BERKAH REZEKI YANG HALAL: "Rezeki menjadi berkah jika halal dan ridha atas setiap pemberian Allah. Adapun penghalangnya adalah enggan menunaikan ZAKAT, tak mau bayar HUTANG dan KIKIR "

 


BERKAH REZEKI YANG HALAL

By Hamzah Johan Albatahany

Setiap orang menginginkan keberkahan dalam kehidupannya termasuk keberkahan rezeki yang diperoleh. Bagaimana memahami rezeki yang berkah itu ? Saya jelaskan secara sistematis sebagai berikut:

A. PENJELASAN KOSA KATA (AL-MUFRODAT)

BERKAH

Menurut bahasa, berkah --berasal dari bahasa Arab: barokah (بركة), artinya nikmat (Kamus Al-Munawwir, 1997:78). 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008:179), berkah adalah “karunia Tuhan yang mendatangkan kebaikan bagi kehidupan manusia”.

Dalam Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi disebutkan, berkah memiliki dua arti: 
- Tumbuh, berkembang, atau bertambah;
-  Kebaikan yang berkesinambungan

Dalam Al-Qur'an disebutkan kata 'berkah', antara lain;

سُبْحَٰنَ ٱلَّذِىٓ أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِۦ لَيْلًا مِّنَ ٱلْمَسْجِدِ ٱلْحَرَامِ إِلَى ٱلْمَسْجِدِ ٱلْأَقْصَا ٱلَّذِى بَٰرَكْنَا حَوْلَهُۥ لِنُرِيَهُۥ مِنْ ءَايَٰتِنَآۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ 

"Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat". (Al-Isra' 17:1)

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ ٱلْقُرَىٰٓ ءَامَنُوا۟ وَٱتَّقَوْا۟ لَفَتَحْنَا عَلَيْهِم بَرَكَٰتٍ مِّنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ وَلَٰكِن كَذَّبُوا۟ فَأَخَذْنَٰهُم بِمَا كَانُوا۟ يَكْسِبُونَ 

"Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan". (Al-A'raf 7:96)

REZEKI: 

Rezeki artinya adalah anugerah atau pemberian Allah kepada makhluk berupa materi dan non materi yang berguna bagi makhluk tersebut untuk kesinambungan hidupnya dan rezeki itu sudah tercatat di Lauh Mahfuzh.

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلْأَرْضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَاۚ كُلٌّ فِى كِتَٰبٍ مُّبِينٍ 

"Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)".(Hud 11:6)

Rezki yang berupa materi disebutkan dalam Al-Qur'an antara lain,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُلُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقْنَٰكُمْ وَٱشْكُرُوا۟ لِلَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ 

"Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya".(Al-Baqarah 2:172)

Adapun rezki yang berupa non materi disebutkan dalam Al-Qur'an antara lain,

وَلَا تَحْسَبَنَّ ٱلَّذِينَ قُتِلُوا۟ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمْوَٰتًۢاۚ بَلْ أَحْيَآءٌ عِندَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ 

"Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki" (Aali-Imran 3:169)

HALAL

Halal (Arab: حلال‎, ḥalāl; "diperbolehkan") adalah segala objek atau kegiatan yang diizinkan untuk digunakan atau dilaksanakan, dalam agama Islam. Istilah ini dalam kosakata sehari-hari lebih sering digunakan untuk menunjukkan makanan dan minuman yang diizinkan untuk dikonsumsi menurut Islam, menurut jenis makanan dan cara memperolehnya. Allah berfirman ,

فَكُلُوا۟ مِمَّا رَزَقَكُمُ ٱللَّهُ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَٱشْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ 

"Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya".(An-Nahl 16:114)

 Pasangan halal adalah thayyib yang berarti 'baik'. Suatu makanan dan minuman tidak hanya halal, tetapi harus thayyib; apakah layak dikonsumsi atau tidak, atau bermanfaatkah bagi kesehatan. Lawan halal adalah haram.


B. PENJELASAN TENTANG BERKAH REZEKI YANG HALAL

Berkah itu substansinya adalah sesuatu anugerah atau rezeki dari Allah yang membawa kepada kebaikan dunia dan akhirat. Jika terkait dengan tempat, maka tempat tersebut  membawa kepada kebaikan dunia dan akhirat. Jika terkait dengan Al-Qur'an maka Al-Qur'an tersebut membawa kepada kebaikan dunia dan akhirat. Jika terkait dengan makanan, minuman, harta, pangkat, jabatan dsb maka semuanya akan membawa kepada kebaikan dunia dan akhirat.

Kefahaman atau memahami isi kandungan Al-Qur'an  juga termasuk sebagai rezki, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits,

٢٦٤٨ - حَدَّثَنَا عَلْقَمَةُ بْنُ عَمْرٍو الدَّارِمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ مُطَرِّفٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْءٌ مِنْ الْعِلْمِ لَيْسَ عِنْدَ النَّاسِ قَالَ لَا وَاللَّهِ مَا عِنْدَنَا إِلَّا مَا عِنْدَ النَّاسِ إِلَّا أَنْ يَرْزُقَ اللَّهُ رَجُلًا فَهْمًا فِي الْقُرْآنِ أَوْ مَا فِي هَذِهِ الصَّحِيفَةِ فِيهَا الدِّيَاتُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْ لَا يُقْتَلَ مُسْلِمٌ بِكَافِرٍ

2648. Telah menceritakan kepada kami 'Alqamah bin Amru Ad Darimi, telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin 'Ayyasy dari Mutharrif dari Asy Sya'bi dari Abu Juhaifah berkata; "Aku berkata kepada Ali bin Abu Thalib, 'Apakah Anda memiliki ilmu pengetahuan yang tidak dimiliki oleh masyarakat umum?" Ia menjawab, "Tidak, demi Allah! Kami tidak memiliki ilmu pengetahuan apa-apa kecuali apa yang telah ada pada masyarakat, kecuali apabila Allah subhanahu wata'ala memberikan rezeki kepada seseorang berupa pemahaman mengenai Al Qur'an atau apa yang ada di dalam lembaran ini, dimana di dalamnya terdapat hukuman diyat dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan seorang Muslim tidak dibunuh karena membunuh seorang yang kafir." (Sunan Ibnu Majah)

Rezeki yang halal adalah rezeki yang halal zatnya, halal proses memperolehnya dan halal dalam membelanjakannya. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

لاَ تَسْتَبْطِئُوْا الرِّزْقَ ، فَإِنَّهُ لَنْ يَمُوْتَ الْعَبْدُ حَتَّى يَبْلُغَهُ آَخِرُ رِزْقٍ هُوَ لَهُ، فَأَجْمِلوُاْ فِيْ الطَّلَبِ: أَخْذِ الْحَلَالِ، وَترَكِ الْحَرَامِ.

“Janganlah kamu merasa bahwa rizkimu datangnya terlambat. Karena sesunguhnya, tidaklah seorang hamba akan meninggal, hingga telah datang kepadanya rizki terakhir (yang telah ditentukan) untuknya. Maka, tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizki, yaitu dengan mengambil yang halal dan meninggalkan yang haram” [HR Abdur-Razaq, Ibnu Hibbanm dan Al-Hakim]

Untuk mendapatkan berkah dari rezeki tersebut tidak cukup dari KEHALALAN saja tapi harus diiringi dengan RIDHO ATAS PEMBERIAN ALLAH.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

(إن اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَبْتَلِيْ عَبْدَهُ بِمَا أَعْطَاهُ. فَمَنْ رضي بِمَا قَسَمَ الله لَهُ بَارَكَ الله لَهُ فِيْهِ وَوَسَّعَهُ . وَمَنْ لم يَرْضَ لم يُبَارِكْ لَهُ وَلَمْ يَزِدْهُ عَلَى مَا كُتِبَ لَهُ) رواه أحمد والبيهقي 

“Sesungguhnya Allah Yang Maha Luas Karunia-nya lagi Maha Tinggi, akan menguji setiap hamba-Nya dengan rizki yang telah Ia berikan kepadanya. Barangsiapa yang ridha dengan pembagian Allah Subhanahu wa Ta’ala, maka Allah akan memberkahi dan melapangkan rizki tersebut untuknya. Dan barangsiapa yang tidak ridha (tidak puas), niscaya rizkinya tidak akan diberkahi” [HR Ahmad dan Bayhaqi]

PENGHALANG KEBERKAHAN REZEKI

Perlu diingat bahwa ada beberapa hal yang menjadi penghalang keberkahan rezeki antaralain enggan menunaikan zakat, tidak mau bayar hutang dan bakhil.

Rezeki (harta) atau penghasilan yang telah mencapai nishab dan haulnya wajib dikeluarkan zakatnya. Zakat tersebut bukan menjadi milik muzakki tapi milik para dhu'afa atau delapan asnaf yang berhak menerima zakat (QS. At-Taubah:60).

Zakat itu jika dimakan oleh orang kaya yang bukan berhak maka seperti memakan kotoran yang pasti menghilangkan keberkahan harta tersebut

Sabda Rasulullah saw. berikut:

إِنَّ هَذِهِ الصَّدَقَاتِ إِنَّمَا هِيَ أَوْسَاخُ النَّاسِ

“Sesungguhnya zakat-zakat ini hanyalah kotoran manusia” (H.R. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasai).

Sering pertanyaan muncul, bagaimana bisa orang kaya memakan harta zakat ? Jawabannya adalah manakala harta orang kaya tersebut telah mencapai nishab dan haulnya maka wajib ditunaikan zakatnya, jika tidak ditunaikan maka  zakat harta tersebut bercampur dengan harta kekayaannya, tanpa disadari harta kekayaannya telah bercampur antara yang hak dan yang bathil.

Demikian pula dengan hutang segera dilunasi jika sudah mampu membayarnya, sebab enggan membayar hutang dan berniat tidak mau melunasinya menghalangi keberkahan harta karena dipandang sebagai pencuri di akhirat.

Dari Shuhaib Al Khoir, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا

“Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah no. 2410)

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ

“Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.” (HR. Tirmidzi no. 1078) 

Dari ‘Abdillah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

“Semua dosa orang yang mati syahid akan diampuni kecuali hutang.” (HR. Muslim no. 1886) 

Demikian pula dengan sifat kikir alias bakhil akan menjadi penghalang keberkahan rezeki.

Rasulullah SAW bersabda:

لاَ يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَ اْلإِيْمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا

“Sifat kikir dan iman tidak akan berkumpul dalam hati seseorang selama-lamanya.” [HR Ahmad]

Rasulullah SAW juga bersabda:

الْمُؤْمِنُ غِرٌّ كَرِيمٌ وَالْفَاجِرُ خِبٌّ لَئِيمٌ

“Seorang mukmin itu senantiasa berlapang dada dan dermawan, sedangkan seorang fajir itu bakhil dan berakhlak buruk.“ [HR Tirmidzi]

Allah SWT berfirman :

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karuniaNya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat.” [QS Ali Imran : 180].

KESIMPULAN

1. Keberkahan adalah sesuatu pemberian Allah yang membawa kebaikan, kenikmatan dan keselamatan dunia dan akhirat.

2. Rezeki tidak hanya berbentuk materi seperti harta, tapi juga non materi seperti kelezatan, keindahan, dapat memahami Al-Qur'an (agama Islam) dengan baik dan benar termasuk rezeki.

3. Keberkahan rezeki sangat ditentukan oleh kehalalan rezeki tersebut; halal memperolehnya dan halal dalam membelanjakan atau mempergunakannya serta ridha terhadap setiap pemberian Allah.

4. Keberkahan rezeki itu akan terhalang karena enggan menunaikan zakat, tidak berniat bayar hutang, bakhil alias kikir.

Wallahu a'lam.

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama