. 4297 dan Ahmad 5278).

3. TAK YAKIN

Sebagian politikus muslim, meski pun mereka tahu dengan syari'at Islam, tapi mereka tidak yakin syari'at Islam dapat menjadi solusi dalam berbangsa dan bernegara. Mereka menganggap Islam tidak punya sistem bernegara yang baik. Padahal Nabi Muhammad Shalallahu'alaihi Wasallam sudah mengajarkan dasar-dasar aturan bernegara dengan lahirnya Shahifatul Madinah (Piagam Madinah).

Dalam sejarah disebutkan ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekkah ke Madinah, beliau berkeinginan untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera. Cita-cita tersebut yang kemudian mendorong Nabi Muhammad tahun 622 M. untuk menyusun sebuah dokumen yang disebut sebagai Mitsaq al-Madinah, dari sinilah kemudian dikenal nama Piagam Madinah. Piagam tersebut juga menjadi dasar hukum bagi kehidupan bermasyarakat di Madinah, untuk itu Piagam Madinah juga terkadang disebut sebagai Konstitusi Madinah.

Piagam Madinah disusun bukan hanya dari pemikiran Nabi Muhammad saja, tetapi meliputi gagasan-gagasan dari semua tokoh stakeholder dalam masyarakat Madinah. Untuk itulah Piagam Madinah disusun berdasarkan konsensus bersama seluruh komponen masyarakat Madinah. Ahli hukum Islam Inggris berdarah India, Muhammad Hamidullah bahkan menyebut Piagam Madinah sebagai konstitusi demokratis modern pertama di dunia.

4. TAKUT

Sebagian politikus muslim takut dengan syari'at Islam (islamphobia). Islamphobia ini disebabkan banyak faktor, antara lain; 

Pertama: Islam anti maksiat dan kecurangan. Maka bagi seseorang meskipun kaya akan sulit mendapatkan jabatan karena Islam mengajarkan kejujuran, tidak boleh sogok menyogok, melanggar aturan, dsb sehingga yang terpilih nantinya orang-orang yang jujur dan berakhlak mulia meskipun mereka miskin. Dengan kata lain jika sistem Islam yang diterapkan maka ukurannya adalah taqwa, bukan harta. Sehingga para globalis dan oligarkis yang selama ini menikmati sistem demokrasi yang sangat menguntungkan mereka, menghadang setiap langkah perubahan sistem negara dengan berbagai upaya pembusukan terhadap Islam dan menggencarkan adudomba terhadap umat Islam agar berpecah belah dan lemah.

Kedua: Ketakutan terhadap perpecahan negara. Namun sebagian pengamat menduga ketakutan seperti itu sengaja diciptakan dan dibesar-besarkan sebagai bagian trik politik, sebagai isu politik yang harus selalu dipelihara guna meraup keuntungan bagi pihak tertentu. Maka diisukanlah terorisme, radikalisme, anti pancasila, anti NKRI, pro khilafah dan lain sebagainya. Kemudian mereka jadikan kelompok tertentu sebagai target permusuhan dan sebagai korban politik mereka.

Jujur saja, sejarah mencatat bahwa lahirnya pancasila dan NKRI itu berkat umat Islam guna menjaga kebhinnekaan, tapi kemudian setelah merdeka ada kelompok tertentu yang sengaja mendesain seolah-olah umat Islam lah biangkeladi perpecahan, terutama orang-orang yang menuntut keadilan dan yang menginginkan tegaknya amar ma'ruf nahi mungkar di negeri ini, mereka ini menjadi sasaran empuk para penista politik. Dan untuk meredam keinginan para pencinta kebenaran dan keadilan lagi-lagi mereka menggunakan isu radikalisme, khilafah dsb secara masif.

5. BERANI

Sebagian politikus ada pula yang berani menegakan nilai-nilai dan aturan Islam seperti Recep Tayyip Erdoğan Presiden Turki, Ramzan Akhmadovich Kadyrov Presiden Republik Chechnya dll. Mereka berani karena mereka yakin dengan sistem Islam dapat membawa rahmatan lil'alamin. Sistem Kepemerintahan Islam dapat membawa kebaikan pada umat Islam dan Non Islam bahkan untuk makhluk lainnya. Ini terbukti di zaman Rasulullah dan khulafaurrosyidin, Islam dengan sistem kenegaraannya dapat menaungi dan memberi rahmat bagi semesta alam.

Khusus Indonesia tidak harus mendirikan negara Islam tapi cukup dengan menjalankan Pancasila dan UUD 1945 secara benar, konsekwen dan menerapkan prinsip-prinsip ajaran Islam guna menegakkan kebenaran dan keadilan dalam kerangka amar ma'ruf nahi mungkar demi terciptanya manusia Indonesia yang beriman, bertaqwa dan berakhlak mulia. Untuk itu perlu pula didukung oleh  hukum yang kuat dengan prinsip meninggalkan hukum jahiliyah.

Firman Allah swt pada Al-Ma'idah 5:50

أَفَحُكْمَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ 

"Apakah hukum Jahiliah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?".

Dan kita maklum bahwa hukum yang diterapkan itu haruslah hukum yang sesuai dengan kebutuhan rakyat. Indonesia yang penduduknya mayoritas muslim, maka hukum yang diterapkan itu mesti disesuaikan dengan keyakinan dan kebutuhan mereka, tanpa mengabaikan kebutuhan umat agama lainnya. 

Akan menjadi janggal jika suatu aturan hukum diterapkan pada masyarakat yang tidak sesuai dengan kebutuhannya. Contoh; hukum korupsi yang dalam Islam hal itu termasuk persoalan serius sangat membahayakan negara, maka yang paling tepat hukuman maksimalnya bagi koruptor adalah hukuman mati atau paling tidak seumur hidup. Tapi apa yang terjadi di Indonesia ? Sudah memenuhi rasa keadilan dan sesuai kebutuhan?

Suatu bukti bahwa jika hukum itu diterapkan bukan berdasarkan kebutuhan, keadilan dan kebenaran tapi berdasar kepentingan, maka korupsi akan semakin subur, bakal banyak pejabat kaya mendadak, tapi rakyat banyak akan semakin susah dan menderita. Ingat ! Jika harta kekayaan negara hanya beredar pada segelintir orang kaya, sedangkan rakyat miskin bertambah banyak, maka negara tinggal menunggu saat kehancurannya.

Batam, 8 Jumadil Akhir 1442 H.
21 Januari 2021 M.
Wassalam,

Hamzah Johan Albatahany

2 Komentar

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama