M.T. Nurul Jannah Masjid Raudhatul Jannah Taman Raya Batam Center: Mengenang Fatimah Az-Zahra r.a.

M.T. Nurul Jannah Masjid Raudhatul Jannah Taman Raya Batam Center : Mengenang Fatimah Az-Zahra r.a.

Foto bersama M.T. Nurul Jannah Masjid Raudhatul Jannah Taman Raya Batam Center 23 Januari 2021 M/09 Jumadil Akhir 1442 H.

[ Batam, zonadakwah.com ]. Bertepatan dengan bulan Jumadil Akhir 1442 H, M.T. Nurul Jannah yang dipimpin oleh Ibu Witri Elita menyelenggarakan Wirid Bulanan dengan penceramah Ustadz Hamzah Johan Albatahany (UHJA) di masjid Raudhatul Jannah Taman Raya Tahap 3/4 Batam Center, Sabtu 23 Januari 2021 / 10 Jumadil Akhir 1442 H.

Dalam ceramahnya UHJA menyampaikan materi tentang mau'izhoh (pelajaran) yang diambil dari peristiwa penting dalam Islam yang terjadi pada bulan Jumadil Akhir. Dimana ada empat peristiwa yang harus dikenang oleh umat Islam, yaitu; lahirnya Fatimah Az-Zahra, wafatnya Abu Bakar Ash-Shiddiq, diangkatnya Umar Bin Khattab jadi khalifah dan terjadinya perang Yarmuk yang dipimpin oleh Khalid Bin Walid.

Terkait dengan Fatimah Az-Zahra putri kesayangan Nabi ini lahir pada Jumat, 20 Jumadil-Akhir tahun 16 SH (Sebelum Hijriyah) ,  tahun ke-5 kenabian (606 M.) di Makkah. Ia putri ke 4 dari anak anak Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam, dan ibunya adalah Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwalid.

UHJA menekankan dalam ceramahnya agar mengenang dan mengambil mau'izhoh (pelajaran) dari kisah Fatimah Az-Zahra, wanita shalihah yang dirindukan surga.

[UHJA]


KISAH-KISAH FATIMAH AZ-ZAHRA 

Diambil dari berbagai Sumber:

1. Kisah Tasbih Fatimah Az-Zahra

Suatu ketika, Ali bin Abi Thalib r.a bertanya kepada murid-muridnya,”Maukah kalian saya ceritakan tentang Fatimah r.a, orang yang paling dicintai diantara puteri-puteri Rasulullah saw?” Serentak murid-muridnya menjawab,”Tentu, kami ingin sekali.” Kemudian Ali bin Abi Thalib r.a bercerita,”Fatimah selalu menggiling gandum dengan tangannya sendiri, sehingga menimbulkan bintik-bintik hitam yang menebal pada kedua telapak tangannya. Dia sendiri yang mengangkut air ke rumahnya dalam sebuah kantung kulit yang menyebabkan luka-luka di atas dadanya. Kemudian dia membersihkan rumahnya seorang diri, menyebabkan pakaiannya menjadi kotor.”

Pada suatu hari, datanglah beberapa orang hamba sahaya kepada Rasulullah saw., maka saya pun berkata, “Pergilah engkau menghadap Rasulullah saw. Dan mintalah seorang pembantu untuk meringankan pekerjaan rumahmu” kemudian dia pergi menemui Rasulullah saw. tetapi pada saat itu banyak orang yang menghadiri majlis Rasulullah saw. karena malu untuk menyampaikan maksudnya, dia pun kembali ke rumah. Pada hari berikutnya, Rasullullah saw. datang ke rumah kami dan bertanya, “Wahai Fatimah, ada maksud apa engkau datang ke rumahku kemarin?” Fatimah r.a. tidak menjawab karena malu. Saya berkata kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, dia menggiling gandum setiap hari, yang menimbulkan bintik-bintik hitam pada tangannya. Dia mengangkat air setiap hari sehingga menyebabkan luka-luka di atas dadanya, dan setiap hari dia membersihkan rumahnya sehingga pakaiannya menjadi kotor. Kemudian saya menceritakan tentang beberapa orang hamba sahaya yang engkau dapatkan kemarin dan menyuruh Fatimah datang kepada engkau untuk meminta seseorang pembantu.”

Mendengar hal itu Rasulullah saw. bersabda.”Wahai Fatimah, bertakwalah kepada Allah, tetaplah menyempurnakan kewajibanmu kepada Allah dan kerjakanlah pekerjaan rumah tanggamu. Kemudian, apabila engkau akan tidur, ucapkanlah subhaanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, AllaahuAkbar 33 kali, ini lebih baik bagimu daripada seorang pembantu.” Setelah mendengar nasihat itu Fatimah r.a. Berkata,”Saya ridha dengan keputusan Allah dan Rasul-Nya.”

[ Sumber: App. Kisah Hikmah]


2. Kisah Fatimah Az-Zahra: Kalung Emas dan Musafir

Ada salah satu kisah teladan dari Siti Fatimah, yakni tentang kalung yang dia miliki. Kala itu, Rasulullah tengah duduk di masjid bersama dengan sahabatnya.

Tiba-tiba, datang seorang musafir yang kehabisan bekal. Musafir pun berkata kepada Rasulullah. "Ya Rasulullah, saya lapar sekali. Beri lah saya makanan

"Saya tak punya pakaian kecuali yang saya kenakan. Saya tak punya uang untuk bekal pulang. Tolong saya ya Rasul."

Mendengar hal itu, Rasulullah langsung menjawab, "Sayang, aku sedang tidak memiliki apa-apa untuk diberikan kepadamu. Tetapi, orang yang menunjukkan kebaikan adalah sama dengan orang yang melakukannya."

Rasulullah pun langsung meminta musafir untuk pergi ke rumahnya untuk bertemu Siti Fatimah Az Zahra. Rasullah mengaku sang anak memiliki ketaatan kepada Allah SWT.

"Pergi lah ke tempat yang dicintai Allah dan Rasulnya. Dia lebih mengutamakan Allah daripada dirinya sendiri, itu lah Fatimah, putriku."

Lalu, diantarkannya musafir oleh sahabat nabi untuk bertemu Siti Fatimah. Sesampainya di sana, Fatimah ternyata juga tidak memiliki sesuatu yang layak untuk dimakan. Ia juga tidak memiliki uang untuk diberikan kepada musafir.

Tetapi, Siti Fatimah Az Zahra ingat bahwa ia memiliki kalung hadiah pernikahan dari sang suami, Ali bin Abi Thalib. Dengan ikhlas, Siti Fatimah memberikan kalung satu-satunya itu kepada sang musafir.

"Jual lah kalung ini. Mudah-mudahan harganya cukup untuk memenuhi kebutuhanmu," kata Siti Fatimah kepada sang musafir.

Kemudian, musafir kembali ke tempat Rasulullah berkumpul dan diperlihatkannya kalung pemberian Siti Fatimah. Rasulullah begitu terharu melihat sang putri yang ikhlas memberikan satu-satunya harta yang dimiliki untuk membantu musafir itu.

Salah seorang sahabat Nabi bernama Ammar bi Yasir pun mengajukan diri untuk membeli kalung. "Berapa hendak kau jual kalung itu?" kata Ammar kepada musafir.

Musafir menjawab, "Aku akan menjualnya dengan roti dan daging yang bisa mengenyangkan perutku, sebuah baju penutup tubuhku dan uang 10 dinar untuk bekalku pulang."

Tak disangka, Ammar justru membeli kalung itu dengan harga 20 dinar emas, ditambah sebuah baju, serta seekor unta untuk tunggangan Si Musafir.

Mendapatkan kalung itu, Ammar langsung meminta budaknya bernama Asham untuk menghadap Rasulullah dan memberikan kalung milik Siti Fatimah tersebut. Ia juga turut memberikan Asham sebagai budak Rasulullah.

"Wahai Asham, pergi lah menghadap Rasulullah dan katakan aku menghadiahkan kalung ini dan juga engkau kepadanya. Jadi mulai hari ini kamu bukan budakku lagi tetapi budak Rasulullah," jelas Ammar.

Setelah mendengar pesan dari Asham, Rasulullah tersenyum dan melakukan hal yang sama kepada Siti Fatimah. Mendengar hal itu, Siti Fatimah begitu bahagia.

Namun, kebahagiaannya bukan karena mendapatkan seorang budak. Malahan, ia membebaskan Asham dan menjadikan ia sebagai manusia merdeka.

Asham begitu gembira hingga tertawa. Hal itu pun membuat Siti Fatimah bingung. Asham pun berkata bahwa ia kagum dan takjub melihat berkah dari kalung milik Siti Fatimah karena telah mengenyangkan orang lapar, hingga membebaskan seorang budak.

"Aku tertawa karena kagum dan takjub akan berkah kalung itu. Kalung itu telah mengenyangkan orang yang lapar, telah menutup tubuh orang yang telanjang, telah memenuhi hajat seorang yang fakir dan akhirnya telah membebaskan seorang budak," ungkap Asham.

Semoga kisah teladan Siti Fatimah bisa menginspirasi kita untuk selalu berbuat kebaikan.

[Sumber: Puti Yasmin - DetikNews ]

[UHJA]

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama