PRINSIP-PRINSIP EKONOMI ISLAM

PRINSIP-PRINSIP EKONOMI ISLAM

Oleh: Hamzah Johan Albatahany



PENGERTIAN EKONOMI (اِقْتِصَاد )

Secara etimologis : Ekonomi berasal dari bahasa Yunani, yaitu οἶκος (oikos) yang berarti "keluarga, rumah tangga" dan νόμος (nomos) yang berarti "peraturan, aturan, hukum". Secara garis besar, ekonomi diartikan sebagai "aturan rumah tangga" atau "manajemen rumah tangga"
Secara terminologis : Ekonomi adalah ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi terhadap barang dan jasa.
Ekonomi Islam adalah pandangan Islam tentang ilmu sosial yang mempelajari aktivitas manusia yang berhubungan dengan produksi, distribusi, dan konsumsi terhadap barang dan jasa.

PRINSIP-PRINSIP EKONOMI ISLAM

1. SHIDDIQIYYAH (Benar dan Jujur)
2. TA'AWWUNIYYAH (saling tolong menolong)
3. SYAR'IYYAH (sesuai hukum Islam)
4. DAULATIYYAH (الدَولَة) [Peran Negara]
5. MANAFI'U FID DUNYA WAL AKHIRAH (منافع في الدنيا والآخرة) [ Bermanfaat Dunia Akhirat].

PENJELASAN :

1. SHIDDIQIYYAH (Benar dan Jujur)
Kejujuran prinsip dasar dalam berekonomi, tanpa kejujuran maka ekonomi menjadi tidak berkah. Rasulullah bersabda,

فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

"Jika keduanya jujur dan menampakkan dagangannya maka keduanya diberkahi dalam jual belinya dan bila menyembunyikan dan berdusta maka akan dimusnahkan keberkahan jual belinya". (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud).

 

Kebenaran dan kejujuran itulah awalnya Muhammad Shallallohu 'alaihi wa sallam mendapat simpati masarakat Arab sehingga beliau digelar Al-Amin. Sebelum menjadi rasul kejujurannya dalam berdagang telah teruji ketika berdagang bersama Siti Khadijah. Dengan modal kejujuran itulah masyarakat dan pelanggan semakin percaya sehingga usaha Siti Khadijah semakin berkembang.

Berekonomi dalam Islam dasarnya adalah kejujuran, kejujuran menciptakan trust (kepercayaan) masyarakat, dan dengan trust tersebut perekonomian semakin maju dan berkah.

2. TA'AWWUNIYYAH (Saling tolong menolong)

Allah menyuruh kita saling tolong menolong dalam kebaikan (termasuk dalam ekonomi). Allah berfirman,

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

 

Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan to­long-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertak­walah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksaan-Nya. (QS. Al-Maidah:2)


Ekonomi Islam punya prinsip saling tolong menolong dalam kebaikan, seperti dalam jual beli harus saling menguntungkan. Dan ketika beruntung ada hak yang wajib dikeluarkan untuk menolong para dhu'afa. Allah berfirman,

وَفِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّ لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ

 

Dan pada harta benda mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak meminta.(QS. Adz-Dzariyat 51:19)

كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الأغْنِيَاءِ مِنْكُمْ

 

"supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu" (QS. Al-Hasyr, ayat 7).


Dari ayat-ayat tersebut di atas dapat kita fahami bahwa tolong menolong dalam kebaikan bermakna luas, baik ekonomi terkait tolong menolong antar sesama pedagang, mau pun antara pedagang dengan para dhu'afa penerima manfaat. Sehingga ekonomi tidak hanya mendatangkan kebaikan bagi pedagang sendiri tapi berdampak positif bagi fakir miskin.
Dan begitu pula bagi perusahaan-perusahaan akan mendatangkan kebaikan bagi lingkungan sosialnya ketika masyarakat mendapatkan dana CSR (Corporate Social Responsibility), tanggung jawab sosial perusahaan tersebut.

Sangat nyata bahwa prinsip ta'awwuniyyah ini terjadinya tolong menolong antara pedagang dengan pedagang, pedagang dengan pembeli, dan pedagang dengan para dhu'afa sebagai penerima manfaat.

3. SYAR'IYYAH (sesuai syari'at Islam)
Apa saja yang diamalkan dalam Islam harus berdadarkan syari'at Islam, termasuk dalam berekonomi harus sesuai dengan syari'at Islam.

ثُمَّ جَعَلْنَٰكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِّنَ ٱلْأَمْرِ فَٱتَّبِعْهَا وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَآءَ ٱلَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ  

 

"Kemudian Kami jadikan engkau (Muhammad) mengikuti syariat (peraturan) dari agama itu, maka ikutilah (syariat itu) dan janganlah engkau ikuti keinginan orang-orang yang tidak mengetahui".(Al-Jatsiyah 45:18)

Dalam syari'at Islam diatur cara berekonomi yang syar'i. Ditunjukan mana yang halal dan mana yang haram. Semua itu demi kemaslahatan manusia.


Prinsip syar'iyyah ini dikenal pula dengan istilah Ekonomi Syari'ah, ekonomi yang sesuai dengan syari'at Islam. 



4. DAULATIYYAH (الدَولَة) [Peran Negara]

Negara berperan menjaga kesetabilan ekonomi, memegang kendali sumber-sumber ekonomi yang menyangkut hajat orang banyak, seperti air, garam, minyak dll. Sabda Rasulullah,

الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ فِي الْمَاءِ وَالْكَلَإِ وَالنَّارِ وَثَمَنُهُ حَرَامٌ

 

"Kaum muslimin bersyerikat dalam tiga perkara yaitu air, rumput liar dan api, maka mengambil keuntungan darinya adalah haram" (HR. Ibnu Majah).

Dalam riwayat Abu Hurairah berbunyi
ثَلَاثٌ لَا يُمْنَعْنَ الْمَاءُ وَالْكَلَأُ وَالنَّارُ

"Tiga perkara tidak boleh dimonopoli hingga malarang yang lain untuk memanfaatkannya yaitu air, rumput liar dan api" (Sunan Ibn Majah, no.2464)
Dari hadits diatas dapat difahami bahwa ada sumber-sumber alam yang tidak boleh dimonopoli individual tapi boleh diambil manfaatnya. Maka disinilah peran negara mengatur sumber alam dan jangan sampai dimonopoli individual.
5. MANAFI'U FID DUNYA WAL AKHIRAH (منافع في الدنيا والآخرة) [ Bermanfaat Dunia Akhirat]

Ekonomi Islam bertujuan bukan hanya keselamatan dunia tapi juga keselamatan akhirat. Berekonomi tidak sekedar mengejar dunia tapi lebih utama mengejar akhirat. Hal itu disinyalir dalam firman Allah,
وَٱبْتَغِ فِيمَآ ءَاتَىٰكَ ٱللَّهُ ٱلدَّارَ ٱلْءَاخِرَةَۖ وَلَا تَنسَ نَصِيبَكَ مِنَ ٱلدُّنْيَاۖ وَأَحْسِن كَمَآ أَحْسَنَ ٱللَّهُ إِلَيْكَۖ وَلَا تَبْغِ ٱلْفَسَادَ فِى ٱلْأَرْضِۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ ٱلْمُفْسِدِينَ

 

"Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan".(QS.Al-Qasas 28:77).
Berekonomi dalam Islam hakikatnya adalah mengejar keuntungan akhirat tanpa melupakan dunia. Niat berekonomi karena Allah, lillahi ta'ala, bukan karena ingin kaya semata. Kaya memang dicari sebagai bekal ke akhirat. Karena dengan kaya kita bisa berzakat, berwakaf, dsb.

 

Berbeda dengan Fir'aun, mindsetnya dalam membangun ekonomi untuk kejayaan dunia semata sehingga menghalalkan segala cara. Piramida dan infrastruktur lainnya dia bangun megah, tapi rakyat Mesir pada waktu itu dia giring menjadi musyrik dan melupakan Allah. Dunia kelihatan megah tapi akhirat hancur lebur.

 

Prinsip ekonomi Islam itu bertujuan untuk menyelamatkan umat manusia bukan hanya di dunia tapi paling utama demi keselamatan di akhirat kelak.


KESIMPULAN :

Bahwa prinsip ekonomi Islam itu tidak lepas dari lima hal tersebut di atas. Jika ke-lima prinsip tersebut diamalkan maka akan membawa kesejahteraan, kemaslahatan, keadilan sosial dan kemakmuran negara.

Wallahu a'lam.

Batam, 15 Jumadil Akhir 1442/ 28 Januari 2021

Hamzah Johan Albatahany

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama