MANA YANG DIDAHULUKAN ILMU ATAU ADAB?

 

MANA YANG DIDAHULUKAN ILMU ATAU ADAB?


Dari sudut pandang 'teoritis'  adab yang baik (akhlakul karimah) berasal dari ilmu. 

Adab itu ada dua macam; ada adab  mahmudah (terpuji) dan ada adab mazmumah (buruk,tercela). Darimana seseorang tahu bahwa ada adab terpuji dan tidak terpuji? Tentu dari ilmu, ilmu agama dan sosial budaya. Ilmu tersebut membimbing seseorang bagaimana beradab yang baik. Adab yang baik tidak serta merta lahir dari  adat istiadat manusia. Sebab ada adat yang tidak dianggap beradab dalam ajaran Islam, seperti berbuat syirik karena menghargai ajaran nenek moyangnya.

Sinyalemen ayat Al-Qur'an tegas mendahulukan ilmu atas setiap apa saja yang kita lakukan;


وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِۦ عِلْمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمْعَ وَٱلْبَصَرَ وَٱلْفُؤَادَ كُلُّ أُو۟لَٰٓئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْـُٔولًا 


"Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu tanpa ilmu tentangnya. Karena pendengaran, penglihatan dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya".(Al-Isra' 17:36)


kata 'ما' bermakna umum, yakni 'apa saja' termasuk dalam bertingkah laku (adab) harus dengan ilmu. Tanpa ilmu, terutama ilmu agama seseorang tidak akan tahu nilai adabnya. Dengan demikian terang bahwa dari sudut 'teoritis' ilmu lebih didahulukan dari adab itu sendiri. Dengan ilmu orang akan tahu cara adab yang benar.


Akan tetapi dari sudut pandang implementatif (terapan) dalam interaksi sosial maka adab lebih dominan (didahulukan) daripada ilmu. Seperti seorang penceramah harus punya adab yang baik dalam menyampaikan ilmunya. Meski pun ilmunya banyak tapi tidak beradab dalam menyampaikannya maka akan menutup pintu hati dan menghilangkan simpati orang lain. Penceramah yang beradab akan lebih diterima daripada yang kurang beradab. Sedemikian pentingnya adab tersebut sehingga sebagian ulama menyatakan:


  نَحْـنُ إِلَى قَلِيْــلٍ مِــنَ اْلأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ اْلعِلْمِ


“Kita lebih membutuhkan adab (meskipun) sedikit, dibanding ilmu (meskipun) banyak.” [Abdullah bin Mubarak, ulama sufi; dikutip dari Adabul ‘Âlim wal Muta‘allim karya Hadratussyekh Hasyim Asy’ari].


Sebuah pepatah Arab mengatakan :

الأدب  فوق العلم

"Adab di atas Ilmu” 


Itu bermakna ditataran implementatif  diutamakan adab yang baik dalam menyampaikan ilmu. 


Adakalanya ilmu lebih utama dari adab. Contoh; ketika ada orang yang sedang membaca Al-Qur'an dengan suara nyaring, lalu disampingnya ada orang yang shalat, maka secara ilmu syari'at orang yang membaca al-Qur'an itu dipandang beradab dengan mensirkan bacaannya. jika ia tetap bersuara keras membaca al-Qur'an di samping orang yang sedang shalat maka ia dipandang tidak beradab dan dianggap tidak tahu dengan ilmunya seperti disebutkan dalam hadits; dari sahabat Abu Sa’id Al-Khudhri radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,

اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ فَكَشَفَ السِّتْرَ وَقَالَ أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ أَوْ قَالَ فِي الصَّلَاةِ

 “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di masjid, lalu beliau mendengar mereka (para sahabat) mengeraskan bacaan (Al-Qur’an) mereka. Kemudian beliau membuka tirai sambil bersabda, “Ketahuilah, sesungguhnya kalian sedang berdialog dengan Rabb kalian. Oleh karena itu, janganlah sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain, dan jangan pula sebagian yang satu mengeraskan terhadap sebagian yang lain di dalam membaca Al-Qur’an” atau beliau mengatakan, “atau dalam shalatnya.”” (HR. Abu Dawud no. 1332, shahih)

Hadits tersebut menunjukkan adanya larangan bagi orang-orang yang sedang membaca Al-Qur’an di masjid untuk meninggikan atau mengeraskan suara mereka mengganggu orang yang sedang shalat.


Dan ada kalanya adab lebih utama daripada ilmu, contoh; ketika menyampaikan sesuatu kebenaran pada orang yang rendah pemahaman akalnya, bisa menimbulkan fitnah,


وَقَالَ ابْنُ مَسْعُودٍ:"مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لَا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ إلَّا كَانَ فِتْنَةً لِبَعْضٍ" رَوَاهُ مُسْلِم


Berkata Ibnu Mas'ud: "Tidaklah engkau menyampaikan kepada suatu kaum akan sebuah pembicaraan yang tidak dapat dicerna oleh akal mereka, kecuali bagi sebagian mereka akan timbul fitnah" - (H. R. Muslim)


Oleh sebab itu pada keadaan seperti itu adab lebih utama dari ilmu itu sendiri.


ILMU DAN ADAB BAGAI DUA SISI UANG LOGAM


Jika dilihat dari sudut pandang lain maka antara ilmu dan adab seperti 'dua sisi mata uang logam'. Kedua sisi uang logam tersebut sama-sama berperan dan saling menentukan. Ilmu dan adab dua hal yang tidak boleh diabaikan. Jika salah satunya kurang maka terjadi ketimpangan pada diri seseorang. Ilmu tanpa adab jadi sombong dan adab tanpa ilmu jadi kosong.


HIDAYAH FAKTOR PENTING


Ilmu dan adab tidak akan sempurna tanpa hidayah. Orang yang berilmu dan dapat hidayah akan memiliki adab yang baik, begitu pula orang yang beradab baik dan dapat hidayah akan berilmu. Faktor hidayah sangat menentukan seseorang yang berilmu punya adab yang baik, dan seorang yang beradab dengan disertai hidayah akan memiliki ilmu yang baik.


Banyak orang yang berilmu tapi tidak mendapat hidayah seperti orientalis Belanda Christian Snouck Hurgronje (lahir di Tholen, Oosterhout, 8 Februari 1857 – meninggal di Leiden, 26 Juni 1936 pada umur 79 tahun).

Dia mengaku berpura-pura menjadi Muslim seperti yang ia jelaskan dalam surat yang dikirim ke teman kuliahnya, Carl Bezold pada 18 Februari 1886 yang kini diarsipkan di Perpustakaan Universitas Heidelberg. 

Pada tahun 1889 ia menjadi profesor Melayu di Universitas Leiden dan penasehat resmi kepada pemerintah Belanda untuk urusan kolonial. Dia menulis lebih dari 1.400 makalah tentang situasi di Aceh dan posisi Islam di Hindia Belanda (Indonesia), serta pada layanan sipil kolonial dan nasionalisme.


Sebagai penasehat J.B. van Heutsz, ia mengambil peran aktif dalam bagian akhir (1898-1905) Perang Aceh (1873-1913). Ia menggunakan pengetahuannya tentang budaya Islam untuk merancang strategi yang secara signifikan membantu menghancurkan perlawanan dari penduduk Aceh dan memberlakukan kekuasaan kolonial Belanda pada mereka, mengakhiri perang 40 tahun dengan perkiraan korban sekitar 50.000 dan 100.000 penduduk tewas dan sekitar satu juta terluka.


Kesuksesannya dalam Perang Aceh memberinya kekuasaan dalam membentuk kebijakan pemerintahan kolonial sepanjang sisa keberadaannya di Hindia Belanda, namun seiring dengan sarannya yang kurang diimplementasikan, ia memutuskan kembali ke Belanda pada 1906 Kembali di Belanda Snouck melanjutkan karier akademis yang sukses..[wikipedia]


Meski pun Christian Snouck Hurgronje ilmunya banyak, hafizh al-Qur'an, fasikh bahasa Arab, jadi imam besar di Aceh yang bergelar Abdul Ghofar tapi karena tak dapat hidayah, dia dipandang tak beradab kepada manusia, menipu dan mempermainkan umat Islam, lebih lagi tak beradab kepada Allah SWT.


Kembali kepada pertanyaan; mana yang lebih didahulukan (diutamakan) ilmu dari pada adab? Maka jawabannya tergantung dari sudut mana kita melihatnya; apakah secara teoritis atau implementatif. Namun pada hakikatnya keduanya saling menentukan satu dengan yang lainnya. Ilmu jadi utama jika dibarengi dengan adab yang baik, sebaliknya adab jadi utama ketika dibarengi dengan ilmu yang baik. Apabila seseorang telah mempelajari ilmu adab, kemudian dalam kesehariannya kurang beradab maka bukan yang salah ilmunya tapi orang itu tidak mau mengamalkannya.


Dan perlu diingat pula bahwa hidayah menjadi faktor penting bagi manusia untuk berilmu dan beradab. Dengan hidayah seseorang bisa memperoleh ilmu yang luas dan adab yang baik.

Wallahu a'lam.


Batam 23 Februari 2021/ 11 Rajab 1442 H

Wassalam,

Hamzah Johan Albatahany

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama