ETOS BISNIS DALAM ISLAM

 

ETOS BISNIS DALAM ISLAM
By Hamzah Johan Albatahany

PENGERTIAN

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebutkan;
"etos : etos /étos/ n pandangan hidup yg khas dr suatu golongan sosial;
-- kebudayaan sifat, nilai, dan adat-istiadat khas yg memberi watak kpd kebudayaan suatu golongan sosial dl masyarakat; -- kerja semangat kerja yg menjadi ciri khas dan keyakinan seseorang atau suatu kelompok".

Berdasarkan pengertian 'etos' tersebut bila dihubungkan dengan kata 'bisnis dalam Islam' maka Etos Bisnis Dalam Islam dapat bermakna pandangan Islam tentang sifat, nilai dan ciri khas dalam berbisnis. 

Secara historis kata bisnis dari bahasa Inggris business, dari kata dasar busy yang berarti "sibuk" dalam konteks individu, komunitas, ataupun masyarakat. Dalam artian, sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan.

Dalam ilmu ekonomi, bisnis adalah suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya, untuk mendapatkan laba. Definisi "bisnis" yang tepat masih menjadi bahan perdebatan hingga saat ini.
Menurut Peterson dan Plowman; "Bisnis adalah sejumlah kegiatan yang berkaitan dengan penjualan ataupun pembelian barang dan jasa yang berulang secara konsisten. Jika hanya terjadi satu kali, maka itu bukanlah suatu bisnis".

CIRI-CIRI BISNIS SECARA UMUM

Dalam ilmu ekonomi disebutkan ada beberapa ciri bisnis, antara lain;
1. Terorganisasi (adanya manajemen yang jelas)
2. Suatu kegiatan yang dilakukan oleh perorangan atau per kelompok
3. Memperoduksi barang atau menyediakan jasa
4. Produksi dilakukan untuk memenuhi apa yang dibutuhkan masyarakat
5. Menciptakan nilai
6. Melakukan transaksi jual beli
7. Mendapatkan keuntungan atas aktivitas yang dilakukan.

TUJUAN BISNIS SECARA UMUM

Adapun tujuan dari bisnis adalah sebagai berikut:
1. Untuk mendapatkan keuntungan
2. Untuk meningkatkan kesejahteraan pemilik bisnis dan juga konsumen
3. Untuk menyediakan barang dan jasa
4. Untuk membuat perusahaan bertahan dalam jangka waktu yang lama
5. Untuk kemajuan dan pertumbuhan
6. Sebagai penghargaan dan prestasi.


ETOS BISNIS DALAM ISLAM ADALAH BISNIS SYAR'IYYAH

Etos bisnis mengandung sifat, nilai dan ciri khas dari bisnis tersebut. Bila dikaitkan dengan Islam maka etos bisnisnya diukur dari nilai-nilai syari'at Islam yang populer dengan istilah 'Bisnis Syari'ah' (syar'iyyah; sesuai dengan syari'at).

Minimal ada 5 nilai bisnis syari'ah;

1. Nilai Kehalalan

Perinsip dasar dari bisnis syar'i itu adalah antara halal dan haram atau yang hak dan yang batil tidak boleh dicampuradukkan sesuai firman Allah,

وَلا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

"Dan janganlah kalian campur adukkan yang hak dengan yang batil, dan janganlah kalian sembunyikan yang hak itu, sedangkan kalian mengetahui". (QS. Al-Baqarah:42)

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُوا۟ مِمَّا فِى ٱلْأَرْضِ حَلَٰلًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا۟ خُطُوَٰتِ ٱلشَّيْطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمْ عَدُوٌّ مُّبِينٌ 

Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.(Al-Baqarah 2:168)

2. Nilai Kejujuran 

Kejujuran adalah puncak moralitas dan karakteristik yang paling menonjol dari orang-orang beriman. 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar. (At-Taubah:119)

Kejujuran adalah tanda bukti keimanan. Orang mukmin bisa dipastikan pasti jujur. Kalau tidak jujur, keimanannya sedang terserang penyakit kemunafikan atau dalam kata lain, berarti dia tidak benar-benar mukmin. Pernah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah SAW: “Apakah mungkin seorang mukmin itu kikir?” Rasul SAW  menjawab: “Mungkin saja.” Sahabat bertanya lagi: “Apakah mungkin seorang mukmin bersifat pengecut?” Rasul menjawab: “Mungkin saja.” Sahabat bertanya lagi, “Apakah mungkin seorang mukmin berdusta?” Rasulullah menjawab: “Tidak.” (Imam Malik dalam kitab al Muwaththo’)

Dalam hadits lainnya Rasulullah saw bersabda: “Kamu sekalian wajib jujur karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa kepada surga.” (Ahmad, Muslim, at-Turmuzi, Ibnu Hibban)

3. Nilai Keadilan 

Dalam ajaran islam, keadilan adalah norma yang paling utama, termasuk dalam aktivitas bisnis dan ekonomi

وَيَٰقَوْمِ أَوْفُوا۟ ٱلْمِكْيَالَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِۖ وَلَا تَبْخَسُوا۟ ٱلنَّاسَ أَشْيَآءَهُمْ وَلَا تَعْثَوْا۟ فِى ٱلْأَرْضِ مُفْسِدِينَ 

Dan wahai kaumku! Penuhilah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan jangan kamu membuat kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.(Hud 11:85)

وَلَا تَقْرَبُوا۟ مَالَ ٱلْيَتِيمِ إِلَّا بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُۥۖ وَأَوْفُوا۟ ٱلْكَيْلَ وَٱلْمِيزَانَ بِٱلْقِسْطِۖ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَاۖ وَإِذَا قُلْتُمْ فَٱعْدِلُوا۟ وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰۖ وَبِعَهْدِ ٱللَّهِ أَوْفُوا۟ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ 

Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, sampai dia mencapai (usia) dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak membebani seseorang melainkan menurut kesanggupannya. Apabila kamu berbicara, bicaralah sejujurnya, sekalipun dia kerabat(mu) dan penuhilah janji Allah. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu ingat.” (Al-An'am 6:152)

4. Nilai Keummatan

Salah satu ciri khas ekonomi syariah adalah mengedepankan umat dibandingkan kepentingan pribadi atau kelompok. Bentuk kegiatan bisnis tetap dituntut untuk mewujudkan ukhuwah islamiyah, bukan justru bersifat individualistik egoistik.
Hal ini tergambar pada keuntungan yang diperoleh ada hak-hak orang lain yang harus dikeluarkan, seperti zakat, infak dan sedekah. Dan harta tersebut tidak hanya beredar pada orang-orang kaya saja tapi meliputi orang miskin juga.

كَيْ لَا يَكُونَ دُولَةً بَيْنَ الأغْنِيَاءِ مِنْكُمْ 

"supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu" (QS. Al-Hasyr, ayat 7).

5. Nilai Ukhrawi

Islam menganjurkan dalam mencari keuntungan tidak hanya untuk dunia tapi lebih utama untuk akhirat. Allah berfirman, 

مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلْءَاخِرَةِ نَزِدْ لَهُۥ فِى حَرْثِهِۦۖ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ ٱلدُّنْيَا نُؤْتِهِۦ مِنْهَا وَمَا لَهُۥ فِى ٱلْءَاخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ 

Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambahkan keuntungan itu baginya dan barangsiapa menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian darinya (keuntungan dunia), tetapi dia tidak akan mendapat bagian di akhirat.(QS.Asy-Syura 42:20).


KESIMPULAN

Etos Bisnis Dalam Islam adalah bisnis yang dilakukan sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam yang disebut dengan bisnis syari'ah. Minimal ada 5 nilai bisnis syari'ah, yaitu; kehalalan, kejujuran, keadilan, keummatan dan keuntungan akhirat.

Wallahu a'lam.

Batam, 21 Jumadil Akhir 1442 H
3 Februari 2021 M,
Wassalam

Hamzah Johan Albatahany


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama